Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kesempatan Terakhir


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Berikan aku kesempatan, Rose." Ucap Dave yang menggenggam tangan Rose erat.


"Kesempatan apa lagi, Kak. Rose sudah memberikan kesempatan berulang kali... tapi apa? Kakak sejak awal memang tidak pernah mencintaiku." Ucap Rose yang sudah menangis hingga membasahi pipinya.


"Aku menyesal. Aku kira kamu akan tetap bertahan disisiku, aku tidak mengira kamu begitu mudah melepaskan aku." Kata Dave dengan bibir yang gemetar.


Rose tersenyum sinis di tengah air matanya yang deras, "Hanya wanita bodoh yang tetap bertahan ketika melihat pria yang begitu dicintainya bermain gila dengan wanita lain kak." Jawab Rose dengan tajam.


"Aku tidak bermaksud seperti itu Rose, aku hanya ingin mengujimu. Aku dan wanita itu tidak ada hubungan apapun, aku hanya membayarnya untuk membuatmu cemburu." Ucap Dave menjelaskan.


Rose melepaskan pegangan tangan Dave dan menyeka air matanya dengan kasar, "Itu bukan sebuah alasan untuk menguji cintaku kepadamu kak." Ucap Rose dengan nada bergetar.


Dave bersimpuh di hadapan Rose dengan memeluk kedua kaki Rose dengan erat, "Maafkan aku, aku salah Rose. Aku salah... berikan aku kesempatan terakhir, aku berjanji tidak akan mengulanginya Rose... kembalilah padaku." Ucap Dave dengan nada putus asa sekaligus memohon.


Rose menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, Rose semakin tergugu. Selama ini jauh didalam lubuk hati Rose masih mencintai Dave, meskipun berulang kali dikecewakan dan disakiti meskipun secara tidak langsung.


"Aku harus bagaimana Kak, hatiku sudah hancur dimalam itu. Kakak dengan sadar yang menghancurkan perasaan dan cintaku kepada Kakak." Ucap Rose yang masih menangis.


"Maafkan aku Rose... beri aku kesempatan." Ucap Dave yang sudah menangis dengan memeluk kaki Rose.


"Bagaimana jika Kakak mengulanginya lagi? Itu akan benar-benar akhir untuk kita berdua Kak." Ucap Rose dengan air mata yang masih deras menetes.


Dave segera berdiri, dihapusnya air mata dengan punggung tangannya.


"Jika aku mengulanginya lagi, aku akan ikhlas melepaskanmu Rose. Aku berjanji." Ucap Dave dengan mengangguk mantap.


"Baiklah, Rose berikan kesempatan terakhir Kak." Ucap Rose.


Dave langsung memeluk tubuh kecil Rose dengan erat, "Terima kasih... terima kasih, Rose." Ucap Dave yang kembali menangis dalam pelukan Rose.


Rose membalas pelukan Dave tidak kalah eratnya, matanya terus mengeluarkan air mata.


Tanpa keduanya sadari, dari kejauhan Gabriel menatap dengan tatapan yang sulit diartikan kearah pasangan yang tengah berpelukan tersebut.


Backsound


Mungkin ingin bertemu masih ada....


Ingin memeluk masih ada....


Sayang kini tak bisa, karena kau telah memilihnya....


...🐾🐾...


"Jika begitu, jadilah kekasihku." Ucap Briel dengan tegas.


Huk

__ADS_1


Suara tangis Rose terganti dengan suara cegukan, Rose menatap wajah Briel dengan sisa sesenggukan.


"Apa?" Tanya Rose lagi.


"Apa kurang jelas, jadilah kekasihku. Lupakan Dave, mari kita bahagia bersama." Ucap Briel dengan menatap netra Rose.


Rose dan Gabriel saling menatap dalam diam, hingga akhirnya Rose bersuara.


"Rose, tidak bisa Kak." Jawab Rose dengan mengalihkan pandangannya kesembarang arah.


"Kenapa?" Tanya Briel yang suaranya berubah menjadi dingin.


"Kak, Rose masih belum dapat melupakan Kak Dave. Rose tidak ingin membuat Kak Gabriel mejadi tempat pelarian Rose semata." Jelas Rose yang menatap lurus.


"Aku tidak masalah meskipun hanya menjadi tempat singgahmu sementara." Jawab Briel cepat.


Rose menggelengkan kepalanya pelan, "Itu bukan cinta kak, Rose tidak ingin menyakiti perasaan Kak Gabriel begitu juga perasaan Rose sendiri." Jelas Rose pelan kepada Gabriel.


Briel terdiam, ingin rasanya Briel memaksa Rose agar menerimanya.


"Jadi kau menolakku?" Tanya Briel pelan.


Rose menggangguk, "Ya, Rose menolak Kak Gabriel." Jawab Rose pelan dan halus.


Briel tidak berkata lagi, langsung saja mesin mobil dinyalakan dan melaju memecah kegelapan malam.


Biarlah semua berjalan bagaikan air mengalir, meskipun harus melewati batu besar yang memecah air tersebut. Namun akan di satukan kembali setelah melaluinya.


Tak terasa mobil Gabriel telah sampai di depan gerbang mansion Amanda.


"Keluarlah." Ucap Briel tanpa melihat ke arah Rose.


Rose menolehkan kepalanya sebentar ke arah Gabriel, wajah Rose terlihat sedih melihat Briel kembali dingin terhadapnya.


"Terima kasih, Kak. Rose turun dulu, hati-hati dijalan." Ucap Rose pelan dan segera membuka pintu mobil dengan cepat.


Setelah memastikan Rose sudah keluar, Gabriel segera memacu kembali mobilnya hingga meninggalkan mansion Amanda.


Rose hanya menatap nanar mobil Gabriel yang semakin menjauh.


Rose berjalan gontai menuju mansion, terlihat sepatu hak tinggi yang dijinjing olehnya dan gaun yang dibiarkan kotor.


Cklek


"Rose." Ucap Kristal yang membukakan pintu untuk Rose.


Rose yang melihat Kristal didepannya tanpa aba-aba air matanya kembali menetes.


Kristal langsung memeluk tubuh Rose, terasa tubuh Rose bergetar. Kristal hanya dapat mengelus punggung Rose pelan, memberikan waktu untuk Rose menuangkan kesedihanny.

__ADS_1


Sedangkan Rose, merasakan hatinya begitu sesak yang luar biasa. Semua tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata, sungguh sulit untuk diungkapkan.


Beruntung penghuni mansion Amanda semuanya sudah tertidur, jika saja tadi Kristal tidak keluar untuk mengambil air minum. Mungkin Kristal juga tidak akan tahu jika Rose pulang dalam keadaan kacau.


"Ayo, kita masuk kedalam." Ucap Kristal pelan.


Tidak membutuhkan waktu lama, Kristal telah sampai dikamar Rose.


Dengan perlahan Kristal membuka pintu kamar tersebut, terlihat nuansa feminim yang sangat kental tergambar disana.


Pernak-pernik anak gadis yang sangat dominan, terlebih warna pink dan putih lebih mendominasi dikamar tersebut.


"Duduk dulu, Tante ambilkan baju ganti sebentar." Ucap Kristal yang segera berjalan ke arah lemari pakaian Rose.


Kristal mengambil satu set piyama bergambar hello kitty berlengan panjang.


"Ayo, ganti baju dulu Rose." Ucap Kristal pelan.


Rose mengambil piyama yang diberikan oleh Kristal dan berjalan menuju kamar mandi.


Terdengar suara gemericik air didalam kamar mandi, sedangkan Kristal masih setia duduk di pinggir kasur dengan menunggu Rose selesai urusannya didalam sana.


Cklek


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Rose yang sudah berganti pakaian dan wajah yang sudah dibersihkan dari make up malam ini.


"Tante, bisa temani Rose tidur?" Tanya Rose yang sudah berjalan menghampiri Kristal.


Kristal mengangguk, "Berbaringlah." Ucap Kristal pelan.


Rose naik ke kasur size king miliknya dan Kristal merebahkan dirinya disamping Rose.


Rose memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Kristal dengan erat, hanya keheningan disana. Kristal dengan penuh perasaan membelai surai pirang Rose.


Kristal membenarkan selimut Rose yang sudah tertidur lelap, mungkin karna lelah menangis membuat gadis ceria itu lebih cepat tertidur.


Dengan menyalakan lampu tidur, Kristal perlahan meninggalkan Rose terlelap sendiri.


"Bagaiama?" Tanya seseorang yang berada dibelakang Kristal.


"Astaga! Tuan, Anda mengagetkan saya." Ucap Kristal dengan mengelus dadanya pelan.


"Maaf, aku hanya khawatir tentang putriku." Jawab Ayah Nugroho pelan.


Kristal mengehela nafasnya pelan dan tersenyum tipis, "Dia sudah tidur, Anda bisa kembali kekamar." Ucap Kristal pelan.


"Terima kasih." Ucap Ayah Nugroho sebelum meninggalkan Kristal.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2