
Happy Reading 🌹🌹
Maldives.
Terlihat rombongan Gabriel dan Daniel berjalan menuju kamar penginapan setelah mereka turun dari both yang membawa ke sebuah pulau kecil ditengah laut.
Terlihat penuh kedua tangan Daniel dan Minzy yang membawakan koper kakak ipar mereka, karena posisi Briel tengah menggendong Rose di punggungnya akibat kaki Rose yang belum sembuh.
"Silahkan tuan." Ucap pelayan membuka pintu kamar untuk tamunya.
"Kakak yang disini saja, aku dan Minzy akan ditempat lainnya." Kata Daniel yang meletakkan koper.
"Kenapa?" Tanya Daniel heran.
"Daniel tidak ingin di ganggu oleh kalian, ini bulan madu biarkan El bersenang-senang dengan Minzy." Jawab Daniek jujur.
Gabriel mendengus saja, "Pergi saja ke ujung pulau." Ucap Briel.
"Ide yang bagus." Kata Daniel setuju.
Daniel dan Minzy segera meninggalkan kakak ipar mereka untuk menuju penginapan yang paling ujung sesuai rekomendasi Gabriel.
"Apa kamu lelah sayang?" Tanya Briel yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Sedikit." Jawab Rose.
"Kita makan dulu dan kamu juga harus meminum obat." Kata Briel lembut.
Rose mengangguk, segera Gabriel menelfon resepsionis untuk mengantarkan makanan ke kamar mereka. Untuk Daniel dan Minzy biarlah mereka memesan sendiri jika lapar.
Tidak membutuhkan waktu lama, pesanan mereka telah tiba. Segera Gabriel menerima troly berisi makanan tersebut mendekat ke arah istrinya.
Dikamar Minzy dan Daniel, terlihat Minzy yang gugup karena hanya mereka berdua yang berada didalam kamar berbeda ketika di mansion Kristoff.
"Wah, nyaman sekali." Seru Daniel yang merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Jangan tidur dulu, ganti pakaian sayang." Ucap Minzy yang menarik tangan Daniel.
Daniel menarik tangan Minzy hingga terjatuh di atasnya, kedua manik mata berwarna hitam saling menatap hingga kedua mata Minzy terpejam karena Daniel mencium bibirnya dengan lembut.
Daniel memegang dagu Minzy dan memperdalam ciuman tersebut, menyapu bibir, dan mengeksplor bibir istrinya.
Sejak semalam sudah El tahan, agar tidak menyentuh istrinya di mansion. Daniel menginginkan kenangan yang indah di malam pertama mereka setelah resmi menjadi suami dan istri.
Minzy melenguh karena tangan kanan Daniel turun dan merem*at pantat sintal istrinya, El semakin bersemangat karena tidak ada tolakan dari sang istri.
Terlihat kedua dada sepasang pengangtin itu naik turun seiring dengan deru nafas yang memburu, "Aku menginginkanmu sayang." Ucap Daniel dengan suara serak.
Daniel kembali melu*mat bibir Minzy dan membalik posisinya yang kini berada di atas tubuh Minzy. Kedua tangan Daniel sudah tidak dapat di kondisikan.
"Ah."
Tidak jauh berbeda suasana dikamar Daniel dan Minzy, dikamar Gabriel dan Rose juga di penuhi suara desa*han dan jeritan karena Briel benar-benar mengeksplor berbagai gaya percintaan kepada istrinya.
"Aku lelah." Ucap Rose yang berbaring memunggungi Gabriel.
__ADS_1
"Sebentar lagi sayang." Jawab Briel dengan nafas memburu.
Rose mende*sah semakin keras karena sesuatu yang sangat penuh kini kembali masuk, Briel terus menghajar Rose untuk cepat membuat Gabriel junior. Karena mengetahui jika mantan kekasih istrinya memang sengaja mengikuti Rose, membuat Gabriel takut jika Rose meninggalkannya.
...***...
Pagi datang, namun sejak kedatangan dua pasang pengantin belum pernah berkumpul bersama. Mereka sama-sama sibuk memproduksi cicit untuk sang Kakek.
Seperti hari ini, disela-sela sarapan pagi, Daniel dengan sentuhan-sentuhan nakalnya kembali berulah ditubub istrinya.
"Ah, sayang. Apa kamu tidak lelah?" Tanya Minzy meremang karena Daniel tengah menyusu seperti bayi.
"Tidak, aku sangat semangat sayang." Jawab Daniel yang melepaskan benda kembar itu.
"Kenapa kamu seperti orang kesetanan saat melakukannya, aku tidak akan kemana-mana." Ucap Minzy pelan.
"Benarkah? Maaf sayang. A-aku hanya sangat tidak tahan jika harus bermain lembut seperti di film po*no." Jawab Daniel jujur.
"Kamu menontonnya!" Seru Minzy seakan tidak percaya.
Daniel mengangguk, "Aku belajar dari mereka untuk memuaskanmu sayang." Ucap Daniel.
Minzy langsung menutup buah kembarnya dengan cepat, "Aku tidak suka kamu berbuat kasar seperti itu, lakukan secara perlahan dan alami. Tidak perlu terburu-buru." Tegas Minzy.
"Tapi aku sudah tidak tahan." Cicit Daniel.
Jika Minzy mengajari Daniel berhubungan dengan lemah lembut, berbeda halnya dengan Gabriel. Dirinya di buat pusing karena sang istri yang tiba-tiba ingin memakan ayam geprek.
"Sayang, disini tidak ada ayam geprek seperti yang kamu inginkan." Ucap Daniel.
"Coba makanan yang lain saja, berapapun harganya tidaj masalah sayang. Kita akan makan ayam geprek saat pulang ya." Jawab Briel menenangkan sang istri.
"Aaaa.... hikss, aku ingin ayam geprek sayang. Tiba-tiba sangat-sangat ingin." Ucap Rose semakin menangis.
"Apa kamu hamil?" Tanya Gabriel degan wajah serius.
Dengan sisa tangisannya Rose menatao suaminya dalam, "Apa secepat itu, kita menikah belum ada sepuluh hari." Jawab Rose dengan logika.
"Benar juga, berarti kamu tidak ngidam. Sudah ayo kita siap-siap, kita akan pergi jalan-jalan dan mencari makanan yang enak." Ajak Briel pada istrinya.
"Ayam geprek." Ucap Rose.
"Iya, kita akan mencarinya." Jawab Briel mengalah daripada tidak ada ujungnya.
Segera Rose dan Gabriel bersiap-siap keluar dari penginapan. Rose menggunakan topi dan bikini karena suasana beserta tempat sangat mendukung, sama halnya dengan Briel mengenakan celana pendek dan kaos rumahnya.
"Kita tidak mengajak adik ipar?" Tanya Rose pada suaminya.
"Jangan ganggu mereka." Jawab Gabriel dengan memakaikan pakaian lengan panjang tipis di tubuh istrinya.
"Ayo aku gendong." Ucap Briel lagi.
"Kenapa?" Tanya Rose.
"Kakimu masih sakit." Kata Briel.
__ADS_1
"Tidak sayang, lihat." Rose meloncat loncat ditempat.
"Sudah sudah, baiklah aku percaya." Kata Briel.
Gabriel dan Rose keluar dari penginapan dengan bergandengan tangan, Briel memanggil pegawai untuk menyewa boat yang akan mengantarkan mereka di pantai.
Tidak membutuhkan waktu lama, boat bersandar membawa keduanya di tepi pantai. Rose terlihat berlari menyusuri pinggiran air laut dengan wajah yang ceria.
Briel yang melihat istrinya tertawa bahagia juga ikut tersenyum, "Untung dia lupa ayam geprek." Gumam Briel dalam hati.
"Sayang! Kesini." Seru Rose melambaikan tangannya untuk meminta dikejar oleh sang suami.
Gabriel segera berlari untuk mengejar istri pendek dan manjanya itu, terlihat keduanya saling berkejaran, memeluk dan berputar di tepi pantai.
Cup
Rose mencium bibir Gabriel dengan cepat, saat Briel akan membalasnya Rose langsung berlari menghindar dengan menjulurkan lidahnya.
Hingga Rose berlari tidak melihat kedepan, tubuhnya menabrak seseorang. Beruntung tidak jatuh diatas pasir putih karena orang tersebut menahannya.
"Kau!" Gabriel langsung menarik istrinya ke belakang tubuhnya dan mendorong Key.
"Hay, kita ketemu lagi." Sapa Key tanpa dosa.
"Pergi." Ucap Briel tajam.
"Kenapa? Apa kamu takut Rose kembali padaku?" Tanya Key dengan senyum semirk.
"Cih, jangan terlalu percaya diri. Kamu hanya tidak jauh dari seorang penjahat kela*min." Jawab Gabriel dengan tegas.
Rose mendongak menatap sang suami sama halnya dengan Key yang terlihat kaget dengan ucapan pria dingin didepannya.
"Kenapa, kaget? Apa kamu kira aku tidak tau tujuanmu kembali muncul didepan istriku." Lanjut Gabriel dengan senyum semiriknya.
Key mencengkram kedua tangannya dengan menatapbtajam Gabriel, "Aku tidak sengaja melihat kalian di sini. Cih." Elak Key.
"Ck, apa kamu pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu. Ah... apa kamu benar-benar ingin perusahaan keluargamu gulung tikar?" Kata Gabriel dengan senyum mengejek.
"Aku ingatkan terakir kalinya, jauhi kami atau kamu tinggal nama." Peringatan Briel tegas.
Gabriel segera berbalik dan merangkul istri pendeknya dengan erat, dirinya sangat marah saat ini karena kecolongan pria busuk itu bisa mendekati mereka.
Rose hanya mendongak menatap wajah suaminya, kemudian Rose menoleh kebelakang terlihat Key masih diam ditempatnya.
"Jangan menatap pria lain atau aku kurung dikamar." Ucap Briel tegas.
Buru-buru Rose menatap ke arah depan, karena Rose tahu saat ini hati sang suami tengah terselimuti amarah.
Saat malam hari sebelum pergi bulan madu, Gabriel menelfon Robby untuk mencari tahu Key melalui gambar yang tertangkap di CCTV hotel.
Tidak ada dua puluh empat jam, Robby mendapatkan semua informasi Key. Bagaimana Key dapat menjadi kekasih Rose dan alasan mereka putus, terlebih saat ini perusahaan orang tua Key tengah mengalami krisis dan satu-satunya mantan kekasih Key yang dapat membantu hanya Rose.
...🐾🐾...
__ADS_1