
Happy Reading
"Oh iya, kenapa Minzy tidak dapat aku hubungi?" Tanya Rose pada Daniel di dalam lift.
"Untuk apa kamu menghubungi calon istriku?" Daniel balik bertanya.
"Kenapa, apa kamu cemburu." Ucap Rose dengan wajah mengejek.
"Cih, Minzy sedang liburan." Jawab Daniel singkat.
Rose tidak meneruskan perdebatan unfaedah tersebut karen lift sudah terbuka, segera keduanya berjalan beriringan menuju ruangan Gabriel, Daniel melipir ke ruangan Robby namun kosong dirinya baru ingat jika Robby menghandel urusan di luar negri karena Rose sudah kembali.
Daniel yang melihat Rose hanya berdiam diri di depan pintu menyerengitkan alisnya saja, langkahnya mendekat kedua matanya membelalak kaget dengan pemandangan di depannya. Rose mencegah Daniel untuk masuk.
Hancur, sedih, sakit hati, marah. Perasaan Rose bercampur aduk saat ini. Namun keduanya terlihat marah ketika mendengar suara keduanya.
"Menyingkirlah!" Sentak Gabriel.
"Aku tahu, kamu memerlukan penuntasan hasrat bukan." Ucap Go Eun.
"****! apa yang kamu masukkan ke dalam minumanku!" Seru Gabriel.
"Usttt, jangan buang-buang tenaga sayang. Lebih baik kita menuntaskannya saat ini." Ucap Go Eun dengan mengelus dada bidang Gabriel.
Gabriel menahan hasratnya sekuat tenaga dan suara ******* itu lolos begitu saja karena tubuhnya benar-benar tersengat aliran listrik.
"Kamu suka." Ucap Go Eun dengan tersenyum lebar.
"Dasar iblis!" Kata Briel.
"Benar, aku adalah isblis yang akan mendapatkanmu." Jawab Go Eun.
"Jadi benar kamu mendekati Daniel untuk memanfaatkannya bukan." Ucap Gabriel dengan menahan hasratnya.
"Emmm, bagaimana ya. Karena Daniel begitu polos dan bodoh bahkan dia tidak tahu diriku sepenuhnya. Jika saja dia tidak penyakitan mungkin aku akan lebih mudah mendapatkannya." Jawab Go Eun dengan suara di buat mendesah.
__ADS_1
"Hanya pria bodoh yang menginginkan wanita ular sepertimu!" Seru Gabriel dengan mendorong tubuh Go Eun dengan kasar.
"Benar dan saudaramu itu yang bodoh! Dengan bodohnya dia selalu menuruti ucapanku bahkan sukarela meninggalkan tunangannya demi menemuiku. Namun, aku sudah tidak tertarik dengan saudara kembarmu itu. Aku tertarik denganmu yang jauh lebih kaya dan berkuasa di keluarga Kristoff." Ucap Go Eun dengan menaiki tubuh Gabriel dengan paksa.
Brak!
Rose membuka pintu dengan kasar, hingga mengagetkan kedua orang dengan posisi Gabriel di bawah sedangkan Go Eun di atasnya.
"Da-daniel." Go Eun kaget kehadiran Daniel.
"Apa ini yang kamu lakukan di belakangku hah!" Sentak Rose dengan mata menatap tajam.
Gabriel berusaha bangkit dengan sisa tenaganya hingga membuat Go Eun jatuh dengan kasar di atas lantai sekali lagi.
"Sa-sayang aku bisa jelaskan." Ucap Gabriel terbatas.
"Hiks, Daniel. Kakak---"
"Diam! Aku sudah mendengarkan semuanya sejak tadi, kamu menganggapku bodoh dan hanya memanfaatkaku! Bahkan aku menyakiti perasaan Minzy hanya menemui orang sepertimu, aku kurang apa hah!" Seru Daniel dengan mata menatap tajam namun raut wajahnya menyiratkan kesedihan.
"Matilah kamu!" Rose memukulkan tempat makan yang dia bawa di kepala Go Eun dengan keras.
Go Eun mengaduh kesakitan bebarengan dengan tempat makan yang jatuh dan menghamburkan seluruh isinya di lantai.
"Dasar ulat bulu! Apa kamu pikir dapat menggoda kekasihku hah! si*al dia memang tanpan dan kaya raya, namun dia hanya milikku!" Seru Rose dengan sengit.
Dua orang pengawal datang setelah Daniel memerintahkan sekertaris kakanya menghubungi bagian keamanan.
"Seret dia, dan usir keluarganya dari apartemen." Ucap Daniel dengan tegas.
Go Eun menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak El, ini hanya jebakan. Aku di jebak oleh kakakmu!" Ronta Go Eun yang sudah di amankan oleh pengawal.
"Bawa dia ke markas." Ucap Gabriel dengan nafas terengah-engah.
Semenjak kejadian yang menimpa Rose dan Kristal, membuat Gabriel membuat markas untuk menyingkirkan orang-orang semacam Go Eun. Daniel melengos ketika Go Eun melewatinya, dalam hati Daniel begitu sakit dan marah karena ketulusannya dalam berteman di manfaatkan oleh Go Eun.
__ADS_1
Daniel langsung beranjak pergi dari ruangan Gabriel tanpa berkata apapun, hatinya sangat kecewa dan merasa bersalah berkali lipat kepada Minzy. Sedangkan Rose mendekat ke arah kekasihnya yang terlihat berkeringat dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Rose khawatir.
Sentuhan Rose membangkitkan hasrat Gabriel yang sudah dia tahan mati-matian sejak tadi, tanpa memperdulikan pintu yang terbuka lebar Gabriel melum*at bibir Rose dengan lembut namun menuntut bakhan Gabriel menggiring Rose berjalan ke ruangan di belakang rak buku.
Rose yang mendapatkan serangan dari Gabriel secara mendadak tentu kaget, bahkan dirinya tidak dapat mengimbangi permainan bibir Gabriel yang memabukkan tersebut, hingga kini keduanya sudah sampai di ruang istirahat pimpinan perusahaan Kristoff.
"Ma-maaf sayang." Ucap Briel setelah melepaskan ciumannya kepada Rose.
Terlihat nafas keduanya memburu, "Kamu kenapa sih." Ucap Rose kesal.
Gabriel segera berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, Rose mengikuti Briel hingga di depan pintu kamar mandi lalu menelfon temannya menanyakan apa yang sedang di alami kekasihnya. Terlihat Rose berbicara menyebutkan ciri-ciri yang di tunjukkan oleh Gabriel.
Rose memutuskan sambungan telfonnya, terlihat Rose mengigit bibirnya dalam bahkan wajahnya gelisah dengan meremat ponselnya, "Obat perangsang, meninggal." Ucap Rose lirih.
Ya teman Rose mengatakan jika itu adalah efek dari obat perangsang dan akan mati jika tidak menyalurkan hasratnya, membuat Rose gelisah. Namun Rose kembali melihat ke arah kamar mandi terlihat Gabriel mengigit tangannya sendiri.
Rose menghela nafasnya panjang dan melepaskan tas yang menyingang di tubuhnya membuangnya ke sembarang arah, bahkan melemparkan sepatu ketsnya sembarangan juga. Dirinya melangkah masuk dan kini tubuhnya ikut basah karena air dari shower tersebut,
"Menyingkirlah," Ucap Briel.
"Kenapa, apa kamu tidak suka sayangku." Jawab Rose mengedipkan sebelah matanya namun dalam hatinya berdebar dengan hebat.
"Jika aku sudah memulainya kita tidak akan berhenti sayang." Ucap Gabriel dengan suara parau.
Rose menangkup kedua pipi Gabriel hingga membuat pria tersebut sedikit menunduk, "Jangan sakiti dirimu." Rose kemudian mencium bibir Gabriel lebih dulu.
Briel membalas perbuatan Rose dan merapatkan tubuh kekasihnya di tembok yang dingin itu, keduanya beradu dengan irama dan tempo yang menghanyutkan. Kedua tangan Rose sudah melingkar di leher kokoh Gabriel begitu juga Briel memeluk pinggang Rose dengan posesif.
Tubuh kekar Briel yang tersembunyi di balik baju terlihat jelas begitu juga tubuh Rose yang sexy tertutup baju over size kegemarannya. Jemari Briel meraba perlahan punggung Rose membuat Rose merasakan sesnasi yang berbeda selama ini bahkan tubuhnya mulai merasakan panas hingga bola karet milik Rose di remat dengan pelan oleh Briel.
Ah.
...🐾🐾...
__ADS_1