Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Balasan Setimpal


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Daniel terlihat duduk di depan Gabriel seperti anak kecil yang sedang di sidang disidang oleh gurunya. Terlihat Daniel menunduk dalam tidak berani melihat wajah Briel yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan biasa namun wajahnya datar tanpa ekpresi.


"Kak." Cicit Daniel.


Briel tidak menjawab namun menyodorkan setumpuk kertas di depan Daniel, dengan takut-takut Daniel melirik ke arah Gabriel dan mengambil berkas yang di sodorkannya.


Perlahan namun pasti, Daniel dengan cepat membuka lembar demi lebar yang dia pegang. Daniel mengangkat kepalanya menatap sang kakak yang masih menataonya dewan wajah datar.


"Ini Go Eun?" Tanya Daniel tidak percaya.


"Menurutmu?" Tanya Briel kembali.


Daniel tersenyum getir, jika selama ini Go Eun mendekatinya karena harta. Bahkan perusahaan ayahnya hanyalahbfiktof belaka. Terlihat kedua orang dewasa yang Daniel yakini adalah orang tua Go Eun tengah tertawa bahagia di depan meja judi, pertemuan sosialita, berbelanja barang branded.


"Apakah masih kurang meyakinkanmu jika Go Eun itu tidak jauh seperti Eve." Ucap Gabriel lagi.


"Tapi, kenapa dia tega dengan El. Padahal Daniel berteman dengannya tulus hiks bahkan Daniel sampai menyampingkan Minzy hanya untuk Go Eun." Jawab Daniel menangis.


Briel menghela nafasnya panjang, "Apa yang akan kamu lakukan kepada wanita ular itu, apakah kamu tetap akan memeliharanya dan membuat hubunganmu dengan Minzy kedepan kembali hancur. Bahkan wanita itu mencampurkan obat perangsang kedalam minumanku beruntung ada Rose saat itu." Ucap Gabriel panjang lebar.


Daniel melongo mendengar ucapan sang kakak, kenapa otaknya justru traveling. "Kakak melakukannya dengan Rose?" Tanya Daniel dengan polos.


"Kamu tidak perlu tau, sekarang urusi masalahmu dengan wanita ular itu." Jawab Briel melengoskan wajahnya.


Daniel berdiri dan berjalan ke arah wajah Briel, "Jadi benar kakak melakukannya? Bagaimana, apakah enak?" Tanya Daniel yang mulai tak fokus dengan pembahasan.


Tuk!


Briel memukul kepada Daniel dengan kertas yang sudah dia gulung ke kepada Daniel. Briel langsung beranjak pergi dari ruangannya menyisakan Daniel yang mengelus kepalanya saja.


"Aku hanya bertanya, kenapa wajahnya merah padam seperti itu." Gumam Daniel.


Selepas Briel pergi, masuklah Stevan dan Kristal yang sudah menutup pintu ruang kerja Gabriel dan berjalan mendekat ke arah Daniel. Terlihat dua raut wajah yang berbeda, Kristal dengan raut wajah khawatirnya sedangkan Stevan dengan wajahbdatar seperti Gabriel.


Gluk.


"Kiamat kecil part dua." Gumam Daniel.


...***...

__ADS_1


Di sebuah bangunan dengan ruang temaram terlihat seorang wanita dan dua orang paruh baya terikat di kursi. Ketiganya meronta ketika mendengar deru mobil mendekat ke arah bangunan.


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki lebih dari satu orang, perlahan langkah kaki itu berjalan mendekat dan pintu ruangan terbuka.


Klik.


Lampu di nyalakan dengan terangnya, membuat Go Eun dan kedua orangtuanya memejamkan mata mereka karena silau lampu.


"Kalian tidur nyenyak?" Tanya Briel dingin.


Go Eun dan kedua orangtuanya meronta untuk membebaskan mereka, Go Eun menatap ke arah Daniel yang berada di belakang Briel dengan tatapan memohon namun Daniel acuh membuang pandangannya kesembarang arah.


"Buka penutupnya." Perintah Briel dingin.


Para bodyguard membuka selotip yang menutup bibir ketiganya dengan kasar hingga mereka mengaduh kesakitan.


"El, tolong aku. Aku tidak bermaksud berbuat jahat kepadamu El. Ini semua karena kedua orang tuaku yang memaksaku untuk berbuat ini semua." Ucap Go Eun dengan keras.


Go Eun menoleh ke arah ayahnya, "Bre*sek! Kamu yang menyuruhku untuk mendekatinya lagi, jika bukan karena kalian suka bermain judi kita tidak akan hidup seperti ini." Sentak Go Eun.


"Dasar anak tidak tahu di untung! Kamu yang selalu hidup foya-foya kenapa menyalahkan kami yang suka bermain judi. Kamu pikir darimana uang untukmu berfoya-foya jika bukan dari hasil judi kami hah!" Seru sang Ibu.


"Diam! Apa kalian pikir ini adalah tempang pengaduan dosa." Seru Gabriel.


"Daniel, aku mohon demi persahabatan kita. Ak-aku tidak mungkin berbuat jahat kepadamu." Ucap Go Eun memohon.


"Aku muak dengan ucapanmu Go Eun, persahabatan apa yang kamu maksudkan hah! Apa kurangnya aku kepadamu, kamu datang kepadaku aku menerimamu dengan tangan terbuka. Aku menolongmu tanpa bertanya bahkan calon istriku sampai pergi meninggalkanku karena aku lebih mementingkanmu. Kamu, kamu dengan angkuhnya berkata jika aku bodoh dan hanya memanfaatkanku untuk mendekati kakaku? Benar aku memang bodoh karena terlalu mempercayai ucapan berbisamu." Jawab Daniel dengan emosi meluapkan seluruh perasaannya saat ini.


Daniel sakit, kecewa, sedih benar-benar sangat sakit di bohongi oleh sahabatnya sendiri yang sudah dia anggap keluarga. Sakit di khianati oleh sahabat tidak akan pernah ada obatnya, mungkin sampai orang itu mati akan tetap membekas di dalam sanubarinya.


Daniel membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan mereka, dirinya tidak sanggup untuk melihat apa yang akan Gabriel perbuat untuk ketiganya.


"Daniel, El!" Seru Go Eun yang berderai air mata.


Gabriel mengkode kepada bodyguard untuk mendekat, terlihat bodyguard membawa air mineral berukuran kecil di tangannya.

__ADS_1


"Kamu ingat, kemarin kamu memberikanku obat laknat itu. Aku tidak akan membalasmu dengan kekejaman namun mengembalikan hal yang setimpal. Kamu juga harus merasakan apa yang aku rasakan." Ucap Gabriel dengan sorot mata tajam.


Go Eun menggelengkan kepalanya cepat, "Ti-tidak! Ampuni aku." Ucap Go Eun ketakutan.


"Minumkan, paksa mereka untuk menelan." Perintah Briel.


Tiga pengawal maju untuk meminumkan air mineral kepada ketiga tawanannya, terlihat Go Eun yang paling meronta bahkan perlu di tampar agar pengawal dengan mudah meninumkan air tersebut.


Briel tersenyum dengan sinis, "Buka ikatannya dan masukkan kedalan penjara. Jika kalian ingin main bermainlah." Ucap Briel sebelum pergi.


"Siap tuan." Ucap pengawal.


Go Eun dan kedua orang tuanya di masukkan kedalam ruangan terpisah, jika kedua orangtuanya satu sel berbeda dengan Go Eun yang sendirian.


"Keluarkan aku! Jadikan aku satu dengan orangtuaku!" Seru Go Eun dengan emosi.


"Nona, tidak mungkin kalian akan bermain bertiga. Sudah diam saja jika sudah tidak kuat kami akan memberimu kepuasan." Jawab salah satu bodyguard dengan di iringi tawanya.


"Bren*sek! Aku tidak sudi di sentuh oleh orang rendahan seperti kalian!" Seru Go Eun.


"Lihat saja nanti nona, karena kami yakin hingga esok menjelang kita masih bermain." Jawab pengawal dengan entengnya.


"Sia*l, tubuhku sudah panas. Berapa banyak yang mereka campurkan." Ucap Go Eun dalam hati.


Go Eun mulai gelisah, di sampingnya sudah terdengar suara de*sahan. Membuat sesuatu dalam Go Eun menjadi gatal. Pengawal yang nelihat Go Eun hanya tertawa saja dan menonton dari luar sel.


Go Eun mulai kepanasan dan membuka bajunya sendiri, "To-tolong aku." Lirih Go Eun mendesah.


"Hei bagaimana, apakah ada yang ingin mencobanya lebih dulu?" Tanya pengawal A.


"Kita main botol putar saja, siapa yang ingin mengicipinya berkumpul di sini." Jawab pengawal B.


"Cari penutup, aku tidak ingin menjadi tontonan kalian." Ucap pengawal D.


"Tentu saja, akupun juga." Timpal pengawal A.


Cukup banyak pengawal yang ingin mencoba Go Eun, sedangkan pengawal yang tidak ikut mengicipi mulai membentangkan kain di kedua sel agar permainan di dalam tidak terlihat.


Satu per satu pengawal mendepatkan gilirannya, terdengar suara mende*sah keras di dalam sel Go Eun.


"Dia sangat liar!" Teriak pengawal D.

__ADS_1


Teman-temannya di luar hanya tertawa saja dengan menunggu giliran, beruntung mereka ada yang membeli pengaman saat mendapatkan perintah untuk membeli obat perangsang oleh Gabriel.


... 🐾🐾...


__ADS_2