
Happy Reading 🌹🌹
Terlihat Minzy dan Kristal masih berbincang diruang tamu, hingga kedatangan Gabriel mengentikan pembicaraan kedua wanita tersebut.
"El, kamu sudah selesai." Ucap Kristal pelan.
"Sudah, Mah." Jawab Gabriel.
"Baiklah, jika begitu Mama tinggal kalian berdua ya. Mama mau istirahat karena tadi habis minum obat sebelum pulang." Ucap Kristal kepada Gabriel.
"Mama sakit?" Tanya Briel khawatir.
"Hanya kecelakaan biasa ketika ingin memasak tadi." Jelas Kristal tenang.
"Mamakan tadi pagi sudah memasak, kenapa memasak lagi?" Ucap Briel heran.
"Oh, tadi karena Rose langsung datang kemari dari bandara." Jawab Kristal berbohong.
"Jadi gadis itu baru sampai hari ini?" Tanya Briel.
Kristal menggangguk, "Sudah Mama tinggal dulu, Minzy maaf Tante tinggal dulu ya." Pamit Kristal pada keduanya.
"Iya Tante, lekas sembuh." Jawab Minzy sopan.
Kristal segera beranjak dari duduknya meninggalkan kedua pasangan untuk beristirahat.
"Sayang, sepertinya aku juga harus pulang." Ucap Minzy kepada Gabriel.
"Baiklah, aku panggilkan sopir dulu." Jawab Briel cepat.
"Tidak antar?" Tanya Minzy.
"Tidak." Jawab Briel yang langsung meninggalkan Minzy.
Terlihat Minzy menatap sendu punggung Gabriel, kenapa pria itu lebih dingin dan kasar.
Gabriel mengantarkan Minzy sampai didepan mansion dan langsung masuk ketika Minzy juga sudah masuk kedalam mobil.
Dengan langkah lebarnya segera Gabriel berjalan menuju ke kamarnya.
Ponsel Gabriel berdering, dengam berjalan Gabriel mengangkat panggilan tersebut.
"Briel, apa perusahaan Krostoff sedang mengalami pailit?" Tanya Sky to the point.
Ya, penelfon tersebut adalah Sky menanyakan perihal urusan perusahaan.
"Tidak." Jawab Gabriel singkat.
__ADS_1
"Ada satu investor dari perusahaan Kristoff menghubungiku, mengatakan jika butuh suntikan dana lebih banyak." Jelas Sky.
"Kirimkan aku filenya." Ucap Briel yang langsung mematikan sambungan telfon.
Gabriel terlihat langsung serius, jemarinya dengan lincah mengakses laptop yang sudah diaktifkan sejak kemarin.
Jemari Gabriel menari-nari diatas keyboard, terlihat sebuah video yang berada diruang kerja Ketua Kim.
Ya, pajangan berkedok oleh-oleh untuk Minzy sudah dipasangi perekam suara dan video sehingga memudahkan Gabriel untuk mengamati apa yang dilakukan oleh Ketua Kim.
Terdengar Ketua Kim tengah menelfon seseorang, yang sangat Gabriel tahu jika dia tengah berkomunikasi dengan pemegang saham lainnya.
Bahkan terlihat sesekali Ketua Kim tertawa dan kembali dengan wajah serius.
Satu per satu bukti Gabriel kumpulkan menjadi satu file beserta foto yang dia dapat dari seorang mata-mata.
Sejenak Gabriel menatap sendu kearah pria yang juga ikut dalam gambar tersebut, biarlah jika memang pria itu harus masuk atau bahkan membusuk dipenjara tidak masalah. Karena itu adalah hasil dari kejahatannya.
Terlihat Gabriel mengetuk-ngetuk jarinya, bagaimana caranya agar dapat banyak mendapatkan bukti.
"Aku harus mengamatinya sendiri." Gumam Briel.
Ya, Gabriel tidak ingin bertunangan dengan Minzy karena ini semua hanyalah sandiwara saja.
...🐾🐾...
Seperti biasa Gabriel sarapan bersama Kristal dimeja makan tanpa menghiraukan dua makhluk yang berada tidak jauh dari mereka.
"Mama, apakah masih terasa sakit?" Tanya Briel perhatian.
"Sedikit, ada apa El?" Jawab Kristal.
"Tidak, Mama apa mau ikut bersamaku kekantor?" Tawar El kepada Kristal.
"Emm, boleh." Jawab Kristal yang sedikit berfikir.
"Cih, jangan merasa menjadi Nyonya Kristoff larena disini hanya aku yang sah sebagai menantu dan istri dari Keluarga Kristoff." Ucap Eve dengan sinis.
Kristal hanya melirikkan matanya saja kearah Eve, biarlah ular itu ingin berkata apa yang jelas Kristal malas menanggapi keributan yang selalu terjadi dimeja makan.
"Mama sudah ganti perban, coba El lihat." Ucap Gabriel memegang tangan kiri Kristal.
"Sudah, sayang." Jawab Kristal tersenyum.
Terlihat Gabriel membolak-balikkan telapak tangan Kristal mengamati apakah ada luka yang lainnya.
Disisi lain, Stevan tengah menatap interaksi keduanya yang seolah acuh dengan keberadaan dirinya.
__ADS_1
Tatapannya tertuju pada tangan yang dibalut dengan perban putih, apakah lukanya sangat parah.
Eve yang menyadari jika sejak tadi Stevan melihat kearah Kristal merasa sangat cemburu, tatapan itu dulu pernah dia dapatkan. Tapi setelah Kristal hadir tatapan itu dan hati Stevan seolah dirampas dalam sekejap.
"El, Mami dengar kamu akan bertunangan dengan Minzy anak dari Ketua Kim?" Tanya Eve dengan gayanya yang menyebalkan.
"Kenapa." Jawab Gabriel singkat.
"Mami sarankan lebih baik kamu batalkan saja niatanmu itu, kamu tidak tahu jika Minzy itu anak yang sangat manja dan tidak dapat diandalkan. Hanya bersembunyi diketiak orangtuanya." Ucap Eve panjang.
"Bukankah bagus, aku hanya butuh istri yang selalu disampingku dan kedua orangtuanya mendukungku." Jawab Gabriel dengan enteng.
"Jangam bermimpi mendapatkan dukungan dari Ketua Kim." Jawab Eve dengan sorot mata tajam.
Gabriel tersenyum miring bahkan terkekeh pelan, "Benarkah? Kita lihat saja." Ucap Gabriel menantang.
"Jika pemilik saham 10% berada dipihak kami, Ketua Kim tidak akan pernah mendukungmu." Kata Eve dengan keyakinan tinggi.
"Bagaimana jika pemilik saham 10% selama ini berada didekat kalian?" Tanya Gabriel dengan tersenyum menatap Eve dan Stevam segara bergantian.
Eve tertawa, "Tidak mungkin El, siapa? Kamu? Ibumu? Aku yakin kalian tidak mendapatkan secuil saham dari perusahaan Kristoff. Hanya karena Ayah selama ini melindungi kalian, jangan terlalu percaya diri."
"Bagimana jika benar?" Tantang Gabriel.
Tawa Eve luntur dan berganti dengan wajah dinginnya, "Aku pastikan kalian tidak mendapatkannya." Jawab Eve.
"Apa hakmu menghalangi kami mendapatkan harta keluarga Kristoff, jika kamu lupa aku ingatkan lagi. Daniel adalah anak kandung dari Stevan tentu saja berhak atas harta yang akan diwariskan kepada Stevan." Potong Kristal yang sejak tadi diam.
"Anak? Apa kamu lupa kejadian kemarin. Kamu bahkan terlihat mesra dengan seorang pria muda. Ck---ck Kristal kamu harusnya bertaubat, saat muda kamu merangkak naik keatas ranjang Stevan dan mengaku hamil anaknya." Jawab Eve dengan sinis.
Gabriel yang mendengarkan ucapan Eve merasa hatinya sangat sakit, apakah memang selama ini kehidupan Kristal selalu penuh hinaan dan cacian.
Kristal tersenyum getir melihat Stevan hanya diam tidak mengatakan apapun untuk membela darah dagingnya sendiri.
"Tentu saja, demi anakku bahkan aku akan rela merangkak di atas kasur Ayah Kristoff." Ucap Kristal dengan kasar.
Stevan yang awalnya ingin membuang muka langsung menoleh dan menatap tajam kearah Kristal, terlihat keduanya beradu pandang dengan tajam.
"Apa memang serendah itu dirimu, bahkanrela tidur bersama Ayahku." Ucap Stevan yang masih menatap tajam.
"Tentu saja, semua demi anak-anakku." Jawab Kristal tidak ingin kalah.
"Dasar murahan!" Seru Stevan dengan menggebrak meja.
Gabriel tersenyum getir yang kemudian berubah menjadi tawa mengerikan, terlihat kedua tangan Gabriel bertepuk tangan.
"Wah---wah---wah--- hebat sekali. Aku sejak tadi diam disini tapi kalian seolah aku adalah patung yang tidak memiliki perasaan."
__ADS_1
...🐾🐾...