
Happy Reading πΉπΉ
Terlihat Gabriel keluar dari dalam kamar dengan pakaian kerjanya.
Kristal menunggu Gabriel berdiri di samping meja.
"Kenapa tidak duduk?" Tanya Gabriel heran.
"Tante, menunggumu." Jawab Kristal pelan.
Gabriel hanya mengangguk dan menarik kursi untuk dirinya sendiri, di ikuti oleh Kristal yang duduk bersebrangan.
Gabriel terlihat meneliti hidangan yang ada didepannya, asing. Terlihat sangat asing karena belum pernah Briel temui.
"Ini Tante memasak masakan rumah khas Korea, apa kamu keberatan?" Tanya Kristal pelan.
"Tidak." Jawab Briel singkat.
Briel segera mengambil nasi dan mengambil satu sendoh sayur untuk dia cicipi.
"Rasa ini." Briel memejamkan matanya terbesit sebuah bayangan.
"Gabriel!!!!" Seru Kristal.
Gabriel ambruk ke lantai, Kristal langsung datang menghampiri.
"Nak, bangun. Bangun Briel." Ucap Kristal panik dengan menepuk pipi kanan Gabriel.
Sebutir bening turun dari pelupuk mata Kristal, langsung saja Kristal menggeledah jas yang dikenakan Gabriel.
Beruntung ponsel Gabriel tidak di kunci, Kristal langsung mencari kontak yang Kristal kenal.
"Rose." Kristal langsung mencari nomor Rose di ponsel Gabriel.
Tidak ketemu, Kristal semakin panik.
Hingga panggilan masuk ke ponsel Gabriel.
π Sarjana Bucin.
Kristal langsung mengangkat panggilan tersebut dengan tangan gemetar dan panik.
"Halo... siapapun Anda, tolong Saya." Ucap Kristal yang sudah terisak.
"Dimana saudaraku! Siapa kamu!" Seru Sky di sebrang telfon.
"Gab... Gabriel pingsan. Tolong cepat datang kesini." Jawab Kristal gugup.
Tanpa menjawab, Sky langsung mematikan sambungan telfonnya kepada Gabriel.
Kristal langsung meletakkan ponsel Gabriel lagi, kembali berusaha menyadarkan Gabriel.
Sedangkan kini Gabriel tengah berada disebuah rumah sederhana.
Terlihat Gabriel duduk di meja makan dengan seorang wanita yang hanya terlihat bibirnya saja.
"El, makan yang banyak. Kita akan pergi ke taman hiburan ya." Jawab wanita itu.
"Benarkah, kita akan pergi Ma?" Tanya El memastikan.
Wanita misterius itu menganggukkan kepalanya dengan merapikan rambut El.
__ADS_1
"Asikkkk.... El akan makan yang banyak agar bisa naik wahana yang buanyakkk." Jawab El dengan perasaan yang bahagia.
El memakan masakan yang sama seperti yang disajikan di meja makannya pagi ini, terlihat dengan lahap El memakan makannya.
"El, tunggu sebentar disini ya. Mama akan menyiapkan keperluan kita." Ucap wanita tersebut.
El mengangguk, "Baik, Mah." Jawab El patuh.
El terlihat mengayunkan kaki kecilnya di atas kursi yang sedikit berdecit dengan menyuapkan sup tahu kemulut kecilnya.
Tidak lama, keluar sang Mama.
"El, sudah selesai?" Tanya wanita tersebut.
"Sudah." Jawab El dengan menyeka bibirnya yang basah.
"Tampannya anak, Mama." Ucap wanita itu dengan berjongkok dan membersihkan sisa makanan yang belepotan di bibir El.
"Ayo, kita berangkat." Ajaknya lagi.
El turun dari kursi dan menerima uluran tangan wanita yang disebut Mama tersebut.
"Mama, kenapa membawa tas besar?" Tanya El dengan mendongak mencoba menatap wajah wanita misterius itu.
"El, setelah pergi ke taman. Ayo kita pergi jauh naik pesawat, El maukan?" Ucap wanita tersebut.
"Mau... mau... yeee.... El akan naik pesawat seperti teman-teman El." Jawab El dengan riang.
Wanita misterius itu berubah menjadi sendu, didalam hatinya meminta maaf karena tidak dapat memberikan kehidupan yang mewah dan layak untuk Elnya.
"Briel... Briel...bangun sayang." Ucap seorang wanita yang sudah menangis menyebutkan namanya.
Gabriel membuka kelopak matanya perlahan, cahaya lampu yang terang membuat dirinya harus menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Sayang, Briel. Ini Mama sayang... ini Mama." Ucap Ambar yang menangis menangkup wajah Gabriel.
Gabriel menangis dalam diam, air matanya mengalir hingga mengalir dari sudut matanya.
"Apa yang kamu rasakan Briel? Hem." Tanya Ambar yang masih menangis.
"Peluk." Jawab Briel lirih.
Ambar langsung memeluk tubuh sang anak, dengan menangis. Gabriel membalas pelukan dengan tenaganya yang lemas.
"Sayangnya, Mama." Ucap Ambar dengan masih memeluk tubuh Gabriel.
Ambar melepaskan pelukannya dengan pelan, jemarinya menghapus air mata yang masih tersisa.
"Jangan menangis, Briel. Apa yang sakit?" Tanya Ambar pelan.
"Briel tidak suka masakannya." Ucap Briel lirih.
Ambar terdiam, masakan apa. Seketika Ambar teringat dengan seorang wanita yang mungkin seusia dengannya.
"Ya, sudah Mama buang. Apakah kepalamu masih sakit?" Tanya Ambar mengalihkan topik pembicaraan.
"Sedikit." Jawab Briel lirih.
"Istirahatlah, Mama akan temani disini." Ucap Ambar pelan.
Briel kembali memejamkan matanya, tubuh Briel. terasa lemas. Bayangan itu, membuat sesuatu di hatinya sangat sedih dan sakit.
__ADS_1
Ambar terlihat menggenggam tangan putra angkatnya dengan erat, ibu jarinya mengelus punggung tangan pria jangkung itu.
Cklek
Suara pintu Rumah Sakit terbuka, terlihat Agung. masuk di ikuti seorang wanita di belakangnya yang tengah menundukkan kepalanya.
Ambar hanya dapat melihat dalam diam, terlihat Agung dan Kristal berjalan mendekat.
"Mah." Panggil Agung pelan.
"Suruh wanita itu keluar, Pah." Jawab Ambar tanpa melihat wajah keduanya.
Kristal semakin menundukkan kepalanya dalam, kedua tangannya meremat pakaian yang tengah dipakai.
Agung mendekat ke arah Ambar dan memeluknya, tubuh Ambar bergetar.
Wajah wanita itu mirip dengan Gabriel, matanya, hidungnya, garis wajahnya yang sedikit mirip. Pikiran Ambar kacau, suatu hal dia takutkan sejak dulu.
"Mah, ayo kita keluar sebentar." Ucap Agung kepada istrinya.
Ambar menggeleng lemah, tidak. Briel hanya boleh melihatnya ketika membuka kedua matanya lagi nanti.
Satu jam lalu.
"Sky, hubungi Gabriel untuk pulang ke mansion." Ucap Ambar kepada anak pertamanya.
Sky tidak menjawab dan segera menghubungi nomor Gabriel untuk menyampaikan pesan Mamanya.
Tetapi, suara orang asing yang Sky dengar. Mendengar ucapan Sky membuat Ambar mengurungkan niat untuk meninggalkan Sky sendiri.
Terlihat Sky langsung berlari menghampiri sang suami, Agung.
"Ada apa, Sky?" Tanya Ambar menuntut.
"Mama dan Putri dirumah saja. Tunggu Sky dan Ayah." Jawab Sky kepada Ambar.
"Tidak! Cepat, ada apa dengan Gabriel." Seru Ambar dengan nafas yang sudah memburu.
"Gabriel, pingsan." Jawab Sky lirih.
Pijakan Ambar menjadi gamang, pikirannya melayang kapan terakhir Gabriel sering pingsan. Sudah lama, sejak duduk di bangku kelas besar di SD.
"Mah, kita tunggu dirumah dulu saja." Ucap Putri yang ikut menenangkan mertua.
"Ba.. bagaimana bisa Briel pingsan, Ayah." Kata Ambar dengan nada bergetar dan kedua matanya sudah menganak sungai.
"Tenang dulu Ma, mungkin Gabriel hanya kelelahan saja." Jawab Agung menenangkan sang istri.
Ambar mengangguk cepat meskipun air. matanya sudah terjun bebas dari mata tuanya tersebut.
"Kita tunggu kabar dari Mas Sky dan Ayah dulu saja Mah." Kata Putri memeluk Ibu Mertuanya dari samping.
Ambar mengangguk dengan memegang lengan Putri, Putri menuntun Ambar untuk duduk di sofa.
"Ayah dan Sky berangkat dulu, akan segera Ayah kabari. Putri tunggu disini dengan Mama." Ucap Agung panjang lebar.
"Baik, Ayah." Jawab Putri patuh.
Dengan langkah lebar Sky dan Agung keluar mansion meninggalkan Ambar dan Putri disana.
...πΎπΎ...
__ADS_1