Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kecemasan


__ADS_3

Happy Reading🌹🌹


Setelah kepergian Ambar dan Agung, tinggallah Sky dan Kristal.


"Tuan, biarkan Saya ikut." Ucap Kristal dengan suara memohon.


Sky menghembuskan nafasnya kasar, segera Sky berjalan ke arah lift yang lainnya dan di ikuti Kristal.


Kini Sky dan Kristal masuk kedalam kotak besi, untuk menuju lantai tiga.


Hanya keheningan yang menemani keduanya, memikirkan bagaimana kisah selanjutnya.


Sedangkan kini Ambar dan Agung sudah masuk ke dalam kamar rawat Gabriel.


"Briel." Ucap Ambar lirih.


Langkah Ambar semakin cepat menuju brangkar dimana Gabriel tengah terpejam, selang infus menancap di punggung tangan kanannya.


Tangan Ambar meraba dengan bergetar, bahkan air matanya sudah tumpah melihat keadaan Gabriel.


"Ayah, harus keruangan dokter dulu Mah." Ucap Agung kepada Ambar.


"Apa keadaannya parah Yah?" Tanya Ambar yang sudah berlinang air mata.


"Semoga saja tidak, Mama tunggu disini." Jawab Agung pelan.


Ambar menganggukkan kepalanya, dan menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi yang berada disamping brangkar.


Agung segera meninggalkan kamar Gabriel untuk menemui dokter yang menanganinya tadi.


"Tunggulah diluar, biarkan Mama saja yang menunggu didalam. Untuk Anda, tunggu Saya kembali." Ucap Agung kepada Sky dan Kristal yang bertemu di samping kamar Gabriel.


Kristal mengangguk cepat, lebih baik. menurut setidaknya Kristal tidak di usir untuk menjauh dari Gabriel.


"Baik, Ayah." Jawab Sky patuh.


Agung berlalu dari hadapan keduanya untuk kembali turun ke lantai satu.


Kristal memandangi pintu ruangan dimana ada Gabriel didalam sana dengan seorang wanita yang di sebut Mama.


Ada rasa menyesakkan menyeruak di hati Kristal, tapi Kristal tidak bisa menyalahkan siapapun. Ini semua salahnya, sejak awal meninggalkan Gabriel adalah salahnya.


"Duduklah, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu Gabriel sadar." Ucap Sky dingin.


Kristal melangkah pelan ke arah kursi tunggu, Kristal mengambil jarak duduknya dari Sky.


"Apa, El sering pingsan?" Tanya Kristal lirih.


Sky tersenyum sinis, "Tidak ada El, disini." Jawab Sky tajam.


Kristal tertunduk dengan meremat kedua tangannya menyalurkan rasa sakit dalam hati.


"Maaf." Cicit Kristal pelan.


.


.

__ADS_1


.


Tok


Tok


Tok


"Silahkan masuk, Tuan." Ucap seorang perawat yang membukakan pintu untuk Agung.


Agung melangkah masuk dan duduk didepan dokter yang sudah menangani Gabriel sejak kecil.


"Katakan." Ucap Agung singkat namun dapat membuat bulu kuduk berdiri.


"Maaf, Tuan. Sepertinya PTSD (Post Trauma Stress Disorder) Gabriel kembali kambuh. Apakah ada sesuatu yang dapat memunculkannya kembali?" Tanya sang dokter pelan.


Kedua mata Agung memanas, tangannya yang berada didalam saku terkepal kuat, rahangnya mengetat untuk menekan perasaan marah dan sedih yang menerpa hatinya.


"Apakah parah?" Tanya Agung setenang mungkin.


"Kami harus mengeceknya lebih jauh, Tuan." Jawab dokter pelan.


"Penyakit itu apakah tidak dapat disembuhnya secara total?" Tanya Agung kembali.


"Hanya dua kemungkinan, Tuan. Terkadang PTSD dapat pulih dengan sendirinya seiring berjalannya waktua. Namun jika tidak, harus melakukan terapi kepsikiater secara rutin." Jawab sang dokter.


"Baik, terima kasih. Tolong, udahan sebaik mungkin untuk kesembuhan anakku." Ucap Agung terdengar tegas namun ada permohonan didalamnya.


"Baik, Tuan. Akan kami lakukan yang terbaik." Jawab sang dokter.


Agung berdiri di ikuti sang dokter dan kemudian berjabat tangan, Agung keluar dari ruangan dokter dengan perasaan campur aduk.


"Apakah, masih ada yang dapat Saya bantu Tuan?" Tanya dokter sopan.


"Cek ketiga rambut ini dan ambil milik Gabriel, jangan sampai istriku tahu. Aku menginginkan hasil secepatnya." Ucap Agung dengan meletakkan tiga bungkus berisi rambut.


"Baik, Tuan. Paling cepat dua Minggu." Jawab sang dokter.


"Baiklah, aku tunggu hasil baiknya." Ucap Agung yang kemudian berlalu dari hadapan dokter.


Agung melangkah melewati tiap koridor untuk menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga Rumah Sakit.


Agung hanya diam selama didalam lift, mencoba mencari jawaban atas kejadian hari ini.


Jika Gabriel, anak kecil yang dia temukan duapuluh tiga tahun lalu memiliki keluarga. Kenapa dulu di tinggalkan, kenapa dulu tidak ada yang mencoba berusaha mencari.


Di dalam pikiran Agung penuh dengan tanda tanya besar, kemana mereka selama ini. Bukankah sangat terlambat untuk mencari seorang anak yang sudah tumbuh dewasa.


Ting


Suara lift membuyarkan lamunan Agung, segera Agung melangkahkan kakinya menuju kembali ke ruangan Gabriel.


Terlihat di luar hanya ada Kristal seorang diri, "Apakah, Anda ingin melihat keadaan Gabriel?" Tanya Agung pelan.


Kristal mendongakkan kepalanya, terlihat pria yang mungkin seusia dengan mantan suaminya.


Kristal mengangguk dengan cepat, "Sangat." Jawab Kristal lirih.

__ADS_1


"Ayo, masuk bersamaku." Ajak Agung.


Segera Kristal berdiri dan melangkah dibelakang tubuh tegap yang menjulang lebih tinggi dari dirinya.


Cklek


Agung membuka pintu ruangan Gabriel, Kristal dapat melihat wanita yang tidak jauh usia sari dirinya tengah menangis disamping brangkar Gabriel.


"Mah." Panggil Agung pelan.


"Suruh wanita itu keluar, Pah." Jawab Ambar tanpa melihat wajah keduanya.


Kristal semakin menundukkan kepalanya dalam, kedua tangannya meremat pakaian yang tengah dipakai.


Agung mendekat ke arah Ambar dan memeluknya, tubuh Ambar bergetar.


Wajah wanita itu mirip dengan Gabriel, matanya, hidungnya, garis wajahnya yang sedikit mirip. Pikiran Ambar kacau, suatu hal dia takutkan sejak dulu.


"Mah, ayo kita keluar sebentar." Ucap Agung kepada istrinya.


Ambar menggeleng lemah, "Tidak, Ayah. Gabriel nanti jika bangun akan mencari Mama bagaimana?" Tanya Ambar menolak.


Agung hanya dapat menghela nafasnya pelan, saat seperti inilah peran Ambar sangat besar di samping Gabriel sejak dulu.


"Ayo, keluar sebentar saja. Ayah ingin membicarakan sesuatu dengan Mama." Bujuk Agung kepada Ambar.


Ambar masih terdiam dengan memeluk tubuh suaminya.


"Bagaimana dengan Gabriel." Jawab Ambar lirih.


Agung menoleh ke arah Kristal yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Nanti akan di jaga oleh..."


"Kristal." Ucap Kristal yang tahu jika keduanya belum sempat berkenalan.


"Iya, Briel akan di jaga oleh Kristal." Ucap Agung.


Ambar melepaskan pelukannya dan melihat ke arah wanita yang masih berdiri di ujung brangkar Briel.


"Ayo, Mah." Ucap Agung.


Akhirnya Ambar mengalah, sebelum. meninggalkan kamar Gabriel. Ambar mencium kening Briel dengan sayang.


Agung merangkul pundak Ambar dan berjalan menuntunnya untuk keluar dari ruangan Gabriel, memberikan ruang untuk Kristal itulah tujuan Agung.


Terdengar pintu sudah tertutup, Kristal kembali menoleh ke arah pintu untuk memastikan kembali.


Kristal melangkah pelan untuk berada di samping Gabriel, tangan Kristal terulur membelai wajah tampan Briel.


Bibir Kristal bergetar, kedua matanya memanas hingga kembali lolos air matanya.


"El...." Gumam Kristal pelan.


Gabriel merasakan sentuhan Kristal, sentuhan yang sangat berbeda. Air mata yang menetes mengenai pipinya dan panggilan itu.


Briel membuka kedua matanya, hingga pandangan keduanya bertubrukan dan terkunci.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2