
Happy Reading πΉπΉ
Waktu berlalu, kini Minzy tengah berada di kediaman keluarga Krostoff tepatnya di kamar Daniel.
"Apa kamu masih marah?" Tanya Minzy pelan.
Daniel membuang pandangannya ke sembarang arah, "Untuk apa aku marah." Jawab Daniel.
Minzy menghela nafas panjang, "Karena aku menahanmu agarbtidak mengejar Go Eun." Ucap Minzy.
Daniel memperbaiki duduknya kini menghadap ke arah Minzy.
"Minzy dengar, aku dan Go Eun sudah lama berteman bahkan dia teman satu-satunya yang aku miliki. Apakah hal sederhana seperti itu sulit untuk kamu terima? Bukan hanya kamu namun juga Kak Gabriel dan Ayah." Daniel menguratarakan isi hatinya.
"Tidak ada pertemanan perempuan dan laki-laki Daniel. Itu semua bulshit, di salah satu antara kalian memiliki perasaan." Jawab Minzy tegas.
Daniel mengguyar rambutnya ke belakang, "Tetapi beda dengan pertemanan kami, aku hanya berteman dengannya. Dia baik padaku dan aku juga baik kepadanya Minzy." Ucap Daniel yang tidak mau mengalah.
Minzy tersenyum miring, "Benarkah? Apa tanoa kamu sadari memiliki perasaan lebih kepada Go Eun?" Tanya Minzy dengan mimik muka serius.
"Tidak Minzy, jika aku memiliki perasaan kepada Go Run tentu aku akan mencarinya ketika dia pergi." Jawab Daniel dengan tegas.
"Kamu tidak bisa mencarinya karena kamu dulu sakit dan sekarang, kamu bahkan sudah bisa melakukan perjalanan jauh seorang diri Daniel." Kata Minzy dengan bibir bergetar.
"Minzy!" Sentak Daniel.
Hingga ponsel Daniel bergetar, terlihat nomor asing yang Danie ingat adalah pengirim pesan anonim dulu.
π£οΈ Hallo
π€ Hallo El, ini aku Go Eun.
π£οΈ Go Eun?
π€ Iya, bisakah aku minta tolong?
π£οΈ Ada apa?
π€ Hiks, tolong aku El. Ayah dan Ibuku bertengkar aku pergi dari rumah tidak tahu harus minta tolong ke siapa lagi.
π£οΈ Kamu dimana!
π€ Di taman dekat rumah, El.
Daniel langsung beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya, Minzy yang mendengarkannya menahan gemuruh di hatinya.
"Kamu akan pergi?" Tanya Minzy tanpa melihat ke arah Daniel.
"Cukup Minzy, aku tidak ingin berdebat denganmu." Jawab Daniel dengan membuka dan menutup pintu kamarnya keras.
Tes!
Air mata Minzy membasahi punggung tangannya yang tengah meremat rok span hitam, ya Minzy bekerja di perusahaan Kristoff dan sengaja meluangkan waktu untuk bertemu dengan Daniel.
Kristal dan yang lainnya melihat Daniel berlari turun dari lantai dua tanpa Minzy merasa heran, bahkan Daniel hanya diam saja tanpa menyapa atauoun menjawab pertanyaan dari Stevan.
"Kristal susullah Minzy." Ucap Stevan.
Kristal bergegas naik ke lantai dua menuju kamar Daniel, di bukanya pintu kamar Daniel perlahan terlihat seorang gadis yang menangis dengan menundukkan kepalanya.
"Minzy." Panggil Kristal pelan.
__ADS_1
Minzy membuang oandangannya melawan arah Kristal dan menghapus air matanya dengan kasar.
"Minzy kamu tidak apa-apa nak?" Tanya Kristal lagi.
"Ah, tidak apa-apa Mah." Jawab Minzy berbohong.
"Kalian bertengkar?" Tanya Kristal dengan menangkup pipi Minzy.
Minzy menggeleng lemah namun bibirnya tetap bergetar meski dirinya mati-matian sudah menahannya. Air mata lolos begitu saja dan di usap lembut oleh jemari Kristal.
"Katakan Minzy, ada apa?" Desak Kristal.
Tangis Minzy pecah langsung saja Kristal memeluk tubuh calon menantunya tersebut dengan wajah khawatir.
"El, Mah... hiks El lebih memilih pergi menemui Go Eun." Adu Minzy kepada Kristal.
"Go Eun." Beo Kristal.
Stevan yang akan masuk menyusul Kristal mengurungkan niatannya dan pergi setelah mendengar ucapan Minzy.
Sedangkan di taman, kini Daniel tengah bersama Go Eun. Go Eun menangis tersedu-sedu dalam pelukan Daniel.
Daniel hanya mampu menenangkan temannya tersebut, "Tenanglah." Ucapnya.
"Hiks, aku harus bagaimana El. Jika aku kembali ke rumah aku hanya akan di pukuli oleh Ayahku." Jawab Go Eun dalam tangisnya.
"Kamu bisa tinggal di apartemen." Ucap Daniel.
"Ta-tapi aku tidak akan mampu El. Kamu tahu jika kami memutuskan pindah ke Seoul karena perusahaan Ayah akan bangkrut dan sekarang keuangan perusahaan sedang tidak baik sehingga Ayah menjadi kasar El." Kata Go Eun panjang lebar.
"Aku akan belikan kamu apartemen, pilih saja di mana kamu mau. Ajaklah Ibumu untuk sementara waktu." Ucap Daniel dengan tenang.
Go Eun kaget dan menegakkan duduknya menghadap ke arah Daniel dengan wajah serius.
"Hey! Kita ini teman, tentu aku akan membantumu ketika kesusahan." Ucap Daniel.
"Benarkah, kamu menganggapku hanya teman?" Tanya Go Eun kecewa.
"Tentu saja Go Eun, kita ini teman. Kamu baik kepadaku maka aku juga baik kepadamu." Jawab Daniel dengan tertawa pelan.
Go Eun tersenyum mendengar ucapan Daniel, "Benar, jika begitu bisakah aku minta tolong kepadamu sekali lagi?" Tanya Go Eun dengan wajah imut.
"Apa?" Tanya Daniel.
"Bisakah perusahaanmu membantu perusahaan Ayahku, menjalin kerjasama begitu." Jawab Go Eun.
"Emm, mungkin bisa coba saja perusahaanmu memasukkan proposal kerjasama ke perusahaan Kakak." Ucap Daniel tidak yakin.
"Perusahaan kakak? Maksudmu perusahaan Kristoff milik Kakakmu?" Tanya Go Eun dengan mata membuka lebar.
"Iya, karena saham terbesar milik Kak Gabriel." Jawab Daniel.
"Oh begitu, tapi El. Kakakmu sepertinya tidak suka denganku begitu juga ayahmu." Ucap Go Eun sendu.
"Itu hanya perasaanmu saja Go Eun, mungkin Kakak dan ayah kemarin hanya takut jika Minzy salahpaham saja." Jawab Daniel mengacak-acak rambut Go Eun.
Go Eun mengerucutkan bibirnya dengan merapikan kembali poni miliknya. "Kamu suka sekali mengacak-acak rambut El, berarti kamu sudah nyaman denganku dan memaafkanku bukan?" Ucap Go Eun dengan tersenyum lebar.
Daniel terpaku dan menatap telapak tangannya, sebesit bayangan Minzy lewat dalam benaknya. Perasaan bersalah mencuat dalam hati Daniel, seharusnya Daniel tidak bertengkar dengan Minzy hanya karena hal sepele.
"El." Go Eun menggoyang tangan Daniel membuat Daniel itu kaget.
__ADS_1
"Oh, ya." Kata Daniel.
"Kamu kenapa?" Tanya Go Eun.
"Tidak apa-apa, ayo kita cari apartemen.".Jawab Daniel yang sudah berdiri dan berjalan ke arah mobil.
Go Eun bingung melihat perubahan Daniel, segera Go Eun berdiri dan melangkah menyusul Daniel untuk mencari apartemen.
Membutuhkan waktu lama mereka mencari apartemen sesuai keinginan Go Eun, hingga kini keduanya berada di apartemen keluarga Kristoff.
" Aku ingin di apartemen gedung ini El. Aku dengar di sini sangat bagus." Ucap Go Eun dengan menatap gedung penuh binar.
Go Eun tidak tahu jika apartemen tersebut adalah aset kekuarga Kristoff, dirinya hanya tahu perusahaan Kriatoff dan juga pabrik saja.
"Ayo keluar." Ajak Daniel.
"Apa kamu yakin El, di sini pasti sangat mahal." Ucap Go Eun yang sedikit khawatir.
"Iya aku tahu lalu bagaimana?" Jawab Daniel dengan wajah biasa saja.
"Ba-bagaimana dengan keluargamu nanti." Ucap Go Eun mengulang pertanyaan di taman.
"Kita hanya akan menyewanya saja jika di sini, tidak selamanya kamu akan tinggal di apartemenkah? Lagipula kamu akan memasukkan proposal kerjasama di perusahaan Kristoff. Aku akan membantumu agar Kakak menerima kerjasama itu sehingga ayahmu tidak akan marah-marah lagi." Jawab Daniel panjang lebar menjawab jujur apa yang ada di pikirannya.
Go Eun tersenyum tipis, dirinya keluar mengikuti Daniel yang sudah berjalan lebih dulu darinya. Terlihat wajah Go Eun begitu masam karena dia pikir Daniel akan rela merogoh kocek lebih dalam untuknya.
Tidak apa jika hanya menyewa, toh dengan berkedok kerjasama Go Eun dapat mendekati Gabriel yang jauh lebih kaya raya daripada Daniel.
Kembalinya Go Eun ke Seoul memang untuk mendekati Gabriel melalui Daniel, terlebih ketika menonton siaran langsung di rumah kontrakan keluarganya.
Go Eun dan orangtuanya tentu sangat senang, akhirnya mereka kembali ke Seoul untuk mendekati keluarga Kristoff lagi karena Daniel selalu di kawal oleh bodyguard sehingga keluarga Go Eun tidak bisa bergerak cepat. Berharap mendekati Gabriel akan berhasil dan membuat mereka keluar dari belenggu hutang.
"Apakah kamu suka?" Tanya Daniel yang sudah masuk di salah satu unit apartemen.
"Suka, ini sangat bagus El." Ucap Go Eun tersenyum bahagia.
"Baiklah, aku akan menyewanya untukmu. Kamu dapat pindah ke sini kapan saja." Jawab Daniel.
Go Eun mengangguk dirinya tidak bertanya kapan Daniel akan mengurusnya, karena Go Eun tahu jika keluarga Kristoff berpengaruh tentu saja dengan menyuruh pengawal sudah selesai semuanya.
"Go Eun kamu pulang naik taxi ya, aku harus segera pulang karena sudah lama keluar rumah." Ucap Daniel lembut.
Go Eun memegang ujung pakaian Daniel, "Aku tidak ada uang El." Cicit Go Eun.
Daniel mengeluarkan dompetnya dan memberi kartu kredit dengan limit yang paling rendah, karena Daniel tidak ingin membuat Minzy semakin terluka.
"Pakailah untuk kebutuhanmu sehari-hari." Ucap Daniel menyodorkan kartu ATM.
Go Eun melihat kartu dan wajah Daniel bergantian , seakan tidak percaya jika Daniel semudah ini luluh dengannya.
"Terima kasih El." Ucap Go Eun pelan.
"Aku pergi dulu ya." Pamit Daniel.
Go Eun hanya menatap punggung Daniel hingga pria itu melambaikan tangan dan masuk ke dalam lift, Go Eun membalas lambaian tangan tersebut dengan tersenyum manis.
Setelah benar-bebar Daniel pergi wajah Go Eun berubah, "Cih, dasar miskin. ATM dengan limit terendah bisa apa jangankan untuk membeli pakaian membeli makanan saja tidak cukup." Gerutu Go Eun dengan memasukkan kartu ATM dengan kasar ke dalam tasnya.
Go Eun berjalan menuju jendela besar di apartemen dengan memandangi langit yang mulai berubah mejadi warna jingga dan menelfon seseorang di sebrang sana.
"Ayah, aku berhasil mendekati keluarga Kriatoff lagi. Hari ini kita pindah ke apartemen pemberian Daniel dan untuk kebutuhan kita sehari-hari tidak perlu khawatir karena akan di sokong oleh Daniel." Ucap Go Eun panjang lebar.
__ADS_1
Go Eun memutuskan panggilan tersebut secara sepihak setelah mendengarkan jawaban dari kedua orang tuanya, ya mereka bertekad untuk dapat kembali ke kalangan konglomerat.
... πΎπΎ...