
Terlihat mobil mewah berhenti tepat di depan hotel mewah, seorang wanita paruh baya keluar dengan mengenakan kacamata hitam dan menjinjing tas bermerk. Nyonya Kim melangkahkan kakinya dengan anggun menuju lobby hotel.
"Nyonya, semua sudah siap." Ucap seorang bodyguard keluarga Kim.
"Tunjukkan aku tempatnya." Jawab Nyonya Kim.
Segera bodyguard tersebut berjalan di depan Nyonya Kim menunjukkan suatu ruangan yang sudah di siapkan sebelumnya, keduanya berjalan masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 31.
Tidak membutuhkan waktu lama Nyonya Kim dan seorang bodyguard telah sampai di lantai 31. Keduanya berjalan ke sebuah kamar VVIP di mana keamanan sudah dapat terjamin.
Cklek.
Terdengar pintu terbuka, seorang pria paruh baya segera berdiri dan melakukan bow begitu melihat Nyonya Kim masuk berjalan mendekat ke arahnya.
"Selamat datang, Nyonya." Ucapnya.
"Duduklah." Kata Nyonya Kim kepada pengacara kepercayaan sang suami.
Pengacara tersebut duduk sesuai intruksi Nyonya Kim, Nyonya Kim juga duduk di kursi yang bersebrangan dengan sang pengacara sesangkan bodyguarnya berdiri di belakang Nyonya Kim dengan tegap.
"Katakan, ada apa?" Tanya Nyonya Kim to the point.
Sang pengacara mengeluarkan sebuah amplop yang berisi sebuah surat, dengan perlahan pengacara tersebut membuka amplop dan menyodorkan satu lembar surat di hadapan Nyonya Kim.
Nyonya Kim melirik sekilas, terbaca jika itu adalah surat cerai.
"Dia ingin bercerai denganku?" Tanya Nyonya Kim datar.
"Benar Nyonya dan esok hari Ketua Kim juga anaknya akan menggelar acara pergantian CEO." Jawab sang pengacara jujur.
Nyonya Kim tentu saja kaget, karena Nyonya Kim pikir jika kedua manusia itu masih berusaha meyakinkan para investor.
"Aku akan tanda tangani dan berikan surat-surat pengalihan hartaku kepada pengawalku. Kamu pergilah sejauh mungkin untuk beberapa bulan, karena aku yakin kamu pasti akan dicari-cari oleh mantan suamiku." Ucap Nyonya Kim dengan menandatangani surat perceraian dan memberikan stempel.
"Temui Ketua Kim terakir kalinya katakan padanya jika surat cerai sudah di proses di pengadilan. Segeralah pulang dan bawa seluruh kekuargamu pergi berlibur ke luar negri." Lanjut Nyonya Kim dengan menegakkan tubuhnya.
Sang pengacara segera berdiri dan melakukan bow beberapa kali di hadapan Nyonya Kim, "Terima kasih Nyonya, terima kasih." Jawab sang pengacara dengan haru.
"Sekarang kamu bisa pergi, di luar akan ada bodyguard yang lain dan serahkan surat-surat tersebut." Ucap Nyonya Kim.
Sang pengacara melakukan bow dan segera membawa surat perceraian Nyonya dan Ketua Kim sebagai tugas terakirnya.
Nyonya Kim segera mengambil ponsel di dalam tasnya, dengan cepat jemarinnya menggulur nomor kontak yang tersimpan dalam ponselnya.
Segera Nyonya Kim menghubungi Robby selaku sekertaris Kakek Kristoff agar mempersiapkan peperangan dengan matang.
π£οΈ Selamat siang, Nyonya.
π€ Siang Robby. Aku ingin memberitahukan jika besok Ketua Kim dan Eve akan mengumpulkan para investor untuk pemilihan CEO.
π£οΈ Benarkah! Secepat itu?
π€ Benar. Aku juga tidak menyangka jika keduanya bergerak dengan cepat. Segera persiapkan semuanya aku akan mendukung kalian.
__ADS_1
π£οΈ Baik, terima kasih untuk informasinya Nyonya.
π€ Sama-sama.
Nyonya Kim memutuskan sambungan telfonnya dan memasukkan kembali ke dalam tas jinjingnya.
"Setelah Tuan Kim keluar besok, segera lempar seluruh pakaiannya keluar dan jangan biarkan dia masuk kedalam mansion." Perintah Nyonya Kim.
"Siap laksanakan, Nyonya." Jawab sang pengawal.
"Bagus. Ayo kita pergi." Ucap Nyonya Kim yang sudah berdiri dan melangkah lebih dulu meninggalkan sang bodyguard.
...***...
Rumah Sakit, ruang rawat Kakek Kristoff.
"Siapa Robby?" Tanya Kakek Kristoff.
"Nyonya Kim tuan baru saja memberitahukan jika Ketua Kim dan Nyonya Eve besok akan mengadakan pertemuan investor untuk menggeser kedudukan anda." Jawab Robby menjelaskan.
"Baiklah, panggil Gabriel dan yang lainnya kemari. Kita harus melawan mereka karena sudah tidak ada gunanya lagi untuk mengulur waktu." Ucap Kakek Kristoff.
"Baik tuan." Jawab Robby.
Segera Robby berjalan keluar untuk memanggil keluarga inti. Terlihat Robby berjalan menuju ke kamar Daniel di mana Stevan dan Kristal berada.
Cklek.
"Ada apa Robby?" Tanya Stevan.
"Tuan dan Nyonya di panggil Tuan Kristoff untuk datang ke kamarnya segera." Jawab Robby menyampaikan pesan.
Stevan dan Kristal saling memandang seakan saling bertanya ada apa.
"Ini hal yang sangat penting tuan, mohon segera datang." Lanjut Robby lagi.
"Oh, baiklah. Kami akan segera kesana." Jawab Stevan.
"Terima kasih." Robby melakukan bow lagi sebelum keluar dari dalam ruangan Daniel.
Sepeninggalan Robby Daniel menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.
"Ada apa kakek memanggil?" Tanya Daniel penasaran.
"Ayah juga tidak tahu, El. Kami akan pergi dulu untuk memenuhi panggilan Kakekmu." Jawab Stevan lembut.
Daniel mengangguk sebagai jawaban.
"Minzy, tolong jaga Daniel sebentar ya. Maaf kami merepotkanmu." Ucap Kristal pelan.
"Tidak tante, Minzy senang menjaga Daniel." Jawab Minzy tersenyum.
"Baiklah, Mama tinggal dulu ya." Lanjut Kristal.
__ADS_1
Kristal dan Stevan keluar dari ruangan Daniel, berjalan beriringan menuju kamar Kakek Krostoff.
Sedangkan Robby kini sudah sampai di depan kamar Rose, terlihat Stevani yang duduk di ruang tunggu dan Gabriel yang berdiri di depan kaca kecil untuk melihat Rose yang tengah berbaring di dalam.
Stevani menolehkan kepalanya, "Ada apa?" Tanyanya kepada Robby.
"Nona, Tuan Kristoff memanggil anda dan Tuan Gabriel." Jawab Robby.
Stevani langsung berdiri dan berlari menuju kamar sang ayah, Robby yang melihatnya kaget karena semua itu terlalu cepat.
Robby berjalan mendekat ke arah Gabriel, "Tuan, Kakek anda memanggil semua orang." Ucap Robby.
"Tinggalkan aku." Jawab Gabriel dingin.
"Tapi tuan---."
"Apa kau ingin mati." Potong Briel lebih dingin.
Glek
"Ti---tidak, ini tetang perusahaan." Jawab Robby terbata.
Gabriel masih diam dan bergeming di tempatnya, seakan ingin mendengar kelanjutan ucapan Robby.
"Ketua Kim dan Nyonya Eve besok akan melakukan pemilihan CEO tanpa sepengetahuan Tuan Kristoff, sehingga Tuan Kristoff mengumpulkan semuanya sekarang juga." Jelas Robby panjang kepada Gabriel.
Gabriel menoleh hingga tatapan keduanya bersibobrok, Robby segera menundukkan kepalanya karena tatapan Gabriel yang benar-benar ingin memangsa manusia.
Tanpa berkata apapun Gabriel berjalan meninggalkan ruangan kekasihnya begitu saja, karena ini adalah puncak masalah dari semuanya. Semua masalah bermula dari masa lalu para tetua hingga mengorbankan anak cucunya.
Briel berjalan dengan perasaan penuh amarah, karena masalah yang tidak di ketahuinya mengankibatkan kerugian pada orang lain. Bahkan kekasihnya tergolek tak berdaya di atas brangkar.
Sedangkan Robby mengurungkan niatnya untuk pergi ketika melihat seseorang keluar dari ruangan Rose, terlihat peria paruh baya dengan menggenakan kacamata putih tengah menatapnya dengan intes.
"Cari siapa?" Tanya Suryo dingin.
"Maaf tuan, saya hanya memamggil Tuan Gabriel." Jawab Robby jujur.
Suryo tersenyum miring, "Bagus! Jangan biarkan dia mendekati keponakanku lagi." Ucap Suryo to the point.
Robby hanya berkedip cepat mendengar ucapan Suryo, apakah terjadi kesalahpahaman di sini. Oh tidak Robby harus segera meluruhkan semuanya.
"Maaf tuan, mungkin ada kesalahpahaman di sini." Kata Robby tenang.
"Cih, kesalahpahaman. Kesalahpahaman hingga membuat seseorang meregang nyawa begitu maksudmu." Jawab Suryo emosi.
"Tenang tuan, ini semua dapat saya jelaskan. Tapi tolong anda jangan emosi saat ini karena bukan waktu yang tepat." Ucap Robby.
"Pergi, aku tidak memiliki waktu untuk mendengar ocehanmu." Kata Suryo dengan mengibaskan tangannya.
Robby menatap punggu Suryo yang nulai berjalan meninggalkan ruangan Rose, dan menghentikan langkah Suryo seketika saat Robby berkata sesuatu dengan nada yang cukup keras.
...πΎπΎ...
__ADS_1