Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Surat Cerai


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Stevan akan pulang dulu ke mansion." Ucap Stevan.


"Kristal juga ayah." Ucap Kristal.


Setelah membicarakan rencana yang akan di gunakan besok dengan pembicaraan yang cukup alot dan lama, kini semuanya sudah clear.


"Jika begitu Stevani akan tetap di rumah sakit menjaga Gabriel." Ucap Stevani santai.


Semua yang berada di ruangan Kakek Kristoff menatap punggung Gabriel yang bidang tengah memunggungi semua orang.


Terlihat raut wajah sedih dan penyesalan di wajah Stevan maupun Kristal, jika semua ini tidak terjadi mungkin saat ini Rose ikut berkumpul bersama mereka.


"Baiklah kak, Stevan dan Kristal akan pulang duku sebentar." Pamit Stevan.


Stevan dan Kristal berjalan keluar dari ruangan Kakek Kristoff meninggalkan keluarga yang lainnya.


Singkat cerita, Stevan dan Kristal sudah menaiki mobil menuju mansion Krostoff. Selama di perjalanan hanya ada keheningan hingga Kristal yang bersuara.


"Apa Eve akan mencelakai anakku lagi?" Tanya Kristal dengan membuang pandangannya kekuar jendela.


"Anak kita. Aku tidak akan membiarkan wanita itu menyentuhmu dan anak-anak lagi." Jawab Stevan dengan nada serius.


Kristal menolehkan kepalanya hingga melihat wajah Stevan dari samping namun segera kembali membuang pandangannya.


"Anak kita? Sungguh lucu Stevan. Kamu dulu bahkan sangat jijik ketika Daniel memanggilmu Ayah dan selalu membentaknya." Ucap Kristal yang berubah jadi sendu mengingat semuanya.


"Maafkan aku Kristal, aku akan menebus semua kesakitan kalian bahkan dengan nyawaku." Kata Stevan.


"Apa kamu ingat, ketika Ayah sedang pergi berbisnis keluar negeri. Aku hanya meminta tolong untuk mengantarkan kami ke rumah sakit karena saat itu Daniel panas tinggi namun kamu lebih memilih menemani Eve yang akan berbelanja." Ucap Kristal tersenyum getir bahkan air mata sudah turun dari pelupuk matanya.


"Maafkan aku." Jawab Stevan lirih.


Kristal menghapus air matanya dengan kasar dan menghirup udara sebanyak mungkin untuk menenangkan gemuruh yang ada di dalan hatinya.


"Lupakan saja." Ucap Kristal kemudian.


"Tidak, aku akan menebus semua waktu dan kesakitan kalian Kristal." Kata Stevan tegas.


Tanpa terasa mobil yang di kendarai Stevan masuk ke pelataran mansion dan berhenti tepat di depan pintu utama.


Stevan dan Kristal langsung membuka seat belt, namun Stevan mencekal pergelangan tangan Kristal hingga Kristal mengurungkan niatannya untuk membuka pintu mobil.


"Kristal, dengarkan aku. Aku meminta maaf kepadamu dan anak-anak, aku akan menebus semuanya meski dengan nyawaku." Ucap Stevan dengan menatap lekat kedua bola mata Kristal.


"Baiklah buktikan kepada anak-anak, aku hanya mengikuti keputusan anak-anak." Jawab Kristal dengan melepaskan cekalan tangan Stevan dan segera membuka pintu mobil.


Stevan menghembuskan nafasnya kasar segera dirinya juga ikut turun dari dalam mobil dan masuk ke mansion menyusul Kristal yang sudah berjalan lebih dulu.


"Wah... wah ... siapa ini yang datang?" Tanya Eve dengan duduk di salah satu sofa.


Kristal menghentikan langkahnya menatap lurus ke arah Eve, sedetik kemudian Kristal berlalu begitu saja tanpa ada niatan untuk menanggapi ocehan orang gila.

__ADS_1


"Kau!" Geram Eve karena tidak di perdulikan oleh rivalnya.


Sedangkan Stevan yang baru saja sampai langsung di hadang oleh Eve.


"Bagus! Kemana saja kamu selama ini, apa kalian bersenang-senang di dalam kamar hotel." Tuduh Eve kepada Stevan juga Kristal.


Stevan diam menatap wajah Eve, wajah wanita yang selama ini mendampinginya. Jika dulu Stevan selalu percaya apa yang dikatakan oleh Eve hingga memperalat hidupnya, kini tidak akan lagi. Stevan memiliki orang-orang yang harus dia lindungi yaitu Daiel dan Gabriel.


"Benar, bahkan kami bermain sangat gila hingga tidak tahu waktu dan tempat." Jawab Stevan tajam.


Eve tertawa sinis, hingga melihat Kristal yang berjalan menuju mereka.


"Ah, aku kasih dengan Kristal. Bagaimana bisa dia mendapatkan kepuasan dari Stevan jika cepat ejukasi dini." Ucap Eve tanpa rasa malu.


Stevan yang mendengar ucapan Eve menatapnya penuh kebencian.


Kristal menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kedua orang tersebut, sejujurnya Kristal ingin menonton TV karena bingung akan melakukan apa.


"Benarkah? Wah, aku rasa kamu salah Eve. Mungkin Stevan tidak berselera denganmu hingga ejukasi dini, nyatanya bermain denganku Stevan sangat kuat dan aku yang hampir pingsan di buatnya keenakan." Ucap Kristal dengan tersenyum manis ke arah keduanya.


"Ha ha ha ha, tidak mungkin Kristal. Tidak perlu kamu menutupinya." Ucap Eve tertawa karena tidak percaya.


"Memang aku salah Stevan? Kita bahkan melakukannya dari sore hingga pagi menjelang, kamu tahu Eve meski Stevan sudah berumur namun dia tetap seperti Stevan saat muda. Suka melakukan percintaan dengan berbagai gaya bahkan kami harus mampir ke apotik untuk membeli obat tulang agar tidak kesleo."


"Kami melakukannya di atas kasur, ruang tamu, kamar mandi, balkom hotel bahkan yang baru saja sebelum datang ke mansion di dalam mobil. Uhhhh, seharusnya sejak dulu aku mengajak Stevan bermain di tempat-tempat ekstrem seperti itu." Ucap Kristal panjang lebar dengan menggoyangkan kedua pundaknya di akhir percakapan.


Stevan yang mendengar ucapan Kristal terperangah, bagaimana bisa wanita yang dulu polos bisa berfikir fulgar seperti itu. Bahkan sesuatu dalam Stevan mulai bangkin karena otaknya traveling membayangkan adegan yang di ucapkan oleh Kristal.


Kristal menatap remeh ke arah Eve, memprovokasi Eve jauh lebih menyenangkan. Hingga Kristal tidak sengaja melihat sesuatu yang menonjol dari balik celana Stevan.


"Lihatlah Eve, aku baru bercerita saja suamimu sudah kembali bangkit. Sudah di pastikan jika aku lebih menggairahkan ketika di ajak bercinta darioada dirimu." Ucap Kristal telak.


Kristal melenggang pergi begitu saja menuju ruang TV meninggalkan Stevan dan Eve sendirian.


Eve mengepalkan kedua tangannya, menatap Stevan dengan tajam.


"Aku ingin kita bercerai." Ucap Eve tegas.


Stevan menolehkan kepalanya ke arah Eve karena masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kristal.


"Cerai?" Ulang Stevan.


"Iya cerai, aku menceraikanmu." Ucap Eve dengan mengnyerahkan sebuah ampol coklat yang berada di atas sofa.


Sedangkan Kristal mengurungkan niatnya untuk menonton TV dirinya ingin menguping pembicaraan keduanya.


Stevan mengeluarkan kertas putih setelah membuka amplopnya, dengan cepat Stevan membaca isi surat tersebut.


"Jika aku tidak mau?" Tanya Stevan.


Deg


Jantung Kristal terasa berdenyut nyeri, bukankah Stevan ingin menceraikan Eve setelah semua selesai. Kenapa sekarang berbeda ucapannya.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa menilahnya Stevan, kamu tanda tangani ini dan aku akan mencarikan pendonor untuk Daniel. Bagaimana?" Jawab Eve dengan memberikan penawaran.


"Aku dengar, selama ini para pendonor mengundurkan diri. Bagaimana kamu bisa mendapatkan pendonor untuk Daniel, jangan mengarang Eve." Ucap Stevan panjang lebar.


"Kamu benar, karena selama ini aku yang menghalangi mereka." Jawab Eve tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apa! Jadi selama ini kamu yang menghalangi pendonor untuk Daniel." Seru Kristal yang keluar dari persembunyiannya.


"Kamu menguping? Tapi tidak apa-apa, toh anakmu juga sebentar lagi akan mati dan aku menawarkan nyawa untuk anakmu." Ucap Eve dangan santai.


"Kamu wanita biadap Eve! Bagaimana kamu tega mempermainkan nyawa manusia!" Seru Kristal dengan kedua mata yang sudah berkabut.


"Aku tidak peduli." Jawab Eve dengan memainkan kukunya.


"Kau---"


"Aku akan menandatanganinya, akan aku ambil dulu stempelku." Potong Stevan cepat.


"Tidak perlu, semua sudah aku siapkan." Ucap Eve.


Eve mengambil dua stempel yang berada di dalam saku dan juga sebuah bolpoin.


Stevan segeea duduk dan menggoreskan tinta ke atas kertas tersebut di akhiri sengan stempel.


"Sudah, apa lagi yang kamu inginkan." Kata Stevan dingin.


"Tidak ada, aku akan pindah sekarang juga ke rumah baruku. Aku akan mengirimkan pendonor untuk Daniel dan saran untuk kalian lebih baik kalian segera berkemas-kemas untuk meninggalkan mansion ini." Ucap Eve dengan memasukkan surat kedalam tas jinjingnya.


"Ada apa?" Tanya Stevan pura-pura tidak tahu.


"Yah, namanya kehidupan kita tidak tahu. Mungkin besok kalian berada di posisi paling bawah." Jawab Eve yang sudah berdiri.


Eve berjalan begitu saja melewati Kristal yang masih ingin meluapkan amarahnya.


Stevan segera memeluk tubuh Kristal tanpa sadar Kristal menangis karena merasa marah sekaligus sedih dalam waktu yang sama.


"Kenapa kamu tidak menghajarnya, hah!" Seru Kristal kepada Stevan.


"Tenanglah Kristal, kita pasti akan membalasnya." Ucap Stevan menenangkan.


"Kamu hanya diam saja saat tahu wanita itu penyebab Daniel tidak sembuh-sembuh dari sakitnya!" Seru Kristal lagi dengan memukul tubuh Stevan.


"Maafkan aku." Ucap Stevan.


"Hiks, jika sejak dulu Daniel mendapatkan pendonor pasti dia akan sembuh sejak lama Stevan." Kata Kristal terisak menangis.


Stevan mengeratkan pelukannya dan mengelus pulan punggung serta lengan Kristal.


Kristal menangis dengan memukul tubuh Stevan, sedangkan Eve tersenyum lebar di dalam mobil yang membawanya ke rumah baru.


"Bagus Eve, kamu akan menjadi kaya raya!" Seru Eve di dalam hatinya.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2