
Happy Reading 🌹🌹
"Kemana Gabriel?" Tanya Dave yang sejak tadi tidak menemukan saudara kembar Daniel.
"Mungkin duduk bersama Ayah Agung, mejanya berada di jarum jam angka enam." Jawab Daniel.
Dave menoleh ke arah yang dimakhsud oleh Daniel, namun tidak ada Gabriel hanya Ayah Agung yang sedikit tertutup tubuh para penjaga dari Gandratama.
"Tidak ada, apakah dia mengejar Rose?" Ucap Dave.
"Aku rasa tidak karena dari kami belum ada yang mengatakannya kepada Kakak." Jawab Daniel jujur.
Dave menghela nafasnya kasar, "Sepertinya aku benar-benar akan menjadi umpan." Keluh Dave pada Prilly.
Prilly terkekeh geli melihat wajah memelas Dave, "Tenang ada aku sayang, aku jago karate." Ucap Prilly dengan mengelus pipi Dave.
Dave tersenyum dan memegang punggung tangan Prilly yang masih berada di pipinya.
"Ekhm, sepertinya kita mengganggu. Ayo kita mendatangi tamu yang lain Minzy." Ajak Daniel pada tunangannya.
Minzy tersenyum lembut dan melangkah pergi meninggalkan meja Dave dan Prilly.
Diruang CCTV masih terdengar gerutuan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut Gabriel memaki dan mencaci Dave.
Tidak ada yang berani menegur atau bertanya apa arti dari ucapan Gabriel karena melihat dari ekspresi wajahnya saja sudah tahu jika pria matang tersebut tengah kesal dengan salah satu tamu undangan.
"Lihat saja jika aku bertemu denganmu lagi, akan aku hajar kau sampai menangis." Umpat Briel kepada Dave.
Karena tidak ingin terus emosi, akhirnya Gabriel berjalan keluar dengan perasaan panas dan dongkolnya.
Bagaimana bisa Rose hanya diam dengan memandang perselingkuhan yang sudah ada didepan mata. Jika Gabriel menjadi Rose maka sudah ditendang benda pusakanya agar tidak dapat berdiri tegak.
Membayangkannya saja membuat Gabriel otomatis menutupi asetnya yang berharga, "Tenang rudal balistik." Gumam Gabriel lirih.
Dengan langkah lebarnya Gabriel berjalan keluar dari lift dn menuju ruangan pertunangan saudara kembarnya, terlihat sekumpulan pria berjas hitam mengelilingi meja paling belakang.
Gabriel melangkah dengan cepat tanpa menghiraukan seseorang yang tengah menatapnya dalam diam.
"Akhirnya kamu datang." Ucap Ayah Agung.
Gabriel hanya mengangguk dan kemudian meneguk white wine yang berasa digelas kristal sehingga menambah cita rasa alkohol tersebut lebih meningkat.
"Ayah melihat Rose sudah pergi." Ucap Agung kemudian.
Gabriel tidak menanggapi hanya memutar gelas kristal yang masih berisi sedikit white wine tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu tidak mengejarnya?" Tanya Ayah Agung.
Gabriel mengangkat kepalanya dan menatap Agung dalam diam.
"Bukan urusan Briel." Jawab Briel dengan kembali meneguk white wine hingga tandas.
Agung hanya tersenyum tipis, "Ayah rasa kamu akan menyesal." Timpal Agung yang mengikuti Gabriel meneguk red whine-nya.
Gabriel hanya berdecih tidak menanggapi ucapan sang Ayah, untuk apa mengejar jodoh orang lain hanya membuang tenaga saja. Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Acara pertunangan Daniel dan Minzy kini memasuki acara dansa berpasangan, terlihat para penjaga dan pegawai menyingkirkan meja yang berada ditengah untuk memberikan ruang hingga pesta kini berganti menjadi standing party.
Terlihat Minzy dan Daniel menjadi pusat perhatian para tamu hingga di ikuti beberapa tamu undangan yang masuk ke arena dansa termasuk Dave dan seorang wanita yaitu Prilly.
Gabriel menghentikan seorang waiters dan mengambil red wine, terlihat tatapan mata Gabriel bagaikan puma yang tengah mengincar mangsanya.
Dansa berlangsung cukup lama, bahkan terlihat Dave dan Daniel bertukar pasangan. Hingga ke empat orang itu menyingkir dari arena dansa.
"Aku ke toilet dulu." Ucap Dave kepada Prilly.
"Ya sayang, cepat kembali tidak ada yang aku kenal disini." Jawab Prilly lembut.
"Baiklah." Ucap Dave.
Dave segera melangkahkan kakinya menembus kerumunan untuk pergi kekamar mandi, Gabriel yang melihatnya dengan kasar meneguk red wine yang ada digelas dan meletakkan dengan cukup kasar.
Tanpa berkata apapun Gabriel melangkah mengikuti Dave dibelakang, Agung yang melihatnya segera memberikan perintah kepada kedua bodyguard untuk mengikuti kedua singa jantan berdarah panas tersebut.
Salah satu bodyguard untuk memberi informasi kepada Prilly tentang Gabriel yang mengikuti Dave, terlihat Prilly menatap Ayah Agung dan menganggukkan kepalanya paham.
Kini Dave segera masuk kedalam salah satu bilik kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang sudah di ujung tanduk.
Gabriel berdiri di mulut pintu dengan menyandarkan tubuhnya ke samping, menunggu urusan Dave dengan alam hingga selesai.
Hungga suara pintu kamar mandi terbuka terlihat Dave keluar dan menuju wastafel untuk menyuci kedua tangannya, Dave melihat kearah kaca terlihat Gabriel tengah menatap dirinya dengan tajam.
"Seperinya aku harus mengorbankan wajah tampanku lagi." Pasrah Dave dalam hati.
"Kau tidak masuk? Semua bilik kosong." Ucap Dave yang tengah mengibaskan kedua tangannya yang basah.
"Apa kau akan terus bersikap bajingan seperti itu." Ucap Gabriel dengan tajam.
Dave tersenyum miring semakin memprovokasi emosi Gabriel, "Apa urusannya denganmu?" Jawab Dave remeh.
Gabriel mengepalkan kedua tangannya yang berada didalam saku dan Dave hanya melirik kemudian menatap kedua mata Gabriel.
"Kau sudah bertunangan dengan Rose tapi kau berjalan dengan wanita lain, bahkan dihadapan tunanganmu sendiri." Ucap Gabriel terdengar menekan amarahnya.
Dave tertawa kencang membuat Gabriel mendelik kesal, "Rose saja tidak masalah, kenapa kamu yang repot mengurusi hubungan kami Gabriel. Jika kamu ingin Rose ambillah." Kata Dave.
Tanpa berkata apapun Gabriel langsung menghajar Dave hingga Dave tersungkur kelantai yang lembab tersebut dan punggung Dave membentur tembok.
Terlihat Dave memegang bibirnya yang terasa perih, ternyata sobek kecil hingga membuatnya mengeluarkan sedikit darah.
Gabriel menghampiri Dave dan memegang kerah jas Dave hingga tubuh Dave sedikit terangkat bagian depannya.
"Tinggalkan Rose jika kau hanya menyakitinya!!" Seru Gabriel dengan mata yang membuka lebar dan wajah serta otot leher yang tergambar jelas betapa emosinya Gabriel.
Dave tertawa pelan, "Jika begitu ambillah." Ucap Dave lagi.
Buk
Buk
Buk
__ADS_1
Suara hantaman terdengar didalam kamar mandi hingga pintu didobrak oleh kedua bodyguard yang sejak tadi berada didepan.
"Lepaskan!!! Lepaskan aku, aku akan menghajar bajingan itu!!" Seru Gabriel memberontak karena kedua tangannya dipegangi oleh bodyguard.
"Dave!" Seru Prilly langsug berlari menuju lokasi yang diberitahu oleh Agung.
Terlihat Dave sudah batuk-batuk bahkan penampilannya sudah kacau, wajahnya penuh dengan darah dan lebam.
"Lepaskan!" Seru Gabriel yang semakin emosi melihat keduanya.
Prilly berdiri dan memegang tas jinjingnya dengan kencang.
Dengan sekuat tenaga Prilly menghajar Gabriel dengan membabi buta bahkan tidak segan mengigit dan menjambak pria kaku itu.
"Ya! Lepaskan, kau wanita gila!" Seru Gabriel yang masih dipegang oleh bodyguard sungguh tidak adil.
Terlihat nafas Prilly memburu, "Kau! Apa yang kamu lakukan kepada tunanganku!" Seru Prilly galak.
Gabriel tergelak mendengar ucapan wanita yang berada didepannya, sedetik kemudian merubah wajahnya menjadi bengis.
"Apa yang dijanjikan pria brengsek itu padamu, asal kamu tahu pria yang kau bilang tunanganmu itu adalah tunangan dari wanita lain." Ucap Gabriel dingin.
"Siapa? Rose?" Tanya Prilly dengan menaikkan sebelah alisnya.
Sejenak Gabriel tertegun kenapa wanita yang berada didepannya ini tahu nama Rose, ah Briel tahu jaman sekarang pelakor lebih berani daripada istri sah.
"Ah--- jadi kamu sudah mengenal tunangan pria itu. Wah aku rasa kau sungguh tidak tahu malu, dengan terang-terangan bermesraan dia pria itu didepan Rose." Jawab Gabriel mengejek.
Buk
Satu bogem mentah mendarat dipipi kiri Gabriel hingga membuat kepala Gabriel berpaling ke arah kanan.
"Dasar pria menyebalkan, lihat ini adalah cincin pertunanganku dengan Dave." Ucap Prilly dengan menunjukkan tangan kanannya yang tersemat cincin permata.
Dave berjalan dengan dipapah oleh dua orang bodyguard hingga kini berada di belakang Prilly.
"Aku dan Rose sudah lama menutuskan pertunangan kami, aku melepaskan Rose untuk mengerjar cintanya hingga berkuliah disini. Namun aku rasa keputusanku dan Rose salah seharusnya kami tetap menjalani pertunangan itu." Ucap Dave dengan beberapa kali mendesis karena terasa perih diseluruh wajahnya.
Gabriel terpaku di tempatnya, seakan telinganya berdenging memutuskan pertunangan? Kalimat tersebut terus terngiang ditelinganya.
"Iya Briel, Dave sudah menutuskan pertunangannya dengan Rose. Kami datang kesini karena Ayah Agung dan Daniel yang meminta tolong." Timpal Prilly lembut.
Gabriel seakan masih berada diantara dua dunia, hingga suara yang familiar muncul dibelakang tubuhnya.
"Benar Briel, Ayah yang merencanakan ini semua karena kamu selalu memotong pembicaraan ketika kami akan memberitahumu tentang hubungan Rose dan Dave yang sudah kandas." Jelas Agung kepada Gabriel
Gabriel menolehkan kepalanya ke belakang, terlihat Agung berdiri tegap dengan beberapa bodyguard dibelakangnya.
"Jadi--- Rose singel?" Ucap Gabriel dengan pikiran yang kosong.
"Iya dan sepertinya sebentar lagi tidak." Jawab Agung ambigu.
"Maksud Ayah?" Tanya Gabriel yang masih belum menyambung dengan pembicaraan hari ini.
Agung hanya menghendikkan bahunya ke atas, "Cari tahu saja sendiri." Jawab Agung tanpa beban.
__ADS_1
...🐾🐾...