
Happy Reading πΉπΉ
Gabriel duduk diam di kursinya, memberi ruang kepada Rose yang masih menangis sesenggukan di kursi samping.
"Rose pikir, jika bertemu dengan Kak Dave akan baik-baik saja. Nyatanya tidak, Rose masih sakit melihat mereka." Ucap Rose di sela tangisannya.
"Apa kamu begitu mencintai Dave?" Tanya Briel pelan.
"Sangat... Rose sangat mencintainya kak." Jawab Rose dengan semakin menangis kencang.
Briel menghela nafasnya pelan, "Kenapa tidak mencoba kembali?" Tanya Briel yang menahan perasaan sesak.
Rose menggeleng pelan, "Tidak kak, Rose tidak siap jika harus terluka dimasa yang akan datang." Ucap Rose dengan suara serak.
"Jika begitu, jadilah kekasihku." Ucap Briel dengan tegas.
Huk
Suara tangis Rose terganti dengan suara cegukan, Rose menatap wajah Briel dengan sisa sesenggukan.
"Apa?" Tanya Rose lagi.
"Apa kurang jelas, jadilah kekasihku. Lupakan Dave, mari kita bahagia bersama." Ucap Briel dengan menatap netra Rose.
...πΎπΎ...
Pagi hari
Di salah satu restoran VVIP, terlihat hawa panas dan dingin menjadi satu.
Ya, Sky meninggalkan Gabriel dan Dave di satu ruangan yang sama.
Dave dengan hawa panasnya sedangkan Gabriel dengan hawa dinginnya.
"Mari kita profesional Tuan." Ucap Gabriel dengan wajah datarnya.
"Cih, tanpa kamu beritahu aku juga akan bersifat profesional." Jawab Dave dengan menatap tajam pria di depannya tersebut.
"Bagus" Ucap Gabriel acuh.
Selama dua jam lamanya mereka membahas tentang proyek bernilai milyaran tersebut, Gabriel tetap pada wajah datarnya. Gabriel tidak memperdulikan tatapan tajam dari Dave meskipun melubangi jidatnya sekalipun.
"Bagaimana Tuan, apakah ada yang masih perlu saya jelaskan?" Tanya Gabriel dengan menutup mapnya.
"Tidak," Jawab Dave singkat.
Ponsel Gabriel bergetar, terlihat nama Rose di layar benda pipih tersebut.
Dave yang akan beranjak pergi mengurungkan niatnya, "Apakah Tuan masih ingin menemani saya disini." Ucap Gabriel dengan wajah malasnya.
"Cih, aku hanya masih ingin duduk saja. Jangan hiraukan aku." Jawab Dave melipat tangannya di depan dada.
Gabriel hanya memutar bolanya malas dan menerima panggilan masuk dari Rose.
"Kamu dimana Kak?" Tanya Rose to the point.
"Rose jangan kebiasaan," Jawab Gabriel penuh penekanan.
Rose hanya tertawa di sebrang telfon, "Baiklah maaf, Kakak dimana?" Tanya Rose lagi.
"Baru selesai rapat, ada apa Rose?" Jawab Gabriel jujur.
__ADS_1
"Aku akan kesana, berikan alamatnya. Aku ingin mengajak Kakak makan siang." Ucap Rose dengan riang gembira.
Gabriel hanya tersenyum tanpa Rose melihatnya.
"Cih, menjijikkan sekali senyumnya. Apa dia sebahagia itu di telfon oleh gadis cerewet itu." Umpat Dave dalam hati dengan wajah kesal.
"Baiklah Rose, akan aku tunggu." Ucap Gabriel yang kemudian mengakhiri panggilannya.
Gabriel segera memasukkan hpnya kedalam saku jas dan merapikan berkas-berkasnya.
"Mau kemana kamu." Ucap Dave yang melihat Gabriel berdiri dari duduknya.
"Kencan" Jawab Gabriel singkat jelas dan padat.
Dave melebarkan matanya, kencan? Apa mereka berdua sudah jadian.
Gabriel meninggalkan Dave seorang diri dengan pemikirannya sendiri.
Rose segera melambaikan tangan begitu masuk ke dalam restoran, terlihat Gabriel sudah menunggunya di sudut meja ruangan itu.
"Apa kakak menunggu lama?" Tanya Rose yang menyampaikan tasnya di kursi dan duduk di hadapan Gabriel.
"Tidak, aku juga masih mengerjakan pekerjaanku." Jawab Gabriel memperlihatkan tablet di tangannya.
Rose mengangguk-anggukan kepalanya dan segera memanggil pelayan untuk meminta daftar menu.
"Kakak mau makan apa, aku yang teraktir hari ini." Ucap Rose tersenyum.
Gabriel menaikkan sebelah alisnya, "Ada acara apa?" Tanya Gabriel.
"Tidak ada sih, aku hanya ingin meneraktir saja." Jawab Rose terkekeh.
"Ck, kekasih darimana. Lihatlah mereka sangat tidak romantis." Gerutu Dave yang menjadi mata-mata dadakan.
Dave mengikuti langkah Gabriel dengan mengendap-endap dan meminta koran kepada pelayan.
Dapat terlihat dengan jelas interaksi Rose dan Gabriel, karena Dave melubangi koran tersebut yang orang lain pikir dia tengah membaca koran.
Setelah Rose memesan, dia mengambil tablet dari tangan Gabriel.
"Kakak, berhentilah sejenak. Jika di kantor nanti bisa diteruskan." Ucap Rose dengan tersenyum.
Gabriel mengacak rambut Rose pelan dengan tersenyum, "Baiklah."
"Tidak jadi, ucapanku aku tarik. Mereka seperti sepasang kekasih." Ucap Dave lirih dengan wajah yang masam.
Dave senantiasa memantau Rose dan Gabriel, terlihat mereka bercakap dengan akrab dan tertawa bersama.
"Dulu tawa itu untukku, senyum itu juga untukku. Kenapa sekarang hanya mendapatkannya saja sangat susah." Ucap Dave sendu.
Dave yang melihat kepergian Rose dan Gabriel dari dalam restoran segera bergegas mengikuti mereka.
"Kak aku pulang dulu ya, Terima kasih sudah menemaniku makan siang." Ucap Rose lembut dengan tersenyum tipis.
Gabriel hanya mengangguk dan berjalan ke arah mobilnya.
Rose yang melihatnya hanya mencebik kesal, kebiasaan Gabriel selalu mengacuhkannya meskipun selalu ada untuk Rose.
Rose mengendikkan kedua bahunya dan berjalan menuju mobilnya.
Sebuah tangan menghentikan langkahnya, membuat Rose menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
Wajah Rose yang awalnya bahagia bak sinar mentari pagi berubah menjadi gelap karena melihat pria yang dia benci.
"Lepaskan!" Ucap Rose pelan tapi penuh penekanan.
"Tidak!" Jawab Dave tegas.
"Apa maumu! Aku sudah menjauh seperti yang kamu inginkan, menyingkirlah." Ucap Rose dengan berusaha melepaskan cekalan tangan Dave.
Dave bukan mengendurkan pegangan tangannya tetapi semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Rose.
Dave menyeret Rose hingga perempuan itu terseok-seok, Dave membuka pintu mobilnya dan memaksukan Rose secara paksa dan menutupnya keras.
Dave segera berlari memutari mobilnya, langsung menekan kunci otomatis setelah dirinya berhasil masuk tidak membiarkan Rose kabur kali ini.
Dave segera menjalankan mobil dan meninggalkan parkiran restoran itu.
"Apa maumu! Turunkan aku!" Seru Rose dengan emosi.
Dave tidak menghiraukan ucapan Rose, dia tetap menyetir menuju suatu tempat dimana Dave akan berbicara kepada Rose.
Rose merasa percuma berbicara dengan pria yang berada di sampingnya, dia hanya diam dan mengambil HP nya.
"Halo kak Briel." Ucap Rose begitu telfonnya diangkat Gabriel.
Dave langsung mengerem mendadak sehingga membuat Rose terhuyung kedepan, dan jidatnya terbentur dasbor mobil.
"Apa kau gila!" Teriak Rose kesal.
Dave langsung merebut ponsel milik Rose dan membuangnya dari dalam mobil ke sebuah sungai yang mereka lewati.
"Ya! apa yang kamu lakukan Dave!" Rose terus berseru kepada Dave.
Dave tidak peduli, dia menjalankan mobilnya. Perasaan Dave masih terselimuti rasa amarah dan cemburu tetapi wanita itu masih menghubungi Gabriel lagi di saat bersamanya.
Dave menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi dan memmembuka seatbeltnya, dengan cepat Dave mendekat dan melu*mat bibir Rose.
Rose memberontak, mendorong tubuh Dave dan menamparnya.
Terlihat wajah Rose yang terselimuti amarah dan rasa sakit hatinya, matanyapun sudah berkabut.
Dave hanya tertawa pelan dan sinis, Rose segera membuka paksa kunci pintu mobil Dave dan keluar.
Rose berjalan lurus dengan menyeka air mata yang sudah keluar dengan kasar, "Pria brengsek!" Umpat Rose dalam hati.
Dave segera turun dan berlari menyusul Rose, "Rose," Ucap Dave setelah berhasil memegang tangan Rose.
Rose menoleh dan menatao tajam Dave dengan mata sebabnya, "Jangan mendekatiku!!! Aku jijik terhadapmu, cukup kamu menginjak-injak harga diriku Dave!! Cukup!!" Teriak Rose meluapkan perasaannya kepada Dave.
"Maafkan aku Rose, maafkan aku. Aku salah." Ucap Dave lirih dan menatap sendu kearah Rose.
"Maaf?" Beo Rose dengan tersenyum sinis.
"Kamu memperlihatkan hubungan badan dengan wanita murahan di hadapanku, kau tau Dave. Kamu pria paling menjijikkan yang pernah aku. kenal." Ucap Rose sarkas.
...πΎπΎ...
...HAYO JADIAN APA TEMENAN AJA? ...
...KASIH VOTE DONG...
...LEMES NIH PADAHAL RAJIN UPDATE π...
__ADS_1