Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Rose dan Minzy


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kini Rose dan Kristal sudah berada didalam ruangan dengan nuansa serba putih dan bau yang sangat khas.


Terlihat Kristal tengah membuka telapak tangannya yang terluka kepada seorang dokter, denganpelan dokter tersebut menyiram luka ditangan Kristal menggunakan alkohol.


Terlihat kedua alis Kristal sedikit menyerengit, menandakan jika terasa perih dari lukanya, namun Kristal tetap diam bahkan ketika dokter menyuntikkan obat bius lokal untuk menjahit telapak tangan Kristal dibagian luka yang dalam.


Rose menggenggam erat tangan Kristal, karena tidak tahu harus berbuat apa. Ingin menelfon Gabriel atau Kakek Kristoff namun Rose tidak memiliki nomornya.


Rose membuang muka begitu dokter menancapkan jarum ditelapak tangan Kristal, hingga akhirnya luka Kristal sudah selesai di obati.


"Sudah selesai, Nyonya. Silahkan duduk di kursi." Ucap dokter sopan dengan beranjak dari duduknya.


Rose membantu Kristal untuk turun dari atas brangkar , sedangkan dokter terlihat sudah mengeringkan kedua tangannya dengan handuk kecil setelah cuci tangan.


Dokter terlihat mengetikkan sesuatu di komputernya , "Nyonya, obat sudah dapat ditebus dibagian obat. Untuk sementara telapak tangan Anda jangan sampai terkena air hingga lukanya benar-benar kering dan sehari dua kali setidaknya mengganti perban." Jelas sang dokter.


"Baik, terima kasih dok." Jawab Rose.


Rose dan Kristal keluar dari ruangan dokter dan berjalan mencari bagian pengambilan obat.


"Tante tunggu disini ya, biar Rose yang ambilkan." Ucap Rose yang mendudukkan Kristal di kursi tunggu.


"Ya, terima kasih Rose. Maaf merepotkan." Jawab Kristal pelan.


Rose mengangguk dan segera berjalan menuju loket pengambilan obat, Kristal masih diam dan berfikir dengan pikirannya.


Tidak berselang lama, Rose sudah datang dengan sekantong obat dan peralatan medis yang akan digunakan oleh Kristal.


"Ayo Tante kita pulang." Ucap Rose.


"Kenapa banyak sekali, Rose?" Tanya Kristal mendongak hingga menatap wajah Rose.


Rose hanya menunjukkan cengir kudanya, "Ini persediaan untuk perban dan obat merah Tante." Jawab Rose jujur.


Kristal tersenyum lembut ke arah Rose, "Terima kasih Rose, entahTante harus membalas apa atas kebaikanmu selama ini." Ucap Kristal lirih.


"Berikan aku nomor Kak Gabriel." Kata Rose dengan senyum sempurna.


"Apa?" Tanya Kristal takut salah mendengar.


"Iya, berikan Rose nomor Kak Gabriel." Ulang Rose kepada Kristal.


"Baiklah, setelah sampai mansion akan Tante berikan nomor ponselnya." Jawab Kristal menyanggupi.


"Yes!" Ucap Rose girang dengan sedikit meloncat ditempat.

__ADS_1


Segera Rose dan Kristal meninggalkan Rumah Sakit untuk segera pulang, selama diperjalanan Rose dan Kristal nampak banyak mengobrol bahkan tak jarang mereka tertawa.


Terlihat obrolan keduanya menjadi serius, dan saling berpelukan. Keduanya saling menguatkan dan mencurahkan perasaan masing-masing.


Hingga tanpa kedua sadari, mobil telah berhenti didepan pintu mansion utama.


Pengawal Rose segera membukakan pintu untuk majikannya dan juga Kristal. Rose segera menggandeng lengan Kristal untuk masuk kedalam mansion.


"Mama." Panggil Gabriel dari dalam.


Langkah Rose dan Kristal terhenti, terlihat Gabriel berdiri dengan sebelah tangannya digandeng oleh seorang wanita yang jauh lebih cantik daripada difoto.


"El, kamu sudah pulang jam segini?" Tanya Kristal heran.


"Selamat pagi Tante, perkenalkansaya Saya Minzy kekasih El." Minzy datang dan menyapa Kristal dengan sopan juga elegant.


"Pagi Minzy, maaf Tante tidak mengenalimu." Jawab Kristal tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Tante, tangan Tante kenapa diperban?" Tanya Minzy dengan wajah panik bercampur khawatir.


"Biasa, Tante kurang berhati-hati ketika memasak tadi pagi." Jawab Kristal berbohong.


"Ayo kita duduk." Ajak Kristal kepada tiganya.


Kristal dan Minzy berjalan menuju sofa, berbedadengan Rose dan Gabriel.


"Sayang, ayo duduk." Ucap Minzy yang datang menghampiri Gabriel.


Gabriel langsung memutuskan tatapannya dan berjalan bersama Minzy keruang tamu.


Rose masih terpaku ditempatnya, hinggaKristal datang kembali dan mengajaknya ikut bergabung bersama.


Terlihat Minzy dan Kristal mengobrol dengan santai, Rose menatap kedua wanita itu.


Terlihat sangat cocok, satu wanita muda yang sangat cantik dan elegant penampilannya juga sangat modis dengan Kristal yang masih terlihat canti juga tidak kalah modis dalam berpakaian sekarang.


Sedangkan Rose, terlihat biasa saja. Menggunakan celana jeans dan sweater karena tengah musim dingin di Korea.


"Kalian pacaran?" Tanya Kristal penasaran.


Minzy tersenyum menngandeng lengan Gabriel dengan manja, "Iya Tante, bahkan kami sudah berencana akan menggelar pertunangan bulan ini." Jawab Minzy dengan wajah bahagia.


Kristal melebarkan kedua bola matanya, menatap Gabriel dan menatap Rose.


"Benarkah, tapi kenapa El belum mengatakan kepada Tante?" Ucap Kristal.


"Maaf Tan, tadi lepas rapat pemegang saham. Ayah Minzy dan Kakek Kristoff menyarankan untuk kami bertunangan secepatnya." Jelas Minzy jujur.

__ADS_1


Rose yang mendengarkannya serasa diremas hatinya, bahkan matanya sudah memanas bingung harus berbuat apa sekarang. Otaknya terasa kosong tidak dapat berfikir.


Hingga ponsel Rose berdering, segera Rose mengangkatnya. Terlihat nama Daniel tertera dilayar ponselnya.


Rose segera menggerakkan jarinya untuk menjawab panggilan itu.


"Halo, sayang?"


"Aku baru akan ke apartemen. Baiklah, aku akan berpamitan terlebih dahulu.


" Love you."


Rose memaksakan tersenyum setelah mengakhiri panggilan dari Daniel.


"Tante Kristal, maaf Rose harus segera pulang dan ini obat Tante." Ucap Rose yang menghampiri Kristal.


Kristal diam menatap wajah Rose dengan dalam, "Hati-hati Rose." Ucapnya.


"Selamat Kak, akhirnya tidak jomblo lagi." Ucap Rose kepada Gabriel.


"Selamat Nona atas pertunangan kalian." Ucap Rose juga kepada Minzy.


"Ah, iya. Terima kasih." Jawab Minzy.


Rose segera memutar tubuhnya dan berjalan menjauh meninggalkan ketiga orang tersebut diruang tamu.


Terlihat dengan kasar, Rose menyeka air matanya yang keluar tanpa permisi hingga membasahi pipinya.


"Itu tadi siapa, Tante?" Tanya Minzy karena melupakan keberadaan Rose.


"Itu, teman Tante." Jawab Kristal.


"Teman?" Ulang Minzy.


"Iya, namanya Rose. Dia gadis baik dan periang dulu pernah menolong Tante juga El jadi sekarang menjadi teman." Jelas Kristal lembut.


Minzy menoleh ke arah Gabriel, terlihat pria tersebut menatap ke arah pintu dimana gadis asing itu keluar.


"Oh begitu." Jawab Minzy singkat.


Sedangkan di Indonesia.


Daniel yang menghubungi Rose ingin menanyakan apakah dirinya sudah bertemu dengan Gabriel malah bingung.


"Kenapa dia memanggilku sayang dan mengucapkan i love you, lalu siapa yang menunggunya di apartemen?" Gumam Daniel pelan dengan menatap layar ponselnya.


Daniel meletakkan ponselnya begitu saja tanpa ada niatan untuk menghubungi Rose lagi.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2