
Happy Reading 🌹🌹
Sky dan Kakek Kristoff masih bersitegang di luar Rumah Sakit.
Hingga Robby kembali bersuara, "Tuan-tuan, sebaiknya kita masuk dulu ke dalam. Tidak enak menjadi tontonan orang-orang di sini." Ucap Robby pelan namun dapat di dengar oleh keduanya.
Sky berdehem untuk menetralkan perasaannya, sedangkan Kakek Kristoff hanya menghela nafasnya panjang.
"Baiklah, ayo." Ucap Sky.
Sky, kakek Kristoff, dan Robby berjalan memasuki Rumah Sakit.
Para pengunjung Rumah Sakit perlahan menyingkir memberi jalan karena kedatangan Sky, pria yang sangat terkenal karena kesuksesannya.
Di belakang mereka di ikuti banyak pengawal yang bersragam hitam senada dengan atasan mereka.
Denting bunyi lift, perlahan pintu lift terbukan.
Sky masuk dan di susul oleh Kakek Kristoff dan Robby. Sedangkan para bodyguard menuju lantai tiga dengan menggunakan pintu darurat.
Tidak mungkin lift di Rumah Sakit di gunakan oleh para pengawal mereka yang berjumlah hampir dua puluh lebih tersebut.
Di sisi lain Gabriel yang berlari keluar ruangannya berdiri di tengah lorong, terlihat pria yang sama tingginya dengan pakaian serba hitam. berdiri ditengah-tengah lorong.
"Gabriel." Panggil Agung dan Ambar.
Tidak lama pintu lift terbuka keliarlah Sky, kakek Kristoff dan Robby yang berjalan.
Tangan Kakek Kristoff langsung terangkat menandakan jika berhenti berjalan.
Sky menoleh dengan wajah heran, kenapa pria tua yang berada di tengah tersebut menyuruhnya berhenti.
Rombongan pengawal baru saja sampai dan langsung berbaris rapi di belakang tanpa ada yang bersuara.
Kristal yang melihat kedatangan Kakek Kristoff dan Robby melebarkan kedua bola matanya.
"Ayah." Lirih Kristal.
Agung dan Ambar yang tidak jauh berdiri dari Kristal mendengar panggilan wanita tersebut.
Sedangkan Daniel yang melihat Kristal dengan mata sembab dan wajah pucat pasi, membuat hatinya sedih.
Setitik air mata turun membasahi masker yang tengah dia gunakan. Beruntung menggunakan topi dan masker yang hampir tidak dapat orang melihat matanya jiga tidak mendongak.
Gabriel menyincingkan matanya, menelisik siapa gerangan yang berdiri di depannya. Bahkan Sky, dan bersama kakek-kakek yang hanya berdiri di belakang pria asing tersebut.
"Siapa kamu! Menyingkir dari jalanku!" Seru Gabriel dengan nada dinginnya.
Hati Daniel bergemuruh hebat, bahkan air matanya semakin deras.
__ADS_1
Ini kali pertama Daniel mendengar suara saudaranya, kakaknya, kembarannya.
Terlihat kedua pundak Daniel bergetar, "Kenapa suara itu sangat familiar, kenapa harus persis seperti pria brengsek yang ada di mansion Kristoff." Gumam Daniel dalam hati.
Kristal yang melihat Daniel menangis, perlahan berjalan mendekat. Namun di cegah oleh Agung.
Kristal menoleh ke arah Agung dan terlihat wajah yang memohon, sedangkan Agung menggelengkan kepalanya.
Agung membaca situasi, Sky yang sangat arogant saja tidak berani mendekat di antara kedua pria tersebut.
"Apa kau tuli!" Seru Gabriel lagi karena melihat pria yang ada di depannya hanya diam saja.
Daniel menghela nafasnya panjang, menetralkan genuruh di dalam hatinya.
Perlahan, tangan Daniel terulur membuka maskernya dan membuangnya kesembarang arah.
Gabriel masih menyincingkan matanya karena yang terlihat hanya hidung kebawah.
Perlahan Daniel membuka topi dan membuangnya ke samping kanan.
Jantung Gabriel serasa berhenti berdetak, wajah itu.
Ambar bahkan sampai menutup mulutnya, karena merasa shock dengan melihat Daniel.
Begitu juga Agung, yang kaget jika memang Gabriel memiliki saudara kembar, bahkan di bilang identik karena tidak ada celah perbedaannya.
Gabriel dan Daniel masih terpaku di tempat masing-masing, saling menatap mata dan mencoba menyelami perasaan serta keadaan.
Air mata Daniel yang sejak tadi sudah ditahan tidak dapat di bendung lagi, langkah lebarnya berjalan ke arah Gabriel.
Tanpa membuang waktu, Daniel langsung memeluk tubuh Gabriel yang masih mengenakan baju pasien.
"Kakak." Panggil Daniel lagi.
Kali ini Daniel menangis di dalam pelukan Gabriel, meskipun tidak mendapatkan respon apapun dari saudara kembarnya. Daniel sudah sangat bahagia.
Gabriel masih terpaku, jantung Briel berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Siapa kamu, apa kau gila. Hah!" Seru Gabriel dengan melepaskan Daniel secara paksa.
Daniel yang sedikit terhuyung dan berjalan mundur beberapa langkah.
Terlihat Gabriel menatap tajam Daniel, sedangkan Daniel menatap sendu ke arah Gabriel.
Ya, Gabriel dan Daniel sejak kecil tidak pernah bertemu. Karena, Kristal benar-benar mengubur rapat kenyataan ini.
"El, dia adalah saudara kembarmu." Ucap Kristal yang akhirnya membuka suara.
Gabriel menoleh dan menatap nyalang ke arah Kristal, sudut bibir Gabriel tersenyum miring.
__ADS_1
"Jadi, kamu menelantarkanku karena dia!" Tunjuk Gabriel kepada Daniel tanpa melihatnya.
Kristal menggeleng cepat, air matanya kembali luruh membasahi kedua pipinya.
"Bukan, El. Ini bukan karena Daniel." Jawab Kristal dengan bibir bergetar.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi! Disini tidak ada El, hanya Gabriel Gandratama!" Seru Gabriel dengan mengeluarkan seluruh tenaganya.
Terlihat leher dan dahi Gabriel ketika berbicara, hingga otot-ototnya ikut menonjol.
"Jangan, bentak Mama!" Seru Daniel.
"Ini bukan salah Mama, ini salahku. Kamu jangan menyalahkan wanita yang sudah melahirkan kita. Disini aku yang salah! Aku yang salah!" Ucap Daniel lagi tidak kalah keras.
"Tidak, El." Ucap Kristal yang menggelengkan kepalanya cepat.
"El?" Beo Gabriel dengan senyum dan suara sinisnya.
"Wah, kamu wanita yang sangat hebat sekali. Mamanggil dengan panggilan yang sama, sangat menjijikkan." Ucap Gabriel dengan mimik wajah yang seakan jijik terhadap Kristal.
Karistal hanya dapat mengigit bibir dalamnya, dan kedua tangannya mencengkram kuat pakaian yang dikenakannya.
Daniel dengan mata berkaca-kaca sekaligus marah, memandang Gabriel.
Hingga pipi Gabriel di hajar oleh Daniel hingga membuat pria berwajah datar tersebut tersungkur di atas lantai.
"Daniel."
"Gabriel."
Seru orang-orang yang ada di sana, memanggil kedua nama pria muda tersebut.
Gabriel menatap sinis ke arah Daniel, ibu jarinya terulur memegang pinggir bibirnya yang terasa pedih.
"Bereng#sek." Ucap Gabriel pelan.
Gabriel bangun dan berdiri dengan tegap, satu hantaman mendarat di pipi Daniel hingga membuat Daniel terpental ke arah tembok ruangan.
Terlihat Daniel yang meringis, menahan sakit. Hanya desisan yang keluar dari bibir Daniel.
"CUKUP!" Seru Kakek Kristoff.
Kakek Kristoff yang sejak tadi diam mengamati keadaan di depannya, melihat sang menantu yang terlihat sangat menyesal di hadapan Gabriel dan tidak dapat berbuat banyak.
Sedangkan melihat Daniel yang berusaha melindungi Kristal dari cacian Gabriel.
Melihat tindakan implusif Daniel membuat Kakek Kristoff terpaku sesaat, belum pernah rasanya Daniel menukul orang lain semasa hidupnya.
Ketika Gabriel membalas perilaku Daniel, seketika kesadaran Kakek Kristoff kembali. Teringat, Daniel baru saja keluar dari Rumah Sakit hari lalu.
__ADS_1
"Berhenti semua! Sekarang kembali masuk ke ruangan Gabriel. Tidak ada bantahan." Kakek Kristoff berkata dengan tegas dan lugas.
...🐾🐾...