
Happy Reading πΉπΉ
Hari menjelang siang, Gabriel akan menuruti saran dari Paman Seo.
Terlihat pria itu tengah gusar didalam mobil menuju salah satu restauran dimana dirinya mengajak Minzy untuk makan siang.
Gabriel tengah gundah gulana, apakah dia harus jujur atau tidak kepada Minzy. Mengingat gadis itu tergila-gila kepada Daniel saudara kembarnya.
Terdengar helaan nafas yang cukup berat dari Gabriel, tubuhnya direbahkan pada punggung kursi mobil.
Hingga terasa mobil yang ditumpangi Gabriel berbelok kesebuah hotel bintang lima yang memiliki retoran sangat terkenal pada kalangan konglomerat.
Mobil berhenti tepat di pintu utama restoran, seprang pelayan segera membukakan pintu mobil untuk tamu mereka dengan sopan.
Gabriel keluar dari dalam mobil dengan wajah dan karisma yang kuat.
"Selamat datan, Tuan." Ucap sang pelayan.
Gabriel langsung melangkahkan kaki panjangnya untuk masuk kedalam restoran, restoran yang terbilang sangat tenang karena para pengunjung menjunjung tinggi privasi mereka.
Gabriel duduk disalah satu kursi dekat jendela, seorang waiters menuangkan air putih dalam gelas kosong pada meja Gabriel.
Para pelayan akan melayani tamu mereka ketika menerima kode dari konsumen, sang pelayan langsung undur diri setelah selesai memberikan service selamat datang pada tamu mereka.
Terlihat Gabriel menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangannya dengan wajah datar dan kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menunggu Minzy.
Selang sepuluh menit, terdengar suara sepatu hak tinggi yang terdengar melangkah cepat kearah meja Gabriel.
Gabriel mendongak terlihat Minzy yang sepertinya habis berlari.
"Maaf membuatmu menunggu sayang." Ucap Minzy menyesal.
"Tidak apa, duduklah." Jawab Gabriel.
Minzy menarik kursi dan duduk dihadapan Gabriel, Gabriel langsung memanggil pelayang untuk memesan makanan.
Dengan cepat Gabriel memesan makanan tanpa bertanya apakah Minzy menyukai atau dapat memakannya.
Minzy hanya duduk diam tanpa berkata sepatah katapun. Hingga pelayan tersebut undur diri.
"Apa kamu berlari datang kesini?" Tanya Gabriel.
Minzy tersikap, "Tidak, aku hanya berjalan cepat saja karena takut kamu menunggu." Jawab Minzy jujur.
"Apa kamu belum mendapatkam dokumennya?" Tanya Gabriel.
__ADS_1
Minzy menggeleng pelan dengan menundukkan kepala.
Gabriel menghela nafas panjang, "Jika begitu ayo kita percepat hari pertunangan kita." Ucap Gabriel serius.
Minzy mengangkat kepalanya dengan cepat terlihat wajah Minzy yang tidak percaya dengan ucapan Gabriel.
Minzy bahkan sudah bersiap jika dirinya akan diputuskan hari ini, tapi apa yang terjadi. Pria yang dicintainya mengajaknya melakukan pertunangan sesegera mungkin.
"Apa kamu serius sayang?" Tanya Minzy dengan mata berbinar.
Gabriel mengangguk, "Tapi, aku bukan Daniel." Jawab Gabriel dengan serius.
Minzy menaikkan sebelah alisnya menatap bingung kepada Gabriel hingga tawa Minzy pecah.
"Kamu sangat lucu, jika kamu bukan Daniel siapa? Jelas-jelas kamu Daniel, tinggal di mansion dan berangkat kekantor Kristoff." Ucap Minzy yang mengangap Gabriel bercanda.
Karena jika difikir, tidak mungkin ada yang berani menyamar sebagai Daniel mengingat hidup sebagai keluarga Kristoff.
"Benar, aku adalah Gabriel saudara kembar Daniel." Gabriel mengeluarkan sebuah foto dimana dirinya dan Daniel tengah duduk berdua.
Minzy mengambil foto yang brada di atas meja tersebut, terlihat Minzy menutup mulutnya karena tidak percaya bahkan berulang kali menatap foto dan wajah Gabriel yang berada didepannya.
"Daniel saat ini masih terapi untuk kesembuhannya, jadi aku yang menggantikannya untuk sementara waktu." Jelas Gabriel.
"Kalian mempermainkanku?" Tanya Minzy dengan nada sinis.
Minzy tersenyum namun air matanya juga telah meleleh dari mata beningnya, Minzy merasa dipermainkan dalam hal ini.
"Lalu kamu mengajakku bertunangan baru saja juga hanya bersandiwara?" Tanya Minzy.
"Tidak, aku serius. Namun--- aku masih menyukai seorang gadis." Jawab Gabriel cepat.
Minzy semakin merasakan sesak didadanya, "Lalu kamu berharap aku dapat menggantikan posisinya dihatimu? Lalu kamu yang berwajah sama dengan Daniel dapat menggantikan posisinya dihatiku?" Ucap Minzy dengan emosional.
"Jika kamu benar mencintai Daniel maka bantulah aku, aku akan mempertemukanmu dengan Daniel setelah semua masalah ini selesai." Jawab Gabriel kepada Minzy.
Minzy menghapus air matanya dengan kasar, "Lalu apa hubungannya dengan Ayahku, dokumen apa yang sebenarnya kamu cari." Tanya Minzy dengan bersedekap dada.
"Jika aku mengatakannya maka kau akan membenci Ayahmu." Jawab Gabriel dengan tenang.
"Katakan saja." Ucap Minzy.
"Baiklah jika kamu memaksa, aku akan mengatakannya." Jawab Gabriel.
Gabriel mulai bercerita bagaimana masa lalu Ayah Minzy terhadap sakeluarga Kristal, Gabriel bercerita tidak ada yang ditambah-tambahi dan dikurangi.
__ADS_1
Sekali lagi Minzy menangis dalam diam, merasakan dadanya terhimpit batu besar. Jangankan untuk berbicara untuk bernafas saja sangat sesak.
Gabriel beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh Minzy dengan posisi Gabriel berdiri dan Minzy duduk dikursi.
"Maaf Minzy harus melibatkanmu, jujur aku dan Daniel membutuhkan bantuanmu." Ucap Gabriel pelan dan tulus.
"Lalu aku harus bagaimana, bagaimana dengan Ibuku?" Ucap Minzy dengan terbata.
"Kami akan membantumu dan Ibumu, aku sudah mengumpulkan bukti kejahatan Ayahmu. Sedikit lagi Minzy, dokumen itu harus berada ditanganku." Jelas Gabriel panjang lebar.
Minzy melingkarkan tangannya di pinggang Gabriel dan tergugu dalam pelukan pria kaku dan dingin itu.
"Pasti Mamamu membenciku, El." Ucap Minzy dalam tangisannya.
"Tidak Minzy, Mamaku sangat menyukaimu bahkan dia sudah mengklaim jika dirimu menantunya." Jawab Gabriel jujur.
"Benarkah?" Tanya Minzy dengan terisak.
"Benar, tunggulah Daniel sebentar lagi pasti dia akan sembuh." Ucap Gabriel.
Minzy mengangguk, "Baiklah, lalu bagaimana dengan acara pertunangan kita?" Tanya Minzy dengan mendongak menatap wajah Gabriel.
"Tetap kita laksanakan tapi ini hanya sandiwara, bagaimana?" Tawar Gabriel pada Minzy.
"Baiklah." Jawab Minzy.
"Jadi sekarang kita patner?" Ucap Gabriel.
Minzy menganggukkan kepalanya, "Iya, aku akan membantumu tapi bantulah aku dan Ibuku." Jawab Minzy dengan wajah sendu.
"Tentu saja, karena kau sudah di klaim menantu oleh Mama Kristal." Ucap Gabriel sedikit mengajak bercanda.
Minzy memukul perut Gabriel dengan mencebik kesal, bisa-bisanya pria ini membuat Minzy merasa malu bahkan ingin berguling saat mengetahui jika Kristal mengklaim dirinya sebagai menantu.
"Apakah aku dapat menelfon Daniel?" Tanya Minzy yang masih senantiasa memeluk tubuh Gabriel.
"Bisa, nanti akan aku telfonkan Daniel. Mingkin saat ini dia tengah istirahat karena negara dimana Daniel menjalani pengobatan lebih lambat satu jam." Jawab Gabriel.
"Aku sangat merindukannya." Ucap Minzy dengan jujur.
Minzy tidak mendengar jawaban dari Gabriel, dirinya melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Gabriel.
Terlihat Gabriel menatap kearah lain, Minzy mengikuti arah tatapan Gabriel hingga memutar seluruh tubuhnya.
...πΎπΎ...
__ADS_1
Peluk peluk sembarangan sih Bang Briel, jadi kepergok siapa ini? π