
Ling berjalan bersama dengan Yuki yang mengandeng tangannya, dan Kaito yang berada di sebelah kirinya bersama dengan Miru yang juga mengandeng tangannya. Untuk saat ini, Yuki bisa dikatakan menjadi lebih agresif. Dia menjadi lebih berani untuk menunjukkan perasaannya terhadap Ling.
Namun, tentu saja Ling yang bodoh akan perasaan sama sekali tidak menyadarinya. Bahkan Ling berfikir saat ini yang Yuki sedang lakukan adalah melakukan pekerjaannya untuk mengawal dirinya.
Ling memalingkan wajahnya ke arah Kaito, Ling tersenyum tipis melihat pasangan di sampingnya itu. Jika saja Miru bukan pelayan yang memiliki ras Undead. Ling akan memperbolehkan Kaito untuk menjalin hubungan dengan Miru.
Kaito yang masih merasa senang akan Miru yang menemaninya berpaling melirik Ling.
"Ling, kita akan duduk berpisah oke? Kau bersama dengan Yuki saja! Kalian cocok!"
Kaito memberi sebuah jempol kepada Ling dan Yuki. Dia kemudian pergi ke meja makan yang berada di pojok. Ling hanya diam saat mendengar perkataan Kaito dan saat Kaito nya pergi.
"T- tuan, bagaimana jika kita duduk lebih dulu?"
Yuki menarik ujung lengan panjang Ling dengan wajah yang berpaling. Wajah Yuki juga terlihat sangat memerah, sepertinya dia panik. Begitulah apa yang Ling pikirkan.
Ling hanya tersenyum kemudian duduk di salah satu meja makan. Di sana hanya terdapat dua kursi.
Beberapa saat setelah Ling dan Yuki duduk di kursi. Pelayan terlihat datang ke tempatnya dan menaruh makanan-makanan di depan meja Ling.
Ling segera memakannya, tidak lama makanan itu habis namun Yuki sedari tadi hanya melihat Ling memakan-makanan itu. Ling terlihat sangat cepat memakannya, hanya saja itu tidak terlihat belepotan berlebihan.
Namun itu lebih mirip sensasi yang memperlihatkan ketampanan Ling bagi Yuki. Saat Yuki tersadar, Yuki segera memakan makanannya meskipun perlahan.
Ling hanya tersenyum tipis melihat Yuki baru memakan-makanan nya. Tiba-tiba, Ling merasakan sebuah aura membunuh yang kuat dari belakangnya, Ling memalingkan wajahnya dan dia dapat melihat Ino telah berada di belakangnya.
"Ah, nona Ino. Ada apa?"
"Ada apa? Kau dasar sialan licik! menggunakan aliansiku sebagai tumbal. Kau sangat licik!" Dengus wanita itu.
Ino mengutuk keras perbuatan Ling terhadap aliansinya, padahal Ino sendiri memiliki tujuan. Namun hal itu haruslah melalui murid inti. Namun rencananya di hancurkan oleh Ling.
Ling yang mendengar perkataan wanita itu berdiri lalu tertawa keras, Licik? Apa itu? Bukankah itu wajar? Tidak ada yang namanya licik, yang ada saat pertarungan hanya satu. Yaitu menang! Itulah perinsip yang Ling percayai.
__ADS_1
"Hahahaha, maaf-maaf. Aku terbawa suasana. Tapi aku berterimakasih atas pujiannya. Kalau begitu kau bisa pergi."
Ling kembali duduk, dia sama sekali tidak menghiraukan gadis itu.
Ino yang melihat itu menjadi jengkel lalu mengeluarkan pisau dari saku celananya karena sudah terbakar api amarah.
Ino kemudian menaruh pisau itu ke leher Ling, membuat suasana menjadi hening karena semua pandangan kini tertuju kepada dua orang itu.
Ling menyadari bahwa pisau itu telah berada beberapa cm saja dari lehernya. Hanya saja Ling tetap tenang sambil meminum air yang berada di gelasnya. Ling sangat santai, bukan, bahkan bisa dibilang Ling sama sekali tidak peduli dengan Ino yang mengancamnya.
Namun, sesuatu yang membuat Ling terkejut adalah Yuki yang mengeluarkan hawa nafsu membunuh. Nafsu membunuh itu terarah kepada Ino.
Yuki berdiri dari kursinya, dia kemudian mengeluarkan pisau dari udara ( sihir MC )
"Aku peringatkan menjauh dari Ling." Ucap Yuki sambil mengarahkan pisau itu ke Ino.
"Siapa kau berani-beraninya menyuruhku."
Ilusi raga itu meninju perut Ino, dalam beberapa detik. Ino terpental jauh kebelakang nya.
Ling yang melihat itu segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Ino. Meskipun wanita berlaku lancang terhadapnya, namun itu tidak bisa disalahkan juga. Itu semua juga karena Ling, namun Ling sama sekali tidak pernah menyangka Yuki akan senekat ini.
* *
Setelah mendapatkan perawatan pertama, Ino segera diantarkan keluar kediaman untuk mendapatkan pengobatan di Akedemi.
Ling hanya menegur Yuki kecil sebelum mengelus kepalanya bagaikan anak kecil.
Beberapa jam setelah melewati pestanya, sepuluh aliansi naik ke atas panggung besar dan di sejajarkan.
Malam hari itu, Ling dan seluruh Aliansi yang menang mendapatkan sebuah medali emas dari kepala sekolah. Medali itu hanya ucapan selamat dari kepala sekolah. Karena, besok adalah hari sesungguhnya turnamen Kasara.
Semua orang mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah sebelum pada akhirnya kembali ke kediamannya masing-masing.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, Ling pulang bersama dengan anggota aliansinya, Reven Gouse. Semuanya menaiki kereta kuda. Dan kereta kuda itu saling berdekatan karena para anggota saling mengobrol lewat kaca.
Tidak terasa, mereka pun akhirnya saling berpisah. Ling kembali ke kediamannya dan langsung tidur karena sudah lelah.
* * *
Di suatu hutan yang lebat, kini dapat terlihat banyaknya raksasa yang telah berkumpul di satu tempat, "Semuanya, ku harap kita selamat saat merebut istana itu besok. Bersulang!"
Para raksasa tersenyum tipis lalu bersulang untuk peperangan yang besok akan terjadi. Di antara mereka, terdapat tiga Giant yang memiliki ras elemen. Ketiga raksasa itulah yang menjadi ketua dalam penyerangan kali ini.
Semua raksasa bersuka cita dan menyanyi sepanjang malam, mereka juga membahas akan melakukan apa saja setelah merebut istana itu.
Namun, tiba-tiba salah satu orang mengangkat suaranya yang membuat banyak raksasa berhenti berbicara.
"Kalian jangan meremehkan manusia itu, aku takut di antara mereka terdapat seseorang yang sangat kuat."
"Apa yang kau takutkan, hahaha, mereka hanyalah manusia. Manusia hanya semut di mata kita. Kau tenang saja, ada penyihir di antara kita."
*Penyihir \= Sebutan Giant terhadap Giant Ras elemen.
"Yah, aku juga berharap demikian. Namun kau tidak tau. Saat itu..."
Giant itu bercerita, saat dirinya berada di dekat tembok besar itu. Dia dapat merasakan keberadaan hawa yang kuat. Hawa itu sangat gelap dan menakutkan, bukan hanya satu, namun 3. Namun saat itu dirinya masih tidak sadar bahwa itu adalah manusia dan menganggap itu adalah monster.
Akan tetapi, setelah di pikir-pikir ulang kembali, dia merasa janggal terhadap hawa itu. Sampai di mana pada akhirnya dirinya menyimpulkan bahwa terdapat manusia yang memiliki kekuatan tinggi di dalam tembok besar itu.
Karena itu juga dirinya sempat ragu untuk pergi setelah menyadari hal itu. Namun, keputusan dan tindakan telah diujung. Mereka sama sekali tidak dapat kembali dengan tangan kosong. Atau jika tidak mereka pastinya akan di bunuh oleh pemimpin mereka.
"Yah, ku harap, kita dapat membunuh para manusia itu dengan mudah..."
_ _ _
__ADS_1