Demon Lord System

Demon Lord System
Ch. 86 - Pesta di restoran


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Ling mendengarkan cerita dari pelayannya mengenai beberapa hal. Contoh, tentang Kaito yang telah pulang karena dijemput oleh keluarganya. Lalu juga ada kabar mengenai Kurumi yang kini tengah berada di sebuah bangunan camp pasukan penerjang.


Beberapa jam sebelumnya, setelah Ling tertidur. Pelayan Ling mendapatkan kabar Kurumi dari seekor kelelawar.


Ling hanya mengangguk kecil sebagai balasannya.


* *


Tidak terasa, beberapa saat kemudian, Ling dan keluarganya telah sampai di pesta. Ling turun dari kereta kudanya dan langsung berjalan memasuki restoran bersama dengan ketiga pelayannya. Ketiga pelayan Ling lainnya, yang bernama Areka, Johan dan Amedia. Mereka tidak masuk karena berkata akan menjaga kereta kuda milik Ling. Ling tidak mempermasalahkannya, lagipula jika dia masuk dengan terlalu banyak pelayan, itu akan menarik banyak perhatian dari sekitarnya.


Saat memasuki pesta tersebut, orang tua dan saudara-saudara Ling berpisah, orang tua Ling berkumpul dengan kepala keluarga terpandang lainnya, sedangkan untuk saudara-saudara Ling kini tengah mencari pasangan dansa di pesta tersebut.


Untuk bangunan restoran ini sendiri sangatlah megah, namun restoran ini hanya berlantai dua saja. Akan tetapi, luas dari bangunan tersebut sangatlah luas, lantai-lantai bangunan juga sangat bersih dan mengkilap.


Ling kemudian duduk di salah satu meja melingkar yang terdapat empat kursi disana. Ling duduk dengan para pelayannya dimeja melingkar tersebut. Sebelum Ling dan pelayanannya duduk, makanan memang telah tertata rapih di atas meja, karena itu para pelayan Ling segera memakan makanan itu. Kini restoran ini sudah bukan menjadi restoran umum, kini yang dapat masuk kedalam restoran yang sedang mengadakan pesta hanya dua belas keluarga terpandang dan keluarga kerajaan saja, namun terdapat pengecualian, yaitu pelayan dari masing-masing keluarga boleh tetap masuk, namun itupun hanya yang diajak oleh tuan mereka.


"Tuan, makanan ini sangat enak, tapi tuan, apa tidak apa-apa kami makan bersama tuan di satu meja yang sama?"


Estes baru pertama kali ini merasakan makanan seenak ini, terlebih masakan tersebut membuat tubuhnya seakan mendapatkan energi, sebenarnya untuk daging di restoran ini sendiri memang betul mengandung energi, dikarenakan daging yang dipilih adalah daging hewan sihir dan daging-daging hewan buas. Namun Estes merasa ini sepertinya tidak pantas baginya yang hanya seorang pelayan.


Perlu diketahui juga bahwa Estes bukanlah seorang anak yang berasal dari keluarga yang mampu, bisa dibilang Estes adalah anak yang biasa-biasa saja. Karena faktor tersebut, pada akhirnya membuat dirinya malu.


"Tidak apa-apa, kalian semua adalah pelayan ku yang paling penting." Ling tersenyum lalu setelahnya mengambil kue yang berada di atas meja dan mulai memakannya.


'Pelayan yah, aku sepertinya terlalu berharap.' Batin Yuki sambil menatap makanannya dengan lesu.


Sedangkan itu, berbeda dengan Yuki, kedua pelayan Ling lainnya menjadi sangat senang karena Ling berkata mereka adalah pelayan penting baginya.

__ADS_1


Saat mereka sedang menyantap makanan, secara tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak Ling dari belakang.


Ling memalingkan wajahnya dan sudah menebak itu adalah seseorang yang pastinya dia kenal.


"Yo Ling."


"Hhm?"


Seorang laki-laki berambut merah dengan kulit yang cukup putih kini berada di hadapan Ling, dia adalah rekan Ling yang bukan lain adalah Kaito.


"Ada apa?" Tanya Ling tanpa berbasa-basi, dia yakin bahwa Kaito sedang mencari seseorang.


"Ling, dimana Miru? aku ingin mengajaknya berdansa."


Saat mendengar ucapan dansa, Ling sangat terkejut. Jika seperti itu, pastinya dia akan ikut berdansa karena telah datang di pesta. Namun dia sama sekali tidak mempunyai kekasih ataupun seorang wanita yang dekat dengannya.


"Hah?!"


Ling kembali memalingkan wajahnya dan mengigit kue yang berada di atas meja. Setelah itu dia kemudian kembali menjawab pertanyaan dari Kaito, "Kau tidak lihat? aku membawa banyak pelayan, kalau ditambah dengannya, aku sepertinya akan menjadi pusat perhatian." Jelas Ling yang kemudian kembali menggigit kue yang berada di tangannya.


Kaito tertegun, dia sama sekali tidak memikirkannya. Kaito kemudian undur diri dari Ling untuk mencari pasangan dansa. Sedangkan itu, Ling saat ini masih memikirkan tentang pasangan dansa nya.


'Sial, siapa yang akan ku ajak berdansa?' Ling kini sedang berfikir keras, sudah sejak lama dia tidak pernah berfikir sekeras ini, namun pandangannya secara tidak sengaja berpapasan dengan Yuki. Hal itu membuat Ling menjadi tersenyum cerah, 'Sial, bagaimana bisa orang licik sepertiku bodoh dalam hal ini, jelas-jelas aku memiliki pasangan dansa di depan mataku.' Batin Ling sambil tersenyum kepada Yuki.


Yuki yang merasa tuannya tersenyum kearahnya pun hanya menutupi rasa malunya dengan senyuman palsu.


Tiba-tiba, lampu dalam restoran mati. Di sebuah atas panggung, kini terlihat seorang pria tua yang setelan nya terlihat sangat rapih dan pastinya sangat mahal.

__ADS_1


"Semuanya, kalian pasti sudah mengenalku kan? Baiklah, tidak perlu basa-basi lagi, aku disini untuk berkata bahwa! pesta dansa akan dimulai, harap berpasangan dengan pasangannya masing-masing."


Tepat setelah itu, lampu yang menerangi nya mati dan suara musik pesta terdengar. Lampu-lampu juga mulai kembali menyala, namun lampu itu berwarna warni. Ling berdiri dan menatap Yuki, dia kemudian maju mendekatinya.


"Yuki, aku ingin kau berdansa denganku, apakah kau keberatan?"


"Eh, ah, aku sih tidak masalah tuan." Yuki tersenyum menjawab pertanyaan Ling.


"Baguslah, kalau begitu..."


Ling berjalan mendekati Yuki, namun saat tepat di depannya, Ling baru ingat bahwa dia sama sekali belum pernah berdansa.


Melihat keanehan pada tuannya, Yuki bertanya kepada Ling, "Tuan, ada apa?"


"Ah maaf, sebenarnya aku tidak mengerti caranya berdansa." Ucap Ling sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Yuki terkejut mendengar pernyataan dari Ling, dirinya hampir saja tertawa saat mendengar hal tersebut.


"Ah, bagaimana jika kita mulai dari gerakan dasar?"


"Ya tidak apa-apa, aku tidak keberatan."


Yuki pun mulai mengajarkan Ling caranya berdansa. Akan tetapi saat mengajarkan Ling, Yuki mendapatkan kesulitan karena Ling banyak melakukan kesalahan. Namun hal itu tidak membuat Yuki kesal, dia justru senang karena sekarang dia berada sangat dekat dengan Ling. Jujur, Yuki menyimpan hati untuk Ling, sifat Ling yang tegas dan ramah itulah yang membuat Yuki menyimpan rasa.


Perlahan, Ling sudah mulai mengerti. Ling memegang rusuk belakang dari Yuki dan satu tangannya menggenggam tangan Yuki satunya. Yuki sendiri menaruh tangan satunya lagi di pundak Ling.


Pada akhirnya, mereka mulai menikmati dansa tersebut. Suara biola dan alat-alat musik lainnya sangat bagus bagi Ling yang belum pernah mendengar suara tersebut. Secara tiba-tiba, suara seorang wanita mulai terdengar di seluruh restoran.

__ADS_1


Suaranya sangat merdu, terlebih saat dipadukan oleh musik. Suaranya menjadi lebih-lebih bagus dan tentunya membuat suasananya menjadi lebih riuh.


__ADS_2