
Seorang pria paruh baya yang rambutnya terlihat sudah memutih terlihat sedang berkeliling sambil memegang sebuah kotak dan kertas. Ling dapat melihat dari kejauhan bahwa orang itu terus berkeliling dan mengambil uang dari para penonton.
"Itu dia orangnya."
Ling sebenarnya mencari orang itu untuk mencoba peruntungannya, sudah sejak lama dirinya tidak mencoba peruntungannya kembali.
Beberapa saat kemudian, orang itu pun sampai di depan Ling. Orang itu kemudian bertanya kepada Ling dan Yuki.
"Nona dan Tuan muda Ling, selamat datang. Apakah kalian ingin mencoba peruntungan?" Tanya orang itu sambil tersenyum.
"Iya, aku akan bertaruh 10.000 keping emas, namun aku ingin lihat dulu kedua peserta yang akan masuk..."
Ling tersenyum seringai, sudah sejak lama dirinya hanya ikut berperang dari waktu ke waktu. Padahal dulu Ling bisa dikatakan jago dalam mencari peruntungan. Ling juga melirik sekitarnya hanya untuk melihat-lihat. Ternyata, dugaan Ling benar. Peruntungan di dunia ini tidak terlalu beda jauh dengan dunia sebelum kematiannya. Di Masing-masing penonton kini terlihat telah terdapat orang yang memakai baju yang sama dengan pria yang tadi mendekati Ling untuk bertanya apakah Ling ingin bertaruh atau tidak ( Pegawai Stadium ). Hanya saja rata-rata semuanya adalah orang yang terlihat layaknya bangsawan. Selebihnya sama sekali tidak di dampingi oleh orang-orang yang bekerja di stadium ini.
"B-baiklah, lima menit lagi kedua peserta itu akan keluar." Ucap pelayan tersebut.
Ling kemudian menyilangkan kaki dan tangannya sambil bersender di kursinya. Yuki yang berada di sampingnya jelas sangat terkejut saat mengetahui berapa yang dikeluarkan oleh Ling untuk peruntungannya.
"Ling, apakah kau tidak terlalu boros?!"
Yuki tidak memperdulikan orang yang tadi sedang berada di dekatnya. Yuki untuk sekarang hanya kesal saja dengan Ling yang terlihat cukup boros dalam menggunakan uang. Bagaimana jika kalah? bukankah itu akan mengambil setengah keuntungan keluarganya?
Ling berpaling lalu tersenyum kepada Yuki sebelum memberitahunya.
__ADS_1
"Uang ini adalah uang ku sendiri, aku memiliki bisnis tersendiri. Karena itu uang dari keluarga ku sama sekali tidak dipertaruhkan disini." Seakan membaca pikiran Yuki, Ling berkata layaknya seorang cenayang yang dapat membaca pikiran.
Yuki terdiam beberapa saat, jika itu adalah hasil uang tuannya sendiri. Yuki tidak bisa menghentikannya, namun dia merasa aneh. Apakah kesepuluh pelayan Ling yang kemarin adalah yang menjalankan bisnis tuannya? Jika di pikir-pikir Yuki masih merasa heran juga dengan tuannya yang berniat mengambil tahta kerajaan.
Yuki menghela nafas panjang, dia rasa tuannya itu mempunyai banyak rahasia yang belum bisa dibeberkan ke orang lain termaksud dirinya. Namun tentu saja waktu itu Yuki bertanya alasannya.
Kembali ke cerita masa kini, beberapa saat kemudian terlihat dua orang yang keluar dari dua arah berlawanan.
"Ladies and gentleman, perkenalkan, mereka adalah tahanan nomor urut 679 dan 360. Silahkan pasang taruhan kalian di masing-masing orang yang bertugas." Suara itu menggema keseluruh stadium. Itu semua karena mikrofon yang dia pegang.
Ling yang berasal dari dunia Kultivator, sama sekali tidak tau apa yang sedang di pegang oleh orang itu. Ling saat ini layaknya orang desa yang belum pernah pergi dari desanya untuk melihat betapa luasnya dunia ini. Ling berpaling ke arah Yuki dan bertanya kepada sosok gadis cantik tersebut.
"Yuki, benda apa itu?"
Sedangkan itu, pelayan yang bertugas mendampingi para bangsawan langsung tersedak nafasnya sendiri. Bagaimana bisa di kerajaan ini ada yang tidak mengetahui apa itu MIC? Orang itu pasti telah terbentur otaknya.
Yuki menyadari tatapan terkejut dari pelayan itu, dia kemudian berpaling ke arahnya lalu tersenyum dan berkata, "Kepalanya memang terbentur kok."
Yuki juga menduga hal tersebut, karena itu dirinya tau apa yang sedang dipikirkan oleh pelayan itu. Namun sebenarnya, ada faktor lainnya. Seperti, karena itu adalah efek skill yang dirinya dapat dari Class miliknya.
[ Skill Class ilusi Rank C - Memahami perilaku dengan cepat/membaca pikiran dari perilaku orang yang ingin dirinya pahami ]
[ Efek : Hanya akan berguna untuk yang dibawah tingkat. Jika seseorang itu di atas tingkat mu. Maka skill ini tidak akan berpengaruh ]
__ADS_1
Yuki kembali memalingkan wajahnya dan kini menghadap ke arah Ling. Yuki menghela nafas sebelum menjelaskan apa itu MIC.
Beberapa saat kemudian, Ling telah paham seutuhnya tentang benda yang bernama MIC. Namun tentu saja Ling tetap merasa kagum, bagaimana bisa manusia membuat benda seperti ini. Ling bisa dibilang telah cukup paham dengan apa itu MIC. Itu semua mungkin karena INT nya yang besar. Ling dalam seminggu ini juga telah mempelajari sistem miliknya. Ling sudah mengetahui apa itu STR, VIT, DEX, AGT, dan yang terakhir adalah LUC.
Ling kemudian tanpa basa-basi lagi segera melihat ke arah kedua tahanan yang akan bertarung itu. Di sisi kanan, Ling melihat laki-laki berambut merah dengan kedua pedang di samping pinggangnya. Di sisi lain, Ling melihat wanita berambut ungu dengan sebuah pecutan di tangannya. Tahanan itu terlihat sangat cantik dengan pakaian yang terlihat ketat. Bahkan beberapa bangsawan hidung belang menawarkan ribuan koin emas untuk wanita itu.
Namun tentu saja, sebagai keluarga yang menaati hukum, Keluarga Kavila tidak bisa melakukan hal itu. Kembali ke pemeran utama, Ling kini memperhatikan mulai dari status mereka hingga kekuatan mereka. Secara fisik maupun kekuatan, wanita berambut ungu ( tahanan nomor urut 360 ) memang di atasnya. Akan tetapi, entah kenapa Ling lebih tertarik dengan pria berambut merah itu.
"Aku bertaruh untuk tahanan dengan nomor urut 679, ini." Ling menyerahkan 2 kantung yang masing-masingnya berisikan 5.000 koin emas itu kepada pegawai stadium Keluarga Kavila ini.
Pegawai itu tentu saja sangatlah senang, jika dia berhasil mendapatkan 10.000 keping emas milik Ling. Dirinya pasti akan mendapatkan 30% dari uang tersebut. Pegawai itu langsung mengambil kantung itu dan pergi untuk menaruhnya di pusat pertaruhan. Setelah beberapa menit kemudian, dia kembali dengan mimik wajah yang terlihat sangat senang.
Ling tidak memperdulikannya, itu semua karena waktu mulai pertandingan hanya beberapa menit lagi saja. Saat pertarungan itu dimulai, Ling langsung menatapnya serius. Pertarungan yang akan terjadi mungkin akan menjadi pertarungan yang cukup menarik baginya.
"Kaizen~, menyerah yah?" Ucap wanita itu dengan manja. Siapapun yang mendengarnya tadi langsung mengeluarkan sebuah darah pada hidungnya. Itu semua karena suara yang di ucapkan gadis tersebut sangatlah menggoda. Membuat fantasi fantasi liar muncul di pikiran para penonton.
Kaizen menatap wanita itu dingin, dia sangat tidak suka gaya wanita ini.
"Dasar rubah licik, kau kira dengan mengandalkan kecantikan mu saja kau bisa menang melawanku? kau pasti bercanda!"
Kaizen maju dengan cepat sambil menghunuskan pedangnya ke arah wanita itu saat dirinya berkata bercanda.
Wanita itu terlihat tersenyum seringai, dalam hatinya berkata, 'Ah~ akhirnya dia ingin menyerangku, kekasihku memang romantis sekali.' Wanita itu tersenyum semakin lebar saat Kaizen maju dengan cepat ke arahnya. Mungkin wanita ini jika di bumi bisa kita sebutkan sebagai...masokis.
__ADS_1