Demon Lord System

Demon Lord System
Chapter 260 : Demontrasi Knight


__ADS_3

(Camp Militer Pelatihan Prajurit Kerajaan)



Raja Daun tidak dapat menyembunyikan raut wajah terkejutnya ketika melihat Prajurit-prajurit yang di latih oleh Xan Zhang. Prajurit-prajurit tersebut seperti seseorang yang berbeda, kemampuan mereka sangatlah luar biasa.



Terutama seratus Prajurit yang berada di bawah kendali Xan Zhang sepenuhnya. Mereka telah di latih dengan bentuk Raksasa milik Xan Zhang untuk mempersiapkan mental mereka ketika harus berhadapan dengan Giant.



“Seratus Prajurit itu akan menjadi pemimpin dari puluhan Ribu Prajurit. Mereka akan menjadi sosok paling berpengaruh dalam Peperangan nanti.” Xan Zhang menyampaikan hal tersebut ketika melihat pandangan Raja tidak teralihkan dari keseratus Prajurit.



Saat ini Puluhan Ribu Prajurit sedang mendemonstrasikan kemampuan yang mereka miliki di hadapan Sang Raja. Tetapi, dari mereka semua kemampuan yang paling di akui Raja adalah seratus Prajurit yang di bawah naungan Xan Zhang.



“Mereka benar-benar hebat!!! Kalian adalah Prajurit-prajurit terhebat!!!” Raja Daun berdiri sangat antusias melihat seluruh Prajurit mendemonstrasikan kemampuan Masing-masing.



Sementara seluruh Prajurit yang mendengar hal tersebut kini memasang senyum tipis sambil menggaruk kepala masing-masing, merasa sangat senang mendapatkan pujian dari Raja mereka.



**


Seratus Prajurit yang berada di bawah naungan Xan Zhang kini mendapat ujian untuk melewati tantangan di hadapan Raja.



“Um, apakah kau yakin dengan ini? Tantangan ini menurutku terlalu berbahaya.” Raja Daun merasa ngeri melihat jebakan-jebakan yang harus di lewati keseratus Prajurit tersebut.



Pasalnya hampir seluruh Jebakan dapat membuat seseorang tewas. Tentunya sebagai Raja dia tidak ingin keseratus Prajurit terbaiknya harus berkurang karena tewas termakan jebakan.



“Tidak masalah, mereka sebenarnya telah mendapatkan banyak sekali tantangan dariku yang membuat mereka semua hampir tewas. Raja hanya perlu melihat mereka melakukannya.” Xan Zhang berusaha menenangkan Raja.



“Hmm, baiklah kalau kau bilang begitu.”



Saat ini Raja sendiri berada di bangku penonton bersama dengan Layla, Levi serta Xan Zhang. Mereka saat ini sedang melihat seratus Prajurit berdiri di garis start, yang di mana di depan mereka terdapat belasan jebakan yang siap membuat mereka tewas.



Ketika akhirnya suara terompet di bunyikan, dua puluh orang paling depan maju menerjang dan melewati tantangan. Jebakan Pertama adalah mengambil langkah aman yang di mana jika salah, mereka akan jatuh ke tanah yang telah di lengkapi oleh logam tajam.


__ADS_1


Di antara Puluhan Prajurit yang maju terlebih dahulu, pemuda berambut biru tua dengan sebuah ikat kepala berwarna merah paling menarik perhatian. Pasalnya, dia berlari di udara dengan cepat melewati tantangan pertama dan menjadi orang pertama yang melewatinya.



“Dia bermain Rudeus, pemuda itu adalah ranking pertama dari keseratus Prajurit naunganku.” Melihat Raja menatapnya dengan antusias tanpa mengedipkan mata, Xan Zhang langsung memberitahu tentang pemuda tersebut.



“Oh, jadi.. namanya Rudeus.”



“Yah, dia adalah pemuda yang sungguh berbakat. Tetapi aneh sekali, sebelum aku datang dia hanya pemuda payah yang di tindas oleh Prajurit seniornya. Dia padahal pemuda yang cepat beradaptasi dan mudah mengerti, ini membuatku berpikir bahwa banyak Pemuda berbakat yang di sia-siakan cuma karena statusnya.” Xan Zhang menyampaikannya sambil menatap Deus.



Sementara Raja Daun yang mendengarnya kini terpaku diam, merasa Hirarki ini harus dimusnahkan jika ingin membawa Kerajaan menjadi lebih kuat. Tetapi jika dia melakukannya, pastinya para Bangsawan tidak akan setuju.



Raja Daun menghela nafas berat, kini hatinya mulai terasa terkupas ketika mulai membayangkan berapa banyak anak berbakat yang terhalang hirarki.



Di sisi lain saat ini Rudeus sudah sampai pada tantangan ke lima. Di tantangan ke lima, terdapat boneka besi berukuran 25 cm. Jumlah mereka cukup banyak untuk membuat satu Manusia dalam hitungan detik terpotong-potong.



Rudeus menatap garis mula tantangan sebelum menatap Boneka yang terpisahkan oleh garis merah. Setelah beberapa saat menatap boneka-boneka tersebut, Rudeus kemudian menyatukan tangannnya, “Combine Magic - Smoke Magic!”




Deus memiliki dua atribut yang berlawanan jenis, yaitu Api dan Air. Xan Zhang sebenarnya tidak pernah membayangkan, bahwa Deus mampu membuat Api dan Air menjadi satu jenis sihir yang bernama Smoke Magic.



Dia mulai berpikir untuk menjadikan Rudeus sebagai pengikut Tuannya.



“Aku tidak pernah melihat Sihir seperti ini. Dan kenapa kemampuan Sihirnya terlihat lebih hebat daripada Penyihir yang ku latih?” Levi kini merasa heran, melihat Rudeus mampu mengendalikan mana nya dengan baik. Membuatnya heran apakah Rudeus masih dapat dikatakan sebagai Knight.



“Entahlah, bakatnya tidak terpaku pada kekuatan Fisiknya saja. Dia juga memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam Sihirnya setelah aku mengajarinya tentang sihir.”



Xan Zhang menjawab dengan santai, senyuman tipis terpampang jelas di wajahnya. Namun, karena wajah Xan Zhang seperti seorang Jendral yang telah lama terjun di dunia Peperangan, tampangnya menjadi terlihat sangat menyeramkan ketika sedang tersenyum. Dia seperti seorang penjahat yang sedang melihat buronannya.



“Hmm pemuda itu telah melewati tantangan ke lima, kini dia telah berada di garis awal tantangan ke enam.” Ucap Levi sambil menatap Deus, mengabaikan perkataan Xan Zhang meskipun sebenarnya dia mendengar.


__ADS_1


Xan Zhang, Raja Daun langsung menatap kepulan asap tersebut. Kini seorang Pemuda yang tidaklah lain ialah Deus, terlihat mengambil nafas setelah melewati lima tantangan tanpa beristirahat mengatur nafas.



“Kira-kira jika Pangeran Chen berlomba dengannya siapa yang akan menang?” Tanya Raja tiba-tiba memecah keheningan.



Levi, Xan Zhang segera menatap Raja Daun yang kini tersenyum mengelus janggutnya menatap Deus.



“Tentu saja Tuan akan menang. Bakatnya lebih monster daripada monster.” Ucap Xan Zhang dengan antusias, seperti terlihat sangat bangga dengan dirinya sendiri.



“Hahahaha begitukah? Aku tidak menyangka masih belum ada yang dapat menyaingi Bakatnya!” Raja Daun memejamkan matanya sejenak lalu membuang nafas, “Kupikir akan ada saatnya di mana dia menemukan orang yang jauh lebih berbakat darinya. Tetapi mungkin itu akan lama.”



Levi dan Xan Zhang tidak membalas perkataan Raja, mereka lebih memilih melihat kemampuan yang di tunjukkan oleh Rudeus.


**


“Kau sangat hebat! Kemampuan mu sungguh-sungguh membuatku merasa kagum denganmu nak!” Raja Daun tersenyum antusias sambil menepuk-nepuk punggung Rudeus yang kini tersenyum canggung.



Rudeus sendiri nampak terkejut ketika melihat perilaku yang ditunjukkan Raja kepadanya. Seperti mencoba mengakrabkan diri dengan dirinya.



“Itu semua tidak akan terjadi jika saja Tuan Xan Zhang tidak mengajarkanku sihir-sihir. Aku merasa sangat senang dan bangga menjadi Prajurit dari Pahlawan Kerajaan! Ksatria Pedang Suci! Berada di bawah bimbingannya adalah sebuah anugerah dari dewa untukku!” Ucap Rudeus tampak sangat mengagumi dan menjunjung tinggi kemampuan Xan Zhang.



“Hahahahaha! Bocah, mulutmu sangatlah hebat dalam memuji orang!” Xan Zhang tertawa lepas sambil menepuk pundak Rudeus, tetapi baru ingin menepuk pundaknya. Rudeus menjadi sebuah kepulan asap lalu muncul kembali di belakang Raja.



“Tidak ada pukulan di punggung bagimu Tuan Xan! Pukulan mu sangat sakit, bahkan bekas tangan mu yang memukul punggung ku sebelumnya masih belum hilang!” Terlihat pemuda ini mendengus kesal ketika melihat Xan Zhang akan kembali menepuk-nepuk punggung nya.



Suasana seketika langsung di penuhi oleh tawa dari semua orang. Mereka menatap Rudeus dengan tawa yang menghiasi wajah mereka, merasa sangat lucu melihat tingkah yang di tunjukkan oleh Rudeus. Tidak terkecuali Raja.



Setelah beberapa saat suasana di penuhi tawa banyak orang, Levi berjalan mendekati Raja.



“Raja Daun, bagaimana jika kita pergi sekarang menuju Akedemi? Michael Aldiva pasti juga sangat senang bertemu dengan anda.” Ucap Levi dengan nada datarnya.



“Ah baiklah.”

__ADS_1



Setelah itu mereka pun akhirnya pergi menuju Akedemi Mondstar yang dimiliki oleh Michael Aldiva. Dengan menaiki kuda, mereka semua menuju ke sana dengan cepat.


__ADS_2