Demon Lord System

Demon Lord System
Ch. 171 - Menyerang I


__ADS_3

Hari baru telah tiba, dan sejak kemarin Ling menyadari hal-hal kecil yang dilakukannya bahkan membuat stat nya naik. Seperti saat dia mencoba memanaskan ruangan karena dingin, setelah beberapa lama stat INT nya naik dikarenakan hal tersebut.


Juga saat sedang berfikir untuk melakukan serangan, dan berhasil menemukan kelemahan pada wilayah musuh, INT Ling bertambah +3. Ini adalah hal yang baru Ling ketahui, ini mempermudah Ling untuk mendapatkan kekuatan. Bahkan dengan melakukan hal kecil tubuhnya semakin kuat. Sungguh kekuatan yang sangat hebat.


Hari ini Ling telah berkumpul di depan Menara Jianhou, di sana beberapa wanita pasukan elit berkumpul untuk membantu Ling disaksikan para Panatua. Panatua Menara Jianhou termasuk Jiu Lan terlihat sedikit pucat, Ling mengetahui penyebabnya adalah mereka kurang istirahat dan mana dalam tubuh mereka hanya tersisa sedikit.


'Sepertinya mereka langsung menggunakan Formasi Sihir yang ku buat kemarin. Mereka terlihat sangat pucat hahaha.'


Tiba-tiba dari pintu masuk Menara Jianhou Yanna datang sambil melambaikan tangannya kepada Ling.


"Sayang! Aku membuatkan makanan untukmu!" Ucap Yanna sambil berlari menuju Ling.


Wajah Ling seketika itu juga melirik Yanna dan menatap dingin Yanna, kemarin saat selesai menjelaskan kepada seluruh Panatua, wanita itu memeluk Ling dari belakang secara tiba-tiba. Ling saja sampai terkejut, kemana sikap angkuhnya waktu itu?


Ling pun menghela nafas lalu berjalan mendekatinya, dia kemudian mengambil makanan itu. Yah setidaknya ini membuat Ling lebih nyaman karena menunggu kehancuran organisasi sambil memakan masakan Yanna.


"Baik ku terima sekarang pergi." Ling menatap dingin Yanna. Lebih tepatnya melototi Yanna.


"Sayang aku malu bila kau menatapku seperti itu."


Ukhh (*Ling tersedak mendengarnya)


Ling tidak habis pikir lagi lagi, wanita ini benar-benar berubah 180° derajat dari sebelumnya. Ling rasanya ingin terbang ke langit meninggalkan kota ini agar tidak bertemu dengannya. Akan tetapi dia masih memiliki urusan disini.


'Ah! sialan, aku ingin pergi saja.'

__ADS_1


...***...


Bukit Penyihir, adalah sebuah organisasi yang rata-rata prajuritnya berada di tingkat emas. Organisasi ini cukup kuat untuk menaklukkan beberapa kota. Ketua yang memimpin organisasi ini bernama Natori.


Natori, sebelum menjadi ketua organisasi Bukit Penyihir, dia hanyalah anak yang terlantar di jalanan. Saat itu ketua sebelumnya dari organisasi Bukit Penyihir membawanya ke organisasi ini dan memberikan tawaran untuk menjadi guru dari Natori.


Tetapi bakatnya yang besar membuatnya dikenal dengan cepat. Saat umurnya menginjak 15 tahun, dia telah berada di tahap grand master, orang-orang memanggilnya jenius tiada tanding. 15 tahun kemudian ketua sebelumnya mewariskan keinginannya kepada muridnya. Natori, untuk menjadikan Organisasi Bukit Penyihir sebagai organisasi yang berkerja sama dengan organisasi Elang perak.


"Aku ingin beristirahat setelah kemarin memberikan kontribusi yang banyak terhadap organisasi Elang Perak. Siapkan beberapa wanita dan makanan."


Hari ini tepat setelah matahari terbit, Natori kembali ke kediamannya setelah membantu dan memberikan beberapa barang yang diinginkan Elang Perak. Menurut proposal yang menjadi penentu kerja sama, seharusnya dalam beberapa hari lagi akan terdapat surat kabar beserta lencana aliansi.


*Berhasil menjadi bagian dari aliansi


"Baik ketua."


Soma memberikan beberapa tip kepada wanita yang biasa melayani ketua. Lalu dia pergi berlatih.


"Hari ini lagi-lagi aku tidak mendapatkan misi menyerang."


Blasshhh


Pedang kayu yang diayunkan mengeluarkan angin yang kencang.


"Sampai kapan aku harus menjalani ini!"

__ADS_1


Semakin lama, pedang kayu itu semakin cepat dan mengeluarkan tebasan angin yang menebang pohon.


Soma terus menerus melakukan ini pada saat dia kesal tidak mendapatkan misi. Namun, samar-samar dia mendengar suara ledakan dari dekat wilayah Bukit Penyihir. Matanya berbinar, dia bisa menggunakan alasan ini untuk pergi bertarung.


Soma dengan cepat mengambil tindakan, dia berlari menuju suara ledakan tersebut sambil mempercepat gerakannya dengan mengalirkan mana di seluruh tubuhnya.


Berjalan menuju asal suara ledakan tersebut, tubuh Soma mulai merinding, Soma tidak tau kenapa sampai pada akhirnya. Dia sampai di tempat suara ledakan tersebut, Soma membuka mulutnya lebar-lebar, kini dia tau apa yang membuatnya merinding!


...* *...


Beberapa Panatua Menara Jianhou ikut bersama Ling untuk melihatnya menyerang Bukit Penyihir, tetapi justru yang mereka lihat bukanlah perang melainkan pembantaian. Mereka menatap dengan kedua mata kepala mereka sendiri, betapa mengerikannya kekuatan Ling.


Bukan hanya Ling, bahkan kedua pelayan yang sering berada di sisi Ling. Mulai memperlihatkan sosok aslinya, mereka benar-benar merinding saat melihat Levi menyerang Bukit Penyihir dengan gagak-gagak nya. Bahkan tulang dari pasukan Bukit Penyihir sama sekali tidak ada.


Di sisi lain, Arthur yang selalu memasang senyum di wajahnya seperti orang yang berbeda. Dia tersenyum namun serangannya sungguh-sungguh menakutkan. Dibandingkan Levi, Arthur menyerang secara berantakan dan mengakibatkan bajunya banjir darah.


"Ini tidak sesulit yang ku kira, kalian bahkan tidak dapat mengalahkan Bukit Penyihir. Kalian hanya menganggu istirahat Lord Ling." Levi menatap dingin para manusia Menara Jianhou.


Tidak ada satupun yang membantah, termasuk Jiu Lan, semuanya diam tidak memiliki keberanian mengucapkan satu patah katapun. Setelah melihat kekuatan mereka bertiga, perbedaan antara Menara Jianhou dan kelompok Ling sungguh jauh. Mereka bahkan dapat dengan mudah mengalahkan prajurit di gerbang utama.


"Sudahlah kawan, Lord juga mengambil keuntungan dari mereka. Tidak ada salahnya membantu mereka, (*melirik Jiu Lan) ya kan?"


Jiu Lan mengangguk setelah melihat Arthur meliriknya, dia kemudian menyuruh prajurit Menara Jianhou untuk ikut membantu dalam jarak jauh.


"Semuanya, k–"

__ADS_1


Jiu Lan berhenti berbicara setelah melihat semua prajurit Menara Jianhou bahkan yang termasuk inti bergetar. Jiu Lan hanya dapat menghela nafas, dia sendiri masih tidak dapat menutupi ketakutannya.


Pada akhirnya Ling dan kedua pelayannya hanya meminta mereka menunggu di luar untuk menyergap bila saja ada yang kabur dari sana.


__ADS_2