
Ling berjalan ke arah ruang tamu untuk melihat keadaan di sana setelah selesai berurusan dengan para bawahannya yang bertanya tentang kue yang dibawanya, namun Ling pergi dengan tangan kosong, dia kini terlihat memegang dua gelas yang berisikan air putih.
Ling membuka pintu perlahan dan kini dirinya melihat dua pria tampan telah duduk di lantai, mereka terlihat lelah, namun Sasaki lah yang paling terlihat lelah, bagaimanapun juga Undead adalah mahluk yang kuat, fisik mereka pun lebih kuat dari mahluk setingkat nya, karena itu Levi masih terlihat bugar, namun Ling mengerti alasan Levi juga ikut duduk di lantai bersama dengan Sasaki, tujuannya adalah untuk menghindari adanya kecurigaan di hati Sasaki.
Ling berjalan ke arah mereka, lalu dia menyerahkan dua gelas ditangannya ke masing masing dari mereka.
"Terima kasih tuan." Setelah itu, Levi mulai meneguk air di gelasnya.
"Terima kasih saudara Ling." Ucap Sasaki yang kemudian meminum air putih di gelas yang diberikan Ling.
Ling kemudian melirik ke segala arah, dia menemukan, ruang tamunya tidak banyak yang hancur, Ling hanya melihat, hanya disekitar tengah tengah ruangan saja yang hancur, meski itupun tidak hancur semua, Ling menatap Levi dan memberikan acungan jempol kepadanya.
"Kerja bagus Levi." Ucap Ling sambil tersenyum.
Levi yang mendapatkan pujian dari tuannya menjadi sangat senang, dirinya memang sengaja untuk terus menahan serangan Sasaki karena jika dirinya menyerang, mungkin ruang tamu akan hancur dan sangat berantakan, hal itu pasti akan membuat tuannya marah, karena itu dirinya pun berinisiatif untuk tidak menyerang dan terus bertahan.
"Tuan terlalu memuji hamba." Balas Levi tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan itu, Sasaki hanya melihat mereka heran sambil terus meminum air putih hingga habis.
Sasaki kemudian berdiri dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ling, lalu dia berkata.
"Ling, kau tau, pelayan mu ini sungguh tidak normal, aku menyerangnya dengan kuat, yah meskipun tidak sekuat tenaga, tapi dia dapat menahannya terus menerus, terlebih lagi tangannya tetap tidak terluka meskipun aku serang dengan tinju seberat 300kg." Bisik Sasaki.
Ling hanya membalasnya dengan senyuman, dia kemudian mengalihkan pembicaraan nya tentang hadiah yang dibawa oleh Sasaki.
"Ngomong ngomong, hadiah apa yang dibawa oleh senior Sasaki?" Tanya Ling dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Ah, aku membawakan Yuki hadiah pakaian jubah wizard, dan beberapa aksesoris wanita." Ucap Sasaki dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Ling membuat huruf O pada bibirnya merespon ucapan Sasaki, Sasaki kemudian berjalan ke pojokan ruang tamu dan mengambil hadiah nya dan menunjukkan nya kepada Ling.
Ling menepuk jidatnya, dia merasa Sasaki ini tidak pandai dalam hal seperti ini, dia memang berpendidikan, tetapi seseorang yang berpendidikan bukan berarti juga mengerti tentang perasaan, bagaimana bisa dia tidak membuat sebuah kotak hadiah atau apapun itu untuk menyembunyikan hadiahnya.
Sesaat setelah itu Ling ingin memberitahukan kepada Sasaki, namun pintu ruangan tamu tiba tiba saja terbuka dan terlihat seorang wanita yang paling cantik dari yang lainnya, dia juga mengenakan pakaian indah yang membuat Ling menaikan alisnya.
"K.. kakak Saki!" Wanita yang paling cantik di antara yang lainnya bukan dan tidak lain adalah Yuki, dia kemudian berlari dan memeluk Sasaki dengan erat.
"Aku kira kakak akan lupa lagi dengan ulang tahunku." Ucap Yuki sambil mengelap air mata kebahagiaan nya.
Sedangkan itu, Ling yang tidak tahan dengan drama itu segera pergi bersama dengan Levi.
Ling berjalan ke arah dapur bersama dengan Levi, sesampainya disana, dia menemukan beberapa bawahan prianya kini sedang membersihkan dapur dan menyiapkan beberapa makanan, jelas Ling yang melihat itu segera menatap Levi tajam, lalu dia memerintahkan kepada Levi untuk para wanita pelayan nya segera membantu yang lainnya.
Levi dengan cepat segera berlari kembali ke ruang tamu, dia melihat tatapan mata yang sangat menakutkan dari mata Ling, tatapan itu sangat mengintimidasi dan membuat lututnya bergetar saking ketakutannya.
"Tuan Ling marah, aku tidak tau apa yang tuan Ling pikirkan, tapi yang pastinya tuan Ling ingin kalian pergi ke dapur untuk membantu yang lainnya." Ucap Levi dengan nada yang terdengar ketakutan.
Sasaki sendiri yang mendengarnya menjadi terfokuskan kepada Levi dibandingkan adiknya, dia melihat tidak ada kebohongan pada perkataannya, tetapi yang sangat menarik baginya adalah tentang Levi yang kini sangat terlihat pucat, dia seperti habis melihat sosok yang sangat menakutkan.
Segera, para pelayan wanita Ling pergi keluar ruangan tamu dan berlari ke arah dapur untuk membantu yang lainnya.
Sedangkan itu, Ling kini berjalan ke arah para pelayan prianya, dia kemudian berkata.
"Kerja bagus untuk kalian." Ling memuji pekerjaan mereka.
Para pelayan Ling yang mendapatkan pujian tentu saja merasakan senang, mereka lalu berbincang dengan Ling seperti biasanya, tidak lama, para pelayan wanita Ling sampai di belakang Ling, Ling kemudian berpaling dan tersenyum kepada mereka.
"Kalian, bantu mereka mengerti." Ucap Ling menyembunyikan kemarahan nya dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
"Baik!" Semuanya berkata serentak.
"Ouh ya, kalian tolong bawakan makanan untuk ku, aku ingin makan." Ucap Ling sebelum pergi meninggalkan mereka.
Ling berjalan dan duduk disalah satu bangku makan, tidak lama setelah dirinya duduk, pintu ruang makan kembali terbuka dan terlihat Yuki dan Sasaki yang masuk kedalam ruangan bersama dengan Levi yang kini menundukkan kepalanya dengan kakinya yang masih terlihat bergetar meski sedikit.
Ling mengalihkan perhatian ke Yuki, lalu dia tersenyum dan mengucapkan ulang tahun kepada Yuki.
"Terima kasih tuan." Balas Yuki sambil menunduk hormat.
Setelah itu, Sasaki dan Yuki dipersilahkan oleh Ling untuk duduk di depan bangkunya saling berhadap-hadapan.
Sedangkan itu, Levi hanya berdiri dibelakang Ling dengan wajah yang masih menunduk, Ling dan Sasaki kemudian saling mengobrol dan tertawa bersama, begitu pula dengan Yuki.
"Tuan Ling, mengenai tadi dikamar, aku belum siap untuk melakukan itu." Ucap Yuki malu malu.
Perkataan Yuki tentu menjadi pertanyaan besar bagi Ling dan juga Sasaki, segera setelah itu, Ling dan Sasaki melirik Levi.
Ling kemudian kembali berpaling ke arah Yuki, lalu Ling menanyakan apa maksud dari perkataan Yuki.
"Tuan, apakah kau yakin membicarakan nya? disini ada kakakku, mungkin kakak akan marah jika aku mengatakan nya." Ucap Yuki dengan yang menunduk, Ling dan Sasaki juga dapat melihat bahwa pipi Yuki menjadi berubah merah merona.
"Tidak apa-apa." Jawab Ling dan Sasaki bersamaan.
"B.. baiklah jika kakak juga tidak keberatan, sebenarnya tadi..."
_ _ _
C o n t i n u e d :
__ADS_1