
Perempuan yang berusaha menyerang Aiken dengan pedangnya saat ini terbaring lemas. Tubuhnya mengalami luka dalam akibat benturan keras saat mencoba menyerang Aiken.
ㅤ
Zean hanya mendengus melihat perempuan yang menjadi bawahannya terjatuh lemas, dia kemudian meminta beberapa bawahan dibelakangnya kembali menyerang keduanya.
ㅤ
Tatapan Zean kembali pada perempuan yang terbaring di tanah sambil memegangi tangan kanannya, “Cih! Tidak berguna..”
ㅤ
Zean menendang perut perempuan tersebut lalu meninggalkannya. Perempuan itu dapat merasakan seluruh tulang punggungnya retak dan ada beberapa yang patah, dia hanya dapat menggigit bibirnya sambil menahan tangis.
ㅤ
Aiken mengerutkan keningnya melihat Zean memperlakukan bawahannya, meskipun perempuan tersebut berusaha menyerang dirinya, perempuan tersebut mendapatkan perhatian khusus dari dirinya karena kesetiaan nya.
ㅤ
Enam bawahan Zean mengeluarkan Pedang, masing-masing bergerak dengan cepat menuju Pemuda yang mengejek Tuan muda mereka. Aiken melepaskan Aura Teratai Es miliknya lalu ikut bergerak maju.
ㅤ
Ke enam bawahan milik Zean telah mengantisipasi Aura Teratai Es milik Pemuda tersebut, mereka mengalirkan mana ke seluruh tubuh untuk membuat penghangat di sekitar mereka. Meskipun telah mengalirkan mana ke seluruh tubuh, tubuh mereka masih melambat akibat Aura milik Aiken.
ㅤ
Akibat Aura tersebut, Aiken sama sekali tidak mendapatkan kesulitan berarti untuk menyerang, dia melakukan serangan kepada lawan terdekatnya. Dalam tiga tarikan nafas, dua lawannya telah terbaring di tanah.
ㅤ
Empat bawahan Zean memilih untuk tetap menyerang, meskipun gerakan mereka melambat akibat Aura milik Aiken. Mereka tetap berusaha untuk memberikan perlawanan.
ㅤ
Zean sudah cukup lama memperhatikan pertempuran, dia mendengus beberapa kali melihat bawahannya yang terkena serangan oleh Aiken, “Dasat tidak berguna!”
ㅤ
“Bukankah kau yang tidak berguna? Setidaknya mereka berusaha...” Tiba-tiba dari samping Zean, seorang pemuda berambut biru laut memegang pundaknya sambil tersenyum.
ㅤ
“Kau! Lepaskan!!” Zean segera menyingkirkan tangan pemuda tersebut dari pundaknya, pemuda itu tidak lain adalah Arlie.
ㅤ
Setelah menyingkirkan tangan Arlie, Zean mundur beberapa langkah sambil menatap Arlie kesal.
ㅤ
Arlie tertawa kecil melihat tatapan mata Zean yang sama sekali tidak bersahabat, mungkin memang setiap harinya dirinya akan menggunakan waktunya untuk bermalas-malasan. Tetapi ketika berada di hadapan lawan kepribadian Arlie menjadi sangat berbeda.
ㅤ
“Yang tidak berguna adalah dirimu.. Kau menyalahkan mereka? Dan apakah kau berpikir dapat mengalahkan mereka jika bertarung sendirian?” Arlie tersenyum mengejek.
ㅤ
Zean menggigit bibirnya, dia rasanya ingin mencabik-cabik pemuda di hadapannya. Arlie kembali tertawa kecil, lalu melihat kakaknya yang sedang bertarung.
ㅤ
“Kakak sudah hampir menang, kemampuannya meningkat sangat cepat berkat Aura Teratai Es miliknya...”
ㅤ
Arlie menyadari kemampuan kakaknya itu naik secara signifikan, melihat beberapa bawahan milik Zean tidak dapat melakukan banyak perlawanan terhadap kakaknya.
ㅤ
Di sisi lain Zean semakin berkeringat dingin melihat satu persatu bawahannya tumbang ke tanah tak sadarkan diri. Ketika melihat Aiken telah selesai mengurus bawahannya dan menatapnya dengan tajam, Zean berkata menyerah.
ㅤ
__ADS_1
“Aku meny–”
ㅤ
Sebelum dapat menyelesaikan kalimatnya, sebuah Bola Air masuk ke dalam mulut Zean dan membuat pemuda tersebut tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena tersedak.
ㅤ
Boal air tersebut sedikit membuat Zean kesulitan bernafas, ketika telah berhasil mengatur nafasnya, Zean menemukan pemuda yang melakukannya adalah Arlie.
ㅤ
“Keturuan campuran ini!!!” Zean menatap Arlie dengan geram.
ㅤ
Arlie yang mendapatkan tatapan tersebut berpura-pura tidak mengetahuinya sambil bersiul, dia kemudian duduk di tepi arena pertarungan sambil menonton kakaknya.
ㅤ
**
Xan Zhang terus tertawa lepas memandang pemuda berambut biru yang saat ini sedang duduk di tepi Arena, dirinya teringat dengan Tuannya ketika melihat gaya mengejek pemuda tersebut.
ㅤ
Selain karena gayanya yang terlihat seperti Tuannya membuatnya tertarik, pemuda tersebut juga memiliki bakat yang hebat dalam ilmu magis, Xan Zhang dapat melihat bibit unggul sepertinya akan menjadi Tokoh penting di masa depan.
ㅤ
Daun yang berada di sebelah Xan Zhang juga memiliki pikiran yang sama, andaikan Pemuda ini terus berkembang bukan tidak mungkin dia akan menjadi Pilar pelindung bagi Kerajaan Diamond.
ㅤ
“Pemuda ini sungguh luar biasa.. Pemuda yang sedang bertarung juga demikian..” Daun memandagi pertarungan antara Aiken dengan Zean yang berlangsung sengit.
ㅤ
Zean sama sekali tidak membawa senjata panjang, dia hanya memiliki sepuluh pisau di pinggangnya itupun hanya tersisa sembilan. Setelah beradu serangan dengan Aiken dia merasa tangannya mulai mati rasa akibat dingin yang dirasakannya.
ㅤ
ㅤ
Aiken mengalirkan mana ke tangannya dan mengumpulkannya di tapaknya, dia ingin menggunakan magis dari tangannya dan untuk mengumpulkannya pada satu titik setidaknya memakan dua menit.
ㅤ
Zean kemudian mundur karena merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, dia menatap Aiken yang saat ini terdiam sambil merunduk ke bawah.
ㅤ
“Kenapa aku merasa ada sesuatu yang berbahaya?”
ㅤ
Zean mencoba mencari tahu dengan melihat sekelilingnya, tetapi dia hanya menemukan Arlie sedang menontonnya bahkan ketika tatapan keduanya bertemu pemuda tersebut melambaikan tangan kepadanya. Zean kembali menatap Aiken, dia kemudian melemparkan dua pisau kepada pemuda tersebut.
ㅤ
Dua pisau yang di lemparkan olehnya memiliki kecepatan tinggi, pisau tersebut bergerak sangat cepat menuju Aiken.
ㅤ
Senyum menghilang dari wajah Arlie ketika melihat dua pisau berwarna merah darah berkecepatan tinggi menuju kakaknya, dia ingin menghentikannya namun jarak di antaranya cukup jauh. Arlie menggigit bibirnya lalu mengumpat Zean dalam hatinya.
ㅤ
Aiken masih terdiam menunduk, ketika menyadari sebuah pisau terbang ke arahnya dengan cepat dia segera mengangkat tangan kirinya dan membentuk sebuah Pedang dari tangannya. Sebelum pisau-pisau itu mengenai tubuhnya, Pedang di tangan kiri Aiken menangkisnya.
ㅤ
Para penonton terdiam ketika menyaksikan pemuda tersebut menangkis pisau-pisau yang di lempar Zean, sebagai seorang Penyihir mereka mengetahui kualitas serta tingkat manipulasi milik Penyihir, melihat Aiken mampu memanipulasi Soul Elemen miliknya membuat para penyihir memandangnya ngeri.
ㅤ
__ADS_1
Manipulasi bagi Penyihir sangatlah penting, karena sebagai seorang penyihir mereka sangat bergantung dengan pengendalian. Manipulasi memiliki tingkatan tertentu, untuk seseorang yang mampu mengendalikan satu jenis sihir dengan sempurna akan di sebut sebagai Green Witch.
ㅤ
Yang mampu mengendalikan dua jenis sihir secara sempurna di waktu yang bersamaan, akan memiliki kekuatan yang setara dengan Blue witch. Sementara bagi mereka yang mampu mengalirkan seluruh jenis magisnya di sekitar mereka dan membentuknya sesuai yang diinginkan akan memiliki status sebagai Red Witch.
ㅤ
Pemuda itu bisa dibilang telah mencapai kekuatan penyihir Red Witch, karena itulah para Penyihir di Paviliun Seni Tarung menatapnya dengan cara yang berbeda.
ㅤ
“Red Witch?!” Daun berdiri menyadari hal tersebut.
ㅤ
Diikuti oleh seluruh Tetua yang menonton, mereka sama-sama terkejut melihat manipulasi milik Aiken. Levi hanya melihat dengan datar merasa itu bukanlah sesuatu yang cukup spesial karena hampir seluruh murid yang di didik olehnya memiliki kemampuan Red Witch.
ㅤ
Daun kemudian melihat Levi yang berada di sampingnya, dia terkejut melihat sama sekali tidak terjadi perubahan pada raut mukanya.
ㅤ
“Dia ini, tidak memiliki rasa bangga dengan pencapaiannya atau memang merasa bukan sesuatu yang patut di banggakan?” Daun bergumam heran, dia saja yang sebagai Raja sangat merasa antusias melihat Red Witch. Meskipun bisa dikatakan Red Witch hanyalah sebuah status pajangan.
ㅤ
Nyatanya dalam pemilihan Prajurit Elit sekalipun akan memandang Red Witch, meskipun hanya sebuah status yang digunakan di dalam Akedemi ini dan sebagian kerajaan.
ㅤ
“Mungkin status Black Witch juga tidak memiliki kesamaan dengannya...”
**
Pertarungan telah selesai dan di menangkan oleh Aiken, tidak ada yang berteriak dengan riuh karena melihat lawan dari pemuda tersebut terluka sangat serius di bagian wajahnya maupun tangannya.
ㅤ
Wasit yang terus menonton juga hanya dapat menahan nafas ketika melihat pemuda tersebut menyerang dengan liar, dia yakin lawannya ingin menyerah tetapi beberapa kali di hentikan dengan pukulan.
ㅤ
Tanpa memperdulikan apa yang dilakukannya Arlie dan Aiken tertawa, mereka kemudian memapah seorang gadis yang saat ini menangis. Setelah sampai di ruang peristirahatan, mereka kemudian menurunkan gadis tersebut dan memanggil seorang tabib.
ㅤ
“Kenapa kalian menolong ku?” Tanya perempuan yang berniat menyerang Aiken tadi.
ㅤ
“Jangan tanya aku, tanya dia, aku hanya membantunya agar semuanya menjadi lebih mudah.” Arlie menjawab singkat lalu duduk bersandar di sebuah tembok.
ㅤ
Aiken tersenyum canggung lalu mengatakan kepada perempuan tersebut, “Sebenarnya aku tidak mengetahui kenapa aku menolong mu, hanya saja aku merasa kesetiaan mu patut di apresiasi.”
ㅤ
Perempuan tersebut berhenti bernafas ketika mendengarkan perkataan pemuda di hadapannya, dia tidak menyangka Tuan muda campuran yang selalu di ejek oleh Tuan mudanya rupanya memiliki hati sebaik ini.
ㅤ
“Sambil menunggu tabib datang, bagaimana jika kita saling bercerita?”
ㅤ
“Itu...” Perempuan tersebut ingin menolak namun tidak berani, di tambah Tuan muda di hadapannya berniat membantunya, membuatnya merasa tidak enak jika harus menolak.
ㅤ
Melihat perempuan tersebut ragu menjawab dan terlihat sulit bergerak, Aiken tersenyum canggung, “Tentu aku saja yang bercerita, kalian hanya perlu beristirahat sampai Tabib datang.”
ㅤ
__ADS_1
Perempuan tersebut merasa lega, sebelum Aiken mulai bercerita dia mengenalkan dirinya sebagai, “Aprilia.”