Demon Lord System

Demon Lord System
Ch. 97 - Kaizen vs Sumireko


__ADS_3

Kaizen menyerang wanita berambut pink itu dengan beruntun. Kaizen sama sekali tidak membedakan wanita/pria. Meski lawan dia adalah wanita, Kaizen tidak akan berbelas kasih. Terlebih wanita ini sangat keras kepala yang pada akhirnya membuat sosok Kaizen menjadi kesal.


Sudah sering dia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan kepada wanita itu, namun wanita itu, atau yang biasa dipanggil Sumireko sangat keras kepala. Hal itu tentu saja membuat otak Kaizen bingung harus melakukan apa lagi agar wanita ini menjauh darinya atau sekedar tidak menyukainya lagi. Namun sudah puluhan cara yang digunakan oleh Kaizen, dia tetap tidak menjauh darinya. Pada akhirnya, Kaizen tidak ada pilihan lain selain menyakiti wanita ini.


Tang!


Suara tepisan pedang dari Kaizen terdengar keras. Padahal lawan Kaizen adalah seorang wanita, terlebih Sumireko ini menggunakan pecutan. Bagaimana bisa dia menepis serangan Kaizen?


"Sayang kau tidak apa kan?"


Sumireko tersenyum ragu, dia melihat di wajah bagian kanan Kaizen kini terlihat terluka berkat serangannya tadi. Sumireko agak ragu menyerang Kaizen lagi.


"Jangan panggil aku sayang!" Kaizen menyerang dengan kecepatan tinggi. Namun serangannya dari tadi masih dapat di tahan oleh wanita itu.


"Sudahlah sayang, aku tidak tega melakukan ini kepadamu." Ucapnya dengan penuh rasa khawatir.


"Sudah kubilang jangan panggil aku sayang!"


Suara yang dikeluarkan oleh Kaizen sangat kencang, membuat suaranya menggema di dalam stadium itu.


Ling yang berada cukup jauh berdiri sambil tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Kaizen. Kaizen ini bisa dibilang adalah tipe pelayan yang sangat Ling inginkan. Ling mulai memikirkan untuk merekrut Kaizen.


'Pria ini menarik sekali. Aku ingin dia menjadi bidak kuda caturku.' Batin Ling sambil menyilangkan kakinya dan memanggku dagunya di tangan kanannya.


Kembali ke pertarungan terjadi, Kaizen menyerang membabi-buta tanpa memikirkan resiko serangannya. Dalam serangannya kali ini juga dirinya sudah mulai serius. Pertarungan bisa dianggap serius saat seseorang bertarung menggunakan mana mereka.


Pedang Kaizen kini terlihat diselimuti oleh api yang panas. Dia terus menerus menyerang Sumireko tanpa memiliki berapa energi Mana yang dihabiskan olehnya.


Sedangkan untuk Sumireko sendiri kini merasakan terpojok karena setiap serangan yang dilancarkan oleh Kaizen, sangat membuat dirinya terpojok.


"Pusaran angin pisau!"

__ADS_1


Sumireko terlihat memutar-mutarkan cambuknya, dan seketika itu juga. Terlihat sebuah angin yang terbang ke arah Kaizen dengan cepat. Kaizen secara insting langsung menangkis serangan itu, hanya saja meski begitu pakaiannya mulai robek karena luka tebas yang dihasilkan oleh angin tajam itu.


"Maaf sayang, kau keras kepala soalnya." Ucap Sumireko sambil tersenyum.


"Ah sudahlah, omongan ku seperti angin lewat saja bagimu ternyata..."


Kaizen akui, dari serangan Sumireko barusan dirinya bisa dikatakan masih dibawah kekuatannya, dari pada gadis itu. Namun, jika dibandingkan dengan pengalaman bertarungnya, pengalaman bertarung Sumireko masihlah minim. Itu semua terlihat dari cara dirinya bermain cambuknya.


Kaizen mengambil nafas panjang sebelum kembali menatap Sumireko dengan tajam. Kaizen berniat mengganti startegi nya dalam bertarung menjadi lebih tenang dan mematikan.


Sumireko dapat merasakan bahwa orang yang selalu dirinya panggil sayang itu kini sudah dalam mode tenangnya. Meski begitu, Sumireko masih tidak takut dengan Kaizen. Itu karena Kaizen adalah orang yang pernah menyelamatkan nya dulu, hanya saja Kaizen tidak menyadarinya.


"Huh, baiklah. Aku akan memakainya. Gerakan - bayangan kematian."


Kaizen melemaskan tubuhnya layaknya orang yang mabuk, jalannya sempoyongan. Namun beberapa saat kemudian, sosoknya secara tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang, terkecuali Ling dan Yuki. Setidaknya auhtor hanya mengetahui mereka saja yang memiliki kemampuan di atas Kaizen di stadium saat ini.


Sumireko tersenyum pucat, dia tidak bisa menebak dari mana Kaizen akan datang. Pada akhirnya, dia pun mencoba untuk memutarkan cambuknya untuk mengantisipasi terjadinya seragan dari atas.


Beberapa detik kemudian, Kaizen secara tiba-tiba muncul dari atas dan menyerang Sumireko dengan pedangnya. Membuat sosok Sumireko ini harus menahan serangannya dengan cepat karena tidak ingin terluka.


* *


Ling tersenyum sambil menutup matanya, dia sudah menduga pemuda itu menyembunyikan kartu truf nya untuk di akhir pertandingan. Sedangkan itu, pegawai stadium itu kini terlihat pucat. Ling hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku dari pegawai tersebut.


"Tolong ambilkan dua puluh ribu koin emasku yah." Ucap Ling dengan mimik wajah yang terlihat sangat bahagia.


Pegawai tersebut hanya dapat menyesali perbuatannya yang sembrono menerima uang taruhan yang besar tanpa memberitahu atasannya.


Pada akhirnya, Ling kemudian mendapatkan 10k lagi koin emas. Ling sudah berniat kembali pergi dari stadium ini. Namun, sebelum dia sempat pergi. Sebuah suara panggilan terdengar dan menggema di seluruh stadium. Ling melirik dan menemukan suara itu berasal dari dalam arena sangkar burung.


"Hhm?"

__ADS_1


Ling tidak tau apa alasan laki-laki yang bukan lain adalah Kaizen itu memanggil dirinya. Ling kemudian membalas perkataan dari Kaizen.


"Ada apa?"


Ling bertanya pelan, namun suaranya tetap terdengar oleh telinga Kaizen yang berada di dalam arena sangkar burung berbentuk kotak.


"Aku ingin uangmu! berkat ku kau menang sepuluh ribu koin emas. Aku ingin 30% uangmu."


Kaizen sebelum masuk dan sesudah masuk kedalam arena. Selalu memperhatikan sekitarnya, namun secara tidak sengaja. Kaizen menemukan Ling yang memberikan uang koin yang cukup banyak untuk taruhan, terlebih, dia melihat nomor tahanannyalah yang dipilih oleh Ling. Saat itu, Kaizen langsung menargetkan Ling untuk mendapatkan 30% dari uang nya setelah dirinya menang.


"Hhm." Ling tersenyum, lalu tangannya terlihat membentuk sebuah kode. Hanya saja Ling melakukannya dengan baik, karena itu tidak ada yang sadar dengan kode yang Ling keluarkan.


"Aku tidak mau, kalau begitu sampai jumpa lagi."


Ling berjalan keluar diikuti oleh Yuki dari belakangnya. Ling tersenyum seringai sambil keluar dari dalam stadium. Jika bukan karena jam sebentar lagi akan berganti menjadi jam 9. Ling tidak ingin keluar lebih dulu karena dirinya sebenarnya senang mengikuti peruntungan itu.


Sambil berjalan keluar, Ling tersenyum. Dalam hatinya dia berkata, 'Keputusan akan ada di tangannya..."


Ling berjalan keluar dengan santai, dia kemudian melirik ke arah Yuki yang berada di sampingnya. Jika Ling perhatikan lagi, Yuki sangat menawan dengan pakaian kasualnya. Namun, tentu saja kharisma Yuki bagi Ling lebih cocok dengan pakaian yang sebelumnya.


"Yuki, kau ingin lomba lari dengan ku?"


"Baiklah Ling, aku tidak akan mengalah kepadamu."


Yuki kemudian mulai menghitung angka dimulainya pertandingan. Namun sebelum angka tiga disebutkan, Yuki terbang sambil meledek Ling dengan menjulurkan lidahnya keluar lalu jarinya yang menarik bagian bawah matanya.


"Yang kalah harus mengikuti kemauan yang menang, apapun itu!" Teriak Yuki kegirangan, dia tersenyum senang. Saat ini, rasanya dia ingin waktu ini diberhentikan saja agar dirinya bisa terus bersama dengan tuannya. Namun mengingat ambisi besar yang tuannya miliki. Itu sepertinya mustahil.


Namun untuk sekarang, Yuki masih merasa senang karena bisa berdampingan dengan tuannya dan bisa bertanding dengan tuannya.


"Huh, wanita ini." Ling hanya tersenyum tipis sebelum ikut terbang menyusul Yuki...

__ADS_1


_ _ _


Kalau ada kesalahan kata, mohon diberitahu di kolom komentar yah. Dan juga aku ingin mengumumkan jadwal update novel ini. Bagi yang tidak masuk ke Grub ku. Kalian berarti belum tau yah pengumumannya. Kalau begitu aku kasih tau disini. Senin sampai Jumat, dua episode di setiap harinya. Sabtu 1. Minggu 2 episode. Sekian terima kasih untuk semuanya.


__ADS_2