Demon Lord System

Demon Lord System
Ch. 116 - Data lawan


__ADS_3

Sesampainya di dekat tangga yang besar itu, Ling dan bawahannya turun lalu segera pergi ke atas Colloseum yang mengambang.


"Ah, ngomong-ngomong Tuan, pelayan tuan itu darimana saja?"


Meskipun saat itu pernah di latih oleh beberapa pelayan Ling. Estes masih belum mengetahui identitas mereka. Setau dirinya, nama-nama mereka sama sekali tidak ada di daftar rakyat kerajaan.


"Hhm," Ling melirik Estes yang berada disebelahnya, Ling dapat melihat rambut pirang Estes yang panjang berkibar kebelakang akibat hembusan angin, "Mereka memang bukan rakyat dari kerajaan."


Singkat, padat dan jelas, begitulah Ling.


Beberapa saat kemudian, mereka berempat pun sampai di dalam arena yang besar itu. Namun terdapat sedikit perbedaan daripada sebelumnya.


Jika kemarin hari Colosseum memiliki luas arena 10 × 15. Saat ini arena itu telah menghilang dan hanya menyisakan tanah yang batasnya adalah pintu pagar masuknya peserta. Sepertinya itu adalah arena yang akan menjadi tempat bertanding nanti.


Ling tanpa basa-basi segera berjalan memasuki lorong tangga dan sampai di ruangan tunggu milik aliansinya. Para pelayan manusia Ling juga segera duduk di bangku penonton agar dapat melihat pertandingan.


Sebenarnya bisa saja mereka terbang dan menonton pertarungan yang akan terjadi, hanya saja itu akan memakan waktu yang banyak. Dan yah, pastinya itu akan menguras 'mana' mereka.


* *


Ling masuk ke ruangan tunggunya, dia dapat melihat enam orang yang telah berada di ruangan tunggu tersebut. Mereka adalah si kembar, Taori, Hamura, Count dan Kamaki.


Ling melihat mereka dengan tatapan kosong, tanpa tersenyum seperti biasanya. Sebenarnya saat ini Ling masih memikirkan tentang ciuman pertamanya. Yah, dia memikirkan keras hal tersebut, dia adalah orang tanpa hati, jelas dirinya buruh waktu untuk merespon nya.


Ling duduk di pojokan lalu mengeluarkan smartphone dari sistem. Dia kemudian membeli beberapa ingatan dari sistem cara menggunakan smartphone dengan benar dan beberapa hal yang belum diketahuinya tentang smartphone.


Ling membutuhkan point tukar sekitar 150 untuk keseluruhan ingatan yang baru saja dibelinya. Namun karena itu juga, Ling dapat menggunakan smartphone dengan benar layaknya manusia yang berada di bumi.


"Yah, di sini meskipun tidak ada data. Tapi aku tetap dapat melihat apapun semauku. Smartphone dari sistem ternyata sangat hebat..."


Ling bergumam kecil, dirinya mengganggumi sistem milikinya yang dapat memberikan smartphone tanpa data namun bisa melihat apa saja.


Yah, dan satu lagi, Ling saat ini mendapatkan mood nya kembali. Dirinya tersenyum karena saat ini sedang mendengarkan lagu yang menurutnya sangat bagus dengan handset yang baru saja didapatnya karena hadiah belanja ingatan. Lagu yang di dengarkan oleh Ling adalah Summertime.


"Hey, ada apa dengan Ling? Kenapa dia terlihat sangat senang? Perasaan tadi dirinya terlihat suram..."


Dari jauh, Count berbisik dengan Kamaki yang berada di sampingnya. Kamaki hanya menatap Count tenang, dirinya saat ini bisa dibilang cukup kesal dengan Count. Kamaki ini tidak dapat berbicara, kenapa Count mengajaknya mengobrol.


Alhasil, Kamaki hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Count dia anggukan, yah itu semua agar dirinya tidak perlu mendengar ocehan yang tidak terlalu penting.

__ADS_1


Namun Kamaki juga menjadi heran dengan Ling yang saat ini terlihat menari-nari ( tangannya ) Sepengetahuan dirinya, lagu hanya dapat dihasilkan dari alat-alat musik, namun tidak ada yang dihasilkan dari sebuah persegi panjang, apalagi persegi itu tipis, darimana sumber yang membuat Ling menari? Aneh.


Karena penasaran, Kamaki pun berdiri dan berjalan ke arah Ling.


Ling berpaling kebelakang karena melihat bayangan dari sofa yang berada didepannya. Dia menemukan sosok Kamaki yang berdiri di belakangnya sambil meliriknya.


"Ada apa?"


Kamaki meresponnya dengan tangan yang menunjuk arah handset dan smartphone Ling.


Ling yang mengerti maksud dari Kamaki langsung menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya. Sementara itu, Ling segera duduk dari sofa yang tadi dirinya gunakan sebagai tempat tidur.


"Ah, benda ini? Nama benda ini adalah smartphone dan Handset. Ah yah, ini kau dengar..."


Ling menaruh satu bagian handset nya ke telinga Kamaki.


Kamaki yang secara tiba-tiba mendengar sebuah suara dari dalam handset langsung berdiri dan melepaskannya.


"Ada apa?"


Kamaki terlihat menatap Ling dengan raut wajah yang terkejut sekali. Dia juga terlihat melakukan beberapa gerakan yang sekiranya Ling pahami sebagai bahasa isyarat.


"Ah ini. Benda ini memang dapat mengeluarkan musik dari dalamnya. Yah, bayangkan saja di dalam benda ini ada wanita dan pria yang bernyanyi..."


Ling memberitahu hal tersebut karena menurutnya itu benar.


Kamaki memasang wajah sedikit ketakutan, dalam hatinya, pria? Wanita? Kenapa mereka bisa berada di dalamnya? Apakah Ling mengurung mereka?


Suasana menjadi hening tak kala Kamaki yang menaruh tangannya di gagang pedang.


Namun, secara tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan banyaknya anggota Reven Gouse yang lainnya.


"Haloha!"


Sapa Shukaku dengan tersenyum lebar.


"Yo."


Count menyapa kembali Shukaku.

__ADS_1


Dari belakang Shukaku, Ling dan lainnya dapat melihat banyak orang. Mereka semua adalah anggota aliansi Reven Gouse.


Mulai dari kelompok Shukaku, Law, Kaito, Hamura dan Taori.


Mereka berlima duduk di sofa yang besar itu. Lalu berbicara mengenai bocoran lawan mereka.


"Semuanya, kemari. Kita tidak ada waktu untuk bersantai..."


Shukaku memperlihatkan raut wajah yang serius.


Kamaki segera bergegas pergi ke sofa yang berada di tengah-tengah itu. Sementara itu, Ling tetap ada di posisinya dengan posisi yang setengah tertidur.


"Kalian berbicara saja, aku bisa mendengarnya." Ucap Ling tersenyum tipis.


Shukaku memalingkan kembali wajahnya, dia kemudian terlihat mengeluarkan foto-foto dan sebuah kertas dari dalam cincinnya.


"Aliansi yang akan menjadi lawan kita adalah Aliansi Lord Hans. Kita harus berhati-hati, mereka memiliki Gunner empat. Wizard dua dan Paladin enam. Sepertinya pertahanan mereka sangatlah susah di tembus. Terlebih Class Paladin dan Class Gunner adalah Class rekan yang sangat bagus. Lalu dengan di tambah wizard, huh."


Shukaku menghela nafas panjang.


"Ini tidak akan mudah. Dan juga menurut informasi yang beredar. Pemimpin dari aliansi ini memiliki tingkat emas hitam 6. Dan dia adalah seseorang dengan Class Gunner. Bagi yang Class Assassin, ini tidak akan mudah..."


Shukaku jelas mengkhawatirkan rekannya, secara, Gunner adalah counter terbaik bagi Class Assassin. Meskipun sebaliknya, namun jika mereka dilindungi oleh Paladin, itu akan lain ceritanya.


Sakuya dan Sakuyi tiba-tiba berdiri.


"Tenang saja, kami adalah Healler, Class dengan tipe support terbaik..."


"Iya iya, semoga kalian dapat di andalkan yah." Ucap Shukaku.


Shukaku kemudian ingin memalingkan wajahnya ke arah Ling, dirinya ingin meminta pendapat sang ketua aliansi. Namun, tiba-tiba saat Shukaku memalingkan wajahnya ke arah Ling, dirinya di kejutkan dengan Ling yang ternyata telah berada di sampingnya.


"Ahhhh!"


Shukaku reflek meninju Ling, namun Ling dengan mudahnya menahan tinju itu sambil melihat kertas yang berada di meja.


"Yah, memang benar sih ini tidak akan mudah, tapi kalian punya aku sebagai pemimpin. Kita akan menang! Tenang saja."


_ _ _

__ADS_1


MALAM UP LAGI


__ADS_2