
Perjalanan Kurumi membawa Vamas bersamanya terbilang cukup mudah, namun secara tiba-tiba saja tubuhnya merasakan keram yang membuat dirinya terpaksa beristirahat di sebuah gang terlebih dahulu.
Kurumi meletakkan tubuh Vamas di dekatnya, sedangkan dia kini sedang bersandar di sebuah tembok yang berada di dalam gang.
"Ternyata tubuh ini lebih sulit dikendalikan dari yang ku kira, sepertinya aku terlalu meremehkan tubuh seorang iblis bangsawan." Gumam Kurumi sambil menatap tangan dan anggota tubuh lainnya.
Sedangkan itu, beberapa meter dari keberadaan Kurumi, terlihat seorang pria paruh baya dengan sebuah kostum pasukan penerjang sedang berjalan, pakaian mereka berwarna biru tua dengan celana berwarna putih cerah, mereka atau lebih tepatnya lima orang itu semuanya adalah seorang pria paruh baya yang sedang berpatroli.
"Hey Yan, coba kau periksa di gang-gang, cek apakah masih ada pengangguran yang sedang beristirahat." Titah seorang pria berambut cokelat.
Pria yang nama lengkapnya Riyan Sharkbet itu kemudian langsung memeriksa gang setelah di perintahkan oleh temannya, dia memeriksa gang dari jauh, dia yakin sudah tidak terdapat seorang pengangguran yang tidur di gang-gang, namun dugaannya salah, dia melihat masih terdapat dua orang, satu adalah wanita yang cantik, dan satunya lagi adalah laki-laki, namun masih samar karena dia tidur di lantai jalanan pada gang.
Segera saja Riyan kembali berlari ke arah temannya dan memanggil mereka, teman Riyan dan Iyan segera berlari kembali ke gang tadi, mereka kemudian berjalan mendekati kedua orang itu.
Kurumi yang merasakan terdapat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya pun berpaling untuk melihat orang tersebut, hasilnya Kurumi mendeteksi terdapat lima orang yang kini sedang berjalan ke arahnya.
Beberapa saat kemudian, kelima orang tadi pun sampai di tempat Kurumi.
Melihat pakaian dan wajah dari Kurumi, mereka berhenti dan menatap Kurumi cukup lama sampai pada akhirnya salah seorang dari mereka bertanya kenapa Kurumi bisa berada disini.
Kurumi menjawab bahwa dirinya mengalami keram, dan Kurumi juga menambahkan bahwa laki-laki yang berada di dekatnya tadi adalah kekasihnya.
"Ku kira kalian pengangguran, haha, padahal sisa dua kamar lagi, pas sekali."
"Dua kamar?" Bingung Kurumi.
"Iya, seorang Kasim bernama Drian Shaka mengambil keputusan untuk memberikan tempat tinggal dan pekerjaan yang layak untuk mereka yang pengangguran, aku sangat kagum dengan beliau yang baik hati, karena itu tadi ku pikir dengan begini tugas kami selesai."
__ADS_1
"Jadi begitu ternyata."
Suasana kembali hening, hingga beberapa menit kemudian, laki-laki yang bernama Vamas itu kembali tersadar. Vamas melirik kiri dan kanan, dia menemukan seorang wanita dan lima orang pria paruh baya yang menggunakan kostum pasukan penerjang.
Saat dirinya telah sadar seutuhnya, dia langsung bangkit dan berlari ke arah pasukan penerjang.
"Pak Iyan, tangkap wanita itu, dia tadi berusaha menculikku." Ucapnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kurumi.
Vamas sendiri cukup mengenali orang yang bernama riyan itu, meskipun Riyan tidak mengenalinya.
"Hah?"
Respon dari kelima orang itu sangat berbeda dari apa yang diharapkan oleh Vamas, Vamas tidak tau kenapa tapi dia rasa kelima pria paruh baya itu kini sedang menertawakan nya.
"Hahaha, anak muda sepertimu bisa bercanda juga ternyata." Pria paruh baya berambut cokelat merangkul Vamas sambil tertawa, "Dia kan kekasihmu, mana mungkin dia menyulikmu, terlebih..."
Vamas menyadari maksud dari tatapan pria paruh baya itu, dia kemudian memalingkan wajahnya dan menjaga jarak dengannya.
Kurumi hanya terkekeh dalam hati, dia kemudian berbicara kepada mereka berlima bahwa dirinya memiliki sebuah penyakit yang dapat membuat dirinya merasakan keram yang cukup lama, karena itu dia terpaksa harus menunggu di gang tersebut hingga tubuhnya dapat kembali di gerakan.
Kelima pria paruh baya itu membuat huruf O pada bibirnya, mereka semua kemudian menawarkan untuk Kurumi tinggal terlebih dahulu di kamar yang sebenarnya mereka gunakan untuk para gelandangan, Kurumi sendiri tanpa basa basi langsung menyetujuinya, sebenarnya di balik itu semua juga Kurumi ingin memanfaatkan hal tersebut untuk meneliti cara kerja dari seorang pasukan penerjang.
Mereka semua pun memutuskan untuk menggendong tubuh Kurumi, namun karena takut menjadi cibiran masyarakat, mereka pun menyuruh Vamas ya menggendongnya.
Vamas yang mendengar hal itu terkejut bukan main, ini baru pertama kalinya dirinya mendengar perkataan yang membuat dirinya menjadi berdebar kencang.
"Ehh?! A-aku, aku tidak bis-."
__ADS_1
Sebelum menyelesaikan perkataannya, Kurumi telah di naikan di belakangnya Vamas, membuat jantungnya Vamas semakin berdebar kencang, baru kali pertama ini dia merasakan menggendong wanita, nyatanya hal itu sangat nyaman.
Mereka pun tanpa basa-basi segera pergi ke tempat yang menjadi tujuan dari kelima pasukan penerjang tadi.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan yang sangat besar, bangunan itu memiliki sepuluh lantai, nama bangunan dari tempat tersebut bernama Camp pasukan penerjang, mereka kemudian masuk kedalamnya bersama dengan kelima pasukan penerjang tadi.
Sebelum memasuki tempat itu, Kurumi melihat penjagaan di bangunan ini sangatlah ketat, di depan gerbang tadi pun terdapat sekiranya sepuluh penjaga yang sedang mengamankan gerbang, bisa dibilang ini terlalu berlebih untuk menjaga sebuah tempat.
Tidak lama setelah mereka memasuki bangunan tersebut, Kurumi dan Vamas melihat sebuah furniture yang terlihat mewah, entah apa tujuan dari mentri yang bernama Drian Shaka itu, tetapi Kurumi hanya menggeleng kepalanya pelan, dia tidak tau apa alasan Mentri itu berbuat sampai sejauh ini.
"Kalau begitu kami serahkan kepadamu Yan, kami akan ke toko bar, nanti kau susul kami yah, kalau lewat dari lima belas menit kah belum datang, nanti kau harus membayar tagihan minum kita, hahaha." Pria paruh baya berambut cokelat itu tertawa lantang, diikut dengan kedua temannya.
Riyan hanya menatap malu temannya, mereka bercanda tetapi tidak melihat keadaan sekitarnya, Riyan pun pada akhirnya hanya menyimpan kegeramannya dan menyuruh Vamas dan Kurumi untuk menunggu sebentar, dia berniat mengambil kunci dari manajer yang bertugas di sini.
Kurumi dan Vamas duduk di sebuah bangku panjang berwarna putih yang terbuat dari besi setelah melihat Riyan pergi untuk mengambilkan mereka kunci kamar.
Suasana sangatlah hening saat di antara mereka sama sekali tidak ada yang bicara, karena hal itu juga, pada akhirnya Vamas memberanikan dirinya untuk memulai pembicaraan.
"Nona, ehm kau tau, aku sangat berterima kasih saat nona membantuku tadi, ngomong ngomong kita belum berkenalan dari tadi, kalau begitu bolehkah aku mengetahui nama nona?"
Kurumi memalingkan wajahnya ke arah Vamas.
"Kurumi Gronth."
Jawab Kurumi singkat dengan mimik wajah yang terlihat sangat datar, di wajahnya sama sekali tidak terlihat raut wajah yang menunjukkan emosi tertentu, itu terlihat layaknya seorang robot yang sedang berbicara kepada manusia, mendengarkan namun tidak merasakan, itulah robot.
_ _ _
__ADS_1
Saranku tunggu aja beberapa hari gitu, ke dua hari sekali baru baca gitu hihi, supaya lebih puas aja gitu, yasudah sekian terima kasih atas like dan vote kalian, saya jadi lebih semangat untuk menulis kelanjutannya.