
Rafaela tertawa geli karena tangan Ling Chen yang menggelitik tangannya. Dia membalas dendam dengan ikut menggelitik Ling Chen, Ling Chen tertawa namun bukan karena geli tetapi karena menikmati waktunya saat ini.
ㅤ
Setelah bermain belasan menit dengan Rafaela, Ling Chen duduk kembali di atas rerumputan sambil memandangi gadis tersebut. Begitu juga dengan Rafaela, menyandarkan kepalanya di bahu Ling Chen sambil tersenyum memandangi nya.
ㅤ
“Chen bukankah kau tadi bilang ingin pergi ke Kerajaan? Lalu kenapa kau tidak pergi?” Rafaela bertanya sambil meniup pelan wajah Ling Chen.
ㅤ
“Levi dan Kurumi mengatakan akan ke Kamp Militer menggantikan diriku. Terlebih, ada hal yang harus ku urus, ini tentang caraku merebut kembali Kerajaan Whazard dari tangan Giant.”
ㅤ
Wajah Rafaela tidak terlihat baik saat Ling Chen mengatakan Kebenaranya, namun Ling Chen juga tidak berniat membohongi gadis tersebut.
ㅤ
Ling Chen mengelus rambut gadis di sebelahnya itu lembut, berniat menenangkan dirinya agar tidak terlalu marah.
ㅤ
Menyadari situasi tetap tidak berubah, Ling Chen akhirnya mengganti topik pembicaraan.
ㅤ
“Tadi itu sangat menyenangkan, tetapi wajah paman Gendut itu tidak terlihat bagus.” Ling Chen tertawa mengingat kejadian dirinya pergi bersama Rafaela tadi.
ㅤ
Gadis itu masih memasang wajah kesalnya, meskipun sepertinya sudah lebih baik. Tetapi Ling Chen tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi Rafaela, dia beranjak pergi setelah mengatakan ada urusan lainnya.
ㅤ
Membuat gadis tersebut semakin kesal dengannya.
**
Ling Chen menghela nafas berat setelah melewati Badai kehidupan, Rafaela. Mungkin dirinya mengambil keputusan lebih baik, jika lagi-lagi gadis itu memelas dengan menangis, Ling Chen terpaksa mengabaikannya untuk menyelamatkan Yuki, Kaito dan Eric.
ㅤ
Sampai di kamarnya, Ling Chen dapat melihat Master Petir yang masih tertidur pulas di kasurnya. Dirinya tersenyum tipis melihatnya, dia kemudian mendekati anak harimau tersebut lalu mengelus bulu-bulunya. Sensasi yang teramat lembut terasa, Ling Chen menikmati sentuhan-sentuhan bulu harimau itu.
ㅤ
Sadar Master Petir merasa terganggu Ling Chen melepaskannya dengan segera, dia kemudian kembali melatih teknik pernafasan miliknya.
ㅤ
__ADS_1
Tidak terasa setelah berlatih terus menerus waktu telah berjalan dua jam. Pemahaman Ling Chen tentang Teknik Imperial juga meningkat menjadi 64,1% Kini Ling Chen dapat merasakan tubuhnya yang kembali ke kondisi prima.
ㅤ
“Bagus! Aku tau aku tidak salah memilih Penerus. Jika saatnya tiba, kau akan ikut denganku ke dunia paling hebat di Tata Surya ini.”
ㅤ
Tiba-tiba Suara Master Petir terdengar, membuat Ling Chen menatapnya.
ㅤ
Ling Chen menaikkan alisnya, bingung dengan maksud Master Petir yang mengatakan akan mengajaknya ke sebuah dunia paling hebat di Tata Surya.
ㅤ
Tidak ingin memperpanjang sesuatu yang tidak penting, setidaknya untuk sekarang. Ling Chen mengubah topik pembicaraan tentang latihannya.
ㅤ
“Master Petir, Setelah berlatih Teknik Imperial, apa yang harus aku lakukan setelahnya?” Tanya Ling Chen canggung.
ㅤ
“Tentu saja aku ingin kau melatih perubahan Tujuh Malaikat Petir. Sesuatu yang ku gunakan padamu waktu itu adalah Tujuh Malaikat Petir, kemampuannya adalah Teknik Bertarung paling mematikan esensi Petir. Bisa dikatakan Teknik ini adalah buatan langsung dari Dewa Petir terkuat, Zeus!”
ㅤ
Dari apa yang Ling Chen ketahui, Master Petir sangat mengagumi Dewa Petir terkuat, Zeus. Tidak heran melihatnya terus mengagung-agungkan namanya.
ㅤ
ㅤ
Ling Chen menghela nafas lega, meskipun tubuhnya masih memiliki energi yang prima. Namun tidak dengan pikirannya, pikirannya saat ini masih banyak di hantui pikiran-pikiran yang membuatnya sakit kepala.
ㅤ
“Lebih baik aku makan terlebih dahulu.” Ling Chen pergi ke luar kamarnya berniat makan.
**
Prajurit telah menyelesaikan latihannya, mereka saat ini sedang mengatur nafas untuk kembali melakukan latihan-latihan berat lainnya. Mereka tidak pernah menyangka, Jendral yang terkesan baik dan ramah sangat maniak latihan, meskipun dia memberikan contoh latihannya, para Prajurit dapat melihatnya ikut berlatih.
ㅤ
Kurumi dari tadi hanya menatap Prajurit dihadapannya dalam diam. Sepatah katapun tidak keluar dari mulut gadis itu, sampai Xan Zhang datang dia mulai membuka mulutnya.
ㅤ
“Bagaimana menurutmu? Apakah latihan yang kuberikan kepada mereka bagus?” Xan Zhang bertanya, meminta pendapat Kurumi.
__ADS_1
ㅤ
Kurumi memegangi dagunya, meskipun bukan seorang Petarung penuh keringat seperti Prajurit-prajurit dihadapannya. Kurumi cukup yakin latihan yang di berikan Xan Zhang akan membentuk pondasi yang kuat pada setiap Prajurit.
ㅤ
“Itu bagus, mereka terlihat kelelahan.” Kurumi menjawab pertanyaan Xan Zhang.
ㅤ
Xan Zhang tersenyum canggung, kadang Kurumi yang tidak menggunakan ekspresi membuatnya tidak nyaman berbicara dengannya. Karena itu dia lebih sering berbicara kepada Arthur, yang memiliki wajah ceria.
ㅤ
Saat mereka sedang mengobrol santai, Jacobs Aldiva berjalan mendekati keduanya. Dia memegang pundak Xan Zhang sambil tersenyum memandangi keduanya secara bergantian.
ㅤ
“Kerja bagus Jendral Xan! Aku terpukau melihat Prajurit-prajurit itu. Mereka sangat kelelahan tetapi lihat lengan mereka, secara drastis menguat!” Jacobs Aldiva memuji pelatihan yang di berikan Xan Zhang.
ㅤ
Xan Zhang menggaruk kepalanya tersenyum canggung, dia kemudian berbicara hal-hal lainnya dengan Jacobs Aldiva, mengabaikan Kurumi yang berada di sebelahnya. Hingga Jacobs Aldiva tiba-tiba memberikan penawaran makan malam dengannya.
ㅤ
“Penyihir Sesat bukanlah Kekasihmu? Benar?” Jacobs Aldiva merasa perlu bertanya, takut menyinggung pihak lain kalau tidak bertanya lebih dulu.
ㅤ
Xan Zhang merasa canggung mendengarnya, dia menjawab pertanyaan tersebut dengan singkat karena hanya terpikirkan jawaban tersebut.
ㅤ
“Bagus! Kalau begitu aku ingin mengajakmu makan malam bersama dengan Keluarga ku. Aku ingin mengenalkan dirimu pada anak gadisku yang berusia sama seperti dirimu. Kau tidak keberatan bukan?” Jacobs Aldiva tersenyum penuh makna.
ㅤ
“T-tentu saja! Aku tidak keberatan sama sekali. Tetapi itu juga tergantung keputusan Pangeran Chen, jika dia tidak memberikan izin aku sendiri tidak dapat membantahnya. Aku tidak dapat berjanji tapi aku akan sedikit memohon kepadanya...”
ㅤ
Jacobs Aldiva merenung, dia juga tidak dapat memaksakan kehendaknya. Jika Pangeran Chen merasa kesal kepadanya yang memaksa Xan Zhang makan malam bersamanya. Jacobs Aldiva merasa Keluarganya akan hancur, bayangan yang ada dalam pikirannya membuat sekitar punggungnya keringat dingin. Jacobs Aldiva berdiri.
ㅤ
Dia mengerutkan kening memikirkannya, saat dia ingin memberikan kata tambahan kepada Xan Zhang. Jendral tersebut nyatanya telah kembali ke lapangan kamp militer, memberikan instruksi latihan selanjutnya.
ㅤ
Jacobs Aldiva memegang kepalanya, dia sedikit menyesali perkataannya dan wajahnya yang tersenyum penuh makna tadi.
__ADS_1
ㅤ
“Pulang nanti aku akan mengajaknya minum bersama...”