Demon Lord System

Demon Lord System
Chapter 238 : Menyelinap III


__ADS_3

Di dalam ruangan tersebut rupanya berisi Senjata-senjata yang sudah lama tidak digunakan. Baik yang berukuran Raksasa juga yang berukuran pas di tangan manusia.



Ketika mereka sedang membongkar senjata-senjata yang mereka temukan, Kurumi secara tidak sengaja menyenggol sesuatu yang menyebabkan ruang bawah tanah terbuka.



Ruangan Bawah Tanah tersebut terbuka dengan perlahan tetapi Ling Chen dan Kurumi dapat mendengar suara desiran keras akibat terbukanya ruangan tersebut.



Mendengar suara yang bising, Ling Chen segera melihat Kurumi, “Kurumi! biarkan aku memegangmu!” Ling Chen dengan cepat memberikan Kurumi instruksi, lalu memegang tangannya.



Kurumi yang tiba-tiba merasakan sebuah tangan tak kasat mata memegang tangannya hanya pasrah tidak melawan. Ketika tangan tersebut mulai menariknya, Kurumi mengikutinya dengan cepat.



Ling Chen berlari masuk ke dalam ruangan bawah tanah, meskipun suara ini cukup besar Ling Chen masih dapat bersembunyi dengan mode Ghost nya. Ketika sudah berada di dalam ruangan bawah tanah, Ling Chen memeriksa area sekitar dengan Sense. Merasakan tidak ada keberadaan siapapun selain Kurumi, Ling Chen menonaktifkan mode Ghost nya.



Kurumi segera mengikuti, mereka mulai mengatur nafas beberapa saat sebelum akhirnya mulai memandangi area sekitar.



“Ruangan bawah tanah ini... Mungkinkah terhubung dengan Makam Kuno yang di katakan Master Petir?” Ling Chen bergumam, terlihat sedang memikirkannya.



Ketika sedang memikirkannya, Kurumi tiba-tiba menundukkan kepalanya, “Saya minta maaf Tuan. Karena saya hampir saja keberadaan kita di ketahui musuh.” Kurumi merasa bersalah, sebab karenanya mereka harus melenceng dari tujuan utama mereka menyelinap kemari.



Ling Chen tersenyum tipis mendengarnya, dia lalu mendekati Kurumi, “Tidak apa-apa, lain kali ku harap kau lebih berhati-hati.” Setelah berkata demikian, Ling Chen menyentil kening Kurumi, membuatnya sedikit terdorong ke belakang.



Kurumi yang mendapat sentilan itu dapat merasakan bagian tulang dahinya mengalami kesakitan yang nyeri. Dia terus memeganginya sambil menggosok-gosok nya, merasakan sakit yang begitu nyeri. Jika di tingkat nya saat ini masih dapat merasakan sakit akibat sentilan tuannya, Kurumi menjadi begitu ketakutan bila memikirkan bagaimana jika tingkatnya saat ini adalah Grand master?



Kemungkinan tulang kepalanya akan hancur dan membuatnya mati dalam sekejap.


__ADS_1


Ling Chen yang melihat Kurumi masih memegangi kepalanya memalingkan wajahnya dan berjalan mendekati tembok di sekitarnya. Meskipun besarnya tembok berkali-kali lipat dari besarnya tubuhnya, Ling Chen tidak kesulitan untuk memeriksa Tembok karena tenaganya sendiri sudah melebihi Giant pada umumnya.


Ruangan ini terasa aneh, wajar saja apabila Ling Chen menaruh curiga dari tembok sekitarnya. Ketika menemukan tembok yang tidak terlalu tebal, di situlah dugaan Ling Chen menjadi lebih kuat.



“Kurumi kemari.” Ling Chen memanggil Kurumi tanpa menoleh ke arahnya.



Kurumi masih memegangi kepalanya yang terasa sakit ketika Ling Chen memanggilnya, dia segera berjalan ke arahnya lalu memegang tangan tuannya kembali, menyadari tujuan tuannya memanggilnya.



Melihat itu Ling Chen segera tersenyum sebelum menyentuh kembali tembok di hadapannya, dia memejamkan matanya lalu dalam beberapa saat menghilang. Beberapa saat kemudian ketika mereka menghilang dari atas muncul beberapa Penjaga Giant.



“Tidak ada yang aneh, juga seharusnya kalau ruangan menuju Makam ini terbuka seharusnya mengeluarkan suara yang cukup keras.” Salah satu dari tiga Giant penjaga memberitahu pendapat nya.



“Aku cukup setuju, mungkin ruangan rahasia terbuka karena jatuhnya Pedang. Pedang-pedang itu di tumpuk, dan kita memiliki tubuh yang besar, membuat lantai sedikit bergetar. Aku rasa karena getaran kaki kita, Pedang itu jatuh lalu membuat ini terjadi.” Salah satu di antara lainnya memberitahu analisis nya.




“Kalau begitu lebih baik kita pergi dan beritahu Lord Victoria tentang ini, tapi ku rasa besok saja aku sudah lelah menjaga Istana lagipula tidak mungkin ada sosok yang berani menyerang Istana.” Ajak salah satu Giant penjaga sambil menguap, dia merasakan ngantuk.



Kedua Penjaga lainnya mengangguk pelan merasa setuju, mereka telah lelah karena sepanjang hari terus menjaga Istana. Mereka akhirnya naik kembali ke atas lalu menutup pintu ruang bawah tanah sekaligus menggemboknya.


**


Betapa terkejutnya Ling Chen ketika selesai berteleportasi ke ruang di balik tembok, dia merasakan mana yang begitu kuat dari dalam Kuno.



“Ukh! Apa benar ini makam yang telah mati? Kenapa Mana yang di keluarkan masih begitu lebat!” Ling Chen bergumam sambil melapisi tubuhnya dengan mana miliknya.



Kurumi mengikuti apa yang Ling Chen lakukan. Dia lalu berjalan mengikuti Tuannya itu dari belakang.


__ADS_1


Ling Chen berjalan menyusuri lorong yang hampir sepenuhnya terbuat dari tanah, ketika sampai di ujung lorong itu, Ling Chen menemukan sebuah Gerbang yang teramat besar. Dia berhenti di hadapan Gerbang tersebut, sambil melihat-lihat Gerbang di hadapannya dengan seksama.



“Aku jadi meragukan perkataan Master Petir. Di dalam sini aku dapat merasakan banyak sekali mana, apa mungkin Master Petir salah mengecek. Tetapi sebenarnya, jika aku bisa memanfaatkan mana ini, aku dapat menerobos tingkatan selanjutnya. Maka untuk mengalahkan Para Giant pastinya akan menjadi lebih mudah.” Ling Chen bergumam sendiri, dari balik gerbang saja dirinya dapat merasakan mana yang begitu kuat. Apalagi jika dirinya di dalam.



Dia kemudian melirik Kurumi yang berada pada sisi lain dari Gerbang, ketika sedang melihat Kurumi, Ling Chen melihat sesuatu yang aneh, dia lalu melirik ke sisi Gerbang kanannya.



Terlihat lubang yang berbentuk cap tangan, Ling Chen segera menyadari apa maksudnya. Dia lalu memalingkan wajahnya ke arah Kurumi, “Kurumi tekan lubang yang berada di kiri mu, kita lakukan secara bersamaan!”



Mendengar hal tersebut Kurumi menengok Ling Chen sebelum menaruh tangannya di dalam lubang. Ketika tuannya itu memberikan instruksi untuk menekannya, Kurumi segera ikut menekannya.



Ketika itulah tiba-tiba tanah di sekitar mereka bergetar hebat, kejadian ini terus berlangsung hingga lima menit sampai Gerbang di hadapan mereka terbuka.



Ling Chen menelan ludahnya merasakan aura yang begitu pekat terbang ke arahnya. Dia lalu melirik Kurumi yang berada di sampingnya, memegang tangannya lalu menariknya masuk ke dalam Gerbang.



Gerbang seketika terkunci setelah Ling Chen dan Kurumi masuk. Aura yang begitu pekatnya menyurut kembali beberapa saat setelah Gerbang tertutup. Hal tersebut membuat Ling Chen juga Kurumi dapat merasakan nafas lega.



“Huh... Aku tidak menyangka Master Petir bisa salah perkiraan.” Ling Chen mengatur nafasnya sambil melihat ke sekelilingnya, ketika itu Ling Chen hanya dapat melihat tumpukan emas di segala ruangan ini. Bahkan tempat yang mereka pijaki saat ini terdapat beberapa keping emas.



Namun berselang beberapa saat kemudian dari lorong ujung ruangan yang gelap, muncul seekor laba-laba berukuran 7 meter. Tampilannya berwarna putih merah, dia tengah bergantung di dalam sisi gelap sambil melihat Ling Chen dan Kurumi.



Ketika menyadari hal tersebut Kurumi segera berdiri di depan Ling Chen. Tangannya telah berada di gagang Pedang, bersiap-siap apabila Laba-laba tersebut datang menyerang mereka.



“Laba-laba bodoh! Jangan coba-coba kau kemari dan melukai Tuanku! Atau jika tidak aku akan pastikan membunuhmu!” Mata merah Kurumi menyala, memperlihatkan niat membunuh yang begitu kuat.


__ADS_1


Laba-laba yang menyadarinya sedikit bergetar ketika merasakan niat membunuh yang teramat besar. Namun, dia dengan cepat mendapatkan kembali ketenangannya dan membalas mengeluarkan niat membunuh yang tidak kalah kuat dengan Kurumi.


__ADS_2