
POV Yuki
Namaku Yuki Anggel, biasanya aku sering dipanggil Yuki oleh orang-orang di sekitarku. Saat ini, aku tengah berada di sekitar orang-orang hebat yang berasal dari aliansi yang sama dengan tuanku. Yah, tuanku Ling.
Sejak mendengarkan cerita dari Ling palsu, kami kembali ke goa yang berada di balik air terjun. Di sana cukup terang karena terdapat sihir penyembuh yang terbuat dari api.
“Yuki, kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?” Tiba-tiba, dari belakang ku, aku mendengar suara panggilan yang terasa familiar. Yah, dan kekuatan yang hebat ini, sudah pasti milik tuan.
Aku memalingkan tubuhku ke arahnya, lalu aku dapat melihat sosok rupawan yang kini tengah menatapku dengan mimik wajah yang terlihat khawatir. Aku tersenyum lalu mengelus kepalanya.
“Aku baik-baik saja tuan.” Ucapku sambil mengelus kepala Ling.
Namun, aku tiba-tiba saja tersadar, aku baru saja mengelus kepala orang yang ku hormati. Bagaimana mungkin aku memperlakukannya seperti anak kecil, tidak-tidak, mungkin kalau sebesar Ling lebih dapat di sebut sebagai pasangan/kekasih.
“M-maaf, aku spontan melakukannya tu–” Sebelum menyelesaikan perkataanku. Tiba-tiba saja tangan hangat milik Ling, menutup mulutku dan menarikku ke pelukannya.
Aku terkejut namun aku melihat tuan mengisyaratkan untuk tidak berisik. Aku pun diam dan tidak memberontak.
“Semuanya, diam, jangan ada yang mengeluarkan suara sekecil apapun.” Ucap Ling pelan.
Semuanya diam, namun mereka masih terheran-heran, begitu juga denganku. Apa yang membuat Tuan seperti itu. Jika mengambil dari segi kekuatan dan mana, tuan malah dapat dikatakan adalah orang yang sangat-sangat berbakat dan hebat. Dia bahkan sudah kuduga dapat menjadi seorang pahlawan.
Namun, kejadian ini diluar dugaanku, aku tidak menyangka ini akan terjadi. Akan tetapi, beberapa saat kemudian. Aku tersadar bahwa aku dan tuan saat ini sangat dekat. Aku berada di pelukannya dengan mulut yang dibungkam, dan tangan tuan memeluk diriku dari belakang.
Wajahku memerah, tidak dapat berfikir jernih, kepalaku sampai mengeluarkan asap saking malunya berada di pelukan tuan. Dan sepertinya, tuan menyadari aku terlihat aneh, namun bukannya melepaskan pelukannya, tuan malah membuat tangannya dingin dan menempelkannya di jidat ku.
Aku seketika itu menatap kosong, aku tau tuan tidak peka, tapi aku juga baru tau tuan cukup bodoh. Mungkin, tuan berfikir kepalaku panas karena mengeluarkan asap, karena itu dia membuat tangannya dingin dan menempelkannya di jidat.
__ADS_1
Tiba-tiba...
Dummm!
Suara yang seperti langkah kaki itu terdengar dari luar, mengejutkan diriku dan lainnya. Tangan Ling langsung memegang mulutku kembali, yah sepertinya dia khawatir aku akan berteriak. Sebenarnya wajar-wajar saja bagi wanita untuk berteriak di saat ini, sayangnya tidak denganku, meskipun begitu aku tidak peduli. Itu karena, hal ini membuat diriku dengan Ling sangat dekat.
Tidak berbeda jauh denganku, kedua gadis kecil dari keluarga Sakura itu juga tengah di tutup mulutnya. Yah, aku sudah menebaknya.
Lalu beberapa saat kemudian, aku mendengar suara langkah kaki yang besar itu mulai menjauh. Aku menarik nafas lega, saat ku berfikir sudah aman, tiba-tiba saja aku mendengar suara benturan keras dari atas tanah, dan beberapa saat kemudian bebatuan di atas kami mulai retak dan berjatuhan.
Ling, dengan sigapnya menggendongku keluar dari sana dengan cepat. Aku yang berada di atas tangannya hanya dapat melihatnya sambil memegang belakang lehernya.
Aku menatap wajahnya, berfikir, sebenarnya sejak kapan aku menyukainya? Dan setelah ku pikir-pikir, aku mulai menyukainya di saat dia mengalahkan ku.
Beberapa menit kemudian, kami semua telah berada di luar Goa yang berada di dalam air terjun itu. Kami dapat melihat dari bawah, terdapat sosok raksasa yang berada di atas air terjun.
Sesuatu yang tidak terlihat, namun itu keras, entahlah, kalau ku ingat-ingat ini adalah sihir khusus milik kelompok elf. Kalau tidak salah namanya adalah sihir pertahanan hologram.
Sedangkan itu, di lain arah, aku dapat melihat Kaito tersenyum lebar sambil mengarahkan tangannya ke air-air itu. Tangannya itu mengeluarkan api ungu yang menahan air air itu.
“Hanya air biasa, ini tidak akan berpengaruh kepada sihir apiku.” Ucap Kaito tertawa.
Yah, dan aku masih saja tidak terlalu suka dengan sifat Kaito. Terlebih...
Ehm, rasanya aku sangat marah saat aku mengingat kejadian di kamar. Kaito dan Ling, gara-gara Kaito first kiss Ling bukanlah milikku, padahal aku pernah merencanakan sesuatu yang dapat membuat ku mencium Ling.
Tapi, ah sudahlah, lebih aku saat ini turun dari gendongan Ling. Aku tidak ingin terlihat lemah di matanya.
__ADS_1
“Ling, biarkan aku turun.”
“Ah baiklah.”
Aku turun dengan perlahan, rasanya aku tidak terlalu senang. Namun yah sudahlah, aku dan lainnya pun memutuskan untuk berjalan menjauh dari air terjun. Kemana? Entahlah, yang pasti tempat itu haruslah aman.
Yah, akan tetapi, sebenarnya aku juga saat ini khawatir dengan keluargaku. Bagaimana yah keadaan mereka? Apakah mereka semua baik-baik saja? Huh.
Tiba-tiba, dari arah kiri kami, terlihat raksasa berkulit hitam, dia memiliki besar 15 cm. Dengan rambut yang pendek berwarna merah, dan juga pakaian besi terlihat menutupi sekeliling tubuhnya. Membuatnya dirinya sangat mengintimidasi.
Terlebih, matanya yang sinis, dan senjatanya yang besar itu, membuatku menelan ludah. Aku tidak dapat membayangkan jika aku harus mengalahkan dirinya.
Aku mengambil pisau ku, pisau sebesar 25 cm, biasanya kurang dari 40 cm. Pisau ku bisa dikatakan berbeda daripada yang lainnya, pisau ku sebenarnya adalah item sihir, sihir yang berada di pisau ku memiliki atribut racun.
Ling, berjalan hingga di depanku, begitu juga dengan para lelaki lainnya. Huh, mereka selalu merebut panggung, namun mau bagaimana lagi? Mereka memang lebih kuat daripada diriku.
Ketiga orang, yang tidak lain adalah Shukaku, Kaito, dan siapa lagi jika bukan Ling. Mereka saat ini maju di depanku, mereka mengeluarkan senjatanya masing-masing.
Ling, dengan tangan kosong, Kaito dengan balutan sihir yang berupa tinju, sama halnya dengan sarung tinju, Kaito juga membuat sebuah sarung tangan tinju dengan mana miliknya. Memiliki esensi api, berarti bisa dipastikan mana yang terkandung di dalam tubuh Kaito memiliki sisi panas.
Karena hal itu, saat ini, aku dapat melihat tangan Kaito mengeluarkan asap yang cukup banyak dari tangannya.
Berbeda dengan yang lainnya, aku sangat terkejut melihat perubahan Shukaku. Tangan yang di lapisi sebuah Gear yang terbuat dari listrik, mungkin lebih tepatnya Gear tersebut berbentuk sebuah Gear tangan naga.
Sama dengan atasannya, bagian kaki juga memiliki Gear naga. Gear gear yang di gunakan oleh Shukaku, terlihat mengeluarkan listrik yang sangat kuat, bahkan hal itu membuat Ling dan Kaito tidak dapat mengalihkan pandangannya.
Shukaku maju dan berjalan di antara Ling dan Kaito, dia dengan percaya dirinya, berkata, “Mari, kita bertiga kalahkan raksasa jelek ini. Dengan cepat!”
__ADS_1