Demon Lord System

Demon Lord System
Ch. 95 - Kencan Satu Hari II


__ADS_3


Nama : Leonardo Kirito (Kaito)


Umur : 17+


Class : Dragon


Job : Dragon Fire ( 3 ) Api Ungu ( 1 )


Setelah menerima salah satu dari api terkuat yaitu api ungu, Kaito menjadi sangat kuat. Bahkan berkat api tersebut, kekuatan Jin pada tubuhnya naik menjadi 500.


______________________________________________


Prajurit itu terdiam setelah mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ling, dalam hatinya dia berkata, jika saja apa yang dikatakan oleh Ling benar apa adanya. Posisinya sebagai penjaga gerbang akan terancam, dan itu pastinya tidak akan baik untuknya dan keluarganya.


Prajurit itu berdiri, wajahnya terlihat beringas dan tangannya saat ini terlihat sedang mengepal kencang. Ling menduga prajurit tersebut sudah sangat marah kepadanya. Akan tetapi...


"Iya ada yang bisa kami bantu tuan muda Ling." Prajurit tersebut menggosok gosok kedua tangannya sambil tersenyum ramah.


"Pfft."


Ling dan Yuki terbatuk bersamaan saat melihat tingkah prajurit itu, mereka jelas tidak menduga prajurit tersebut akan langsung berubah 180° dibandingkan sebelumnya.


'Apa apaan orang ini, aneh.' Batin Ling sambil mengelap air liurnya.


Begitu juga dengan Yuki, dia sama sekali tidak menebak sikap prajurit tersebut akan berubah seketika.

__ADS_1


Prajurit itu sendiri bernama Roy. Roy langsung mengajak Ling dan Yuki masuk kedalam. Roy tidak perlu bukti lagi, sebab, dirinya sendiri pernah mendengar nama Ling adalah nama dari anak kepala keluarga Gronth. Roy biasanya memanggil ayah Ling dengan sebutan boss atau majikan. Terlebih, manajer yang berada disana sama sekali tidak menghentikannya saat membawa Ling masuk, itu berarti sudah jelas identitas Ling sangat tidak diragukan lagi.


"Namamu siapa." Tanya Ling sambil melirik ke sekitar toko milik keluarganya.


"Namaku Roy tuan muda." Balasnya ramah.


"Ouh, kalau begitu dimana acara lelang nya?" Ling sendiri sebenarnya sudah tidak sabar, dia ingin melihat barang unik apa saja yang berada di dunia ini.


"Ah, untuk itu tuan perlu menunggu dua jam lagi." Jelas Roy ini.


Roy menambahkan bahwa memang setiap kali lelang diadakan, maka jam yang ditetapkan adalah jam 9 pagi. Hal tersebut sudah menjadi keputusan ayah Ling sejak lama.


"Sepertinya aku harus menunggu yah, kalau begitu aku ingin kau menetapkan dua banggku untukku dan Yuki..."


Ling memberitahu dia sangat tidak suka menunggu, itu rasanya bosan. Ling lebih suka bertarung dengan monster daripada harus bosan. Prajurit tersebut mengangguk pelan. Setelah itu, Ling dan Yuki terlihat kembali keluar dari toko Lelang itu.


Dari kejauhan, Roy berteriak, "Semoga kencan tuan muda dengan nona Yuki lancar yah!" Roy tersenyum dengan sangat lebar saat berkata seperti itu. Usianya kini adalah 25 tahun, dia melihat dirinya ada dalam tuan mudanya itu, karena itu dia ingin mendoakan kelancaran kedua kekasih itu. Hal itu tentu saja hanya dari satu sisi saja.


"Huh, anak muda zaman sekarang, sudah memiliki kekasih saja." Roy menggelengkan kepalanya pelan, merasa anak zaman ini lebih cepat baligh. Seakan tidak merasa salah, dia langsung pergi kebelakang untuk meminum sesuatu.


Ling hanya berdecak kesal sebelum kembali memalingkan wajahnya ke arah Yuki yang kini terlihat sudah berada di luar pintu. Ling langsung merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum ramah.


Pada akhirnya, Ling pergi dari toko itu dan berniat melakukan sesuatu yang menyenangkan. Karena merasa awam di dunia ini, Ling pun bertanya kepada Yuki.


"Yuki, ngomong-ngomong apakan ada tempat hiburan?"


"Ah, ada tuan, kalau tidak salah, akhir-akhir ini keluarga bangsawan Kavila memiliki usaha sampingan yang mempertontonkan pertandingan." Yuki terlihat antusias, tingkahnya seperti wanita yang selalu ceria, namun beberapa saat setelah itu dia kembali normal karena menjaga sifat dinginnya.

__ADS_1


Melihat tingkah laku Yuki yang sepertinya sangat antusias namun malu untuk mengatakannya secara langsung, Ling pun hanya tersenyum sebelum menjawab, "Baiklah, mari kita kesana, ah iya, satu lagi, saat ini kita sedang kencan. Panggil aku Ling nona Yuki, hihi." Ling terkekeh kecil, lama-lama Ling merasa menggoda Yuki cukup menyenangkan hatinya.


"A-ah, B-baiklah Ling." Meski malu, Yuki tetap memberanikan dirinya, namun karena itu juga, pipinya saat ini mulai memerah merona. Yuki sepanjang hidupnya belum pernah merasakan sensasi seperti ini, sensasi ini jelas baru pertama kali dirasakan olehnya.


* *


Setelah menempuh jarak 150 an meter, Ling akhirnya sampai di sebuah bangunan yang cukup luas. Yuki segera pergi meninggalkan Ling di depan gerbang masuk untuk membeli tiket masuk ke podium itu. Setelah membeli tiket masuknya, Ling dan Yuki pun masuk kedalam podium arena keluarga bangsawan Kavila.


Sesampainya di dalam Podium tersebut, Ling menemukan banyak sekali orang yang berteriak kegirangan melihat pertarungan di arena. Sesampainya di sana, Ling juga melihat pertempuran di dalam arena sudah dimulai, itu artinya pertarungan ini dimulai tidak menunggu banyak atau tidaknya penonton. Akan tetapi, Ling hanya berpendapat pertarungan tersebut terlihat tidak enak dipandang oleh, namun anehnya semua orang malah terlihat senang.


Ling berfikiran mereka cukup aneh, namun saat dia melirik ke arah Yuki, sang gadis itu terlihat cukup kegirangan jugamelihat pertarungan tersebut, namun seperti biasanya dia menyimpan ketertarikannya dengan sangat baik. Ling hanya menggelengkan kepalanya saat melihat hal itu, padahal bisa dibilang pertarungan ini sangat parah.


Ling duduk di salah satu kursi bersampingan dengan Yuki di kanannya. Merasa bingung, Ling pun memutuskan untuk bertanya kepada Yuki yang sedang fokus menonton pertahanin.


"Yuki, sebenarnya kenapa kau terlihat sangat senang melihat ini? Bukankah pertarungan ini sangat tidak enak di pandang?" Ling berkata seperti itu bukan tanpa sebab, itu karena pertarungan itu sendiri membuat lawan terluka parah, dan baru beberapa menit yang lalu sebelum duduk, Ling melihat adanya seorang petarung yang tewas.


Yuki memalingkan wajahnya ke arah Ling.


"Ah, jadi begini tuan..."


Yuki mulai menjelaskan, bahwa sebenarnya pertarungan ini adalah pertarungan antara tahanan sel kerajaan. Seseorang yang berbuat jahat atau melanggar perintah raja, maka akan di masukkan ke penjara dan itu adalah tanggung jawab dari keluarga bangsawan Kavila. Akan tetapi, satu setengah bulan yang lalu, Keluarga Kavila meminta izin kepada raja untuk membuat sebuah arena pertandingan antara tahanan.


Raja pun mengizinkannya, namun dengan syarat hanya tahanan yang melakukan pelanggaran saja di sel tahanan. Seorang tahanan akan di berikan point sangsi saat melakukan pelanggaran peraturan di sel tahanan. Seorang tahanan yang point nya telah melewati batas, akan di jatuhi hukuman bertarung sekali di arena ini, setelah itu mereka akan di tahan kembali. Point sangsi mereka juga langsung dihapus karena mereka telah menerima hukuman.


"Jadi begitu, kalau begitu..."


Ling melirik ke berbagai arah, dia sedang mencari seseorang yang dikenalnya. Beberapa saat setelah itu, dia menemukan orang tersebut dengan mata X-ray nya. Orang yang di cari oleh Ling adalah...

__ADS_1


_ _ _


TO BE CONTINUE : Berikan like dan komentar. Jujur aja nih yah, kalau kalian komentar yang positif author jadi lebih nyaman dan lebih enak menemukan ide cerita untuk kedepannya. Karena itu berikan komentar dan likenya yah, yah setidaknya lebih lah yah komentarnya dari 50. Sekian terima kasih untuk yang telah mendukung novel ini, semoga sehat selalu.


__ADS_2