
"Baiklah! Kak Shukaku! Giliran mu!"
"Arah jam 12!" Teriak Taori.
Shukaku tersenyum tipis, dia merapalkan mantra sihir ke arah di mana Count menyerang.
"Magic Sword Thunder!"
Tiba-tiba, di sekeliling Shukaku, terlihat banyak sekali pedang yang terbuat dari listrik mengambang. Shukaku menunjuk arah jarum jam 12. Seketika, pedang-pedang listrik itu terbang dengan cepat menuju arah jam 12.
Boom!!!
Boom!!!
Boom!!!
Suara ledakan terus muncul akibat serangan yang baru saja di lancarkan oleh Shukaku. Ledakan itu membuat tembok-tembok penonton hancur, alhasil beberapa orang terluka.
Pengawas pertandingan segera melakukan evaluasi terhadap penonton yang mengalami luka-luka akibat terjatuh. Shukaku juga langsung menghentikan serangan beruntunnya.
"Aku tidak menyangka, perkembanganku bisa sepesat ini! Aku sangat berterimakasih kepada Ling." Gumam Shukaku sambil melirik arah Ling pergi.
* *
Ling tersenyum tipis, dia dapat merasakan sebuah peluru sihir yang mengarah ke Aliansinya. Dengan segera, dia mengeluarkan dua mayat dari dalam tangannya.
Blussst....
Dua mayat tipe serigala itu langsung bertabrakan dengan peluru sihir. Hasilnya, tubuh itu hancur karena ledakan yang di akibatkan oleh peluru tanah.
Asta, mengerutkan kening, dia dapat merasakan serangan yang dilepaskan oleh Radian dan Lansia baru saja terblokir oleh sesuatu.
"Hhm, sepertinya... Calvin! Kau maju!"
"Hahaha, ini yang ku tunggu-tunggu!" Calvin meninju tangannya kecil dengan wajah yang terlihat beringas.
Dia memiliki rambut Oren dengan tubuh yang cukup berotot. Dia tidak terlihat membawa senjata, namun sebenarnya, dia membawa banyak sekali senjata berupa pisau di dalam cincinnya maupun di kantungnya.
Calvin dengan segera maju sambil melempar satu buah pisau. Pisau yang dilemparkan oleh Calvin bergerak sangat cepat.
Namun, tiba-tiba, Calvin merasakan tubuhnya bergetar. Dia berhenti karena merasa panik.
"A-apa ini! K-kenapa tubuhku bergetar?" Gumam Calvin.
Saat ini, seperti yang kalian tau, asap hitam berada di mana-mana, membuat semua orang tak dapat melihat kecuali Ling dan Taori. Mungkin, masih ada beberapa, namun tidak penting.
__ADS_1
Ling tersenyum seringai, dia maju ke tempat Calvin berdiri, "Ada apa?" Tanya Ling tersenyum sinis.
Calvin segera mengambil pisau lalu mengarahkan pisau tersebut ke arah suara itu, namun, Calvin terjatuh saat melihat sebuah monster bayangan yang dilihatnya di arah suara itu.
Ling semakin tersenyum, jurus yang baru saja dikeluarkannya olehnya adalah jurus yang cukup sering digunakan olehnya dulu. Jurus untuk menakuti lawan tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak.
Jurus ini adalah gabungan aura dan ilusi, Ling dengan aura kegelapan dan membunuhnya, di tambah ilusi, membuat Calvin saat ini terdiam seribu bahasa.
Ling mengendus pelan, dia mencium sebuah bau amis.
'Ah, dia mengompol. Hahahaha.' Ling tertawa dalam hatinya. Puas, sungguh puas rasanya membuat orang takut seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Ling membuat Calvin tak sadarkan diri dengan satu kali serangan. Ling pun segera maju ke arah aliansi YTZ.
Asta, tersenyum kecut, dia dapat merasakan energi sihir milik Calvin telah lenyap. Dan di gantikan oleh sosok yang di duga olehnya adalah Ling.
"Orang ini, akan langsung ku hadapi! Kalian semua! Bersiap bertempur dengan aliansi Reven Gouse!" Teriak Asta. Dia lalu terbang dengan cepat menuju arah Ling.
"Baik!" Jawab serentak anggota tersisa.
"Sihir Cahaya! Lentera Naga!"
Sringg!!!
Asap-asap hitam itu langsung menghilang di gantikan oleh sebuah cahaya terang. Namun, asap-asap itu tidak sepenuhnya hilang, mereka hanya menyingkir dari tengah-tengah lalu berkumpul di pojok. Hal itu membuat para penonton tetap tidak dapat melihat.
"Iya, hilangkan!"
Banyak dari penonton yang memprotes tentang asap tebal yang menutupi penglihatan mereka. Namun, Taori tidak memperdulikannya dan terus memantau orang-orang dari Aliansi YTZ.
* *
Saat Cahaya itu menerangi area tengah, semua anggota aliansi dari kedua kubu dapat melihat bahwa Aliansi Syinmurai telah kalah seutuhnya. Mereka terbaring tak berdaya di lantai.
Dan juga, sosok wanita yang terlihat seperti Dewi itu muncul menaruh sebuah lentera. di tengah-tengah lapangan.
Kaito, yang melihat pemandangan itu takjub dan mengeluarkan sepercik darah dari hidungnya, "Cantik sekali!" Gumam Kaito dengan air liur yang menetes.
Bukan Kaito saja, bahkan, Hamura, Count, Kamaki bahkan Shukaku pun juga seperti Kaito.
Sedangkan mereka sedang saling bertatap-tatapan. Ling saat ini sedang bertarung serius dengan Asta. Asta mengerutkan keningnya menyadari kekuatanya setara dengan Ling.
'Anak ini! Dia setara denganku. Tapi dia lebih lemah dari orang yang dulu berhadapan denganku. Tidak-tidak,' Setelah bertukar beberapa serangan, Asta makin mengerutkan keningnya karena menyadari sesuatu, 'Anak ini bahkan lebih kuat dari orang yang dulu pernah ku lawan!'
'Aku tidak bisa meremehkannya. Akan ku gunakan seluruh kemampuan ku.' Batin Asta sambil terus melakukan pertukaran serangan.
__ADS_1
Asta kemudian terpaksa membuat Ling terpental terlebih dahulu. Dia ingin mengeluarkan senjatanya dari cincinnya.
Bukkk...
Ling mundur beberapa langkah saat pukulan yang dilepaskan oleh Asta mengenai perutnya.
Asta dengan cepat langsung mengeluarkan pedangnya.
Wusshh...
"Mari beradu pedang!" Ucapnya sambil mengarahkan pedang tersebut ke arah Ling.
Sebuah pedang hitam tipis keluar dari dalam cincin Asta.
'Dengan fragmen ini, aku akan mampu mengalahkan lawanku. Aku harus menang!' Batin Asta.
Ling tersenyum tipis, dia kemudian merenggangkan tangan kanannya, seketika itu juga. Es muncul dari tangannya lalu es itu berubah menjadi pedang dalam beberapa detik saja.
"Aku akan melawanmu dengan ini." Ucap Ling tersenyum sinis.
Sejak melakukan pelatihan di kediamannya, Ling telah memiliki semua elemen. Api, Air, Es, Petir, Angin, Cahaya, Kegelapan dan tanah. Itu semua berkat pelayan Ling yang membawakan mayat-mayat hewan sihir yang memiliki esensi berbeda-beda.
Ingat, kekuatan Ling mampu merenggut kemampuan orang yang telah di konsumsinya.
Asta mengerutkan kening dan memasang wajah sedikit kesal. Namun, setelah mengambil nafas panjang, dia kemudian kembali tersenyum lalu mengarahkan pedangnya ke arah Ling.
"Akan ku buktikan! Rakyat jelata memiliki posisi di kerajaan!"
Wushhhh...
Suara angin yang berhembus kencang terdengar saat Asta terbang ke arah Ling. Ling tersenyum seringai sebelum tiba-tiba menghilang.
Asta membuka matanya lebar-lebar, dia sama sekali kehilangan jejak Ling.
'Kemana orang itu?' Asta berhenti lalu mengarahkan pedangnya ke segala arah. Bersiap bila saja Ling muncul.
Namun, tebakannya salah, dia dapat melihat Ling berada di belakangnya sambil duduk di sebuah bangku yang terbuat dari tanah.
"Huahhhh, aku mengantuk. Kau sering mempermainkan orang bukan? Baiklah, sekarang aku yang akan mempermainkan mu." Ling tersenyum tipis sebelum menggerak-gerakkan jarinya.
Saat jari-jari tangan itu bergerak, tiba-tiba saja dari bawah kaki Asta muncul es es runcing. Untungnya, Asta berhasil menghindar serangan itu dengan terbang di udara.
Ling semakin tersenyum, dia melirik ke segala arah, dia dapat melihat pertarungannya di tutupi oleh asap.
"Bagus, kalau begitu..."
__ADS_1
Ling menepuk tangannya, seketika itu juga, burung-burung api kecil muncul di sekitarnya. Dan saat Ling bersiul, burung-burung api itu terbang ke arah Asta dengan cepat. Jumlah burung-burung api itu sangatlah banyak, mungkin 150 ke atas.
Asta mengerutkan kening, bagaimana bisa seseorang dapat memiliki dua esensi yang bertolak belakang. Jika itu adalah angin dan api, itu masih dapat di terima oleh Asta. Namun, bagaimana bisa api dan es di miliki oleh satu orang yang sama? Itu sama sekali tidak masuk akal dan belum pernah terjadi.