Demon Lord System

Demon Lord System
Chapter 219 : Pelatihan Master Petir II


__ADS_3

“Pertama-tama kau harus mengetahui lebih lanjut mengenai Teknik Tujuh Malaikat Petir. Teknik ini memiliki tujuh tingkat dan akan cepat berkembang jikalau kau terkena Petir. Tapi di saat bersamaan kau harus mampu menahannya.”



Master Petir berjalan berputar, kebelakang dan ke depan terus menerus sambil menjelaskan dengan tidak tergesa-gesa agar Ling Chen sebagai muridnya memahami maksudnya.



Ling Chen hanya menatap Master Petir dengan wajah yang terlihat mengantuk, beberapa kali dia menguap lalu kembali melihat Master Petir.



“Teknik ini kemudian di bagi menjadi tiga, pertama Eternal Earth, dari tingkat pertama hingga ke tiga di sebut Eternal Earth. Lalu Eternal Sky, dari tingkat empat hingga lima, yang terakhir adalah Heavenly Eternal, dari tingkat enam sampai ke tujuh...”



Eternal Earth di jelaskan sebagai kecepatan, saat dapat menggunakan Eternal Earth, kecepatan akan menjadi berlipat-lipat. Berbeda dengan Eternal Earth, Eternal Sky di jelaskan sebagai Esensi Petir, seseorang yang dapat menggunakan Eternal Sky akan memiliki Petir yang setara dengan Geledek.



Sementara Heavenly Eternal memiliki kemampuan yang berbeda jauh dari keduanya. Bahkan untuk Master Petir sendiri, hanya dapat menggunakan Heavenly Eternal Gear tidak terlalu lama, sekitar tiga jam. Dibandingkan dengan lainnya, Heavenly Eternal lebih spesial, itu karena memiliki Tiga sebutan, Heavenly Fighting Gear, Heavenly Enduring Gear dan Heavenly Agility Gear.



Setelah membahasnya Master Petir akhirnya menatap Ling Chen, dia berpikir mungkin Ling Chen akan tertidur saat mendengarkan dirinya menjelaskan sesuatu sepanjang ini. Tetapi ternyata dugaannya salah, Ling Chen dengan mata bersemangat menatap dirinya.



‘Ouh apa dia mulai tertarik? Haha baguslah, kalau begitu...’



Master Petir berhenti berjalan, sebuah tongkat kayu yang entah dari mana muncul di tangan Master Petir. Master Petir dari pandangan Ling Chen mengarahkan tongkatnya kepada langit, dalam beberapa menit langit malam berubah menjadi langit yang sangat gelap. Rintik-rintik hujan mulai turun, membuat Ling Chen menyipitkan matanya tidak senang dengan perbuatan Masternya.



Ling Chen berdiri dan langsung memanipulasi energinya untuk membuat rumah dengan satu ruangan, rumah itu terbuat dengan sangat cepat, Ling Chen segera masuk ke dalam tetapi tidak menutup pintunya. Dia menatap Master Petir di tengah hujan di dalam rumah kayu nya.



Master Petir yang memejamkan matanya tidak melihat Ling Chen beranjak dari tempat duduknya, namun dia dapat merasakan kepergiannya. Master Petir hanya mendengus pelan sebelum menjatuhkan tongkatnya ke arah rumah milik murid nya.

__ADS_1



Ling Chen membuka lebar-lebar matanya menatap Master Petir yang menjatuhkan atau lebih tepatnya mengayunkan tongkatnya ke arah dirinya, dia menyadari ada sesuatu yang tidak benar di sini, dan firasat buruknya juga meningkat dengan pesat.



“Sialan! Guru durhaka!!!” Ling Chen baru menyadari mengapa Master Petir mengarahkan tongkatnya padanya, tetapi itu sudah terlambat karena sesaat dia mengatakannya, sebuah Petir besar menyambar tubuh nya.



Ling Chen seketika bergerak layaknya orang yang sedang kejang-kejang, rumah kayu nya juga hancur, di bagian atasnya rumah tersebut menjadi butiran arang hitam, sedangkan bagian seperti tembok rumah hanya hancur dan terjatuh menjadi puing-puing bangunan.



Gelak tawa Master Petir terdengar hingga menggema di hutan malam, namun Master Petir mengetahui di area ini tidak banyak Monster yang akan menampakkan diri, terlebih mereka yang dapat tinggal di wilayah Pohon Surgawi hanya aktif pada pagi hari sampai sore hari.



“Rasakan itu, beraninya kau pergi selagi aku sedang memberikan gerakan prakteknya. Dasar murid durhaka, rasakan Petir itu.” Master Petir sekali lagi tertawa lepas sambil memegang perutnya.



**



“Apakah aku pingsan tadi malam?” Ling Chen menghela nafas lalu berbalik posisi tidurnya.



‘Sialan! Guru sialan, dasar durhaka!’ Ling Chen mengumpat kesal, dalam hatinya dia ingin sekali menjitak kepala Master Petir walaupun hanya sekali.



Ling Chen menggeser mundur selimut nya yang tebal dengan kakinya, akan tetapi dia baru sadar, saat selimut itu di geser Ling Chen menyadari dia tidak menggunakan pakaian apapun. Seketika Ling Chen mengerutkan keningnya panik.



“T-tunggu! Rafaela sering ke kamarku beberapa kali dan membangunkan ku, dia tidak mengetahuinya kan?” Dengan mata yang melotot, Ling Chen meyakinkan dirinya bahwa Rafaela tidak melihatnya.


__ADS_1


Setelah belasan menit terlewat Ling Chen akhirnya memutuskan pergi untuk menanyakan langsung kepada Rafaela. Dia menggunakan pakaian kaos dan celana pendek lalu beranjak pergi dari kamarnya.


**


Rafaela menutup kedua matanya sambil memojokkan diri di kamarnya, menutupi wajahnya yang memerah merona akibat melihat sesuatu yang tidak di duga.



‘L-ling yang tidak memakai pakaian... A-ah Jangan! jangan pikirkan Rafaela, kau ini mesum sekali!’



Rafaela beberapa kali menjambak dirinya sendiri karena memikirkan sesuatu hal yang kotor bersama Ling Chen. Dia berusaha keras untuk melupakan tubuh Ling Chen, tetapi bentuk dan lekuk setiap tubuh Ling Chen masih teringat jelas di ingatan Rafaela.



Ingatan itu tidak mau hilang entah berapa kali Rafaela menginginkannya, pada akhirnya dia mulai menyerah dan membiarkan Fantasy itu bermain di otaknya. Saat dia sudah mulai dapat mengendalikan diri, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.



Rafaela beranjak dari pojok ruangan dan membuka Pintu, dia terkejut tetapi berusaha untuk menyembunyikan raut wajahnya. Yang datang tidaklah lain adalah Ling Chen, dia datang dengan pakaian biasa dan celana yang pendek, keringat mulai bercucuran dari kening Rafaela.



Sesaat setelah Ling Chen duduk di kasur Rafaela, dia mulai bertanya maksud kedatangan dirinya kemari. Pertanyaan itu membuat Rafaela semakin berkeringat dingin.



‘D-dia tidak akan mengetahuinya bukan? K-kalau begitu...’



“Aku tidak tau apa-apa, aku tidak ke kamarmu aku hanya melewatinya saja tadi untuk mengambil minum. Suasananya membuatku mengantuk jadi aku rasa tidak perlu membangunkan mu.” Beruntung, Rafaela menemukan ide untuk berbohong, dan perkataannya tidak ada sesuatu yang mencurigakan.



Ling Chen langsung menghela nafas lega sambil memegangi dadanya setelah mendengar perkataan Rafaela.



“Untunglah, aku sudah khawatir kau akan masuk saat aku tidak menggunakan pakaian. Aku tadi malam berlatih jadi tidak sempat... Tunggu! Eh, bukan-bukan aku tida–?” Ling Chen yang keceplosan segera ingin mengarang, tetapi saat dia menatap Rafaela gadis itu sangat berkeringat dingin. Hidungnya mengeluarkan mimisan.

__ADS_1



“Eh?! A-ada apa denganmu? Apa kau sakit? Kalau begitu lebih baik kita ke dokter sekarang!” Ucap Ling Chen dengan tegas, dia khawatir dengan keselamatan Rafaela.


__ADS_2