
Natori benar-benar dikejutkan, segera setelah dia selesai bermain dengan wanita di kamarnya. Natori mendengar ledakan yang sangat besar dari gerbangnya. Suara keributan (teriakan) juga membuat Natori mendengus kesal karena menganggu waktu istirahat nya.
Natori keluar dari kamarnya, dan pada saat itu pas sekali banyak prajurit yang berlari di depan kediamannya. Natori menculik salah satu prajurit menggunakan Artefak yang membuat tangannya memanjang seperti karet.
"Akhhh tolong!" Prajurit itu beteriak ngeri.
"Hey ini aku." Natori menatapnya bagaikan orang yang bosan.
"A -ah ketua, maaf!"
Segera setelah prajurit tersebut meminta maaf Natori melepaskan kerahnya, dia kemudian bertanya kepada prajuritnya itu. Prajurit itu menjelaskan dengan panjang lebar dan berapa banyak musuh yang menyerang. Jawaban demi jawaban berhasil membuat Natori tercengang!
"Mungkinkah iblis yang menyerang?" Natori bergumam, akan tetapi apa alasan kedatangan iblis ke tempat mereka? Natori memang pernah melihat Iblis, akan tetapi sejauh yang dia tau. Iblis hanya mencari keuntungan, kenapa mereka ingin menyerang Bukit Penyihir yang bahkan telah beraliansi dengan Elang Perak.
"Sepertinya mereka belum mengetahuinya, aku akan mencoba berbicara kepada mereka dan menjelaskannya, mereka pasti tidak akan menyerang kembali. Tidak ada alasan untuk saling menyakiti. Bahkan jika seluruh prajurit, ataubahkan para ketua Bukit Penyihir, kami belum tentu bisa menang dari mereka..."
Natori pergi keluar kediamannya, dia terbang menuju kediaman para ketua lainnya. Akan tetapi, rupanya mereka telah bertindak lebih dahulu dan pergi kesana. Wajah Natori menjadi pucat, bagaimana jika para ketua Bangka itu tidak terima dan menyerang balik? Bisa-bisa organisasi Bukit Penyihir akan hilang selamanya.
"Aku tidak bisa membiarkannya..." Natori terbang dengan kecepatan tinggi ke gerbang utama.
* *
__ADS_1
"Lemah, terlalu lemah, aku dari tadi memikirkannya bagaimana bisa mereka tidak dapat melakukannya sendiri..." Sejak penyerangan mereka bertiga, Levi adalah yang paling banyak bicara.
Arthur sendiri berada cukup jauh darinya, akan tetapi dia mendengar suara Levi yang sedang berdecak kesal.
"Yah aku tidak bisa menyangkalnya, mereka memang benar-benar lemah."
Tiba-tiba, dari langit, muncul beberapa orang menggunakan jubah putih dengan gaya biru tua jeans garis. Mereka melontarkan perkataan yang sungguh membuat kedua pelayan Ling marah.
"Hmm apa mereka para ketua itu? Nona Jiu?" Tanya Ling meliriknya.
"Y-ya, mereka benar-benar kuat. Meskipun jumlah kami lebih banyak, namun untuk mengalahkan salah satu dari 5 ketua tersebut, kami setidaknya membutuhkan dua Panatua Menara Jianhou..."
"Begitu rupanya, yah tapi ku rasa... Mereka akan segera mati." Ling menunjuk ke arah ke lima orang yang sedang terbang di langit.
Suara ledakan terjadi, akibat gesekan panas yang dibuat oleh Arthur. Arthur melompat lalu terbang, kecepatan terbangnya lebih kencang. Ditambah dengan gaya dorong, kecepatannya menjadi lebih besar.
"Kalian sampah beraninya berbicara lancang mengenai Lord! Akan ku hukum kalian, Api Biru Nirwana!"
Pedang-pedang muncul disekitar tubuh Arthur, pedang yang panjang dan juga sangat panas. Nilai tambahan, cahayanya sangat terang. Di sisi lain, Arthur memberikan tatapan sinis dan penuh aura kebencian.
"Menara Jianhou, lalu sekarang kalian, aku tidak peduli matilah!"
__ADS_1
Levi menyuruh gagak-gagak nya menyerang, burung-burung gagak itu seperti sebuah peluru. Terbang sangat kencang hingga menembus tubuh ketua Bukit Penyihir dengan mudahnya.
Di sisi lain, pedang cahaya Arthur menyangkut di tubuh salah satu ketua. Dan ketua tersebut, perlahan tapi pasti. Meleleh layaknya lilin.
'Tidak mungkin! Hanya dengan satu jenis sihir mereka dapat ditumbangkan dengan mudah!' Jiu Lan menelan ludahnya, tidak habis pikir (*sambil menatap Ling dibelakangnya) 'Sebenarnya siapa mereka ini? Apa mereka dari sebuah kerajaan berfaliasi 7?'
"Makanan ini lezat, hum wanginya juga harum. Apa benar dia yang memasak? Ku kira dia tidak bisa memasak dan hanya bisa bertarung." Ling membuka kotak makannya, mencicipi makanan tersebut sambil melihat pertarungan di depannya.
'Ahk, bagaimana bisa dia memakannya tanpa mual?! Laki-laki ini gila.'
Malas melihat pertempuran di depannya, Jiu Lan kembali melihat pertarungan antara Levi, Arthur dan ketua Bukit Penyihir.
"Ada kata-kata terakhir?" Arthur bertanya dengan wajah fake smail.
"Pemimpin kalian bajing*n kapar*t! Uhuk." Tusukan kembali dilakukan kepada pria tua itu.
"K-kami tidak memiliki masalah dengan kalian, lantas mengapa kalian menyerang kami?!"
"Nyali yang hebat, tapi sayangnya kau akan tetap mati di sini. Menara Jianhou menyewa kami untuk menyerang kalian dan menghancurkan Bukit Penyihir." Ucap Arthur dengan Fake smail.
"Sekarang kalian sudah tau? Saatnya mat–"
__ADS_1
Arthur melihat ke bawah, dadanya terasa panas seperti tertusuk tombak lahar. Membuat tubuh Arthur berlubang, dan anehnya, Arthur terjatuh dan pingsan
"Ketua! Akhirnya kau datang, mereka ini orang-orang sewaan..."