Demon Lord System

Demon Lord System
Ch. 161 - Bukit Penyihir


__ADS_3

"Baiklah berhenti tertawa, kita sudah membahas misi ini dan kalian masih terus saja tertawa." Jiu Lan berdecak kesal karena terus ditertawakan oleh Xue Yin dan Ling.


Beberapa tetua yang berada di ruang rapat pun juga ikut terbawa suasana dan ikut tertawa. Membuat Jiu Lan semakin kesal.


Meskipun begitu, bagi kelompok Ling, mereka baru melihat ekspresi tertawa terbahak-bahak milik Ling. Dalam hati, mereka turut senang karena dapat melihat tuannya terhibur dan tertawa bahagia.


"Kalau tidak berhenti tertawa gaji 1 bulan kalian akan ku potong 50%!" Macam singa mengamuk, suara Jiu Lan terdengar sangat keras.


Suasana hening seketika dan menjadi serius, kali ini Jiu Lan yang terkekeh pelan. Setelah itu, Jiu Lan memulai pembicaraan yang akan di rapatkan.


"Semuanya, kalian pasti tau Bukit Penyihir adalah sarang dari para penyihir jahat. Mereka menguasai 1 wilayah di kerajaan ini, tugas kita sangat besar kali ini. Sebenarnya aku tidak ingin melawan mereka kecuali mereka menyerang kita terlebih dahulu, namun tindakan mereka mulai diluar batas. Mereka melecehkan wanita dan mencuri di berbagai wilayah untuk keuntungan mereka."


Jiu Lan telah mengkonfirmasi berita tersebut dari mata-mata yang ditaruhnya di organisasi Bukit Penyihir. Bukit penyihir berada di sebuah bukit yang tinggi, dia berada di wilayah kedua. Sedangkan wilayah ketiga di pisahkan oleh teluk yang besar. Lebih tepatnya wilayah ketiga berada di tengah-tengah teluk.


"Sebelum kami pindah ketempat ini, kami juga mengalami pencurian di rumah kami, untungnya Arthur bukanlah lawan mereka. Membuat mereka melarikan diri darinya."


"Ouh aku baru mengetahuinya tuan Ling. Ngomong-ngomong kau sangat handal menggunakan akupuntur. Aku sangat ingin kau ke kamarku membantuku dengan itu." Yue Lian mengedipkan sebelah matanya.


Ling hanya tersenyum tipis, tidak tau apakah harus menerimanya. Di lain pihak, wajah adik dari Jiu Lan yaitu Jiu San terlihat sangat serius, Jiu Lan yang berada disampingnya mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya.


"Kita sebaiknya fokus dulu dengan pembicaraan ini, karena kalian pasti belum pernah mendengar hal ini."


"Apa itu?" Ling penasaran


"Mereka memiliki sebuah senjata yang bernama senapan..."

__ADS_1


Jiu Lan sangat mengerti orang dari luar kerajaan Amera Frost mungkin 99% tidak akan mengenali senjata yang dimiliki Bukit Penyihir. Bukit penyihir memiliki sebuah senjata yang bernama senapan, senapan itu membuat Bukit Penyihir menjadi salah satu pemimpin di kerajaan ini, kekuatan dari senjata mereka dapat dengan mudah membunuh tingkat master ataupun Grand master sekalipun.


"Jika memang benar begitu, itu memang sangat berbahaya bagi diriku yang dulu. Namun aku tidak perlu khawatir tentang hal itu, karena aku saat ini telah berada di tingkat Epic."


Mungkin bagi Ling yang dulu, menerima satu kali serangan senapan akan menghancurkan tubuhnya. Namun ditingkat saat ini, Ling akan dapat bertahan dan kabur jika memang tidak dapat mengalahkan mereka lebih banyak.


"Pantas saja ketua Jiu Lan menerima tuan Ling, ternyata karena kemampuan tuan muda Ling yang besar." Xue Yin tertawa menggoda Jiu Lan.


Jiu Lan tetap memasang wajah serius meskipun sebenarnya dia malu mengatakan bahwa itu kebenarannya. Segera Jiu Lan mengeluarkan sebuah peta wilayah kerajaan Amera Frost.


"Tuan muda Ling, kalian bisa melihat di peta ini kerajaan Amera Frost terdiri dari tiga wilayah, wilayah pertama di daratan rendah, wilayah kedua di atas bukit tinggi, dan wilayah ketiga berada di tengah-tengah teluk. Wilayah yang kami kuasai adalah daratan rendah, posisi wilayah kami adalah posisi yang paling tidak menguntungkan. Namun..."


Jiu Lan melirik pelayan yang berada disampingnya, memberikan tanda kepadanya untuk membawakan sesuatu. Pelayan tersebut pergi dengan segera, sambil menunggu kedatangan pelayan tersebut Jiu Lan kembali berbicara.


"Namun kita juga punya alat baru yang dapat membantu kita menyerang Bukit Penyihir. Tuan muda Ling juga seharusnya sudah mengetahui, di kerajaan Amera Frost sangat jarang orang yang memiliki bakat untuk menguasai sihir terbang."


"Maka karena itu..." Melirik ke pintu masuk, seorang pelayan yang tadi berada di samping Jiu Lan kembali dengan membawa sebuah busur yang bentuknya agak aneh.


Jiu Lan segera introducekan benda tersebut, benda tersebut diperkenalkan dengan sebutan Panah bukit. Panah yang berada di panah itu, besinya lebih besar 3 kali lipat dari panah biasanya, Jiu Lan mengatakan besi itulah yang akan menopang tubuh mereka saat memanjat bukit.


...* *...


Selesai mengadakan rapat, Ling pergi keluar dan kembali berlatih di kediaman barunya yang berada tidak jauh dari Menara Jianhou.


'Sepertinya Menara Jianhou masih belum percaya sepenuhnya denganku.' Ling dapat merasakan kehadiran dari orang Menara Jianhou diluar penginapannya.

__ADS_1


Ling tetap fokus berlatih, di beberapa waktu Ling juga menjeda beberapa detik untuk mengonsumsi sebuah pil. Pada akhirnya setelah selesai mengonsumsi pil kelima, tubuh Ling berhasil menerobos Epic tingkat 5.


Ling membuka matanya perlahan, yang pertama kali dilihatnya adalah seorang wanita yang berpakaian sangat lucu berada di pahanya. Sedang tertidur pulas.


'Rafaela, sudah ku katakan berkali-kali dan dirinya sepertinya tidak mendengarkan perkataanku.' Ling menghela nafas, tidak yakin dapat memaksa gadis tersebut untuk tidak tidur dipahanya saat berlatih.


Ling pun akibatnya enggan untuk berdiri karena takut membangunkan gadis remaja di depannya. Ling hanya dapat kembali menghela nafas sebelum tertidur di lantai.


......* *......


Keesokan harinya, Ling dan lainnya berkumpul di ruang makan dan menikmati hidangan bersama. Levi dan Arthur juga telah terbiasa untuk tetap makan bersama dengan tuannya meskipun saat pertama kalinya mereka sangat enggan melakukannya.


"Seperti biasanya, masakan yang dibuat Rafaela sangat nikmat." Ling memuji makanan yang dibuat Rafaela kepadanya dan lainnya.


"Tuan terlalu memuji, saya hanya dapat melakukan ini untuk membalas kebaikan tuan. Meskipun..."


Rafaela kembali mengingat mendiang ayahnya yang telah wafat dibunuh Ling. Sebenarnya dia sedih namun Rafaela pandai memperlihatkan wajah riangnya.


"Untuk ayahmu, sekali lagi aku meminta maaf. Aku tidak bisa membiarkannya pergi, dia telah menculik orang dari berbagai wilayah untuk dijadikan percobaan. Dan juga sudah ku katakan kepadamu panggil saja aku Ling, aku sudah menganggapmu sebagai adik perempuanku sendiri."


Rafaela hanya mengangguk kepalanya, dengan senyuman di wajahnya. Sementara itu Ling kembali teringat dengan adik-adiknya dan keluarganya. Penasaran dimana mereka saat ini dan apakah seluruh keluarga Ling baik-baik saja.


Ling menggelengkan kepalanya kencang, berusaha melupakan pikirannya. Dia kemudian melirik Rafaela.


"Rafaela, bagaimana jika kita berkencan hari ini? Untuk hari ini saja, aku akan mengajakmu bersenang-senang. Bagaimana?"

__ADS_1


"Baiklah." Rafaela tersenyum tipis dengan air mata tangisan yang mengalir ke pipinya. Menciptakan sebuah mimik wajah baru tersenyum sambil menangis.


__ADS_2