
Para prajurit memandang Ling sambil tertawa, mereka melihat Ling seperti bocah biasa, sebenarnya jika mereka tau kalau Ling berasal dari keluarga terpandang mereka pasti tidak akan berani mengganggunya, hanya saja wajah Ling sama sekali tidak mereka kenal, karena itu mereka menduga Ling hanyalah murid dalam biasa.
Prajurit yang tadi merobek kertas izin Ling maju dan berkata, "Ada apa bocah, hahaha, jangan-jangan kau takut hingga hanya dapat diam, hahaha, beri aku 500 koin emas maka kau boleh keluar dan aku tidak akan membuatmu babak belur." Prajurit itu terus melecehkan Ling dengan ledekan-ledekannya.
Ling kemudian memalingkan wajahnya dan menghitung jumlah dari mereka, sebenarnya Ling dapat membunuh mereka semua, hanya saja dia tidak bisa karena raja akan menghukum siapapun yang membunuh manusia di kerajaan ini, tetapi peraturan itu sama sekali tidak Ling takutkan, toh dia juga berniat mengambil kekuasaan raja.
"Jumlah mereka sepuluh orang." Gumam Ling sambil menghitung mereka.
"Hah? ada apa bocah?" Pria yang merobek kertas izin Ling memajukan kepalanya sambil menaruh tangannya di telinganya, meskipun dia dekat dengan Ling, tetapi dia tidak terlalu mendengar perkataannya.
Ling tidak menjawab, bibirnya kini terlihat tersenyum seringai, dia juga menyadari bahwa dirinya kini menjadi tontonan bagi para murid dalam, mereka semua menggunakan teropong, hanya saja Ling dapat mendeteksinya karena memang dia dapat mendeteksi jumlah manusia maupun hewan yang sekiranya 300m darinya.
"Kalian...mau mati yah? hahaha." Wajah Ling terlihat menyeramkan akibat tertawanya, meski begitu yang lebih menakutkannya adalah senyum dan caranya berbicara, itu seperti layaknya seorang sikopat yang sedang mengincar mangsanya.
"K...kau! bocah kurang ajar!" Pria perobek kertas izin Ling mengarahkan tinjunya ke arah wajah Ling, namun sialnya, secara tiba-tiba tangannya terpotong dan terjatuh ke tanah.
Pria itu langsung berteriak histeris, dia merasakan kesakitan yang luar biasa pada tangannya yang terpotong, dia kemudian menatap Ling dengan perasaan benci namun juga takut.
"Hahaha, hanya seperti ini dan kalian sudah bergaya layaknya tuan? hahaha, kalian memang pantas mati!" Ling tersenyum menyeringai.
Fussh...
Sebuah aura kegelapan yang mengintimidasi keluar dari dalam tubuh Ling, aura itu membuat semua orang yang berada di sekitar Ling menjadi merasakan susah untuk bernafas dan susah untuk melihat.
Ling kemudian mengeluarkan pedang penguasa api dari dalam tangannya, lebih tepatnya tangan kiri, dia kemudian mulai menebas dada semua prajurit yang sedang berada di sana, dalam dua tarikan nafas, Ling telah membuat luka dalam pada dada masing-masing prajurit, dan tentu saja semua yang melihatnya sangat takjub dengan Ling.
* *
__ADS_1
Beberapa meter dari Ling berada, kini seorang wanita berambut hitam dengan tatapannya yang terlihat dingin sedang melihat ke arah Ling, dia juga menggunakan pakaian dari murid dalam.
"Anak itu kuat sekali." Gumamnya.
Sedangkan itu, rekan yang berada tidak jauh darinya menatapnya aneh, dia dari tadi sedang membaca buku, namun melihat tingkah rekannya itu dia menjadi penasaran dengan apa yang dilihatnya.
"Laurel, kau sedang melihat siapa?" Tanya seorang wanita berambut pirang.
"Nadia, kemari lihatlah." Ucapnya mengajak rekannya.
"Hhm?" Nadia kemudian berdiri dan berjalan ke arah jendela yang kini sedang dilihat oleh rekannya atau temannya itu.
Saat dia melihat pemandangan seorang anak laki-laki yang menebas dada musuhnya dengan cepat, nafasnya menjadi tertahankan, dia seakan dapat merasakan aura yang penuh kebencian terhadap anak laki-laki yang bukan lain adalah Ling.
"Anak itu kuat sekali, mari kita ajak dia menjalin Aliansi dengan kita." Ajak Laurel dengan wajah yang masih terlihat datar.
* *
Ling berdecak kesal melihat para prajurit yang kini sudah tumbang ke tanah, mereka tidak Ling bunuh, hanya saja Ling membuat luka dalam di dada mereka agar mereka pingsan.
"Kalian sudah paham? aku adalah tuan dan kalian hanyalah pelayan, jangan berbuat semaunya jika kekuatan kalian hanya sebatas ini." Setelah itu, Ling naik ke atas kudanya dan menjalankan kudanya.
Sepuluh menit kemudian, Ling kini telah tiba di jalan kota, untuk pedangnya sendiri Ling masukkan saat merasa sudah cukup jauh dari Akedemi dan saat tidak terlihat oleh orang.
'Indahnya.' Batin Ling sambil menatap langit di kerumunan manusia itu.
Ling dapat melihat jelas terdapat sebuah pelangi di langit, mungkin karena hujan telah berakhir dan akhirnya digantikan dengan pelangi yang indah.
__ADS_1
Ling kemudian melanjutkan kembali perjalanannya untuk mencari keberadaan dari pelayan Undead nya itu.
* * *
Di sebuah tempat penjualan yang sangat ramai atau seringkali disebut Restoria, kini Miru dan Leonard sedang berjualan Potion-potion
"Semuanya, kemarilah, banyak sekali Potion-potion bagus disini." Miru berteriak dengan suara wanitanya itu.
Semua orang lebih tepatnya semua laki-laki segera berlarian ke tempat Miru untuk membeli Potion-potion yang dijualnya, sebenarnya ketimbang membeli mereka lebih suka untuk mendekati Miru, banyak hal yang dilakukan pria untuk mendapatkan hati Miru, seperti memberikan hadiah kepada adiknya Leonard, dan memberikan Miru bunga agar Miru menyukai mereka dan menjadi kekasih mereka.
Pakaian yang ketat, wajah yang cantik, rambut biru tua dengan sarung tangan berwarna biru gelap, membuat para pria hidung belang tergoda, alhasil dalam seminggu ini saja Miru berhasil mendapatkan sekitarnya 7.862 koin emas, hanya bermodalkan Potion tingkat 1-3 dan kecantikan, Miru dan Leonard berhasil menjadi penjual ramuan yang terkenal di Restoria.
"Nona Miru! aku membawakan mu bunga dan uang untuk membeli Potion-potion mu, terimalah ini." Semua orang berdesakan untuk mencari perhatian dari Miru.
Untuk Leonard sendiri dia kini bermain dengan pedang kayu di belakang Miru, dia benar-benar seperti layaknya anak kecil yang sedang bermain pedang, 'Syukurlah toko kecil ku dan kak Miru sangat laris, tuan Ling pasti akan senang melihat ini, dan setelah itu aku akan mendapatkan pujian dari tuan, haha.' Batin Leonard sambil terus menebas nebas angin, dia sangat suka saat mendengarkan ucapan pujian dari mulut tuannya itu, seakan akan itu saja sudah lebih dari cukup dari pada diberikan seratus hadiah dari orang lain.
Namun, tiba-tiba saja dari keramaian pembeli, semua orang minggir saat melihat lambang naga hitam di sebuah kereta kuda yang sedang berjalan ke arah toko Miru, jelas semua orang takut jika harus berhadapan dengan keluarga bangsawan inti seperti Naga hitam.
Kereta kuda itu kemudian berhenti tepat beberapa langkah dari toko Potion Miru, dan tidak lama kemudian, kereta kuda mulai terbuka dan menampakkan seorang pria yang sangat tampan keluar dari dalam sana.
Pria itu keluar dari kereta kuda lalu berjalan ke arah toko Miru, dan juga terlihat beberapa orang bersenjata lengkap segera mengikuti pria itu di belakang samping kiri dan kanannya.
Saat sudah cukup dekat dengan toko Miru, pria tampan itu tersenyum lalu berkata, "Nona Miru, salam kenal, aku adalah Hans Silva, tuan muda ke empat dari keluarga inti Naga hitam, kuharap nona Miru bersedia menjadi kekasihku." Hans bertekuk lutut dan mencium punggung tangan Miru.
_ _ _
Hpy 1 bulan novel
__ADS_1