Demon Lord System

Demon Lord System
Ch. 160 - MENARA JIANHOU


__ADS_3

Ling kembali ke kamarnya setelah menaruh Rafaela di kamarnya. Tidak lama setelah berada di kamar Ling merasakan kehadiran Arthur dari pintu penginapan. Segera Ling beranjak dari kasurnya dan berlari ke arah pintu depan.


Sosok pria berparas menawan dan gagah terlihat berdiri di depan pintu sambil terengah-engah. Sosok pria tersebut adalah Arthur, disekujur pakaiannya, terlihat banyak sobekan namun tidak terlihat darah menempel di pakaian.


Ling berjalan mendekati Arthur dan menopang Arthur berjalan, "Apa yang terjadi?"


Ling bertanya sambil terus menopang tubuh Arthur. Arthur sendiri mengatakan dirinya tidak tau siapa mereka. Yang pasti tubuh mereka ditutupi kain hitam layaknya Shinobi, meskipun melihat wajah mereka tentu saja Arthur masih tidak mengetahui identitas mereka karena tidak ada yang dikenalnya di kerajaan ini.


"Maaf merepotkanmu tuan, sebenarnya aku mampu berjalan sendiri. Namun melihat tuan ingin membantuku, aku merasa senang."


Jujur saja Arthur masih dikatakan sangat baik, kondisinya tidak terlalu parah dan hanya menerima luka kecil.


"Tidak apa-apa, lalu? Bagaimana kejadian awalnya?" Ling bertanya kepada intinya.


"Itu, sebenarnya saat itu..."


* *


Ling menghela nafas panjang selesai mendengar cerita Arthur. Sebenarnya, Arthur bercerita Shinobi yang masuk ke dalam penginapannya terlihat layaknya pencuri. Namun pergerakan dan seni bela diri yang mereka gunakan, sangatlah berbeda dan terkesan unik.


Sebenarnya Ling sendiri mengganggap hal tersebut wajar, di kerajaan Amera Frost, terdapat 3 wilayah yang dikuasai oleh 3 pemimpin berbeda. Mereka semua bermusuhan dan kerajaan ini sendiri sudah lama terpecah belah yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban dari ketiga belah pihak.


Rakyat di kerajaan ini juga banyak yang kelaparan dan berakhir menjadi seorang budak. Beberapa orang diantaranya juga ada yang masuk ke organisasi ataupun menjadi seorang pencuri disebuah kelompok pencuri untuk merubah nasib mereka.


"Kerajaan ini memang tidak aman tuan. Apa sebaiknya kita pergi mencari kerajaan lainnya?" Usul Arthur.


"Tidak perlu.", Ling menggelengkan kepalanya pelan, ”Sebenarnya jika yang dibutuhkan mereka itu uang aku memiliki banyak uang, hanya saja aku lupa untuk memberitahu kalian tentang ini."


Wajah Arthur terlihat terkejut, mereka datang ke kerajaan Amera Frost tanpa membawa banyak harta. Dan kebetulan, Levi saat itu pergi keluar kastil dengan membawa semua uangnya, berkat hal tersebut mereka masih dapat bertahan hidup saat ini.


Ling membuka statusnya lalu mengeluarkan 10 ribu keping emas. Tumpukan emas koin itu memenuhi hampir seluruh ruangan kamar Arthur, Ling hanya terbatuk pelan. Uang yang baru saja dikeluarkannya sedikit karena di statusnya masih tersimpan 120k koin emas lainnya.


"Tuan! Dengan uang ini..."


Ling tidak menjawabnya melainkan menganggukkan kepalanya. Dia jelas paham apa yang dipikirkan oleh pelayannya tersebut, dengan uang sebanyak ini mereka mungkin dapat menjadi salah satu orang terhormat dari salah satu wilayah.

__ADS_1


* *


Keesokan paginya Ling sarapan seperti biasa, Rafaela telah bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan.


Ling menatap Rafaela sambil memakan makanannya, "Jika kulihat baik-baik, Rafaela sangat feminim dan pintar memasak. Ku pikir tidak buruk menjadikannya sebagai contoh istri idaman." Gumam Ling, sambil memakan tanpa melepas pandangannya dari Rafaela.


"Menurutku juga demikian tuan."


Ling tersedak makannya saat mendengar suara jawaban itu, Arthur langsung memberikan air minum untuk tuannya. Ling mengambil air tersebut lalu meminumnya.


"Huh." Ling mengatur nafasnya, lalu melirik ke sampingnya. Dirinya dapat melihat senyuman di wajah tampan pelayan gagaknya itu. Ling menghela nafas sebelum membuat benjolan di kepala Levi.


* *


"Ukhh itu sangat sakit tuan."


Ling diam seribu bahasa setelah menghabiskan makanannya. Memikirkan rencana-rencana apa yang seharusnya diambilnya dan dilakukannya terlebih dahulu. Sebenarnya, setelah Ling sadar Ling memikirkan 3 rencana, rencana yang pertama adalah memperkuat diri selama 1 tahun dan memperbanyak sekutu untuk kembali membalaskan dendam kepada Giant.


Lalu rencana kedua adalah untuk berlatih hingga mencapai ranah Saint dan kembali ke kerajaan Whazard. Namun untuk mencapai tingkatan saint mungkin membutuhkan waktu setidaknya 3 tahun paling cepat dan 5 tahun paling lama.


"Ah betul juga, bagaimana bisa aku melupakan itu."


"Hmm?"


Rafaela, Arthur dan Levi bingung harus menjawab dengan reaksi apa. Mereka tidak paham apa yang dimaksud tuannya.


Ling hanya tersenyum tipis sebelum mengajak pelayannya untuk mendekat, "Baiklah sebenarnya..."


* *


3 Minggu berjalan dengan cepat, di wilayah milik organisasi MENARA JIANHOU. Tidak ada yang tidak mengenal pria muda bernama Ling Chen, mereka adalah tamu istimewa dari MENARA JIANHOU.


Menara Jianhou sendiri dipimpin oleh seorang wanita bernama Jiu Lan. Dan anggota dari Menara Jianhou semuanya adalah wanita, di menara inilah juga tuan putri dari kerajaan Amera Frost dilindungi dan menjadi salah satu penjaga lantai Menara Jianhou.


Di Menara Jianhou terdapat 13 Lantai dan disetiap lantai dilindungi oleh satu orang wanita. Ling saat ini tengah berada di lantai sembilan milik Xue Yin. Meskipun begitu Ling menyadari terdapat suatu benua yang sama seperti dunia nya dahulu. Terbukti bahwa setiap nama dari wanita di Menara Jianhou memakai nama marga seperti Ling.

__ADS_1


"Tuan Chen, halo tuan Chen, apa kau baik-baik saja?"


Ling terbangun dari lamunannya, saat itu juga Ling terkejut karena melihat wajahnya yang cukup dekat dengan wajah Xue Yin. Ling reflek mendorong Xue Yin ke depannya sambil menutup mata.


Namun setelah kejadian itu, Ling meminta maaf beberapa kali kepada Xue Yin karena dirinya tidak sengaja dan hanya kejadian tersebut hanya dikarenakan reflek.


Akhirnya Xue Yin pun memaafkan Ling, namun wanita tersebut meminta syarat tertentu. Hal tersebut membuat Ling berkeringat dingin merasa sesuatu yang buruk akan terjadi dengannya.


* *


Di luar ruangan lantai 9, rombongan orang dari Menara Jianhou dan kelompok Ling. Sedang berjalan sambil mengobrol, namun saat mereka berada tepat di depan pintu lantai 9 yang dimana kamar dari Xue Yin. Mereka mendengar sesuatu dari dalam kamar Xue Yin.


"Ahhh, sakit. Bisakah kau pelan-pelan sedikit?"


"Tidak bisa, kalau ditahan itu tidak baik nona Xue Yin."


Jiu Lan yang berada di luar ruangan terkejut mendengar suara tersebut. Begitu juga dengan wanita dari lantai lainnya dan Rafaela. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan mereka? Tidak mungkinkan mereka sedang memadu kasih?


"Brengsek apa yang sedang dilakukannya terhadap nona Xue Yin! Berani-beraninya!" Salah satu penjaga lantai geram dengan apa yang sedang dilakukan Ling. Meskipun begitu wajahnya sangat memerah karena sedang membayangkan hal yang terjadi di dalam.


"Tapi aku masih belum menginjak usia 20 tahun, tubuhku masih tidak kuat."


"Tenang saja, kau akan merasakan sensasi nyaman dan hangat setelah ku kerahkan kemampuanku."


"Uaahhh"


Mendengar suara Ling dan teriakkan nona Xue Yin, semua orang yang berada di luar pintu segera masuk.


"Sebenarnya aku tidak mau bersikap lancang terhadap tuan muda Ling karena wajahnya yang mirip dengan adikku. Namun aku juga tidak bisa membiarkan dia berperilaku t..idak sen...o..noh?!" Jiu Lan terkejut dengan apa yang dilihatnya, rupanya Ling hanya sedang menotok punggung Xue Yin.


Wajah Jiu Lan seketika memerah, namun jika diingat-ingat ini tidak sepenuhnya salah nya.


Ling dan Xue Yin tertawa mendengar perkataan Jiu Lan, begitu juga dengan beberapa tetua lainnya yang sudah menebak hal ini terjadi.


Pipi Jiu Lan bertambah merah dan rasa malunya meningkat, "Huh siapa suruh kalian bersuara seperti itu! Hmph, membuat kami salah paham."

__ADS_1


__ADS_2