Demon Lord System

Demon Lord System
Chapter 217 : Mengajar


__ADS_3

Ksatria Burung Kematian sudah ramai di bicarakan oleh banyak orang, tidak sedikit juga anak-anak yang ikut mengaguminya.



Tetapi dalam hidup ini, mereka tidak pernah menyangka, mereka yang berasal dari Rakyat Jelata mendapatkan bimbingan langsung dari seorang Ksatria idola mereka.



“Baik perkenalkan namaku Levi, mulai hari ini aku akan membina kalian menjadi kekuatan tempur Kerajaan. Di bawah bimbingan ku, aku akan memastikan kalian semua memiliki masa depan yang cerah!”



Setelah memperkenalkan diri singkat, Levi mulai menatap buku yang berada di mejanya. Buku itu adalah buku absensi murid, Levi kemudian mengambilnya, membukanya lalu mengarahkan buku itu di hadapannya.



Setelah melihatnya Levi mulai menatap murid di hadapannya, terlihat empat murid yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan duduk di bangkunya masing-masing.



‘Empat murid yah, tidak buruk untuk permulaan.’ Levi merasa empat murid bukanlah hal buruk, melainkan sesuatu yang memudahkannya.



Dia kemudian mulai mengabsen satu persatu murid yang hadir di hadapannya. Dua laki-laki di kelas memiliki nama Arlie, Aiken, mereka terlihat kembar satu sama lain. Yang membedakan mereka adalah poni yang menutupi Arlie mengarah ke kanan dan Aiken ke kiri.



Rambut mereka berwarna biru tua laut, mata yang berwarna biru muda, membuat mereka cukup berkesan di ingatan Levi. Aiken memiliki wajah yang ramah dan riang, sementara Arlie memiliki wajah yang lesu dan malas.



Lalu kedua murid perempuan, yang pertama bernama Freya. Memiliki rambut pirang panjang ke bawah, tatapannya tajam dan matanya berwarna kuning ke emasan. Di samping tempat duduknya, terdapat murid perempuan lainnya yang bernama Jessica.



Jessica memiliki rambut hitam pekat yang di kuncir dua, dia memiliki wajah yang manis dan lucu membuat siapapun yang terus menatapnya akan terlihat layaknya Pedofil.



“Dengarkan aku, aku tidak akan mengajarkan sesuatu yang membosankan seperti pelajaran. Aku lebih menyukai cara praktek secara langsung, jadi aku hanya akan menjelaskan tidak terlalu lama. Lebih banyak praktek daripada pelajaran mengerti.”



Setelah berkata demikian Levi menyuruh ke empat muridnya berdiri di belakangnya. Ke tiga murid melakukannya dengan semangat kecuali Arlie yang berjalan seolah terpaksa.


__ADS_1


Setelah ke empat muridnya berada di belakangnya, Levi mengatur mana nya dan mengubahnya menjadi manipulasi angin. Angin itu kemudian mendorong meja dan bangku yang terjejer rapih.


**


Ke empat murid menatap Guru Levi dari berbagai arah, mereka duduk sendiri-sendiri dengan meja yang melingkari Guru mereka.



“Esensi adalah bakat alami kalian sejak lahir. Tunjukkan Esensi kalian, aku akan melihat potensi kalian dari yang tertera di buku ini...”



Freya yang pertama kali maju, dia menunjukkan bakat sihirnya. Elemen Api tingkat dua, mungkin di Kerajaan Diamond ini, Elemen Api tingkat dua tidak terlalu di hargai, karena mereka tidak lebih dari seonggok sampah bagi para bangsawan. Kalaupun memiliki bakat mereka tetap akan di golongkan sebagai sampah.



“Bagus aku akan merekomendasikan mu kepada seseorang nanti. Sekarang buat bola Api di tanganmu dan tahan sampai lima belas menit. Kau bisa sambil duduk di bangku mu.”



Freya menelan ludahnya, seperti yang dia duga! Masih ada Ksatria Sejati di dunia ini. Ksatria Sejati yang tidak memandang bakat! Freya menatap Levi dengan pandangan yang berbeda, dia kemudian duduk dan mulai mengikuti apa yang di katakan Levi.



Di sisi lain, Aiken maju setelah Freya duduk di bangkunya. Sebelum Levi memberikan perintah agar Aiken memperlihatkan Esensi nya, Aiken telah menunjukkannya. Sangat bersemangat, tangan kanannya atau lebih tepatnya jari-jarinya, berubah menjadi es yang tajam di setiap sisi ujung jari.




Aiken mengerutkan keningnya, menatap Levi dengan heran, “Kenapa aku dua puluh lima menit sedangkan Freya lima belas menit? Bukankah itu tidak adil Guru?” Aiken mengutarakan apa yang di pikirkan nya.



“Bukannya tidak adil, Elemen mu dua tingkat di atasnya. Sudah semestinya kau berlatih lebih keras, terlebih kau itu lelaki.” Levi menyentil kening Aiken.



Seketika Aiken terjatuh ke lantai sambil memegangi keningnya kesakitan.



“Et-te-teh, Hmph! Kau tidak memiliki hati nurani kepada anak kecil.” Aiken berdiri lalu berlari kembali menuju kursinya sambil berdecak kesal.



Levi hanya memandanginya tanpa berkomentar lebih jauh. Tidak lama kemudian Jessica, gadis yang sangat imut itu maju sambil menundukkan kepalanya. Sampai di hadapan Levi gadis tersebut memberitahu Elemen nya.

__ADS_1



“Elemen Cahaya Tingkat lima! Hmm, padahal Bakat Elemen Cahaya sangat langka, namun kau masuk ke kelas ini. Sepertinya memang Hirarki di dunia ini akan sulit di lepaskan, kalau begitu Jessica bisakah kau menunjukkan kepadaku sihir Cahaya yang kau kuasai?” Levi bertanya dengan lembut, karena mengetahui gadis di hadapannya pemalu.



”Y-ya.”



Bola Cahaya seukuran bola sepak terbentuk di atas tangan Jessica, membuat suasana kelas yang suram menjadi begitu terang! Akan tetapi itu tidak cukup kuat untuk membuat Levi menutup matanya.



Levi tersenyum lalu memujinya, dia kemudian memperbolehkan Jessica kembali ke tempat duduknya setelah memberikannya latihan untuk menahan bola Cahaya tersebut selama tiga puluh menit.



Belum Jessica sampai tempat duduknya, sebuah anak panah yang terbuat dari angin terbang melesat dengan cepat ke arah Levi. Angin itu berasal dari Arlie yang tengah memerhatikan dengan santai.



Levi hanya menyeringai menyambut kedatangan anak panah angin itu, dia hanya menepuk pelan seketika manipulasi angin itu menghilang. Arlie tidak terlalu terkejut karena menyadari perbedaan antaranya dengan Gurunya.



“Itu sudah cukup untuk mengetahui Esensi ku bukan?” Tanya Arlie dengan sebelah mata yang tertutup.



“Tentu saja tidak, kau harus menunjukkan Esensi Air mu dan Es tentunya.”



Levi mengikuti cara Arlie berbicara, menutup sebelah matanya sambil memasang wajah masam. Bedanya Levi sedikit tersenyum sambil meledeknya.



Arlie menggerakkan tangan kanannya lalu menggerakkan jarinya, sebuah pisau es terbentuk di udara dan melesat cepat ke arah Levi. Dari bawah, ular air terbentuk dan bergegas bergerak menyerang di bagian bawah Levi.



“Kau mampu memanipulasi Sihir seperti ini di usia muda. Memang sangat berbakat, tetapi karena tidak ada yang membimbing mu dengan sungguh-sungguh serangan mu tidak ada yang mengancam ku...”



Levi tidak melakukan apa-apa, sampai Ular yang terbuat dari air itu menggigit kakinya, dan pisau-pisau Es membentur dadanya. Pisau-pisau itu terpecah menjadi serpihan Es dingin, sedangkan Ular air berubah menjadi air seutuhnya, menyisakan becek di bagian kaki Levi.

__ADS_1


__ADS_2