
Kaito dengan cepat membuat sebuah Pedang dari mana Api miliknya yang di alirkan ke tangannya. Dia kemudian berlari dengan cepat melompat lalu menusuk tepat pada bagian otak Giant.
ㅤ
Di susul oleh Eric yang menciptakan sebuah Tombak dari mana Api miliknya yang berwarna hijau muda. Tombak tersebut terbang dengan cepat menusuk wajah salah satu dari dua Giant yang tersisa.
ㅤ
Ketika hanya tersisa satu Kaito dan Eric tersenyum penuh makna. Membuat Giant tersebut memandang keduanya cukup ngeri. Di saat yang sama sebuah ledakan muncul tidak jauh dari tempat mereka bertarung.
ㅤ
“Apakah itu Tuan?” Eric yang melihat hal tersebut bertanya heran.
ㅤ
Kaito sendiri yang mendapatkan pertanyaan tersebut hanya menaikkan kedua pundaknya bersamaan memberikan isyarat tidak tahu. Setelah beberapa saat fokus mereka hilang, kini mereka kembali melihat Giant di hadapannya.
ㅤ
“Ck! Kalian pikir bisa mengalahkan ku? Dengan kalian yang di siksa mungkin tidak banyak mana yang tersimpan di tubuh kalian. Hahahaha hampir saja aku takut dengan bocah sialan yang bahkan tidak memiliki sisa mana! Betapa cerobohnya aku.” Giant tersebut tertawa dengan tangan menutupi wajahnya.
ㅤ
Sementara Kaito dan Eric saling menatap sebelum ikut tertawa. Mereka benar-benar merasa Giant ini terlalu merasa dialah yang terhebat.
ㅤ
Namun, sebelum keduanya mulai bertindak sebuah Pedang bercahaya turun dari atas langit dan menusuk leher dari Giant tersebut. Tidak beberapa lama kemudian sesosok pemuda berambut hitam turun dengan santai.
ㅤ
“Rencana ku berhasil.” Ketika menapaki tanah Ling Chen memasang senyum sederhana. Rencananya yang telah di pikirkan olehnya berhasil.
ㅤ
Sebelumnya Ling Chen telah menjelaskan rencana ini. Bisa dikatakan juga rencana ini cukup simpel, karena Ling Chen hanya perlu menarik banyak perhatian dari Giant. Dan menuntun mereka ke suatu tempat. Ketika memasuki tempat tersebut Ling Chen berencana kabur menggunakan Mode Ghost nya.
ㅤ
Tetapi memikirkan betapa kuatnya Giant-giant Ling Chen menambahkan beberapa hal dalam rencananya. Mengeluarkan Skeleton, menaruh Formasi Sihir peledak di kerangka mereka. Dan mereka akan menjadi Bom hidup. Tentunya karena di kejar-kejar oleh waktu Ling Chen terpaksa mengonsumsi mana yang lebih banyak dari yang seharusnya di keluarkan.
ㅤ
Setelah memandangi mayat dua Giant yang di bunuh oleh Kaito dan Eric, Ling Chen menatap keduanya, “Sebaiknya kita segera pergi. Ledakan yang ku buat pastinya akan menimbulkan rasa penasaran dari seluruh Giant di dekat sini. Jika sampai pemimpin mereka muncul, aku tidak tahu apa kalian bisa selamat atau tidak.”
ㅤ
Keduanya yang mendengar perkataan Ling Chen kemudian terlihat mengangguk beberapa kali. Sebelum keduanya kini mengekor pada Ling Chen.
**
(Di area Kerajaan)
__ADS_1
ㅤ
Setelah sampai di area Kerajaan Ling Chen mengangkat tangannya ke atas lalu membuka lebar telapak tangannya. Beberapa saat kemudian sebuah bola api kecil keluar dari tangannya dan terbang menuju ke atas langit.
ㅤ
Boom!
ㅤ
Bola api tersebut menjadi sebuah Kembang api yang berbentuk lambang es. Setelah melakukannya Ling Chen berniat kembali masuk ke kerajaan tetapi sebelum dirinya dapat melakukannya. Kini Kaito yang ada di belakangnya menatapnya dengan tajam.
ㅤ
“Ada apa?” Merasa terganggu dengan Kaito yang menatapnya tajam, Ling Chen bertanya.
ㅤ
“Kenapa kau menyalakan Kembang Api? Apakah kau ingin membongkar lokasi kita saat ini?!” Kaito mendengus kesal, masih belum mengerti apa yang dilakukan oleh Ling Chen.
ㅤ
Ling Chen yang mendengar hal tersebut memasang ekspresi sedikit kesal. Namun, karena waktu tidak mendukung baginya, dia pun memilih mengabaikan perkataan Kaito dan berjalan memasuki Kerajaan.
ㅤ
Eric segera mengikuti dari belakang. Berbeda dengan Kaito, Eric yang mengerti karakter tuannya. Tentunya memikirkan matang-matang apa yang telah di lakukan oleh Tuannya. Tidak mungkin dia melakukan suatu hal tanpa maksud tersembunyi. Pastinya dia telah melakukan perhitungan.
**
ㅤ
Naga Kecil beserta tiga Giant yang menyadari kembang api berwarna biru muda. Segera menatap dengan takjub ke arah kembang api tersebut.
ㅤ
“Ini adalah pertanda.” Naga Kecil dalam sekali melihat, telah menyadari bahwasanya tanda ini adalah milik Tuannya. Dengan cepat dia kini segera membuat mana kegelapan nya berubah menjadi asap hitam yang begitu tebal.
ㅤ
Menyadari suatu asap mulai mengelilingi mereka kini para Giant segera pergi menjauhi asap hitam tersebut. Merasa bahwa mana dalam tubuh mereka tersedot ketika asap hitam ini mulai menyelimuti ketiganya.
ㅤ
“Sialan-! Apa kita akan melepaskannya?!” Giant bersayap Burung Dara mendengus kesal, dia belum sempat melakukan pembalasan terhadap Naga Kecil. Dan kini dengan adanya asap hitam yang menutupi pandangannya, dia segera menyadari maksud asap ini adalah untuk Naga Kecil tersebut dapat kabur.
ㅤ
“Untuk saat ini lebih baik biarkan. Kita lebih baik melaporkan ini kepada Lord terlebih dahulu untuk mendapatkan perintah selanjutnya.” Seperti pada biasanya, Giant bersayap Burung Hantu akan selalu melaporkan kepada Lord mereka.
ㅤ
Mendengar keputusan tersebut Giant dengan sayap Burung Dara hanya kembali mendengus beberapa kali sebelum turun menuju Kerajaan. Diikuti dengan kedua Giant Udara lainnya.
__ADS_1
**
(Area Ledakan Laba-laba - Beberapa saat yang lalu)
ㅤ
Saat ini Laba-laba Es Perak setidaknya telah berhasil melumpuhkan puluhan Giant. Bersama dengan Laba-laba Putih yang kini telah menjadi mahluk bayangan, mereka membunuh banyak Giant dengan mudah.
ㅤ
Tetapi, ketika melihat sebuah kembang api di atas langit yang berbentuk sebuah lambang Es. Tiba-tiba Laba-laba Es Perak menjadi sebuah bayangan dan terbang melesat bersama dengan Laba-laba lainnya.
ㅤ
Hanya dalam hitungan detik mereka masuk ke dalam sebuah bayangan manusia yang tidak lain adalah Ling Chen. Tuan mereka sendiri.
ㅤ
“Sekarang karena semuanya sepertinya sudah lumayan aman. Sebaiknya kita kembali.” Ketika proses pemanggilan mahluk bayangan telah selesai, Ling Chen yang kini berdiri di depan Gerbang Dimensi. Langsung pada intinya memberikan instruksi.
ㅤ
Kaito, Eric segera masuk ke dalam setelah Ling Chen memasukinya. Mereka tidak bertanya lebih jauh mengenai Gerbang Dimensi. Karena sadar kini banyak sorot mata monster yang sedang mengamati mereka.
ㅤ
Setelah sampai di lokasi Gerbang Dimensi. Kaito segera menghela nafas panjang dan lega, dengan cepat dirinya merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Tidak peduli kembali, tubuhnya sudah sangat lelah.
ㅤ
“Apa-apaan dengan seluruh Monster tadi! Aku hampir mati terkena serangan jantung! Mereka sungguh membuatku takut!” Kaito tidak dapat tidak terkejut dan heran, banyak hal yang sebenarnya dia ingin tanyakan tetapi melihat banyak monster berada di sekelilingnya. Membuatnya menutup mulutnya.
ㅤ
Sementara Eric yang berada tidak jauh dari Kaito hanya diam sambil terduduk. Menurutnya Kaito adalah orang yang sangat menganggu karena tak dapat diam, hal ini sungguh menjengkelkan di beberapa kondisi karena masih terus berbicara.
ㅤ
“Diamlah! Tidak bisakah mulutmu diam?” Eric berkata dengan tegas, dia tahu mungkin tuannya ini telah lelah karena mereka, memikirkan dia berada di kondisi Tuannya. Dia pasti akan sangat kesal dengan perilaku Kaito.
ㅤ
Kaito sendiri kini diam setelah mendengar perkataan Eric. Membuat Eric saat ini dapat bernafas dengan lega.
ㅤ
“Huh... Begitu lebih baik.”
...— — —...
[ Update - 3/3 ]
[ -0 ]
__ADS_1
[ Daily Mision Completed✓ ]