
Kurumi telah selesai dengan tugasnya, kini kita beralih dengan Ling yang sedang terdapat kelas latihan olahraga, olahraga disini jelas berbeda, dan olahraga ini lebih extrim daripada olahraga pada umumnya, contohnya, push up dengan satu jari sebagai pemanasan, lalu dilatih untuk menyerang guru mereka sendiri, dan terakhir yang saat ini sedang dimainkan oleh Ling, adalah permainan bendera.
Permainan bendera bukanlah sesuatu yang mudah, kau harus menjaga benderamu agar tidak di curi orang lain, namun enaknya disini adalah saat bendera mu dicuri, maka kau punya waktu sepuluh menit untuk mengambilnya kembali, jika lebih dari itu akan dinyatakan gagal.
Ling disini berkelompok dengan kelompoknya Count, dia juga sudah bertukar sapa dengan Kamaki, Kamaki bisa dibilang sangat pendiam, saat perkenalan pun sama, dia hanya mengeram tanpa membalas perkataan Ling, namun ternyata Kamaki memang tidak dapat berbicara, count yang memberitahuku.
Tetapi meskipun begitu, Ling merasa ketampanannya akan menutupi hal itu, bukanlah hal yang besar jika memang tidak dapat berbicara, asal tampan ataupun cantik, bukan tidak mungkin mereka akan mendapatkan pasangan yang menawan dan kaya.
Kembali kecerita, mereka kini berada di hutan, letaknya hutan ini juga bukanlah main-main, letaknya berada pada wilayah 3, disana terdapat sebuah hutan yang bernama hutan kabut darah, itu dinamakan seperti itu karena sering terjadi kematian disana, tetapi guru olahraga yang bernama Farhan itu sama sekali menjamin keselamatan mereka, dia memang tidak akan membantu saat muridnya di serang hewan buas, tetapi dia tidak akan membiarkan muridnya mati, untuk itu dia mengubah dirinya menjadi seratus orang, dimana semua orang itu mengawasi semua gerak gerik muridnya.
Ling kini berada di arah Utara, pertandingan baru saja dimulai dan Ling berkata akan mengambil bendera lawan sendiri, sedangkan untuk teamnya yaitu kelompok Count, mereka berjaga bertiga.
'Ini baru pertama kali masuk dan langsung mendapatkan olahraga seperti ini? sepertinya dunia ini sangatlah berbeda dengan dunia lamaku.' Ling menghela nafas panjang sambil melirik kesegela arah, meskipun kabut menutupi pemandangan, tetapi itu bukanlah tandingan Ling yang mempunyai mata X-ray.
Beberapa meter dari Ling, Ling menemukan seekor macan tutul yang sedang berlari ke arahnya, sepertinya macan itu berniat untuk menerkam Ling secara diam-diam, namun sayang sekali, hanya sekali hempasan tangan Ling, Ling langsung dapat membunuhnya.
Menggunakan tangan tengkorak untuk membunuh, baru kali ini Ling lakukan, Ling kemudian kembali mencari ke beberapa area disekitarnya, namun anehnya, hasil yang diterimanya nihil, tidak ada sama sekali, dia terus saja kembali ke tempat semula.
__ADS_1
Ling berhenti sejenak, dia kemudian melirik ke segala arah, dia baru sadar kalau sebenarnya dia telah terkena ilusi, beberapa saat yang lalu Ling memang mencium bau bunga teratai, tetapi dia baru tau ternyata bunga seperti itu dapat membuat ilusi.
'Dunia ini lebih menarik dari yang kuduga.' Ling tersenyum seringai, dia kemudian memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian dia membuka matanya, bersamaan dengan itu, Ling kembali keluar dari ilusi yang dibuat oleh bunga tadi, ilusi itu sendiri pecah seketika saat Ling membuka matanya, itu sebenarnya dikarenakan mata X-ray Ling.
Selain dapat melihat kebenaran, X-ray juga dapat membuka ilusi secara paksa, dan juga dapat melihat layaknya teleskop.
Sedangkan itu, Ling yang telah keluar dari dalam ilusi segera kembali melanjutkan perjalanannya untuk mengambil bendera lawan, dia yakin bahwa ilusi tadi bukanlah dari murid dalam lainnya, melainkan itu memang ilusi dari bunga teratai itu sendiri.
Beberapa saat kemudian, Ling merasakan adanya pertempuran di dekat dirinya, kira-kira seratus lima puluh meter dari tempat Ling kini berdiri. Ling kemudian berlari ke arah tempat itu, dia berfikir mungkin saja terdapat bendera lawan, disaat mereka sedang bertarung, Ling akan mengambil keuntungan dari sana.
* *
"Kau tidak akan dapat melawanku." pria botak itu menatap sinis anak berambut hitam itu, bisa dikatakan tubuhnya sendiri tidak terlalu besar dan kecil, namun yang membuatnya menarik adalah pria itu melepaskan bajunya, dan tentu saja yang paling menarik diantara lainnya adalah tanda 6 titik merah pada keningnya.
"Heh, baiklah, terserah dirimu saja."
Anak berambut hitam itu menghilang-hilang dan muncul di berbagai arah secara terus-menerus, membuat pria botak itu menjadi was-was dengan sekelilingnya.
__ADS_1
Saat pria botak itu merasakan kehadiran anak berambut hitam itu dibelakangnya, dia segera berpaling, namun di saat bersamaan, sebuah kartu melesat cepat ke arahnya, kartu itu sendiri menjadi tajam karena dialirkan dengan energi "Mana".
Strategi dari anak berambut hitam, atau yang biasanya dipanggil dengan sebutan Taori Kavila, sangatlah hebat, rencananya sudah terlihat matang, dia juga handal menggunakan sihir-sihir, dan yang paling hebatnya lagi, Taori yang di usia genap nya yaitu berumur tiga belas tahun ini, sudah sangatlah kuat, bahkan dia dapat membuat sihirnya sendiri.
Sedangkan itu, Ling kini telah sampai di tempat mereka bertarung, dia hanya duduk sambil mengintip, dia sendiri menggunakan teknik sembunyi dari kehidupan lamanya, karena itu dirinya sama sekali tidak diketahui oleh mereka yang sedang bertarung.
Sedangkan beberapa meter ke atas, terlihat juga terdapat dua orang yang sedang bertarung, dia adalah Hamura Leorantius, rekan dari Taori Kavila, lawannya sendiri adalah seorang wanita berambut hitam yang cukup familiar bagi Ling, Iyah, itu bukan lain dan tidak lain adalah Laurel, seseorang wanita yang telah Ling beritahu informasinya secara detail.
Ling dari bawah dapat melihat jelas, serangan yang dilancarkan oleh Laurel bersifat tajam dan membunuh, Ling yakin dengan pasti bahwa gadis bernama Laurel itu masih kesal dengan dirinya, terlebih Ling mempermalukannya di depan seluruh murid yang ada.
Setelah beberapa kali bertukar serangan dengan Laurel, Hamura menjadi sedikit kewalahan, dia cukup kesulitan menyerang kembali karena gerakan Laurel yang terbilang sangat cepat, sedangkan tubuhnya yang besar membuatnya agak sulit bergerak lebih cepat.
Laurel tidak berhenti sampai disana, dia menggunakan teknik hantu yang didapatkan dari keluarganya, teknik ini dapat membuat pemakainya berlari sangat cepat. Pedang panjang putihnya langsung terarah kepada Hamura, Hamura sendiri langsung menangkisnya dengan pedang besarnya itu.
Sayangnya, Laurel sebagai Assassin ditambah dengan teknik hantunnya menjadi sangat susah untuk dikalahkan, tendangan pun dilancarkan oleh Laurel ke arah samping tubuh Hamura, membuat pria berbadan kekar itu terpental cukup jauh, namun sialnya, itu terarah kepada...
_ _ _
__ADS_1
[ a. Taori Kavila ] [ b. Ling ] [ c. pria botak ] [ 11/40✓ ]