
Mendengar perkataan Xan Zhang dirinya hanya bisa mengumpat kesal, namun meskipun begitu saat ini yang terpenting adalah berhati-hati terhadap sekelilingnya.
ㅤ
Karena saat ini bukan hanya tidak bisa melihat Xan Zhang namun perlahan satu persatu suara teriak kesakitan mulai terdengar di sekitarnya, Yulita bisa menebaknya dengan mudah bahwa semua ini perbuatan musuhnya tersebut.
ㅤ
‘Ini menyebalkan, di saat situasi seperti ini aku hanya bisa mengandalkan Indra pendengaran ku...’ Satu-satunya harapan bagi Yulita untuk mengetahui lokasi Xan Zhang adalah dengan fokus mendengar.
ㅤ
Belasan menit berlalu tetapi nyatanya semua yang dilakukan Yulita sia-sia, sampai saat ini korban jiwa di pihaknya meningkat puluhan, sementara di pihak Xan Zhang masih 0.
ㅤ
Yulita masih berpikir keras untuk mengahadapi situasi ini, dirinya yakin saat ini Xan Zhang sedang mempermainkannya. Dalam hening sebuah tangan menepuk pundaknya, membuatnya sedikit terkejut dan menoleh.
ㅤ
Yulita memasang wajah heran dan bermaksud bertanya, namun sebelum itu terucap seseorang yang menepuk pundaknya memberitahu nya sesuatu. Yulita membuka mulutnya ketika mendengarkan perkataan sosok tersebut sebelum tiba-tiba tangannya mulai mengeluarkan air yang membasahi sekitar.
ㅤ
‘Kita lihat, apa kau masih bisa mempermainkan ku lagi...’ Yulita memasang senyum kemenangan, dirinya sudah melupakan niatnya melemahkan pemimpin Manusia ini.
**
Xan Zhang terkejut saat sebuah air menyentuh kakinya, ketika dia melihat sekitar semua Giant yang tersisa seolah sedang melihat dirinya dengan jelas.
ㅤ
Ketika itulah Xan Zhang sadar air ini digunakan untuk mengetahui keberadaannya, “Hmm ku pikir dia wanita yang bodoh, ternyata lumayan pintar...”
ㅤ
Meskipun mengetahui keberadaan dirinya Xan Zhang mengetahui betul belum tentu mereka dapat menghadapi nya, belum lagi mereka tidak mengetahui arah serangan yang akan dirinya lakukan, membuat belasan Giant dengan mudahnya kehilangan nyawa.
ㅤ
__ADS_1
Yulita menggigit bibirnya menyaksikan Xan Zhang membunuh belasan Fraksi nya dengan mudah.
ㅤ
Yulita ingin sekali menghabisi Xan Zhang namun wanita itu masih belum mengetahui seluruh kemampuan pria tersebut dan memilih berhati-hati agar tidak menyesal di kemudian hari. Biarkan dirinya benci mengakui kebodohannya, namun sebodoh apapun dirinya dia masih bisa mengerti kalau saat ini nyawanya sedang dipertaruhkan.
ㅤ
“Sial, aku seharusnya membawa lebih banyak Tetua Laut...” Yulita mulai menyesali tindakannya yang hanya membawa tiga Tetua Laut karena terlalu meremehkan kekuatan manusia.
ㅤ
Xan Zhang dari jauh masih mengamati dengan tersenyum, ‘Yah sepertinya aku sudah harus menyelesaikannya... meskipun sayang harus kehilangan lawan bertarung yang kuat...’
ㅤ
Xan Zhang menunjukkan keberadaannya kembali, mengejutkan Yulita dan lainnya.
ㅤ
“Akhirnya kau keluar dari persembunyian mu pengecut sialan.” Yulita mencibir dengan ekspresi sinis.
ㅤ
ㅤ
Xan Zhang sama sekali tidak menganggapi perkataan tersebut, dia hanya tersenyum tipis sebelum bergerak dengan kecepatan tinggi dan melancarkan tinju yang mengandung tenaga dalam.
ㅤ
Sosok yang sebelumnya memberitahu ide kepada Yulita terlihat bergerak dengan cepat menghalangi Xan Zhang, dengan tangan guritanya tidak sulit untuk menahan pergerakan Xan Zhang meskipun akibatnya dirinya terkena luka dalam.
ㅤ
Sebelumnya, Xan Zhang tidak mencoba menyerang Yulita karena terdapat satu orang yang kemampuannya sangat samar di matanya. Membuatnya sangat berhati-hati, insting nya mengatakan untuk berhati-hati sekarang dirinya sadar.
ㅤ
Xan Zhang mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya seketika tangan gurita yang menahan pergerakan tubuhnya meledak.
__ADS_1
ㅤ
“Kau cukup mengesankan ku.” Xan Zhang merasa tertarik, namun dia harus segera menyelesaikannya agar Tuannya tidak turun tangan.
ㅤ
“Tidak sehebat Grand Elder.” Sosok tersebut menjawab.
ㅤ
Xan Zhang dengan cepat kembali melancarkan serangan tinjunya, namun kali ini serangan itu datang dengan bertubi-tubi. Tangan-tangan Gurita yang sudah beregenerasi dengan cepat kembali berniat mengehentikan pergerakan Xan Zhang, namun sebelum dapat menghentikan pergerakannya, mereka hancur terkena tinju yang dilepaskan Xan Zhang.
ㅤ
Xan Zhang mengalirkan banyak Tenaga dalam untuk serangan kali ini, dirinya tidak ragu untuk menghabiskan tenaganya hanya untuk melawan mereka berdua.
ㅤ
Yulita masih mengamati situasi yang terjadi sambil berpikir, ‘Fraksi ku hanya tersisa sebelas orang di tambah dengan diriku dan Tetua Ve, jumlah kami hanya tiga belas... Huh bagaimanapun juga aku harus mengalahkan pria ini.’ Yulita sudah bersiap untuk masuk ke dalam pertarungan.
ㅤ
Ketika sudah bersiap masuk dalam pertarungan, sebuah angin kencang serta energi ledakan dahsyat membuat perhatiannya teralihkan, ketika melihat arah ledakan enegi Yulita melihat Bing sedang bertarung di udara dengan sengit di tengah-tengah badai.
ㅤ
Dibandingkan dengan lawannya saat ini Yulita menjadi merasa lebih lemah dibandingkan Bing.
ㅤ
“Grand Elder, tolong bantu diriku!” Tetua yang sedang melawan Xan Zhang tiba-tiba meminta pertolongan.
ㅤ
Yulita baru tersadar ketika Tetua tersebut meminta pertolongan, dengan cepat dirinya membuat sibuk Xan Zhang agar Tetua tersebut dapat menyembuhkan lukanya lebih dulu.
ㅤ
Ketika sedang menyibukkan Xan Zhang, Yulita merasa ada sesuatu yang berubah, kemampuan serangan Xan Zhang jauh lebih sulit di hadapi daripada sebelumnya. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Yulita tersadar bahwa tangan Xan Zhang mengeluarkan panas, kurang lebih Yulita sudah menebak panas tersebut yang berhasil menekan Tetua Ve.
__ADS_1