Demon Lord System

Demon Lord System
Chapter 195 : Penyamun IV


__ADS_3

Memiliki berat badan yang besar, membuat Arthur jauh lebih mudah menggunakan kekuatannya. Karena saat Arthur menyerang dia tidak hanya fokus menggunakan tenaga dorongnya, tapi juga menggunakan berat tubuhnya.



Menggunakan berat tubuhnya, Arthur dapat mengejar Yaemo dengan mudah.



Kereta kuda yang berada dihadapan Arthur juga semakin lama semakin cepat, Arthur tersenyum lalu mengambil papan pintu gerbong yang dicabutnya, dia menatap kereta kuda yang sedang melaju kencang.



“Sepertinya akan memperlihatkan pemandangan yang indah...” Arthur menjilat bibirnya tidak sabar dengan jeritan yang akan di dengar olehnya.



Arthur pun akhirnya melemparkan pintu gerbong yang dicabutnya kearah kereta kuda milik Yaemo, tidak lupa dirinya juga telah mengalirkan mana ke dalamnya agar jauh lebih kuat dan cepat



Saat pintu gerbong itu menghantam kereta kuda milik Yaemo, seketika kereta kuda terbelah menjadi dua bersama dengan penyamun yang sedang mengendarai kereta kuda. Teriakannya sangat fantastis dan sudah tersimpan di memori otak Arthur.



Untuk Yaemo dia berhasil menghindar karena melihat Arthur yang sedang berancang-ancang melempar pintu.



Namun meskipun berhasil lolos dari Kematian Yaemo benar-benar mendapatkan luka yang parah sebagai gantinya, dia merangkak keluar dari kereta kuda berusaha untuk melarikan diri, sayangnya saat baru beberapa kali menyeret tubuhnya, sebuah kaki menginjak keras tangannya yang di depan.



“Kau ingin lari? Tidak semudah itu...”


**


Para warga terus menerus mengucapkan terima kasih kepada Ling Chen, akan tetapi mereka tidak memiliki banyak harta, jangankan untuk memberi, untuk makan mereka sendiri saja itu sudah sangat pas-pasan.



Ling Chen menanggapi raut wajah kecut mereka dengan senyuman, “Tidak perlu membalasku dengan uang, kalian bisa membalasku dengan menunjukkan jalan ke ibukota kerajaan.” Meskipun sebenarnya tanpa bantuan mereka Ling Chen akan tetap sampai, Ling Chen sengaja membiarkannya agar mereka dapat membalas Budi.


Saat Ling Chen dan kerumunan warga sedang saling berbicara riang, Arthur datang menyeret kerah baju Yaemo dan Levi turun dari atas langit tanpa menghilangkan bentuk sayap hitamnya.

__ADS_1


Seketika suasana menjadi hening, mereka saling menatap tidak percaya para penyamun dikalahkan hanya oleh dua orang di depannya, terlebih di antara pasukan pribadi kereta ini, ada regu yang dipimpin langsung oleh Jendral Kerajaan Diamond Xan Zhang beserta anak buahnya, para warga saling menatap heran? Mempertanyakan identitas tuan muda dihadapannya.



Para warga segera memberikan ruang untuk Ling Chen turun dari kuda dan juga memberikan ruang kepada Arthur dan Levi.



“Tuan saya tidak tau harus membunuhnya atau tidak, jadi saya membawanya ke sini dan membiarkan tuan yang memutuskan...” Arthur menjelaskan mengapa dia membawa Yaemo.



Ling Chen mengangguk paham, dia kemudian menatap Yaemo, “Kau ingin hidup?” Ling Chen bertanya langsung pada intinya.



“Y-yah, tolong biarkan aku hidup.”



“Baiklah, tapi untuk membiarkanmu terus hidup kau harus menukarkan sesuatu bukan? Atau bisa ku katakan Take and Gift, benar?”


Yaemo menelan ludahnya, dia memiliki firasat buruk tentang ini, sesuatu seperti Take and Gift adalah sesuatu yang cukup dikenalnya, itu seperti untuk mendapatkan sesuatu kamu harus memberikan sesuatu juga, maka karena itu istilah ini sering disebut Take and Gift.



“Bagus, kalau begitu apa kau mengetahui sesuatu yang sering terjadi di kerajaan Diamond akhir-akhir ini? Seperti mungkin ada sesuatu yang menarik mata warga atau ada sebuah peristiwa yang kurang mengenakkan?”



“I-itu...” Yaemo membuka mulutnya namun tidak mengeluarkan satu katapun, dia seperti menolak untuk memberitahu Ling Chen, namun karena terus di desak oleh Levi dan Arthur yang menggetarkan telinganya, Yaemo pun memberitahu.



“Beberapa Minggu yang lalu salah satu kamp Asosiasi Penyihir Hitam diserang, namun anehnya di sana tidak ada pasukan Asosiasi Penyihir Hitam, kemungkinan besar yang bisa ku pastikan adalah ada satu orang pengkhianat yang memberitahu rencana kerajaan kepada pihak musuh, hanya itu yang ku tau.” Yaemo mengangguk takut.



Ling Chen terdiam sejenak dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, seperti kemungkinan besar orang yang berpengkhianat memiliki status yang cukup tinggi, karena rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui oleh sembarang orang. Jadi tidak berlebihan bila menyebut adanya pengkhianat diantara para petinggi.



“Hhm baiklah Xan Zhang bawa dia dan kurung di salah satu kereta kuda di sana.” Ling Chen menunjukkan rombongan kereta kuda, “Ah dan juga lepaskan mereka yang berada di dalam gerbong kereta, kalau bisa ambil harta mereka dan kau bagi sama ratakan dengan semua yang di tangkap.”

__ADS_1



“Hamba mengerti tuan muda.” Xan Zhang menunduk hormat lalu mundur sambil menarik kerah baju Yaemo. Xan Zhang mengangkat kepalanya saat sudah cukup jauh dengan Ling Chen, terlihat dari kejauhan dia nampak terlihat seorang pria paruh baya yang kejam.



Ling Chen hanya dapat tertawa melihat hal tersebut.


**


Kereta kuda Ling Chen pun akhirnya melanjutkan perjalanan, tidak terasa mereka sudah sampai di dekat kota tersebut, orang desa Saman yang menuntun meminta izin untuk pamit undur diri, namu Ling Chen menghentikannya dan memegang lengannya.



Pria tersebut ketakutan sekaligus ingin lari namun tidak berani, Ling Chen hanya tersenyum lalu menyuruh pria tersebut menutup matanya.



‘Makan dan ganti.’



Tangan milik pria tersebut berubah menjadi hitam gelap, pria tersebut menatap Ling Chen dengan tatapan heran.



Ling Chen tersenyum seringai dan memberikan beberapa kata-kata.


**


Pria tersebut pergi dengan membawa sekantung emas di pundaknya, Ling Chen mengalihkan pandangannya lalu kembali masuk kedalam kereta kudanya.



“Kak, sebentar lagi kita sampai di ibukota kerajaan, sayang sekali kita harus berpisah disini.” Wajah Kazan seakan tidak menerima hal tersebut.



Ling Chen hanya tersenyum lalu mengelus kepala pria kecil itu, “Tidak, mulai saat ini kita adalah keluarga, kau boleh panggil aku kakakmu dan kau boleh panggil...” Ling Chen melirik Rafaela.



Tiba-tiba Kazan mengatakan, “Istri kakakku, benar?”

__ADS_1


__ADS_2