Demon Lord System

Demon Lord System
Chapter 261 : Paviliun Seni Tarung


__ADS_3

Kedatangan Raja di Akedemi Kerajaan segera membuat seluruh Penyihir di Akedemi mengerumuni, bagaikan semut mereka mulai melontarkan pujian manis kepada Raja.



Di ujung kerumunan Penyihir Akedemi, Michael Aldiva menunggu sambil menatap Raja dengan senyum sederhananya. Ketika berada di dekat Michael, Pria paruh baya tersebut menundukkan kepalanya kepada Raja seraya memberikan penghormatan.



“Selamat Datang Yang Mulia.” Ucapnya memberikan hormat.



Daun hanya tersenyum lalu menyuruhnya kembali berdiri. Mereka kemudian berbincang sebentar sebelum akhirnya pergi menuju kediaman Michael.


**


Setelah sampai di kediaman Michael Aldiva, Daun memberitahu maksud kedatangannya di sini bersama dengan rombongan beberapa Prajurit kerajaan serta Levi. Tentunya para Prajurit menunggu di luar kediaman.



Michael Aldiva memasang sikap antusias ketika mendengar satu-persatu maksud kedatangan Daun ke Akedemi.



“Kalau begitu saya harap Yang mulia untuk menunggu. Hamba akan segera kembali.” Michael berjalan menuju keluar pintu setelah hormat kecil.



Setelah Michael Aldiva telah keluar dari ruangan tamu, Daun melirik ke tiga orang di samping kiri dan kanannya. Pemuda berambut biru yang tadi berada di Kamp Militer adalah salah satu di antara ketiganya, dia merasa kaku ketika mendengarkan pembicaraan antara orang-orang besar di sekitarnya.



Melihat sikap pemuda bernama Rudeus yang sangat kaku, Daun tertawa kecil bersama dengan Xan Zhang.



Rudeus berada di sini juga karena Raja memintanya untuk ikut bersamanya menuju Akedemi Mondstar. Rudeus merasa lemas meskipun yang mengajaknya adalah seorang Raja, di mata para bangsawan tetap saja dia hanyalah seorang rakyat jelata yang beruntung di terima di sisi Raja.



“Kenapa wajahmu begitu pucat, kita hanya berbicara santai.” Daun mencoba memecah keheningan di antara dirinya dengan Rudeus.



Rudeus tidak menjawab perkataan yang diucapkan Daun, saat ini pikirannya sedang merasa kacau sendiri. Terlalu memikirkan betapa tidak pantasnya dia berada di tengah-tengah tokoh besar.



Ketika Rudeus masih tenggelam dalam renungan nya, sebuah tangan menampar punggungnya hingga membuatnya tersadar sepenuhnya dari lamunan.

__ADS_1



“Akhhh!!”



Reaksi yang ditunjukkan oleh Rudeus segera membuat suasana di sekitar ruangan menjadi pecah. Bahkan Levi yang hanya mengamati tindakan mereka tidak dapat menahan tawanya melihat ekspresi bodoh yang diperlihatkan Rudeus.



Beberapa menit berlalu kini semua sudah berhenti untuk tertawa.



“Hahaha, kau terlihat sangat tegang sekali. Aku membantumu agar tidak terlalu tegang!” Xan Zhang tersenyum lebar, tidak ada rasa bersalah sama sekali.



Rudeus ingin membalas perkataan Xan Zhang saat pintu kembali terbuka dan memunculkan beberapa tokoh besar lainnya yang menjadi Tetua dalam Akedemi, dia memutuskan untuk diam dan menuntut perbuatan gurunya ketika sudah sampai di kamp militer.



Memasuki ruangan beberapa tokoh yang dipimpin oleh Michael Aldiva kini memberi hormat kepada Daun. Setelah memberikan hormat dan Daun memberikan mereka perintah berdiri, mereka mulai mengajak Raja Daun menunggu di ruangan makan.



Ruangan makan tidak terlalu jauh dari ruangan tamu, tepat hanya beberapa meter dari ruangan tamu sebuah pintu lebar berwarna putih yang terdapat ukiran emas di segala sisinya terlihat.




Para Tetua hanya membuka mulut mereka cukup lebar karena baru mengetahui sikap Daun yang seperti ini. Dari apa yang mereka ketahui, Daun adalah seorang Raja dengan sikap yang tegas. Melihat sikap yang ditunjukkan Raja saat ini membuat mereka terbelalak.



Michael Aldiva hanya mengingatkan untuk para Tetua segera melakukan tugasnya selagi Raja masih menikmati jamuan yang di berikan. Para Tetua yang jumlah nya terdiri dari dua belas kini terpecah belah menghilang dalam sekejap.



Sebenarnya tidak heran, mereka yang memiliki kemampuan tingkat Master akan memiliki kecepatan yang sangat berbeda jauh dengan ranah emas ke bawah. Dengan menjadi setingkat Master, tubuh mereka bukan hanya menjadi lebih kuat tetapi juga menjadi jauh lebih ringan, memungkinkan untuk mereka bergerak sangat cepat.



Setelah menikmati hidangan, Daun akhirnya kembali di tuntun oleh Michael Aldiva. Kali ini tujuan mereka bukanlah sebuah ruangan di dalam kediaman, melainkan keluar dari kediaman menuju tempat yang sudah dibicarakan olehnya dengan para Tetua.



“Hidangan yang dimiliki kalian sangatlah lezat, Michael!” Ucap Daun memuji Akedemi Mondstar.

__ADS_1



Sementara Michael tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya, “Yang Mulia terlalu memuji...”



Michael kemudian menjelaskan tanpa basa-basi mereka akan menuju suatu tempat yang bernama Paviliun Seni Tarung, Paviliun Seni Tarung adalah sebuah tempat yang digunakan bagi para Penyihir untuk beradu kekuatan. Setiap bulan sekali akan ada pertarungan di antara murid untuk saling memperebutkan Sumber Daya.



Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan yang terlihat sangat besar. Segera mereka memasukinya, di tuntun oleh Michael mereka kemudian duduk di salah satu tempat yang paling nyaman untuk melihat. Yaitu tempat para Tetua menonton pertandingan.



“Hmm aku tidak pernah menyuruh mereka untuk melakukan latih tanding. Tapi biarkan saja, mungkin Raja akan lebih terkesima ketika melihat pertarungan di antara murid-murid bimbingan ku.” Batin Levi, melipat kedua tangan sambil memejamkan mata.



Namun, berbeda dengan apa yang dipikirkannya, saat ini salah satu murid bimbingannya muncul dari sudut gerbang biru, sebenarnya itu tidak membuatnya terkejut, yang membuatnya terkejut adalah dari sisi gerbang merah muncul lima pemuda yang usianya tidak kalah jauh dengan murid yang di latih oleh Levi.



Meskipun usia lima pemuda yang keluar dari Gerbang merah beberapa tahun dari pemuda sudut biru, Levi dapat merasakan kemampuan mereka setidaknya telah mencapai tingkat silver menengah dan di antaranya yang paling terkuat adalah tingkat silver akhir.



“Tuan Michael, apakah ini memang benar seperti yang kau inginkan? Menurutku ini terlalu...”



Levi mengatakan pertarungan nampak tidak terlalu adil, Namun Michael menjawab dengan santai untuk Levi tidak perlu khawatir. Lima murid dari sudut Gerbang merah hanya diperbolehkan untuk mengeluarkan sihir tingkat satu hingga dua, memungkinkan pertarungan dengan Pemuda sudut biru berlangsung dengan imbang.



Ketika pertarungan di mulai pemuda dari sudut biru mulai mengeluarkan sihirnya lebih dulu, kecepatan pemuda sudut biru dalam merilis sihir sangat gila. Mantra sihir yang diucapkan juga tidak terdengar dan membuat lima pemuda di hadapannya menjad kesulitan untuk mengetahui jenis sihir yang di rilis oleh lawan.



“Pemuda ini, tidak kalah berbakat dengan Rudeus. Siapa namanya?” Daun segera tertarik ketika melihat cara bertarung serta kemampuan pemuda tersebut merilis sihir secara cepat.



Levi menjawabnya, nama pemuda tersebut adalah Yanji, dia termasuk sepuluh besar murid terkuatnya saat ini. Status Yanji juga tidak sepele, pemuda ini berasal dari klan Hatsune yang berada tidak jauh dari ibukota.



“Ah pantas saja rambutnya berwarna pink! Ternyata dia berasal dari Klan Hatsune...”


__ADS_1


Klan Hatsune memang tidak memiliki hubungan yang terlalu erat dengan Kerajaan, tetapi mereka tetap menjaga perdamaian antara tempat mereka tinggal dengan Kerajaan Diamond. Kemudian karena mengetahui kekuatan Klan Hatsune mengimbangi Keluarga Bangsawan di Kerajaan Diamond, Daun menjadi semakin tertarik dengan Pemuda tersebut.


__ADS_2