
"Jaga dia baik-baik, pastikan tidak ada yang menjenguknya. Kalau ada yang memaksa, laporkan kepadaku dulu!" titah Alvian pada 2 orang polisi yang kini menjaga Airin.
"Siap komandan!" ujar mereka tegas.
Alvian segera berlalu dari hadapan 2 orang rekanya itu, ia berjalan menuju mobilnya untuk pergi ke sebuah tempat. Sebab siang ini Alvian ada janji untuk bertemu kedua orang tuanya, karena si mama dan si papa, akan memperkenalkan Alvian dengan seorang gadis yang tak lain anak dari sahabat keduanya.
Chiiit!
Alvian turun di sebuah rumah makan yang memang sudah ada kedua orang tuanya di dalam sana, anak muda itu berjalan gagah dengan baju dinas yang melekat di tubuhnya, hal itu semakin membuat Alvian kian nampak berwibawa.
"Siang, mah, pah," sapanya ramah dengan senyum penuh makna.
"Al, kau sudah datang? Ayo duduk dan sapa om dan tante yang ada di hadapanmu saat ini!" seru si papa bersemangat.
Alvian pun menuruti perintah sang papa, dan segera menyapa 2 orang paruh baya yang kini tengah menatapnya juga. Kedua orang tua itu membawa serta anak gadis mereka yang duduk tepat di hadapan Alvian juga.
"Salam kenal, Al." Sapa mereka pula.
"Al, ini om Yuda, yang di sebelahnya tante Anita. Dan yang tepat di hadapanmu itu, Amira, gadis cantik yang papa harapkan menjadi jodohmu," ucap si mama yan semakin bersemangat saat memperkenalkan orang-orang itu satu persatu.
Sejenak Alvian terdiam, ia menatap lekat wajah gadis yang duduk tepat di hadapanya. Sekilas ia melihat wajah Amira begitu mirip dengan Airin.
"Perkenalkan, namaku Amira," gadis itu menulurkan tangan.
Alvian pun menjabatnya dan tersenyum ke arah gadis tersebut.
"Namaku, Alvian. Senang berkenalan denganmu," polisi muda itu berusaha bersikap seramah mungkin.
Gadis itu memandang Alvian sangat tajam, sorot matanya memancarkan kekaguman yang sangat luar biasa, sebab nampak jelas dari tatapanya, gadis itu seolah tak mau berpaling untuk məmandangi wajah tampan Alvian.
"Heeei," sergah si polisi yang seketika membuyarkan tatapan Amira.
Entah apa yang tengah di pikirkan gadis tersebut, sebab tatapanya tadi membuat Alvian merasa tak nyaman.
"Anakmu benar-benar gagah, Rey," piji Yuda pada sahabatnya.
"Tentu, siapa dulu dong bapaknya," puji Reyhan pada dirinya sendiri.
Alvian menggeleng heran, sikap si papa membuatnya berdecak kesal. Anak muda itu menggerutu di dalam hatinya, sebab si mama dan si papa asik ngobrol bersama sahabatnya, sementara Alvian berdiam jenuh, karena tatapan Amira padanya membuat Alvian semakin tak nyaman.
"Pah, bolehkah aku mengajak Amira keluar sebentar?" tanya Alvian yang seketika saja langsung di sambut senyum oleh Reyhan.
"Uuuuh, anak papa sudah tak sabar ingin mengenal Amira," goda Reyhan pada anaknya.
__ADS_1
Alvian menanggapi candaan si papa dengan senyum terpaksa, ia segera menarik tangan Amira dan membawa gadis itu pergi dari hadapan kedua orang tua mereka, setelah memastikan mendapat izin untuk pergi dari hadapan orang tua keduanya.
"Jangan berharap, aku mau di jodohkan denganmu. Dan satu lagi, jangan kau memandangiku seperti tadi!" larang Alvian tanpa basa basi, membuat Amira tertunduk sedih.
"Tapi Al, ini permintaan kedua orang tua kita. Jangan menentang apa yang jadi keinginan mama dan papa kita! Apa kau mau menjadi anak durhaka?" tukas Amira namun terkesan menceramahi.
"Owwhh begitukah... lalu, bagaimana jika yang di jodohkan denganmu bukan aku? Tapi seseorang yang berkumis tebal, berkulit hitam dan perut buncit. Apa kau masih mau di jodohkan oleh kedua orang tuamu?" tanya Alvian tanpa ragu, polisi muda itu berusaha untuk membuat Amira juga menolak perjododohan mereka.
Gadis itu terdiam, ia sedikit malu setelah mendengar ucapan polisi tampan di hadapanya. Namun Amira sudah jatuh cinta kepada Alvian sejak awal melihat foto pria muda itu.
"Tolak, aku akan menolak perjodohan ini!" tegas Alvian lalu pergi dari hadapan Amira.
"Heeei... kau mau kemana? Orang tua kita sedang menunggu di dalam," teriak Amira.
"Terserah.. bukan urusanku," cetusnya lalu masuk ke dalam mobil miliknya.
Amira berdecak kesal, gadis itu berkali-kali menghentakkan kakinya ke bumi, ia masih tetap pada keinginanya, bahwa bagaimana pun caranya, ia dan Alvian tetap harus berjodoh.
"Ra... mana Alvian?" tanya Reyhan kepada gadis yang ia harapkan menjadi menantunya.
"Alvian ada urusan dadakan om, di kantornya, jadi dia harus segera pergi," jawab Amira berbohong.
Gadis itu tersenyum palsu meski hatinya saat ini kesal luar biasa, karena sikap Alvian yang sangat mengacuhkanya. Namun gadis itu bersikap baik-baik saja seolah tal terjadi apa-apa.
"Bagimana, Ra, apa kau menyukai Alvian?" tanya Yuda penasaran.
Kedua orang tua Alvian dan Amira saling berbicara perihal perjodohan anak mereka. Hingga keputusan di ambil oleh Reyhan yang akan tetap menjodohkan Alvian dan Amira.
"Kapan kita akan melaksanakan pernikahan antara anakmu dan anakku?" Yuda juga bersemangat, dia juga menginginkan Alvian untuk menjadi menantunya.
"Tunangan dulu, baru menikah," tukas Reyhan kepada sahabatnya.
"Baiklah. Bagaimana kalau minggu depan kita lanksanakan tunangan di antara mereka?"
"Akan ku bicarakan dulu kepada Alvian, kapan dia bisa cuti dari kerjanya? Maklum dia kan polisi, jadi harus patuh akan peraturan kantornya," jelas Reyhan yang langsung di sambut gelat tawa dari Yuda sahabatnya.
Amira tersenyum bahagia, sebab orang tua Alvian tetap menginginkan ia menjadi menantunya
Sementara Alvian kini sudah kembali ke rumah sakit dan segera menemui Airin. Gadis itu baru saja membuka mata lalu tersenyum ke arah Alvian yang baru saja tiba dan menghamprinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Alvian lembut.
"Su_sudah, pak," jawabnya gugup.
__ADS_1
"Hemmmm......,"
"Ehh iya, Al, iya Alviankan,"
Polisi tampan itu tertawa kecil, sebab gadis di hadapanya kini benar-benar terlihat salah tingah saat melihat dirinya.
"Kau kenapa, Rin?" tanya Alvian sedikit menggoda.
"Ah tidak pak,"
"Yakin?"
"Gak yakin sih,"
"Nah.. lho," cetus Alvian kemudian.
"Anda membuatku gugup," jujur Airin.
Hal itu tentu membuat Alvian semakin tertawa sejadi-jadinya, namun tawanya terhenti seketika, saat pintu ruangan dimana Airin di rawat pun terbuka.
"Pak, ini baju ganti mbak Airin, yang baru saya ambil dari kantor," lapor rekan kerja Alvian tersebut.
Benar saja, yang baru saja datang memanglah rekan kerja Alvian dari pihak kepolisian, yang membawa serta tas milik Airin.
"Baik, terima kasih dan kembalilah!" seru Alvian lalu mengambil tas milik Airin dari tangan seseorang tersebut.
Dan... saat Alvian akan memberikan tas tersebut kepada Airin. Semua isi tas gadis tersebut pun jatuh berantakan kelantai.
"Maaf, Rin!" ujarnya lalu memungut satu persatu baju Airin yang jatuh berserkan.
"Tidak masalah, Al," jawab Airin dengan tersenyum.
Namun seketika sorot mata Alvian tertuju pada selembar foto milik Airin yang belum ia pungut.
"Foto itu milikmu, Rin?" tanya Alvian seraya mengambil foto tersebut dari lantai.
"Iya, kemarikan!" pinta gadis itu.
Dan Alvian terkejut saal melihat siapa yang ada di dalam foto milik Airin tersebut.
"Rin, ini siapa?" Alvian penasaran pada foto gadis yang berdiri tepat di samping foto Airin.
"Itu Amira, dia adikku," jawabnya datar.
__ADS_1
Alvian seketika terkejut luar biasa, saat mendengar nama Amira.
"Jadi, gadis yang akan di jodohkan denganku, adalah adik kandung Airin," batin Alvian lalu menepuk jidatnya sendiri.