Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Berpisah Tapi Tetap Bersama


__ADS_3

"Selamat Membaca"



"Lapor... bahwa tidak di temukan sidik jari Alvian, di kotak benda haram tersebut,"


Toni melaporkan bahwa kotak yang berisi sabu-sabu tersebut di nyatakan bukan milik Alvian.


"Dan ini juga hasil test urin milik Alvian, setelah saya baca semua hasilnya di nyatakah negatif," tambah seorang polisi lain juga.


Alvian menarik nafas lega setelah terbukti ia bukan pengguna narkoba.


"Benar, mereka menjebakmu," ujar Toni.


"Sepertinya kalian belum sepenuhnya mengenaliku. Hingga kalian ikut menuduh bahwa aku pengguna narkoba," cetus Alvian kesal.


Untuk saat ini polisi muda itu di nyatakan tidak bersalah. Tapi ada hal yang membuat dunianya terasa hancur detik itu juga.


"Maksud anda apa?"


"Kau memang tidak bersalah, bahkan tanpa test apapun aku percaya bahwa kau bukan pecandu nakoba," jelas Egi.


"Lalu... kenapa aku di berhentikan?"


"Bukan di berhentikan Al, tapi istirahat dulu beberapa waktu, nanti jika semua sudah lebih baik, kau bisa kembali bertugas lagi. Ini prosedurnya Al, kau tidak bisa membantahnya,"


Mau tak mau Alvian hanya mampu membisu, ia tetap tak terima jika harus di beri sangsi seberat ini, sebab ia merasa mimpinya hancur dan berantakan. Karena fitnah yang di tujukan padanya, membuat Alvian kehilangan sesuatu yang sangat di banggakan kedua orang tuanya. Menjadi seorang polisi adalah harapan Tania sejak Alvian bayi, tapi kini semua di hancurkan hanya karena hal yang tak pernah Alvian lakukan sama sekali.


"Aaahhh... sial!" grutu Alvian kesal, ia segera keluar dan pergi tanpa permisi dari hadapan pemimpin teringgi kepolisian.


Alvian merasa dunia tak adil baginya, karena ia harus menerima hukuman atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan. Seketika saja ia teringat kepada Airin.


"Begini sakitnya ya, Rin, aku kini merasakan juga betapa sakit dan sulit berada di posisimu, di hukum karena kesalahan yang tak kita lakukan,"


Apa yang terjadi kepada Alvian kini menjadi pembicaraan yang amat panas, semua rekan kerja Alvian menyayangkan pemberhentian yang di berikan kepada polisi muda yang selama ini memiliki prestasi.


"Percayalah, Al, apa yang kini kau dapatkan adalah ujian untuk kau menjadi lebih tangguh lagi. Kau pasti akan naik pangkat setelah ini, Tuhan sudah menyiapkan kado terindah untukmu," nasehat sang mama yang saat ini sudah tiba di kantor Alvian bertugas.


Toni memang sigap, ia segera memberi tahu Tania tentang hal yang terjadi kepada anaknya. Bukan hanya Tania yang terkejut tapi juga si papa yang kini sedang bekerja, Reyhan segera pergi dan menemui anaknya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuntut... papa akan menuntut orang yang telah menfitnahmu," emosi Reyhan tak terkendali.


"Lakukan pa! Aku juga merasa fitnahnya telah menghancurkan masa depanku," lirih Alvian pula.


Kedua orang tua Alvian memang sigap bertindak, Tania dan Reyhan melaporkan Iyan dengan tuduhan pencemaran nama baik.

__ADS_1


"Ayo pulang Al! Mulai besok, kau harus menyusun hari sebaik mungkin," ajak Tania kepada anaknya.


"Mama dan papa pulanglah dulu! Ada sesuatu yang harus ku kerjakan,"


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama! Atau pulang nanti kau di jemput pak sopir saja,"


"Tidak mah, aku bisa pulang sendiri,"


Tania tersenyum getir, ada rasa khawartir menyergap batinya, wanita paruh baya itu tau bahwa pikiran sang anak dan kondisi batin kini tak baik-baik saja. Tapi Alvian ingin berpamitan kepada teman-temanya terlebih dahulu.


* * *


"Aku minta maaf setulus hati! Mungkin selama ini ada caraku, sikapku atau pun perkataanku yang menyakiti hati kalian. Tapi meski kita berpisah dalam bertugas, pintu rumahku tetap terbuka jika ada yang mau main-main ke rumah, dan aku akan membantu, siapapun yang butuh pertolonganku...," ucap Alvian tegas dengan senyum penuh arti, meski saat ini batinya hancur luar biasa, karena ia harus meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi cita-citanya, namun Alvian tetap harus terlihat setegar mungkin.


"Al...," Toni berlinang air mata, karena harus terpisah kerja dengan sahabat rasa saudara, yang selama ini ada dalam suka ataupun duka.


"Heeh.. polisi kok mewek, dimana wibawamu? Hapus!" titah Alvian lalu mereka berdua saling menatap lebih dalam lagi. "Kita hanya pisah kerja, bukan pisah dunia, kau masih bisa menemuiku, jadi jangan menangis dong!" tambah Alvian lagi, yang spontan membuat Toni menghapus air matanya.


Perpisahan dengan polisi muda itu, meninggalkan kesedihan di antara polisi muda lainya.


"Hapus air matamu! Polisi kok cengeng," sergah Alvian kepada polisi yang usinya sedikit muda darinya.


"Polisi juga manusia, pak, masa di larang menangis, kan airmata, gunanya memang untuk itu," kilah salah satu polisi itu sebut saja namanya Andri.


Andri adalah salah satu polisi yang sering di tolong oleh Alvian.


"Tapi kini kau mengembalikanya tanpa ku minta, artinya kamu orang baik dan bertanggung jawab. Kamu polisi teladan, maka pertahankan rasa tanggung jawabmu itu ya," nasehat Alvian sebaik mungkin.


"Siap... komandan!" tegas Andri yang langsung di ikuti polisi lainya yang memberi penghormatan kepada Alvian.


Kesopanan polisi-polisi muda itu membuat Egi dan para petinggi kepolisian lainya terenyuh.


"Alvian bukan di berhentikan, tapi di istirahatkan sementara waktu. Suatu saat nanti, dia akan berkumpul lagi dengan kita semua di sini," ujar Egi menjelaskan.


"Kami akan menunggu saat itu tiba," jawab Toni tegas.


Alvian semakin terenyuh antara tak rela namun harus tetap berpisah, tapi sekali lagi, Alvian menegaskan pada dirinya sendiri bahwa mereka akan tetap bisa berjumpa dan saling tatap muka.


"Aku pergi,"


Alvian melangkahkan kaki pelan, lalu memberikan jacket kebangganya kepada Toni.


"Akan ku jaga, dan ku kembalikan saat kau kembali lagi ke sini nanti," lirih Toni.


Alvian tersenyum dan segera meninggalkan kantor yang sudah 3 tahun ini menjadi tempat dirinya bertugas.

__ADS_1


"Al... kau tidak akan bisa jauh-jauh dari kami karena kau pasti akan sering-sering kesini," ujar Toni berteriak.


"Kenapa?"


"Karena di "Lapas" ada Airin, aku tau kau pasti akan merindukanya." Jawab Toni lagi.


"Benar," lirih Alvian lalu kembali turun dan berlari menemui Airin.


"Lapas" tempat Airin di tahan memang tak jauh dari kantor utama kepolisian. Alvian berjalan semakin pelan saat ia hampir sampai di ruangan di mana gadis itu berada.


"Rin," panggil Alvian lembut, namun terdengar jelas di telinga Airin.


"Al,"


Airin tersenyum bahagia lalu berlari mendekati pria tampan yang beberapa hari ini mengusik pikiranya.


"Kau baik-baik ya!"


"Kenapa?" Airin menatap Alvian tak mengerti. "Kau mau kemana?" tanya Airin lagi.


Alvian pun menjelaskan pada gadis cantik yang kini ada di hadapanya tentang apa yang sudah terjadi padanya, seketika membuat Airin berliang air mata.


"Semua karena aku, ya? Nino menjebakmu karena kau selalu membelaku," tangis Airin pecah.


"Hei, Rin, ini bukan salahmu, jangan menangis!"


"Tapi, siapa yang akan menolongku jika kau tidak ada?"


"Besok kau akan sidang lagi, jangan takut! Aku dan mamaku pasti akan membantumu,"


"Terimakasih," ucap Airin lirih, gadis itu menghapus air matanya, agar tak nampak terlalu sedih.


"Aku mencintaimu, Rin," ungkap Alvian lalu pergi tanpa permisi bahkan membuat Airin terdiam penuh arti.


Senang dan sedih kini berteman dalam benak Airin.


"Dia benar-benar mengungkapkan cinta padakukan?" Airin meyakinkan dirinya sendiri, seraya menatap langkah Alvian yang sudah hilang dari pandanganya.


.


.


.


.

__ADS_1


TERIMA KASIH, BUAT YANG MASIH MAU BACA ALVIAN DAN AIRIN, SEMOGA MAKIN BETAH YA DAN RIZKI KAKAK-KAKAK SEMUA MAKIN LANCAR "Aamiin" 🤗❤


__ADS_2