
🌸Selamat Membaca🌸
Untuk mencintai, setiap orang harus memiliki kekuatan. Kekuatan melawan amarah dengan kesabaran dan kekuatan memaafkan dengan ketulusan ~ Prisilia Lisika (Sisi)
**
Sepulang dari jalan-jalan, shoping dan menonton bioskop. Kini tinggal lelah yang menyergap keduanya, Sisi dan Arfi baru saja tiba di apartemen sekitar jam 10 malam.
"Kamu mandi dulu, atau kakak?"
"Kakak saja, aku masih lelah sekali."
Arfi pun setujuh, ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Sisi, menyusun hasil belanjaan.
"Aku ingin begini. Aku ingin begitu. Ingin ini itu banyak sekali. Semua, semua, semua dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib."
Sisi bernyanyi kencang, seraya meletakan boneka Doraemon yang ia beli tadi. Mulai dari yang sangat kecil sampai besar sekali. Bukan itu saja, ia tadi membeli baju-baju boneka yang ia dambakan, mulai dari baju milik boneka Barbie dan Putri Salju.
"Tara.. dudududu!" soraknya lagi, karena ia tengah mencoba baju yang berwarna biru.
"Ehem... cantik sekali, Si." puji Arfi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih," Sisi tersenyum.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Sisi langsung masuk kedalam kamar mandi, membersihkan tubuh dan memakai baju didalam sana. Si cantik berusaha, agar Arfi tak melihatnya mengganti pakaian, karena Sisi tak memiliki niat untuk berhubungan malam ini.
"Eh...,"
Arfi menautkan kedua alisnya, karena melihat Sisi sudah mengenakan baju tidur, saat keluar dari dalam kamar mandi.
"Apaan nih, maksudnya?"
'Berusaha, agar tidak membangunkan burung yang sedang tertidur." sahutnya tanpa ragu.
Pria itu semakin menggeleng pelan, ia hanya mampu menarik sudut bibir, melihat sikap sang istri malam ini.
"Aku mau nonton Drama Cina... kalau kakak mau tidur dulu, silahkan!" serunya pelan.
Sisi mengambil paksa remote televisi yang berada di tangan Arfi, menarik tubuh pria itu agar beranjak dari sofa. Arfi benar-benar berusaha menahan emosinya.
"Beeeeh, luar biasa!' grutunya seraya mengelus dada.
Arfi kini lebih memilih menatap layar laptop, berencana menyelesaikan tugas kantor. Tapi lagi-lagi Sisi membuat ia emosi karena volume televisi di kencangkan, hingga membuat Arfi tidak fokus.
"Buahahahaha....!" tawa si cantik menggema.
"Astaga." Arfi menepuk jidatnya.
__ADS_1
Hampir 2 jam, Sisi fokus menonton televisi, akhirnya ia tertidur juga. Melihat itu Arfi langsung mematikan tontonan sang istri setelah itu, memindah Sisi agar tidur diatas ranjang.
***
Jam setengah tiga pagi, Arfi masih fokus menyelesaikan pekerjaanya. Rasa kantuk ia tahan, agar besok bisa ke kantor sedikit siang. Karena besok pagi, ia berenca mengajak istrinya lari pagi.
Drrrtt
Drrrtt
Ponsel milik Arfi berdering, ia sedikit mengerutkan wajah, karena ada nama Arfa tertera dilayar ponsel miliknya.
"Hallo... ngapain nelpon jam 3 pagi begini?"
"Santai dong kak. Gak perlu marah-marah!" Arfa menanggapi kekesalan Arfi dengan datar saja.
"Ada apa? Dahlah, gak pelu bertele-tele! Katakan apa yang mau kamu sampaikan!! Arfi menodong.
Arfa pun menyampaikan hal-hal yang mengusik pikiranya akhir-akhir ini, prihal sikap Arfi yang luar bisa tega kepada Sisi, tentang semua hal yang membuat wanita itu bersedih.
"Yakin, hanya itu ssja yang mau kamu sampaikan?"
"Di rubah cara pikirmu, Sisi masih kecil, dia belum memiliki mental kuat untuk menghadapi kelakukanmu!!" tegas Arfa lagi.
"Saudara kembarku tersayang, yang selalu jadi kebanggaan mami dan papi. Tolong ya, tidak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku! Urusi saja anak dan istrimu. Paham!!"
Dengan kesal, Arfi mematikan sambuangan telepon. Yang tentu saja membuat Arfa kesal luar biasa.
"Gak usah banyak bacot dan urusin hidup saya! Oke!" Arfi membalas pesan singkat sang adik.
"Astaga... ingin sekali aku mematahkan kelima jari-jarimu!" Arfa membalas lagi.
"Pulang sini! Ayo kita duel... katamu, hanya 3 bulan disana, ini sudah 6 bulan lebih, tapi kamu belum pulang juga." Arfi.
"Bodo amat.. suka-suka saya!" balas Arfa dan langsung tak memperdulikan lagi ketikan saudara kembarnya. Ia hanya menepuk jidat pelan.
Sementara Arfi, merasakan dadanya berdebar tak biasa, tubuhnya terasa panas, matanya membulat sempurna. Ia mengepal jari-jemari lalu mendekati sang istri yang tengah tertidur lelap. Arfi marah... karena Sisi mengumbar kejahatanya beberapa bulan ini.
"Kak.. jangan sakiti aku. Tolong!" ucapan itu keluar dari bibir Sisi, dengan mata terpejam dan ada tetes demi tetes, si bening keluar membasahi pipinya. Dalam lelap, ia masih merasa menderita.
Arfi yang emosi, seketika melangkah mundur, ia meregangkan jari-jari yang ia kepal tadi. Niatnya ingin menggagahi Sisi secara paksa, kini sirna sudah. Ucapan sang istri tadi membuat hatinya tecekat, batinya ikut merasa sakit.
"Hei...," lirihnya pelan. "Kenapa kamu seolah menjadi penjahat s*ksual." Arfi mengutuki sikapnya sendiri.
Ia pun, memilih menjauh dari tempar tidur dan meredam perasaanya yang campur aduk.
***
__ADS_1
Pagi menyapa. Arfi yang memang tidak bisa tidur, sudah rapih dengan baju olahraganya. Ia meminta beberapa orang kepercayaan di kantor, untuk menyelesaikan semua urusan hari ini, karena rencananya ia tidak akan pergi bekerja.
"Kakak, gak ke kantor?" tanya Sisi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tidak, kakak mau ajak kamu olahraga setelah itu jalan-jalan keliling kota pakai kendaraan roda dua!"
"Haah? Kakak yakin, tumben sekali?" tentu saja Sisi berdecak heran.
"Yakinlah."
"Ada maksud dan tujuan gak nih. Kok aku takut ya?" jujurnya.
"Ada maksudnyo dong."
"Ah... tidak mau' lah! Aku lelah jika kakak akan mengajakku berhubungan badan."
"Otakmu jahat sekali ya. Pikiranya! Kakak mau kamu bahagia hari ini."
"Janji ya. Nanti malamnya, kakak buat aku lelah!"
"Astaga.... tidak, Sisi!"
Ucapan Sisi yang berulang-ulang, cukup menjelaskan, jika gadis itu trauma dan takut Arfi akan memaksanya lagi. Ia bukan tidak mau melayani sang suami, tapi untuk sementara ini, ia tak mau tubuhnya diganggu.
"Ayo.....!"
Kini Arfi dan Sisi sudah tiba di sebuah pantai, keduanya berjalan pelan menyusuri jalanan seraya memandangi air laut yang tampak jernih pagi ini.
"Aku terakhir ke pantai, kalau tidak salah saat kelas satu SMA." cerita Sisi.
"Kenapa tidak pernah kesini lagi setelah itu?"
Sisi tersenyum sendu, ia mengajak Arfi duduk dulu, sebelum bercerita. "Dulu... saat mama dan papa'ku masih ada. Hampir setiap hari libur kami menghabiskan waktu kepantai, bermain air, membuat istana pasir, papa mengajakku main kejar-kejaran. Jika kepantai, aku akan mengingat itu dan pasti langsung sedih." curhatnya.
"Jadi sekarang, kakak ajak kamu sedih dong. Kalau begitu ayo pergi!"
"Tidak... aku kesini bersama kakak, bukan sendirian, jadi aku tidak akan merenung."
"Baiklah... ayo kita buat istana dari pasir!"
Sepanjang hari ini, Arfi menuruti apapun yang di inginkan Sisi. Bahkan mandi pantai, membeli balon, naik kuda di pinggir pantai dan berkejar-kejaran. Semua Arfi lakukan, hari ini ia merasa menjadi anak kecil lagi, karena menuruti semua keingian sang istri dan membuat ia juga tertawa lepas. Nyatanya.. senyum sang istri membuat ia bahagia.
.
.
.
__ADS_1
,
TERIMA KASIH