Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 25 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Setelah tiba di dalam ruang kerja Arfi, ia mendapati pria itu tengah menatap ke luar jedela, Sisi pun sedikit menegakan kepala agar bisa melihat apa yang tengah Arfi pandangi.


Anak-anak!


Iya, di halaman kantor, ada dua anak balita yang tampak asik bermain bersama. Kedua bocah lucu itu anak kembar Pak Suki. satpam di kantor ini.


"Kamu pasti sudah sangat menginginkan, hadirnya anak kecil dalam hidupmu,"


Ucapan Sisi spontan membuat Arfi menoleh lalu menatap kasar ke arah wanita itu. Entah kenapa perasaan Arfi sakit sekali mendengarnya.


"Kalau iya, kenapa?" pria itu meninggikan nada bicaranya.


"Menikahlah dengan, Cia! Aku rasa dia pasti bisa memberimu ke turuan." Sisi berucap gemetar, dadanya bedebar, hatinya sakit sekali.


"Ini hidup saya, jangan coba mengatur! Saya meminta kamu masuk ke ruangan, bukan memintamu ceramah dan sok tau!"


"Ma-maaf!"


Sisi tertunduk, ia menutup rapat-rapat mulutnya agar tak lagi berbicara. Sementara Arfi mendekati keberadaan Sisi berdiri.


"Saya tidak butuh maaf, kamu!" Sisi semakin tertunduk mendengarnya. "Hari ini temani saya!" ucap Arfi lagi.


"Kemana?"


"Nggak usah banyak tanya, ikut saja!"


"Ba-baik,"


Setelah di rasa cukup, Arfi pun mempersilahkan Sisi keluar, bahkan wajah wanita itu tampak sangat sedih, entahlah. Sisi menyesali ucapanya tadi, karena ia tahu pasti Arfi sedih karena perkataanya tersebut.


.


.


Jam pulang kerja pun tiba, Cia meminta Angga untuk mengantarnya. Setelah mendapatkan izin dari Arfi, Angga pun bersedia mengantarkan Cia.


"Awas jangan sampai lecet, jaga Cia baik-baik, bawa motornya pelan-pelan! Kalau sampai Cia luka sedikit aja, saya potong gaji kamu empat bulan kedepan."


"Waduh, serem. Nggak makan dong saya, baiklah, saya berjanji akan menjaga dan melindungi Cia sampai depan rumah."


"Bagus,"


Senyum Angga mengembang, ia sangat bahagia karena bisa mengantarkan pulang Cia. Sementara Cia sendiri sedikit kecewa karena tadi ia berharap, Arfi lah yang akan mengantarnya pulang.


"Cia, hubungi saya jika sudah sampai rumah! Maaf saya tidak bisa antar kamu, karena ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan,"


"Tidak masalah, Pak." jawabnya tak bersemangat. Cia pun naik ke motor Angga lalu pergi tanpa mengucapkan apapun lagi kepada Arfi.

__ADS_1


"Aku yakin, Cia pasti sedih, karena akhir-akhir ini, dia merasa kamu mengabaikanya." Sisi berucap sesuai apa yang ia ketahui.


"Nggak usah ikut campur, di hubungan antara aku dan Cia!"


Sisi hanya membalasnya dengan tatapan sinis, lalu memilih untuk membuang muka. Hal itu justru membuat Arfi terkekeh geli.


"Kok ketawa, sih?"


"Kamu lucu,"


"Aku sedang tidak bercanda," Sisi bersuara ketus.


"Hem, baiklah... kamu sedang tidak bercanda dan saya juga berharap, kamu jangan bercanda dengan perasaan, apa lagi pura-pura nggak cinta padahal masih cinta." Arfi tersenyum simpul.


DEG!


Seketika Sisi gemetar mendengarnya, Arfi seakan sedang menyinggung apa yang sebenarnya yang ia rasa.


"Nggak usah sok tau, Pak!"


"Oke, oke," Arfi tertawa pelan, ia pun tak segan menarik tangan Sisi lalu meminta wanita itu masuk ke dalam mobil.


Setelah keduanya pergi, sikap Arfi dan Sisi tadi menjadi perbincangan antara Pak Suki dan salah satu karyawan yang masih belum pulang.


"Kok mereka akrab banget, ya?"


"Iya Pak, aneh banget,"


.


.


.


***


Arfi dan Sisi kini sudah tiba di sebuah Cafe yang tampak baru saja di buka, bahkan beberapa karyawan langsung menyapa Arfi sangat sopan dan ramah.


"Orang tua anda sudah datang, Pak."


"Baik, terima kasih."


Mendengar percakapan antara Arfi dan karyawan Cafe yang tampak sudah saling mengenal, membuat Sisi mengerutkan dahi, karena tadi karyawan itu mengatakan, jika ada kedua orang tua mantan suaminya.


'"Mami, Papi."


Sesuai dugaan Sisi, jika ada mantan mertuanya di sini. Ia merasa penasaran apa maksud Arfi membawa ia bertemu mereka, Sisi yakin, Arfi sengaja melakukanya.


"Mi, Pi... maaf aku telat, ya!"

__ADS_1


Airin dan Alvian menoleh dan seketika saja keduanya terkejut luar biasa, prihal siapa yang kini datang bersama Arfi. Begitu pun Sisi, ia mendadak gemetar terlebih saat menatap wajah sayu sang Mami, yang sudah tampak tua meski masih terlihat cantik.


"Sisi-....!!"


Ujar si Mami dan Papi bersamaan, kedua orang tua Arfi ini, sangat merindukan mantan menantunya. Meski Sisi yang menceraikan Arfi, meski Sisi yang pergi, meski Sisi yang pernah membuat anaknya terluka, Mami dan Papi tidak pernah membencinya, mereka tahu apa alasan Sisi memilih untuk bercerai dari Arfi.


"Ma-Mami,"


Sisi berhambur memeluk wanita tua itu, lalu mencium punggung tangan Mami dan juga Papi, kedua orang tua yang sangat ia hormati.


"Ayo kita duduk dulu!" titah Arfi kepada Mami, Papi dan Sisi.


Masih jelas sekali di ingatan Sisi beberapa tahun lalu, hari di mana ia meninggalkan rumah, hari di mana ia melihat Mami menangis tersedu-sedu karena meminta Sisi untuk menetap. Jika mengingat hari itu, otomatis dadanya seakan di tekan, sesak dan sakit menjadi satu, Sisi menyesali hari itu.


"Mami, Papi- Maafkan, aku!"


"Tidak apa, nak? Sisi apa, kabar?" kini si Papi yang bertanya.


"A-aku baik, Pi." jawabnya gugup, Sisi tertunduk sangat dalam.


"Bagaimana bisa, kalian bisa datang bersama?" Mami penasaran, ia pikir Arfi tak sengaja bertemu Sisi di Cafe ini.


"Sisi, karyawan di kantorku, Mi." jawab Arfi memberitahu.


"Haaah." Mami dan Papi tercekat. "Lantas, kenapa kamu tak memberi tahu, kami?"


"Karena, aku pikir... Mami dan Papi membenci Sisi, setelah semalam aku mendengar kalian saling curhat dan aku mendengar Mami sangat merindukan Sisi, jadi aku bawa dia ke sini." jelas Arfi seraya menatap wajah sang mantan istri.


"Sisi- kamu sekarang tinggal di mana? Apa kamu sudah menikah lagi?' Sisi panas dingin mendengar pertanyaan Mami padanya.


"A-ku tinggal tidak jauh dari kantor dan aku belum menikah." jelasnya gugup luar biasa.


"Kenapa kamu belum menikah?" kini Papi yang bertanya.


"Tentu karena dia belum bisa move on dariku." Arfi bersikap jemawa dan Sisi melotot lebar ke arahnya. Begitupun Mami dan Papi.


Sadar Arfi membalas tatapanya, Sisi langsung kembali menuduk malu, meski sejujurnya apa yang di katakan oleh Arfi memang benar, ia belum bisa move on, perasaanya masih menginginkan Arfi, tapi Sisi malu sebab dulu ia yang menceraikan pria itu.


"A-aku memang belum ingin menikah, Mi, Pi. Karena aku pikir tidak akan ada orang yang mau menerimaku, karena seperti Mami dan Papi tau. Aku tidak akan bisa memberikan keturunan."


Sejenak Mami dan Papi terdiam, mereka menatap Arfi lalu mengarah ke Sisi sangat dalam. "Sisi, kamu bukan tidak bisa memberikan keturunan, tapi Tuhan belum memberinya saja. Lagi pula kamu pernah hamil dan artinya kamu bisa hamil." ucap Mami menenangkan.


Kini Sisi yang kembali diam, seraya menela'ah susah payah penjelasan Mami baru saja.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2