
šSelamat Membacaš
Secepat kilat, Alvian masuk ke dalam rumah, ia mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam kamar, pria muda itu melaporkan kejadian tersebut kepada Toni sahabatnya.
"Baru tadi sore aku pulang, masa malam ini rumahmu sudah di teror orang," Toni berdecak heran melalui panggilan telponya.
"Hemm... entahlah, yang jelas, aku minta, beberapa rekan kepolisian, untuk menjaga rumahku sementara waktu!"
"Baiklah, nanti akan ku beritahukan, kepada pak Egi, masalah yang kau hadapi ini,"
Toni pun mematikan sambungan telponya. Sementara Alvian sudah bersama dengan kedua orang tuanya dan sang istri.
"Aku sudah melaporkan kejadian ini kepada Toni, agar pihak polisi ada yang menjaga rumah kita. Sebab, aku takut jika ada hal-hal yang tak diinginkan menimpa kalian, terutama Airin, karena aku yakin sekali, ini teror yang tujukan kepada kami berdua," jelas Alvian pada kedua orang tuanya, seraya menggenggam erat tangan sang istri yang terlihat ketakutan.
"Apa yang harus kita lakukan, pah?"
"Papa juga, akan meminta beberapa teman-teman papa, untuk menyelidiki kasus ini," ujar Reyhan kepada istrinya.
Setelah banyak tanya, yang membenam dalam pikiran mereka, tentang siapa yang sudah meneror tadi? Alvian mengajak sang istri dan kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah.
"Jangan tidur terlalu pulas, Al! Takutnya, nanti ada teror yang terjadi lagi," usul si papa pada anaknya.
"Siap pah," jawab Alvian tegas.
Malam ini mereka tak bisa tidur dengan tenang, terutama Airin dan Alvian. Jangankan tidur, mata pun sungguh sulit mereka pejamkan.
"Menurutmu, siapa Al?"
"Mungkinkah, Amira?"
"Aku tak yakin, karena setauku, adikku itu, sedikit penakut. "Lalu, siapa kira-kira?" tanya Airin lagi.
"Bisa jadi, orang-orang papamu," jawab Alvian pula.
Si cantik diam sejenak, apa yang di takuti Alvian, bisa jadi memang benar adanya. Karena Wijaya Bratayuda yang tak lain papa kandung Airin, memiliki dendam tersendiri, karena siang tadi Alvian telah mengancamnya.
"Mungkin, papamu takut, jika aku merebut paksa, perusahanmu, maka dari itu dia berniat untuk membunuh," jelas Alvian lagi.
Airin mengela nafas kasar, ia tengah memikirkan apa yang baru saja di ucapkan oleh suaminya.
"Tidurlah, biar aku yang berjaga!"
"Tak bisa, Al, kau saja istirahat dulu, karena besok kau harus ke kantor pagi-pagi,"
Pria muda itu tak mau lagi berdebat dengan sang istri, ia segera menarik tangan Airin lalu menjatuhkanya ke atas ranjang.
Peluk... Alvian memeluk erat tubuh Airin, hingga si cantik tak mampu bergerak.
"Al, lepas!"
"Diamlah, jangan katakan apapun! Cepatlah tidur,"
__ADS_1
Akhirnya keduanya pun tertidur, dengan saling berpelukan, hingga pagi tiba Airin dan Alvian belum juga membuka mata.
***
Jam 07.30
"Aaaaah......!!" teriak Airin sekuat tenaga.
"Ehh kenapa?"
"Sudah jam 7 lewat, aku harus ke kantor," cetusnya spontan lalu segera beranjak dari atas tempat tidur
"Ya ampunn, santai Rin, jam 10 atau jam 11 saja, baru ke kantor,"
"Mana bisa Al, nanti aku di pecat,"
"Siapa yang berani memecatmu, kaukan istri pemilik perusahaan," ujar Alvian.
"Oh.. iya, astaga! Kok, bisa ya, aku lupa,"
Airin menepuk jidatnya sendiri, ia pun segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
15 menit kemudian.
Airin sudah keluar dari kamar mandi, wanita cantik itu segera mengganti baju. Namun seketika sorot matanya terpesona, akan ketampanan Alvian yang sedang tertidur bagaikan bayi.
"Ya Tuhan, bulu matanya sangat lentik, kulitnya putih bersih, bahkan wajahnya nampak berseri-seri. Aku rasa, glowing wajah dia daripada wajahku," pujinya seketika melihat wajah mulus Alvian.
"Al, kau tidak tidur?" Airin menggeleng heran, sasaat melihat sang suami tertawa sejadi-jadinya.
"Kau tau, tadinya aku berniat, mengintip kau menggunakan baju, tapi nyatanya ucapanmu lebih lucu."
"Heih," Airin menautkan kedua alisnya lalu menepuk pelan pundak Alvian. "Ayo bangun!" tarik si cantik kemudian.
Tak perlu pikir panjang, Alvian menuruti titah sang istri, segera mandi untuk kemudian berangkat ke kantor.
"Pakai mobil sendiri-sendiri, atau aku berangkat naik mobilmu, nih?" basa basi Airin saat akan berangkat ke kantor.
"Naik mobilku saja!"
Secepat kilat, ia masuk ke dalam mobil milik Alvian, si cantik benar-benar bahagia, karena ini pertama kalinya ia pergi bersama sang suami, dan Alvian yang duduk di kursi kemudi. Sembuhnya Alvian, membuat Airin bisa merasakan, kebahagiaan layaknya pasangan lain.
Ssssttt...
Airin meminta sang suami mengentikan mobil, karena ia melihat gerak-gerik seseorang yang sangat mencurigakan.
"Si_siapa dia, Al?" tanya Airin saat melihat orang tersebut berada tepat di depan gerbang rumah dengan membawa sesuatu di tanganya.
Praaaaaank!
"Aaaaaaaah.....!!"
__ADS_1
Seseorang itu segera melempar batu, tepat di kaca depan, mobil yang di kemudi Alvian bersama Airin. Beruntung, pecahan kaca tersebut tak sampai melukai keduanya.
"Kejar pak!" seru Alvian kepada pak satpam rumahnya.
Sementara Alvian pun mengajak Airin untuk turun dari mobil, lalu memastikan keadaan istrinya.
"Ada apa, Al?"
Kedua orang tua Alvian, juga sama terkejutnya, sesaat mendengar suara keras dari luar rumah mereka.
"Ada orang jahil lagi, mah, semalam dia sudah memecahkan kaca mobil satunya, sekarang dia memecahkan juga, kaca mobil yang akan ku kendarai," jawab Alvian kemudian seraya mendekap tubuh Airin yang tengah ketakutan.
"Ini bukan lagi, jahil. Tapi sudah meneror. Sepertinya orang it, berniat melukai kalian berdua," ungkap si papa.
"Bisa jadi. Tapi, siapa kira-kira?" Alvian justru penasaran.
Sedangkan Airin kini sudah berada di samping sang mama mertua, karena Alvian dan Reyhan mencari pak satpam yang tadi mengejar sang peneror, namun hingga detik ini belum juga kembali.
"Pak Boby?" Reyhan dan Alvian semakin penasaran saat si satpam tiba-tiba datang, dengan mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Pak, sepertinya, yang meneror rumah kalian, seorang perempuan, karena saat aku mengejar dia tadi, orang itu tak sempat terlepas topinya dan rambutnya terurai panjang, namun aku tak sempat melihat wajahnya, dia sudah masuk ke dalam mobil," jelas si satpam dengan nafas tergesa-gesa.
"Mungkinkah itu Amira?" Airin buka suara.
"Entahlah," balas Alvian pula.
"Kenapa Amira yang kalian tuduhkan?" si mama dan si papa penasaran.
"Karena bisa saja dia marah, padaku mah, sebab aku sudah mengancam papanya," tambah si tampan kemudian.
"Lho... kok bisa?"
"Ya... karena perusahaan pak Yuda, terancam hancur, dan itu semua karena aku yang menjebaknya,"
"Astaga, Al.... apa kau tidak berpikir panjang, jika akan melakukan sesuatu?" Reyhan mengerutkan wajahnya.
"Kenapa, papa selalu membuat masalah? Kenapa, papa tak pernah membiarkan aku hidup bahagia?" ucap Airin sendu.
"Hei, Rin.... jangan begitu! Karena ini hanya asumsi kita, belum tentu papamu yang melakukanya, apa lagi sampai meminta Amira yang meneror, mama rasa, itu hal yang sangat mustahil," Tania menenangkan menantunya tersebut.
Lagi-lagi, pagi ini keluarga Alvian di rundung kegelisahan, dengan banyak tanya yang membenam dalam pikiran mereka. Namun di tengah kebimbangan tersebut, tiba-tiba saja Alvian mengingat satu nama. Siapakah dia??.
.
.
JANGAN LUPA BAHAGIA, SEMOGA RIZKI YANG BACA KARYAKU SEMAKIN LANCAR YA.. Aamiinšā¤.
Dan... hari ini, aku up 3 bab ya, jam 12 siang dan jam 4 sore nanti, dua "A" up lagi. Bismilah, semoga masih ada yang mau bacaš¤. Lope you pull, kakak-kakak baikā¤.
šTerima Kasihš.
__ADS_1