
🕊Selamat Membaca🕊
Dengan sinar sang fajar, yang mulai nampak dari ufuk timur, Alvian duduk memandang dari depan jendela, menatap awan-awan putih yang mulai bermunculan, dan memenuhi langit di pagi hari ini.
"Mas, sedari tadi ponselmu terus berbunyi. Apa kau tak berniat mengangkatnya?" Airin menepuk pelan pundak Alvian.
"Hmm, kemarikan!" pria muda itu meminta Airin mengambilkan ponsel miliknya.
Alvian menarik nafas pelan, sebelum memastikan siapa yang sejak tadi menghunginya, si tampan menarik sudut bibir saat mendapati salah satu rekan di kepolisian yang sejak tadi menelfonya, sebut saja namanya Rama.
"Hallo, Ram,"
"Al, kau dimana?"
"Di rumah. Ada apa?"
"Hari ini, kepolisian akan meminta pihak medis, untuk melalukan proses identifikasi." Jelas Rama melalui sambungan ponselnya.
"Lalu?"
"Emm, apa kau tidak mau datang kesini, untuk memastikan, jika salah satu di antara korban itu, ada rekan kita Toni?" Rama bertanya dengan begitu gugup.
"Aaahh, sial!"
Mwndengar itu, Alvian segera mematikan sambungan ponsel, ia merasa kesal luar biasa.
"Kenapa, Mas?"
Namun si tampan hanya diam saja, ia memilih untuk menundukan kepalanya sejenak. Alvian berharap tak ada Toni di antara salah satu korban ledakan tersebut
Ya... ledakan Bom yang cukup mengejutkan terjadi kemarin sore, di sebuah Mall, hingga menelan beberapa korban, dan salah satunya rekan kepolisian. Toni, sampai hari ini memang tak menunjukan batang hidungnya, dan di pastikan sahabat Alvian tersebut memanglah menjadi salah satu korban.
Ledakan Bom tersebut terjadi, karena adanya pihak tak bertanggung jawab untuk memecah belah kerukunan antar agama.
"Aku harus pergi,"
"Aku ikut mas,"
"Jangan, Rin! Kamu sedang hamil,"
"Tapi Al, aku ingin menemanimu,"
"Bagaimana jika nanti kau kelelahan?"
Airin menggeleng cepat, ia menatap sang suami penuh harap.
"Baiklah,"
Akhirnya, Alvian mengizinkan sang istri untuk ikut bersamanya, pria muda itu mengajak juga kedua orang tuanya untuk menemani Airin di sana, dan senang hati pula, Reyhan dan Tania memenuhi permintaan dari Alvian.
***
Setibanya di rumah sakit, Alvian mendapati Ridho dan istrinya tengah duduk di sebuah kursi. Kedua orang tua Toni tersebut tampak cemas penuh harap. Berharap jika akan ada keajaiban dari Tuhan.
"Bagimana?"
"Belum keluar hasilnya, pak," jawab Ridho pada pemilik perusahaan dimana ia bekerja dan dia adalah sahabat dari anaknya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan, Pak!" titah Alvian.
Ridho tersenyum simpul. "Baiklah," ucapnya datar.
__ADS_1
Alvian, Airin dan kedua orang tuanya duduk di kursi, mereka pun sama, menunggu hasil indentifikasi keluar.
"Huuuf,"
"Apa kamu butuh minum?"
"Boleh,"
"Aku kedepam sebantar,"
"Iya, minta mama untuk menemanimu!"
Airin mengangguk, ia segera beranjak lalu meminta Tania untuk keluar sebentar, sementara Reyhan beranjak lalu duduk di samping Ridho, pria paruh baya tersebut berusaha untuk menguatkan kedua orang tua Toni.
Sedangkan Alvian, menyandarkan tubuhnya lalu menatap langit-langit rumah sakit, ia membuang nafas kasar berkali-kali.
"Al..," suara itu terdengar sangat dekat.
"Haaaah," si tampan menatap nanar seseorang yang kini berdiri di depanya.
"Hei, kau kenapa?"
"Ton, ini kau? Kau... baik-baik saja?" tanyanya bahagia, ia memandangi sahabatnya dari atas hingga kebawah, Toni tak terlihat luka sedikit pun.
"Aku baik-baik saja, Al." Jawabnya dengan senyum penuh arti.
"Mari duduk, banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu!"
"Apa...?" Toni tetap menunjukan senyumnya.
"Kemana kau kemarin, saat bom itu meledak? Kenapa kau tak muncul, padahal aku dan keluargamu, juga teman-teman dari kepolisian, sangat panik akan keadaanmu," jelas Alvian lagi.
"Aku di selamatkan oleh malaikat, bahkan tak merasakan sakit sedikit pun," jelasnya.
"Ah syukurlah,"
Alvian seolah tak merasa aneh sedikitpun dengan jawaban sahabatnya itu, yang ia tahu, kini merasa sangat bahagia karena Toni baik-baik saja.
"Al, aku berharap, nanti kau akan kembali lagi di kepolisian, karena banyak hal, yang belum terpecahkan,"
"Hm, nanti... pasti aku kembali lagi bertugas, tapi untuk saat ini, aku belum bisa,"
"Baiklah," jawab Toni tersenyum lagi.
"Tos dong, kaku banget sih?"
Alvian memajukan tangan kanannya, berharap Toni akan menyambut, namun sahabatnya itu diam, hanya tetap senyum saja yang Toni tunjukan.
"Tumben pendiam, Ton. Biasanya kamu paling heboh kalau bertemu denganku?"
Pria muda itu, memandangi Toni sedikit aneh, Alvian memajukan tanganya, dan berniat untuk menepuk pundak sahabatnya.
"Haaah,"
Si tampan tercengang, karena ia tak bisa menyentuh Toni, Bahkan berkali-kali ia coba, Alvian tetap tak bisa menyentuh tubuh sahabatnya.
"Ada apa ini?" gugupnya.
"Baik-baik, Al!"
"Heei, kau mau kemana?"
__ADS_1
"Beristirahat,"
"Haaah....!"
Toni berjalan menjauhi Alvian, dan pelan-pelan bayangan Toni pun hilang dari pandangan.
"Ton, kau mau kemana? Kau diaman? Kenapa kau hilang tiba-tiba?!"
Pertanyaan itu keluar dari bibir si tampan, berkali-kali, namun semakin ia berteriak, Alvian tak bisa lagi melihat wajah Toni.
"Mas, bangun!"
"Al, kau mimpi apa?"
Panik Airin dan si mama, yang membuat si papa seketika panik juga. Rupanya Alvian tertidur di kursi, lalu bermimpi bertemu Toni.
"Toni menghilang, aku tidak bisa menyentuhnya," cetus Alvian spontan.
"Kau bermimpi Al,"
"Haaah,"
Alvian mengerjabkan matanya berkali-kali, lalu memperhatikan di sekelilingnya, ia melihat wajah sendu Airin dan kedua orang tuanya, bahkan tepat di saat itu pula, Alvian melihat orang tua Toni menangis histeris.
"Tidak mungkin,"
"Sabar mah! Semoga ini yang terbaik untuk anak kita,"
Secepat kilat, Alvian melangkah, ia langsung bertanya prihal apa yang membuat kedua orang tua Toni, begitu histeris.
"Om, tante... apa yang terjadi?"
"Al, anak kami sudah tiada, dokter menunjukan sample DNA salah satu jenazah, akurat seratus persen. Proses identifikasi menyatakan, Toni adalah salah satu korban," jelas Ridho, ia menyampaikan sesuai dengan apa yang dokter katakan.
Hancur....
Ya... Alvian harus menerima kenyataan, jika orang yang selalu ada, dan menemaninya dalam hal apapun, kini di nyatakan sudah tiada. Ryantoni Aditama atau di sapa Toni, kini sudah pergi dan meninggalkan keramaian bumi.
"Ya Tuhan..." lirih Alvian seraya menyentuh bagian dadanya yang terasa sangat sesak.
"Sabar, Mas!" Airin memeluk tubuh suaminya
Sementara Reyhan dan Tania, langsung menuturkan rasa bela sungkawa, lalu berusaha menenangkan kedua orang tua, sahabat dari anaknya.
"Kita harus segera pulang, mah! Untuk segera memakamkan anak kita," ucap Ridho dengan berlinang air mata, karena sakitnya tak bisa terlukis oleh kata-kata. Anak yang sangat ia banggakan, kini sudah pergi menghadap sang pencipta.
Di sisi lain, kini pihak kepolisian sudah menyiapkan segalanya, untuk membawa jenazah rekanya yang gugur, akibat ledakan sebuah bom. Toni akan di makankan dengan standar dan tata cara dari kepolisian, sebagai bentuk sebuah penghormatan, gugurnya seorang pahlawan demi menyelamatkan nyawa banyak orang.
Sejatinya mati adalah sebuah misteri, yang tak ada habisnya untuk di pikirkan. Detik ini, saat ini, kita masih bisa tertawa dan bercerita, tapi kita tidak tahu, apa yang akan terjadi setelahnya nanti. Hidup adalah pilihan, tapi mati itu pasti❤
.
.
.
.
💪💪💪💪💪❤❤
🕊Salam sehat selalu kakak-kakak baik🕊**
__ADS_1