Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 4 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Arfi menatap kanan kiri, bola matanya memutar memperhatikan setiap sudut ruangan. Tempat yang akan ia huni setiap hari. Warna biru dan putih mendominasi di ruangan ini, serta wangi parfum yang cukup harum, membuat Arfi semakin marasa nyaman.


Ck...


Pria tampan itu mendudukan tubuh, setelah itu menghela napas pelan. Sungguh ia masih tak percaya, kini ia menjadi pemilik sekaligus pemimpin di perusahaan ini. Sesuatu pencapaiyan yang wajib ia rayakan. Esok hari ia akan mengajak Papi dan Mami, memotong tumpeng di kantor barunya kini. Wwkwkwk.


Ceklek!


Perlahan pintu ruangan pun terbuka. Arfi di kejutkan oleh penampilan seorang gadis yang sungguh membuat ia menggeleng pelan dan perlahan meneguk salivinya sendiri. Gadis itu tersenyum manis ke arah Arfi berdiri.


"Selamat pagi, Pak... perkenalkan, namaku Alicia Amanda, di kantor ini saya akan mengabdikan diri untuk sepenuhnya bekerja sama dengan anda." Cia memiringkan tubuh ke depan, bak orang Korea saat memberi hormat.


"Pa-pagi." Arfi sungguh di buat gugup, terlebih saat gadis itu mulai duduk di kursi. Rok mini yang Cia gunakan spontan terangkat, hingga menampilkan paha putih mulus milik gadis tersebut.


"Bapak kenapa, kok diam?"


"Kamu mau ke kantor, atau ke club malam?"


"Ini kan pagi, Pak... ya kali ke club malam. Ah Pak Arfi aneh," Cia memanyun bibir.


"Ganti baju kamu. Saya nggak suka cewek pakai baju se **** itu!"


"Ihh Bapak ngeselin deh. Aku dandan kayak gini sampe manggil tukas salon ke rumah!" rancau gadis itu semakin menekuk wajah.


"Alicia Amanda, buat apa kamu dandan kayak ondel-ondel begini"


"Demi anda. Supaya Bapak nggak jenuh di kantor ini, karena ada aku yang cantik jelita. Gak bakal buat Bapak sakit mata, meski di pandang berjam-jam." Cia sungguh percaya diri.


"Cia.... saya tidak meminta kamu dandan untuk saya. Cepat ganti bajumu!"


"Uangku abis buat ke salon, mau ganti baju rumahku jauh dan kalau beli baju baru, aku nggak punya uang."


"Nih ambil, beli baju di toko depan!" Arfi mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah. Dan membuat Cia mendengus lirih.


"Maksud Bapak apa, ya? Uang tiga ratus ribu mana cukup, Pak.. aku pake jasa salon ngabisin lima ratus ribu lebih." gadis itu bersungut-sungut, ekspresi wajahnya sangat meyakinkan.


"Tapi saya tidak minta kamu dandan begini. Kenapa saya harus ganti rugi?" tanya pria itu dengan mengepal jari jemari.


"Ya udah, kalau gitu... aku mau duduk di sini aja!"

__ADS_1


"Eh... astaga Tuhan, kenapa anak Pak Dana Setiwan keras kepala begini, sih?" Arfi mengomel dalam hati. Tapi ia tetap mengeluarkan uang berwarna merah dua lambar lagi, yang penting Cia enyah dari hadapanya. "Ingat, uang lima ratus ribu ini, nanti akan saya potong gaji, kamu!"


"Kan aku magang, Pak, otomatis nggak di gaji. Muhehehe....!"


Secepat kilat Cia beranjak dan tak lupa mengambil uang yang Arfi beri. Wajah kesal pria itu, sungguh membuatnya tertawa geli.


"Ehh, Pak... minta no WhastApp dong!" dengan tengilnya Cia kembali dan berani meminta no ponsel Arfi.


"Buat apa? Gak boleh, saya tidak mau memberikan no hp saya kepadamu!"


"Ce ileh, pelit amat sih, Pak.. sebagai bos dan karyawan, kita harus saling memiliki hubungan yang sangat erat... Ohh, atau jangan-jangan, Bapak tipe suami takut istri ya."


Cie terkesan mengejek. Wajah Arfi spontan berubah pias, ia mengepal jari jemari lalu berjalan mendekati gadis yang kini berdiri di depan pintu ruanganya.


"Saya sudah menduda dua tahun dan tidak memiliki istri. Pergi.... atau kamu mau saya cium paksa. Haah?!"


"Eeh buset, Pak Arfi agresif sekali. Ngeri ih!"


Gadis itu mundur teratur, ia melesat secepat kilat untuk keluar dari ruangan Arfi. Cia merinding bukan main, tatapan tajam pria tadi tepat menyentuh di jantung hatinya. Dada dan jantung Cia berdebar luar biasa.


"Ah bodo amat deh. Yang penting dapet lima ratus ribu." sorak gadis itu senang.


Cia sudah terbiasa bersikap sesukanya, saat perusahaan ini masih milik sang Papa, ia suka membuat onar dan kadang Papa'nya sampai darah tinggi, sebab anaknya selalu mengajak karyawan lain tak fokus bekerja. Di kantor, Cia suka menghabiskan waktu untuk menonton Drama Korea. Sampai kini meski perusahaan sudah menjadi milik orang lain, Cia masih tak segan berbuat onar.


"Sepertinya begitu."


"Kita ikutan malak yuk, Pak... dapet seratus ribu aja Allhamdulilah." usul Angga yang langsung di plototi tajam oleh Pak Suki.


"Coba aja. Saya yakin, kamu bukan dapet uang seratus ribu, tapi malah di pecat. Palak sana!"


Cowok bernama Angga itu, jadi ciut nyali. Lagi pula, kenapa harus ikutan sikap dan sifat Cia. Gadis bar-bar tersebut tak patut untuk di jadikan contoh. Angga kembali berjaga dan Pak Suki juga melakukan hal yang sama.


.


.


Sementara itu, Arfi yang kini berada di dalam ruangan. Menidurkan kepalanya di atas meja kerja dan sesekali ia menghentakan kepalanya sendiri pelan-pelan. Bagaimana tidak, baru satu hari bekerja dan menjadi atasan, Arfi sudah merasa frustasi menghadapi sikap bar-bar gadis tadi.


"Emaknya Cia, dulu pas hamil ngidam apa, sih? Kok kayaknya tu cewek nggak punya otak." omelnya kesal.


Tapi tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali memendam kekesalan di dalam hati. Setelah selesai marah-marah sendiri, Arfi pun keluar dari ruangan untuk memperkenal kan diri kepada para karyawanya.

__ADS_1


"Huwwaaa..... Pak Arfi imut banget dah. Bibir merah dan tatapanya membuatku terpana." salah satu karyawan bernama Nila bersikap lebay.


Semakin Arfi berbicara, anak buahnya semakin di buat terpana. Mereka merasa sang bos gantengnya blasteran surga. Senyumnya semanis gula, siapapun yang menatap pasti terlena.


.


.


.


Setelah kenal perkenalan selesai, jam pulang kerja pun tiba. Arfi melihat Cia tengah berteduh menunggu hujan reda. Karena sore ini, hujan sangat deras mengguyur bumi.


"Mau saya anterin, nggak? Kayaknya sih hujan nggak bakal reda. Memang mobil kamu kemana?" basa basi Arfi.


"Mobilku rusak Pak, ini aku pinjem motor Kakak angkatku. Dia baru di pecat dari pekerjaanya dan sekarang jadi pengangguran." Cia terkesan curhat.


"Pasti Kakak kamu itu, bar-bar juga seperti kamu. Jadi wajar kayaknya di pecat."


"Hihh, Bapak sembarangan. Kakak ku itu kalem, lemah lembut, janda lagi."


"Heeh, janda?"


"Iya. Bapak tertarik untuk berkenalan kah?"


Tawaran Cia membuat Arfi salah tingkah. "Gak deh, terima kasih, saya masih setia menunggu mantan Istri saya kembali."


"Ohh gitu.. semangat Pak, semoga berhasil dan CLBK sama mantan istinya," Cia masih alay


Tak mau mendengar ocehan Cia lebih lama. Arfi langsung manarik tangan itu masuk ke dalam mobil.


"Diam, jangan banyak bicara! Saya antar kamu pulang."


"Wah makasih, Pak." Cia bersorak senang.


Ia berencana mengenalkan Sisi kepada Bos'nya ini. Karena Cia yakin sekali, Arfi akan terpana dengan kecantikan Kakak angkatnya itu.


.


.


.

__ADS_1


L A N J U T


__ADS_2