
❣Selamat Membaca❣
Seseorang tak akan menuntut apapun dari pasanganya. Karena kesempurnaan adalah tugas bersama, saling melengkapi dan menerima dalam segala hal.
_
Semenjak ke guguran, Sisi menjadi pendiam dan tak seceria biasanya. Tapi Arfi tak pantang menyerah dan terus berusaha menghibur sang istri tercinta.
"Jalan-jalan yuk! Kita mandi pantai, naik delman dan buat istana pasir!"
Bak seorang kakak, yang merayu adiknya karena tengah marah, seperti itulah sikap Arfi kepada Sisi. Setiap hari ia berusaha membuat istrinya tersenyum.
"Ayo!"
Arfi memapah tubuh istrinya dan masuk kedalam mobil.
"Nanti, setelah pulang dari bermain, kakak punya kejutan untuk Sisi."
"Apa?" akhirnya Sisi berbicara dan Arfi pun bahagia.
"Kalau kakak, kasih tau.. bukan kejutan lagi dong!"
"Oh iya." Sisi berujar datar.
"Kamu harus senyum dan bahagia hari ini, biar cepat kakak kasih kejutanya!"
Sisi mengangguk, ia menuruti semua keinginan sang suami, sepanjang perjalanan ia merenung seraya mentap ke luar jendela. Air matanya berniat jatuh tapi Sisi mencoba untuk tidak menangis hari ini.
"Kak... sudah 4 bulan, tapi kenapa aku belum hamil lagi, ya?"
"Sisi, ini kan baru 4 bulan, kata dokter.. setelah 8 bulan, kamu baru boleh hamil lagi." Arfi berbohong demi menenangkan Sisi.
"Benarkah?"
Arfi membalssnya dengan tersenyum, lalu meng^cup kening sang istri. Sepanjang perjalanan ia mencoba bercerita yang lucu-lucu dan berusaha agar tak memberi waktu untuk Sisi merenung.
"Si- kakak punya tebak-tebakan."
"Apa?"
"Kuda apa, yang buat bahagia?"
"Kudaki gunung sambil jongkok." jawab Sisi seraya menautkan kedua alisnya.
"Itu kuda yang bikin lelah, sayang."
"Terus apa dong. Kuda apa yang bikin bahagia memangnya?"
"Kudaki kamu setiap malam!"
__ADS_1
"Haah... ishhh kakak!"
Pipi Sisi merah merona, karena Arfi selalu berhasil membuat ia tersenyum. Sepanjang perjalanan, Arfi terus mengajaknya main tebak-tebakan.
"Kita sampai, ayo turun!" ajak Arfi seraya menggenggam tangan sang istri
Sisi terus tersenyum, karena pria itu menggenggam erat tanganya dan mengajaknya berjalan bersama. Sisi tak pernah bermimpi memiliki suami setampan Arfi. Bukan itu saja, selama ia berduka, suaminyalah yang selalu setia, memberi semangat dan menguatkan, Arfi selalu meyakinkan, jika apa yang terjadi bukanlah akhir dari segalanya.
"Kamu mau es krim?"
Sisi menggeleng, ia tak pernah mau, memakan es krim setelah keguguran, sebab ia merasa, karena es krim'lah, ia kehilangan anaknya. Andai, saat itu ia tak meninginkan es krim coklat, mungkin hari ini ia sudah menggendong anaknya.
"Ya sudah kalau tidak mau es krim, kita naik kuda saja!"
"Iya,"
Keduanya pun naik delman dan keliling pantai, sampai Sisi puas, Arfi benar-benar ingin membuat sang istri paham, jika tanpa anak, semua akan tetap baik-baik saja.
"Ayo kejar!"
Arfi dan Sisi bermain seperti anak remaja, yang baru mengenal cinta, main kejar mengejar dan Arfi menggendong sang istri. Tanpa mereka sadari, jika kini tengah di sorot banyak pasang mata, semua orang merasa lucu dengan tingkah keduanya.
Wuush!
Sisi bermain air, lalu menyirap tubuh Arfi hingga keduanya sama-sama basah. Tubuh Arfi yang gagah semakin terlihat mempesona dan membuat banyak wanita terpana.
Ck...
"Itu milik kakak, tidak ada siapapun yang melihatnya!" ujar Arfi tersenyum.
"Tubuh kakak, juga punyaku... jadi tidak boleh siapapun melihatnya!" sahut Sisi seraya mencubit pinggang sang suami.
"Aaaw... sakit, Sisi!" decaknya spontan tapi Sisi sudah berlari dan Arfi langsung mengejarnya.
Hari ini sangatlah menyenangkan, terlebih Arfi memang meluangkan waktu untuk Sisi, ia ingin membuat istrinya tersenyum, ingin membuat Sisi tertawa bahagia, setelah puas Arfi pun mengajak sang istri mengganti baju, lalu segera pergi menuju ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, kak?"
"Memberi kejutan, seperti yang kakak bilang tadi."
Sisi pun menurut saja, kemana Arfi akan membawanya. Selama itu juga Sisi menebak-nebak sendiri, kejutan yang akan di berikan oleh sang suami.
"Ayo!"
Keduanya berhenti, di depan sebuah rumah mewah nan megah, dengan cat berwarna biru bercampur merah muda, bahkan ada taman bunga lengkap dengan ayunanya, ada kolam ikan tepat di tengah-tengah taman tersebut.
"Kakak, i-ini rumah siapa?" gugup Sisi bercampur penasaran.
"Rumah kita, yang sudah satu tahun ini kakak bangun dengan susah payah. Semua ini untuk Sisi, agar kamu nyaman dan aman, kakak juga sudah siapkan dua satpam dan dua pelayan rumah, agar Sisi tidak lelah dan tidak kesepian saat kakak sedang bekerja."
__ADS_1
Sisi diam sejenak, ia sungguh terharu dan bahagia, karena Arfi membuatkan rumah impian untuknya, rumah yang selama ini hanya menjadi khayalan dan angan, yang Sisi bayangkan saat dulu ia duduk di bangku SMA.
"Kakak.. terima kasih," ucapnya dengan berlinang air mata.
"Eh, kok mewek sih, sayang. Kakak buat ini agar Sisi senyum lho."
Sisi tak bisa berkata-kata, ia langsung berhambur dan memeluk erat tubuh suami tercinta.
"Ayo masuk!"
Perlahan dan pelan, Arfi membawa Sisi masuk ke rumah barunya, menunjukan satu-persatu ruangan yang tampak rapih dan tertata. Rumah mewah dua tingkat tersebut, memiliki 5 kamar dan satu kolam renang, di lantai atas ada taman indah di balkon rumah, juga ada aquarium besar yang di hiasi layaknya pantai dan juga, di isi banyak ikan warna-warni di dalamnya, ada pula ruang khusus untuk kumpul keluarga. Rumah baru mereka di dominasi warna pink dan biru, warna kesukaan Sisi dan Arfi.
"Ini kamar kita!"
"Waaah!"
Sisi kagum luar biasa, karena kamar di buat sedemikian indahnya. Sebelah kiri di hiasi gambar princes dan sebelah kanan di hiasi gambar super hiro.
"Kakak sengaja buat ini semua?" tanya Sisi.
"Iya. Kamu suka tidak?"
"Suka sekali."
Sisi berlari, lalu duduk di atas ranjang yang empuk, setelah itu Sisi berlari kejendela, untuk melihat pemandangan di bawah.
"Haaah, luar biasa."
Kekaguman Sisi tak berhenti di situ saja, ia semakin melebarkan senyumnya kala melihat dari atas jendela kamar, ada danau buatan yang terbentang cukup luas.
"Itu danau, kakak yang buat, di sebelah sana ada perahu dan bebeknya juga. Jadi kalau Sisi bosan, bisa main ke danau!" ujar Arfi seraya menunjuk ke sebuah tempat dimana ada perhau yang sengaja ia siapkan.
"Kak Arfi mantan polisi atau arsitek sih?"
"Dua-duanya boleh."
"Kakak bisa saja."
Seketika, perasaan Sisi di sulap menjadi bahagia, sejenak ia bisa melupakan rasa sedih yang mendera. Arfi sudah menyiapkan kejutan ini dari jauh-jauh hari untuk sang istri, baginya kini, Sisi adalah segalanya.
-
Kejadian, masalah dan semua yang di alami, menjadikan pelajaran untuk seseorang agar menjadi lebih dewasa dan bijak lagi. Begitu halnya dengan Arfi, kesedihan Sisi karena kehilangan bayi yang di kandung, membuat Ia bertekad untuk membahagiakan sang istri.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH