Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 40 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌹Selamat Membaca🌹


Setelah usai semua urusan pernikahan, papi dan Mami berpamitan pulang. Sementara Arfi harus tinggal di rumah Pak Dana beberapa hari. Setelah itu mereka akan tinggal di rumah sendiri. Karena Arfi sudah menyiapkan rumah untuk di tinggali setelah menikah.


"Nggak makan kamu?" Pak Dana bersikap ramah kepada anak menantunya, jika di pandangi Arfi memang tampan rupawan.


"Masih kenyang, saya ke kamar dulu!"


"Silahkan Pak!"


"Hem, maaf ya! Apa saya harus memanggil anda 'PAK' dan saya memanggil anda dengan sebutan 'PAK' juga?" tanyanya tanpa basa basi.


"Ehh, i-iya ya.. kalau begitu panggil saya PAPA!"


"Baik." balas Arfi singkat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia langsung pergi menuju kamar.


Pak Dana sendiri, masih membatu dan membisu, pasalnya ia sedikit tak percaya jika anak muda yang membeli perusahaanya beberapa bulan lalu, kini beralih status menjadi menantu. Ia bukan tidak bahagia, hanya saja sedikit canggung.


"Ah, ternyata nggak enak juga punya menantu kaya raya. Mana sikapnya dingin seperti es krim, nyebelin lagi." omel Papa Cia yang bingung harus sedih atau senang.


.


.


Cia cukup percaya diri malam ini, ia merasa begitu cantik menggunakan baju tidur berwarna biru. Namun rasa percaya dirinya tadi, mendadak sirna kala Arfi masuk ke dalam kamar dan kini berdiri tepat di hadapanya.


"Kenapa belum tidur?"


"Nunggu Pak Arfi," sahutnya spontan.


"Saya nggak usah di tunggu, karena biasanya saya nggak tidur kalau malem."


"Terus anda tidurnya jam berapa?"


"Ya terserah... kalau ini badan ngajak tidur, baru saya tidur."


"Aneh banget sih." ceplos Cia yang langsung di pelototi Arfi.


"Memang. Terus... kenapa kamu suka saya?"


"Namanya suka atau jatuh cinta, aku rasa nggak ada alasanya deh. Lagi pula, aku juga heran sama diri sendiri, kok bisa jatuh cinta kepada pria seperti anda."


"Mungkin karena aku tampan, rupawan, menawan," Arfi berucap sepercaya diri mungkin.


"Nggak juga, kalau di bandingin Angga, anda kalah tampan." Cia berkata jujur.

__ADS_1


"Sialan." cetus Arfi setelah itu ia pun terkekeh pelan. Namun mengingat nama Angga seketika ia pun teringat sesuatu. "Astaga.....!!" Arfi menepuk pelan keningnya sendiri.


"Kenapa Pak? Emmmm aku tau, pasti anda belum bayar hutangkan, secara Pak Arfi buat pesta pernikahan, kemewahan."


"Sok tau, kamu!"


"Lah, terus kenapa?"


Arfi baru ingat, jika ia tidak mengundang Angga dan Pak Suki di pernikahanya tadi. Seketika ia pun merasa sangat bersalah.


"Ya udah sih, tinggal mintaa maaf aja besok!" saran Cia kemudian.


"Hadoooh, nggak segampang itu Maymunah." celetuknya bercanda. "Tolong ambilkan handpone saya!" seru Arfi kepada sang istri.


Dengan senang hati, Cia pun menuruti dan mengambilkan ponsel sang suami. Sumpah demi apa ia bahagia sekali saat ini.


"Ini....!"


"Terima kasih."


Dengan sigap, Arfi mencari no kontak Angga dan ia langsung menghubunginya. Tanpa basa-basi sang satpam pun menyapanya sarkas.


"Ngapain video call saya? Mau ngejek atau menghina. Haah?" Angga tak perduli sekali pun Arfi adalah bosnya sendiri.


Angga terlihat sedang berada di meja makan bersama kedua Adiknya. Aldi dan Ata, mereka pun tersenyum sopan kala mengetahui jika Pak Arfi yang menghubungi sang Kakak.


"Selamat malam, Pak Arfi," sapa Ata semanis mungkin.


"Nggak usah sok baik sama dia... Pak Arfi ini hobbynya nyerobot gebetan orang lain!" Angga memarahi Adiknya sekaligus menyinggung Arfi.


"Kurang ajar kamu ya, di baikin malah ngelunjak!" sergah Arfi meninggikan nada bicaranya.


"Heleh, nggak usah marah Pak! Memangnya anda orang baik. Tolonglah, sadar diri sedikit!"


Seumur ia menjadi pemimpin, baru kali ada karyawan yang memarahi, memaki dan mencaci habis-habisan. Arfi hanya bisa menghela napas kasar dan berusaha menahan kemarahan, sebab ia tahu, Angga kesal karena ia menikahi Cia, sementara Angga juga tahu, jika ia masih mencintai Sisi.


"Ya udah terserah kamu, mau marah, mau kesel atau mau bakar sumur sekalian, juga terserah. Intinya saya mau meminta maaf karena lupa mengundang kamu di pernikahanku dan Cia tadi."


Belum sempat Angga menjawab, Arfi sudah menutuskan sambunga video call secara sepihak. Hal ini tentu membuat Angga kian emosi, marah bin kesal.


("AWAS KAMU ARFI, KALAU SAMPAI BERANI NYAKITIN CIA, MAMPUS KAMU DI TANGAN SAYA!") Angga mengerimkan pesan singkat dan Arfi mendadak tercekat.


Nyatanya sebuah rasa yang di namakan CINTA, bisa membuat penderitanya mendadak goblok. Manusia yang tengah mengalami gejolak cinta biasanya akan rela melakukan apapun. Angga contohnya, saking ia mencintai Cia, ia mendadak kehilangan sikap sopan santun yang selama ini melekat pada dirinya.


.

__ADS_1


.


Malam ini Cia dan Arfi memang tidur di atas ranjang yang sama. Tapi tidak terjadi suatu hal apapun di antara mereka berdua. Karena Arfi yang katanya tidak pernah tidur malam, nyatanya saat ini justru tidur lebih dulu.


Berbeda dengan Sisi, ia yang masih merasa patah hati, kini betah duduk termenung di sebuah taman. Hari sudah sangat larut malam tapi ia enggan beranjak.


Sisi membiarkan angin malam yang berhembus kencang menusuk tulangnya. Hingga Cuaca seakan paham kondisi hati dan perasaan Sisi saat ini, mendadak hujan turun membasahi bumi. Ia tetap diam seakan membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Hujan turun kian lebat tangisnya pun ikut menjadi sederas hujan yang saat ini.


"Kalau goblok jangan di peliara dong Mbak, kalau sakit siapa yang susah? Pasti Mbak Sisi sendiri kan?" suara itu sontak membuat Cia terkejut. Ia membalikkan tubuh dan mendapati Angga berdiri sembari merantangkan jaket untuk menutupi tubuh Sisi agar tak kehujanan, alhasil kini tubuh Angga pun ikut basah kuyup.


"Ngapain kamu di sini?"


"Nggak sengaja lewat, rencanaya saya mau ke Club Malam tadi. Tapi urung karena liat cewek goblok main hujan di malam hari." ujar Angga emosi.


"Mulutmu memang sekasar itu ya. Nggak sangka, muka seimut kamu, tapi kelakuanya amit-amit!"


"Biar pun amit-amit tapi saya ngga goblok "


"Tapi tadi bilangnya mau ke Club Malam, pasti karena lagi stres kan?"


"Sok tauuuu....!"


Bodohnya, Angga dan Sisi melakukan perdebatan di tengah derasnya guyuran hujan. Padahal jam sudah menunjukan pukul dua belas malam lebih.


Sssttt....


Suara Sisi yang tadi meninggi, kini mendadak lemas setelah wanita itu terbatuk. Napasnya berderu, seolah tengah beradu, tentu saja karena asmanya kambuh. Semenit kemudian Sisi benar-benar tumbang, ia mendadak tak sadarkan diri.


"Si- Sisi, kamu kenapa?" saking paniknya ia memanggil Sisi dengan meyebut nama saja.


Tak mau ambil resiko, ia pun langsung membawa Sisi ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil, siapa saja yang lewat.


"Tolong sedikit cepat Pak!" pinta Angga kepada si pemilik mobil.


"Baik Mas, sabar ya!"


Beruntung.... malam ini, Angga bertemu dengan orang yang baik hati. Bahkan mau mengantarkan Sisi ke rumah sakit secara ihklas. Bukan itu saja, ia pun ikut menemani Angga menjaga Sisi malam ini.


ANEH TAPI NTAYA.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2